Tuesday, 16 February 2010
Surat Buat Kak Pura
Maksudnya pulang ke Pinang,
Udah ga betah nih, tapi kalo mau ditinggalin kasihan juga sama Ariq, Thoriq, Pabean, Dedi, Nia, Justine, Luthfie, and Rio.....
Huhuhuhu...
Kemarin Thoriq mau kelahi dengan Ariq,
Duuuh... kurang cepat ja, hancur lah Ariq dibantainya
Thoriq udah kayak banteng ngamuk, disuruh baca istighfar ja ga mau
Nafasnya tersengal-sengal, ingusnya keluar, air mata geramnya ga berhenti ngalir
Allah...baru kali ini Nurul ketemu yang seperti dia
Masya Allah, Kak Pura
Justine senyum-senyum terus, Nia bicaranya irit banget....
Luthfie, Pabean, sama Dedi ditambah Rio
Alhamdulillah mereka mau diatur....
Ariq, Kak Pura....
Ga bisa diam,
Nurul pusiiing...
Kak Pura, cepat pulang ke Pinang ya......
Sunday, 14 February 2010
After the Election, eh Selection
" Sudahkah saya layak untuk jadi kader AB2?? "
Mengingat, menimbang, dam memutuskan bahwa selama ini saya :
1. Kebanyakan cengengesan daripada seriusnya ( liat kader AB2 yang lain gimanaaaaa gitu. Pada serius semua. Kayaknya ga celah buat becanda lagi nih )
2. Kader AB2 itu secara IJDK mantap banget. Lah saya..... kira-kira pencapaian terbaik IJDK saya di mananya ya???
3. Belum mantap dalam menganalisis suatu masalah ( yaaaaa gara-gara banyak ketawa itu kali ya. Sebenarya ada hubungannya ga sih ketawa dengan analisis? )
4. Kerjanya lebih sedikit daripada ketawanya
5. Suka ketawa
6. Suka ketawa
7. Suka ketawa
8. Suka ketawa
9. Masih juga suka ketaawa ( ni sebenarnya mau seleksi AB2 ato seleksi muka serius sih )
10. Secara penampilan, masih jauuuuuuuuuuuh banget dari akhwat lainnya ( hmmmmm .......)
Hmmmmmm......
Hmmmmmmm.....
Apapun itu, yang penting saya sudah berusaha. Setidaknya kata Kakak yang seleksi, ikut DM2, artinya berusaha untuk jadi lebih baik, lebih baik, lebih baik, lebih, dan lebih baik lagi ( ini sih jadi lebih lebai ).
Yap, yap, yap......
Tangga menuju ke arah yang lebih baik....
Thursday, 11 February 2010
Monday, 8 February 2010
Asal Mula Nama Azizahnazi
Sudah mutlak, ga bisa diubah. Mau bikin baru malasnya selangit, mesti sosialisasi lagi ( kayak pemilu ).
Nazi di alamat email itu bukan dalam rangka kesenangan pada Partai Nasionalis Jerman zaman Perang Dunia II dulu. Nazi itu adalah singkatan dari nama lengkap saya Nurul Azizah. Jadi ceritanya waktu SMA kelas X, entah gimana di kelas itu ada dua yang bernama Nurul, Azizah juga ada. Nurul Ainun dan Martia Azizah. Waaah,, berabe nih. Guru-guru pada susah bedain. Awalnya teman-temannya juga begitu. Martia Azizah aman, soalnya dia dipanggil Martia, lah yang sama-sama Nurul gimana dong.
Akhirnya sambil iseng-iseng ( waktu itu saya duduknya paliiiiiiing belakang ), coret-coret akhirnya lahirlah nazi alias Nurul Azizah yang terinpirasi dari Adolf Hitler si Kumis Aneh ( hmmm waktu SMA saya lagi semangat banget bahas aliran kiri, alhasil pusing sendiri karena teman2 yang lain pada ga tertarik ).
Awalnya aneh juga pake nazi, apalagi beberapa teman sudah ada yang praktek dengan panggilan itu.
Dan hingga saat ini nama nazi itu udah melekat. Makanya ga mau ganti email, kalo bisa nama di seluruh jejaring sosial adalah itu.
So, bukan karena nge fans atau tergila-gila dengan Adolf Hitler si Kumis Aneh.... hihihihihihi
Wednesday, 3 February 2010
Angry
When we heard his explaination about that problem, I could say nothing, just stared at him and my friends who also did like me. Our leader was out of words, it was unlucky for him to lead something which had not been supported by the man we were thought would be.
What an evil man!!!
He wanted everybody moving, but he didn't give us something in the beginning of our moving.
Talking without action!!!!!! Just take it by yourself!!!
!!!!!
!!!!!!
!!!!!
!!!!!
I become sooooo angry!!!!
Wednesday, 27 January 2010
Galaunya Pemerintahan SBY Menuju Evaluasi 100 Hari Pertama
Akhir Januari ini bertepatan dengan 100 hari pemerintahan SBY – Boediono. SBY – Boediono menetapkan lima strategi pokok selama 5 tahun yang kemudian dikembangkan menjadi 15 program kerja pilihan pada 100 hari pertama. Lima strategi tersebut adalah pertama, melanjutkan pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia. Kedua, melanjutkan upaya menciptakan good government dan good corporate governance. Ketiga, demokratisasi pembangunan dengan memberikan ruang yang cukup untuk partisipasi dan kreativitas segenap komponen bangsa. Keempat, melanjutkan penegakan hukum tanpa pandang bulu dan memberantas korupsi. Kelima, belajar dari pengalaman yang lalu dan dari negara-negara lain, pembangunan masyarakat Indonesia adalah pembangunan yang inklusif bagi segenap komponen bangsa.
Dari kelima strategi itu, Presiden SBY menetapkan 15 program kerja 100 hari pertama yang disampaikan setelah Sidang Kabinet pada 5 November 2009 lalu di Kantor Presiden, Komplek Istana, Jakarta.
Program – program tersebut meliputi pemberantasan mafia hukum, revitalisasi industri pertahanan, penanggulangan terorisme, meningkatkan daya listrik di seluruh Indonesia, meningkatkan produksi dan ketahanan pangan, revitalisasi pabrik pupuk dan gula, mengurai keruwetan agrarian dan tata ruang, membangun infrastruktur, mengucurkan dana Rp. 100 triliun per tahun untuk kredit Usaha Kecil dan Menengah, mencari solusi pembiayaan dan investasi, merumuskan kontribusi Indonesia dalam isu perubahan iklim dan lingkungan, reformasi kesehatan, mensinkronkan antara pendidikan dan dunia kerja, kesiapsiagaan penanggulangan bencana, serta sinergi antara pusat dan daerah.
Begitu program ini muncul, banyak kalangan yang memandang negative terhadap pelaksanaannya 100 hari ke depan. Program kerja dinilai omong kosong, hanya sebagai pencitraan, dan hanya untuk menjalankan tradisi yang sudah berjalan sejak reformasi.
Dalam perjalanannya, SBY dan Boediono menghadapi berbagai permasalahan yang menuntut ketegasan dan keberanian presiden dalam mengambil sikap. Kasus-kasus yang bermunculan satu persatu benar-benar menguji pemerintahan SBY. Saat Antasari Azhar ketua KPK tersandung kasus pembunuhan, yang lain pun bermunculan. Terakhir kasus Bank Century yang sangat controversial karena melibatkan Boediono sang wakil presiden dan Sri Mulyani, Menteri Keuangan.
Orang-orang terdekat beliau yang terlibat kasus membuat presiden melemah sehingga menghambat program kerja yang telah ditetapkan. Selain itu, kesetiaan pun sulit ia dapatkan. Manakah pihak yang benar-benar berpihak padanya dan manakah pihak yang menjadi musuh dalam selimut.
Untuk masalah pembangunan, hambatan presiden adalah masalah anggaran. Sebagian besar biaya untuk pembangunan berasal dari APBN. Ini tentu saja memberatkan pemerintahan untuk mensukseskan pembangunan yang merata. Sementara itu APBD lebih banyak dihabiskan untuk gaji dan biaya-biaya birokrasi sehingga anggaran untuk pembangunan sangat kecil sekali.
Evaluasi 100 Hari SBY – Boediono
Mengenai evaluasi program kerja 100 hari SBY, maka pertanyaan yang akan muncul ialah indikator apa yang akan digunakan dalam penilaian tersebut? Di Amerika Serikat, hal tersebut dinilai dari berapa undang-undang yang mampu diloloskan demi suatu perubahan ke arah yang lebih baik dalam rentang waktu tersebut. Nah, di Indonesia indikator seperti apakah yang dapat mengevaluasi program-program ini?
Penulis mencoba mengumpulkan pendapat masyarakat mengenai program kerja 100 hari SBY – Boediono. Masyarakat menilai program ini gagal total alias tidak berhasil. Pertama, tidak tegasnya SBY dalam menyikapi kasus perseteruan antara Kapolri dan KPK beberapa waktu lalu yang juga dinilai sangat lambat penanganannya oleh masyarakat. Ini sudah cukup menjadi bukti ketidak konsistenan beliau untuk memberantas kasus korupsi. Kedua, belum maksimalnya kerja para menteri. Hingga saat ini belum ada menteri yang mampu menunjukkan prestasinya. Menurut pengamat politik dari Univesitas Airlangga, belum ada menteri yang menonjol, tapi tidak ada juga menteri yang tidak kompeten sama sekali. Ketiga, tersitanya waktu presiden dalam menyelesaikan kasus Bank Century yang berujung pada hak angket yang diajukan oleh anggota DPR. Keempat, tindakan fatal yang dilakukan oleh presiden dalam kebijakan luar negerinya dengan Cina di bidang ekonomi yang terkesan tidak mempedulikan pengusaha lokal.
Gembar-gembor 100 hari SBY Boediono menimbulkan berbagai reaksi di kalangan masyarakat. Beberapa kalangan memprediksikan bahwa evaluasi ini akan berujung pada reshuffle kabinet di mana SBY kembali akan mengganti menteri-menteri yang dianggapnya tidak dapat berkerja dengan baik seperti yang pernah dilakukan pada periode sebelumnya. Kemudian mahasiswa yang ikut meramaikan jalanan tanggal 28 Januari 2010 menuntut agar SBY mundur karena sudah tidak layak untuk melanjutkan kekuasaannya. Isu impeachment terhadap presiden ini sangat sensitif sekali karena mengingatkan penulis akan pemimpin sebelumnya yaitu mantan presiden Abdurrahman Wahid dan Soeharto yang juga diturunkan oleh mahasiswa. Dan jika hal itu terjadi lagi, berarti bangsa ini harus kembali ke titik awal.
Mengenai masalah pemecatan beberapa menteri, tanggapan yang muncul sangat beragam. Pertama, bila memang SBY melakukan hal tersebut itu artinya bahwa susunan kabinet saat ini sudah salah dari awal. Ketidakpercayaan masyarakat kepada SBY dalam memilih orang-orang yang akan bekerja padanya untuk bersama-sama membangun Indonesia akan semakin besar. Kedua, pemecatan beberapa menteri penulis rasa tidak pantas karena 100 hari tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kinerja mereka secara keseluruhan. Seharusnya menteri-menteri ini diberikan waktu lebih lama untuk membantu presiden.
Semoga evaluasi 100 hari ini dapat dijadikan cermin oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wakilnya Boediono beserta jajaran menteri akan pemerintahan mereka. Penulis berharap, reaksi masyarakat akan membuat dua penguasa ini dan menterinya, terutama sang presiden lebih tegas dalam bersikap dan menghilangkan rasa takut yang berlebihan. Tunjukkan pada masyarakat bahwa ia masih mampu memimpin Indonesia 5 tahun ke depan. Jika hal tersebut tidak sanggup dilaksanakan, maka pilihan terakhir adalah mundur dari kursi kepresidenan karena sudah tidak ada gunanya lagi mempertahankan rezim kekuasaannya.
Tanjungpinang, 27 Januari 2010
Dalam usaha menganalisa suatu masalah
Monday, 25 January 2010
CERITA SEMALAM
Sepupuku Lestari. Ups, aku bukan ingin bercerita tentangnya, teman. Semalam aku diceritakan oleh sepupuku Lestari mengenai masa kuliahnya. Tentang kehidupan mahasiswa di tempat ia melanjutkan pendidikan strata satunya. Semalam ia bercerita tentang teman-temannya yang tentu saja bukan temanku. Tapi kau adalah temanku bukan? Hmmmm............. simaklah pamaparan sepupuku. Lagi kuharap padamu teman, bacalah tulisanku ini hingga akhir.
Cerita pertama semalam ialah tentang betapa rendah dan bodohnya para mahasiswi sekarang. Kau tahu teman, kerap kali laki-laki dan perempuan berstatus mahasiswa tertangkap basah di antara semak-semak di lingkungan kampus sedang berbuat hal sangat tidak pantas. Melanggar norma agama dan merusak nilai moral. Banyak juga pintu kamar kos yang didobrak oleh para mahasiswa di sekitarnya yang kemudian mendapati dua orang berlainan jenis kelamin di dalamnya. Teman, meraka melakukan sesuatu yang bisa halal jika telah memiliki ikatan sah. Sepupuku bilang dalam setahun kasus-kasus seperti itu bisa mencapai angka puluhan, temanku.
Cerita keduaku semalam, temanku, bacalah baik-baik. Ianya mengenai seorang ketua BEM Fakultas Perikanan. Ia dan teman-temannya di Badan Eksekutif Mahasiswa berorasi menolak rektor universitas yang baru. Dari seluruh BEM yang ada di universitas tersebut, hanya dialah yang berkeras menolak terpilihnya rektor baru. Apa yang terjadi dengannya setelah itu, temanku? Tragis benar nasibnya. Kuliahnya dipersulit dan dihalang-halangi. Walu begitu ia mencoba untuk tetap bertahan. Tapi apa daya, teman, kekuatan yang dimilikinya tak sebanding dengan kekuatan universitas. Akhirnya ia menyerah dan pindah ke universitas lain.
Apakah kau masih setia membaca ceritaku ini??
Mari kuceritakan cerita ketigaku semalam. Kali ini cerita kami beralih pada seorang aktivis kampus. Mulanya di awal semester ia bukanlah siapa-siapa. Hampir tidak ada kegiatan kampus pun yang ia ikuti. Kata sepupuku, anak itu benar-benar polos. Indeks prestasinya nyaris sempurna. Memasuki semester tiga ia mulai berkenalan dengan dunia organisasi dan dalam hitungan minggu gelar aktivis kamps pun disandangnya. Hal ini tak diimbangi dengan prestasi akademiknya. Perlahan Ipnya mulai turun. Saat sepupuku bertanya bagaimana tanggapan orang tuanya, ia hanya menjawab,
” Untungnya orang tua saya ga ngerti, Kak. Saya bilang aja semakin kecil angkanya, makin bagus nilainya. ”
Upss!!! Sepupuku hanya bisa geleng-geleng kepala temanku. Ambisi anak itu adalah menjadi ketua BEM Universitas. Wow, tidak main-main. Ia harus bersaing dengan ketua BEM dari fakultas lainnya. Dari penuturannya pada sepupuku, baginya ada kepuasan tersendiri saat ia berhasil mensukseskan sebuah kegiatan. Lalu, berhasilkah ia dengan ambisinya, tanyaku. Sepupuku tidak tahu.
Teman, cerita kami semalam berakhir dengan cerita tentang senior sepupuku. Dia adalah seseorang yang sangat idealis. Kali ini adalah ketua BEM lagi. Aktif di kampus dan juga di luar kampus. Ia benar-benar menyuarakan suara mahasiswa dan juga masyarakat. Setiap kebijakan yang bertentangan dengan idealismenya akan diprotes. Tibalah saat ia diwisuda. Prestasinya menakjubkan bagi seorang aktivis. Tak lama ia keluar dari lingkungan kampus dan teman-teman mahasiswanya, idealisme yang dulu dipertahankannya runtuh. Godaan di dunia kerja tak sanggup dilawannya. Aku jadi teringat pada pesan singkat seorang temanku. Ia bilang, terkadang kita bisa menghindari zina dan minuman keras, tapi begitu disodori materi kita sangat sulit bisa menghindar.
Keempat cerita ini sulit sekali kulupakan teman. Berjam-jam aku mendengarkan ceritanya, sampai-sampai tidak lagi menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Bisakah kau ambil hikmah dari cerita kami semalam teman??
Di kepalaku berserabutan pertanyaan-pertanyaan yang sangat ingin kuajukan kepada sepupuku atau pun siapa saja yang membaca ceritaku ini. Samakah pertanyaan kita, temanku???
Tanjungpinang, 13 Januari 2010
In reminding my friends who have been ( and almost ) graduated
Wishing they are still in the way
Sunday, 24 January 2010
FASE KETIGA DAN APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN
Kedua, fase datangnya Islam di mana Islam mengangkat harkat dan martabat perempuan. Perempuan mendapatkan kedudukan yang sama dengan laki-laki dalam kehidupan sosialnya. Perempuan juga diperbolehkan berkarya di luar rumah selama ia tidak meninggalkan tugas utamanya, yaitu mengurus rumah tangga.
Fase ketiga akan kita bahas ditulisan kali ini. Fase ketiga adalah fase kebangkitan Islam. Ini adalah masa sekarang. Saat ini muslimah adalah kelompok yang mengambil sikap pertengahan. Seperti yang telah penulis sebutkan, Islam tidak melarang perempuan untuk berkiprah di luar rumah selama ia tidak meninggalkan tugas utamanya. Dan umat Islam saat ini memerlukan muslimah-muslimah tangguh untuk membentuk masyarakat yang mulia dan menegakkan syariat Islam.
” Bila muslimah atau perempuan di suatu daerah rusak, maka kaum itu bisa rusak dan hancur pula. ”
Jadi, apa yang dapat kita, sebagai seorang muslimah, lakukan untuk menyelamatkan bangunan Islam ini??
Hal utama yang harus dilakukan ialah memperbaiki diri pribadi. Seorang muslimah harus mampu membuat dirinya baik. Karena, bagaimana maungkin ia akan membuat orang lain menjadi baik jika dirinya tidak baik?
Banyak hal yang bisa kita upayakan dalam rangka memperbaiki antara lain dengan banyak membaca buku, berdiskusi, dan mengikuti kajian-kajian Islam di lingkungan sekolah, kampus dan masyarakat. Dengan usaha-usaha ini maka akan terbentuk kepribadian seorang muslimah, di antaranya akhlak yang mulia, lurus akidahnya, benar dalam beribadah, mampu melawana hawa nafsu dan bermanfaat bagi orang lain.
Suri tauladan kita Rasulullah saw besabda, “ Sebaik-baik manusiaa adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. “ ( HR. Qudhy dari Jabir )
“ Bangsa ini rusak bukan karena hanya karena tindakan setan yang membabi buta, melainkan juga karena orang-orang baik memilih untuk diam. “
Statement di atas merupakan tamparan bagi kita umat Islam. Seringkali kita disibukkan dengan rutinitas sehari-hari tanpa mencermati dan menyadari kondisi social dan masyarakat saat ini.
Sebagai seorang muslimah banyak hal yang dapat kita lakukan untuk negeri ini. Lakukanlah hal yang ternudah terlebih dahulu. Di saat kita berusaha memperbaiki diri maka iringilah dengan :
1. Menulis. Tulislah beragam fenomena social masyarakat saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai Islam. Analisis dan berikan solusi. Kirim tulisan tersebut ke media massa atau tempel di mading sekolah atau kampus.
2. memberikan pendidikan yang bernuansa Islam kepada orang-orang sekitar kta. Mengajak mereka untuk ikut kajian Islam dan menjadikan diri teladan di masyarakat.
Beberapa hal di atas adalah langkah termudah yang dapat kita lakukan ( sebagai mahasiswa ). Yang tersulit adalah memecut diri kita untuk memulainya. Nah, maukah kita bermanfaat untuk orang lain???
Tanjungpinang, 12 Januari 2010
Thursday, 7 January 2010
3 Fase Kedudukan dan Peran Perempuan dalam Kebangkitan Islam
( QS. At Taubah, 9 : 71 )
Adalah tulisan ini dibuat oleh penulis dalam rangka menjelaskan secara singkat 3 fase pergerakan muslimah dan perannya dalam kebangkitan Islam. Tulisan ini penulis persembahkan untuk teman-teman penulis, yang masih memiliki kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya.
1. Fase Jahiliyah
Fase jahiliyah ialah fase sebelum datangnya Islam. Pada fase ini manusia berada dalam kekosongan dakwah para Rasul. Fase ini ditandai dengan rusaknya garis-garis kehidupan di masa itu.
Di fase ini, perempuan di seluruh belahan dunia mendapat perlakuan yang tidak adil dan kejam. Sama sekali tidak manusiawi. Kedudukan perempuan dalam masyarakat sama sekali tidak diperhitungkan.
Dalam ajaran Nasrani, misalnya, perempuan adalah salah satu dari 4 golongan yang tidak akan didengar perkataannya setelah orang gila, orang lanjut usia, dan anak-anak. Di Romawi, perempuan juga sangat direndahkan bahkan dihina. Tak jarang ia juga disiksa dengan kejam. Di Athena, menurut Encyclopedia Britannica, status perempuan disamakan dengan status budak. Dan di dalam UU Hammurabi wanita tak lebih dari binatang ternak. hal yang sama juga dialami oleh perempuan-perempuan di Cina yang hidup pada masa itu. Mereka dianggap sebagai warisan dan penyakit.
Bahkan di Arab, seperti kita ketahui, memiliki anak perempuan, adalah suatu penghinaan yang amat besar. Maka, setiap bayi perempuan yang lahir harus dikubur hidup-hidup. Kalaupun dibiarkan hidup, kebaradaannya sama sekali tidak diakui. Tidak mendapat warisan dan hidup miskin. Tak hanya itu, dalam tradisinya, saat suaminya meninggal istri tersebut dapat diwariskan layaknya harta pusaka. Dalam agama Hindu, seorang istri harus ikut mati dan dibakar ketika suaminya meninggal.
Inilah fenomena tentang kedudukan perempuan di masa lalu, masa sebelum Islam datang. Maka sungguh beruntung dan bersyukur bagi kita yang hidup di masa ini tidak mendapat perlakuan seperti yang telah penulis ganbarkan di atas.
2. Fase Datangnya Islam
“ Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempaun dalamkedaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan balasan dengan ppahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“
( QS. An Nahl : 97 )
“ Bagi laki – laki ada hak bagian dari harta peniggalan kedua orang tua dankerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian ( pula ) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atua banyak menurut bagian yang ditetapkan.”
( QS. An Nisa, 4 : 7 )
“ Hanya laki – laki yang berakhlak mulia yang menghormati perempuan dan hanya laki – laki berakhlak hina yang merendahkan perempuan. “
“ Orang yang paling sempuna agamanya adalah orang yang paling bak wataknya. Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang memperlakukan anggota keluarga perempuannya paling baik. ”
( HR. At Tarmidzi )
Ayat – ayat dan hadist di atas merupakan beberapa bukti yang menunjukkan betapa Islam begitu memuliakan perempuan. Dengan datangnya Islam maka derajat perempuan diangkat dan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki di kehidupan sosialnya. Di Arab, setelah Islam diajarkan oleh Rasulullah saw. pembunuhan terhadap bayi – bayi perempuan tidak dilakukan lagi. Kebiasaan – kebiasaan jahiliyah pun ditinggalkan oleh masyarakat yang mengikuti ajaran ini.
Perempuan yang mulanya dipandang sebelah mata, bahkan diabaikan mulai menunjukkan eksistensinya. Sejarah membuktikan banyak perempuan pada zaman Rasulullah memiliki peran yang luar biasa dalam dakwah beliau. Setelah beliau wafat pun tak sedikit perempuan-perempuan yang senantiasaa mengembangkan dirinya dan berperan di aspek kehidupan.
Islam memberikan kesempatan kepada perempuan untuk berkarya dan terjun ke masyarakat tanpa meninggalkan tugas utamanya ( sebagai ibu rumah tangga bagi yang telah menikah ). Beberapa muslimah di zaman Rasulullah yang patut dijadikan teladan antara lain :
Khadijah binti Khuwailid
Beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam. Khadijah adalah contoh muslimah ideal di zaman Rasulullah. Beliau terkenal cerdas, penuh kasih sayang dan berhati lembut. Ia berhasil mendidik putri-putrinya Fatimah, Ummu Kultsum, Zainab dan Ruqayyah menjadi perempuan solehah. Tak hanya itu ia juga piawai dalam berbisnis dan sangat dermawan.
Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq
Aisyah adalah istri Rasulullah yang sangat cerdas. Banyak sahabat Rasulullah yang menjadikannya sebagai sumber rujukan atas berbagai persoalan di masa kekhalifahan. Beliau juga meriwayatkan 2220 hadis dair Rasulullah.
Fatimah Az Zahra
Anak perempuan Rasulullah ini terkenal dengan kesabarannya dan selalu mendukung perjuangan ayahnya dalam menegakkan Islam.
Selain ketiga muslimah di atas, masih banyak lagi muslimah yang berpartisipasi dalam kegiatan dakwah Rasul. Mereka memelihara hak tetangganya, belajar dan mengajar serta mengkritik para penguasa.
Ini adalah tulisan yang panjang. Oleh karena itu fase terakhir, yaitu fase kebangkitan Islam akan penulis sambung di tulisan berikutnya. Semoga dengan melihat kembali sejarah perempuan baik sebelum datang maupun setelah datangnya Islam mampu memberikan suntikan semangat kepada kita semua.
Tanjungpinang, 7 Januari 2010
Hasil Fokat
Forum Diskusi Akhwat KAMMI Daerah Kepulauan Riau
Dalam Rangka Memperingati Hari Ibu 22 Desember 2009
RINDU UNTUK DIPERHATIKAN
Beliau sebagai pengisi acara mampu mengeluarkan kata-kata yang dapat menyadarkan pemirsanya tentang kehidupan. Pikiran-pikiran positif dalam menghadapi permasalahan dalam hidup mewarnai acara ini di tiap episodenya.
Sebenarnya penulis melewatkan episode The Golden Ways kali ini. Namun dari tayangan sekilas yang penulis lihat, dan dari judul di atas, penulis ingin menyimpulkan sedikit uraian dari Mario Teguh
Rindu untuk diperhatikan. Diperhatikan oleh siapa? Apa yang harus diperhatikan? Mengapa harus diperhatikan? Mungkin begitulah kira-kira pertanyaan yang muncul di benak kita saat membaca kalimat tersebut. Tentu saja penafsiran setiap orang akan berbeda-beda. Apakah penampilan secara fisik yang perlu diperhatikan? Atau performance di hadapan orang banyak? Atau kemapuan khusus yang kita miliki?
Banyak dari kita yang merasa tidak mendapat perhatian sama sekali dari orang laian terutama oranag-orang terdekat. Hal ini merupakan masalah tersendiribagi kita yang benar-benar menginginkan perhatian orang lain. Nah, sebenarnya perhatian seperti apa yang kita butuhkan? Dari siapa kita bisa memperoleh perhatian itu? Dan mengapa kita ingin diperhatikan?
” Tunjukkan bahwa kita layak untuk diperhatikan. Dari awal. ”
Demikianlah kata-kata kunci minggu ini. Jika kita memang ingin diperhatikan oleh orang lain, maka yang harus dilakukan bukanlah memperhatikan orang lain terlebih dahulu. Menurut penulis, dalam hal ini hukum timbal balik tidak berlaku. Konsep jika ingin diperlakukan dengan baik maka berlaku baiklah pada orang lain, juga tidak dapat dipakai.
Tunjukkan bahwa kita layak diperhatikan. Jadi yang harus dilakukan ialah membenahi diri, memperbaiki diri pribadi agar lebih mendapat perhatian. Seseorang akan diperhatikan jika ia memiliki keunikan tertentu. Jika ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang-orang di sekitarnya, jika ia sangat berbeda. Untuk itu, masing-masing kita harus meiliki modal untuk berbeda dari orang lain. Karena bagaimana kita akan diperhatikan bila kita tidak memiliki sesuatu yang layak untuk diperhatikan.
Anggota tubuh misalnya. Khususnya bagi perempuan, yang paling mendapat perhatian ( secara fisik ) adalah bagian wajah. Bagi perempuan, wajah mempunyai keistimewaan sehingga ia mendapat perhatian yang lebih. Di dalam keluarga setiap anak berhak mendapat perhatian dari ayah dan ibu. Tapi dari sekian anak-anak tersebut ada satu anak yang lebih mendapat perhatian. Apakah karena kepatuhan, kecerdasan, ataupun kenakalannya ( yang tekahir ini tidak patut dicontoh )
Begitu juga di lingkungan sekolah, kampus, organisasi, kerja, dan masyarakat. Di kelas, siswa yang cerdas akan lebih banyak mendapat perhatian dari guru dan teman-temannya. Begitu juga mahasiswa yang aktif baik di dalam maupun di luar kelas. Saat kita dapat diandalkan dalam sebuah oraganisasi atau di lingkungan kerja, perhatian dari atasan atau pemimpin akan tercurah pada kita. Demikian pula di masyarakat.
Mendapat perhatian tidak harus dengan kecedasan akal. Manusia diberikan tiga modal oleh Allah swt agar bisa menarik perhatian, akal, ruh dan jasad. Seseorang yang tidak cerdas, bisa mendapat perhatian dengan kekuatan ruhnya. Ataupun dengan potensi jasadnya. Dari ketiga modal di atas, mestilah ada salah satu di antaranya yang menonjol pada diri seorang manusia. Tinggal bagaimana seseorang tersebut mengoptimalkan apa yang sudah ada.
Yakinlah, bahwa perhatian orang lain tidak akan menghampiri kita bila kita sendiri tidak memiliki apa-apa untuk diperhatikan. Bila kita di posisi pemberi perhatian, pastilah kita akan memilih mana yang layak untuk diperhatikan. Jadi, berhentilah menyalahkan orang lain ketika tak seorang pun yang memperhatikan kita. Tepuk dada, tanya selera. Sudahkah kita layak diperhatikan????
Tg. Pinang, 7 Januari 2010
Satu Hari Menuju 20 Tahun
Monday, 28 December 2009
HIDUP MAHASISWA!!!
Wow, kalo kita dengar ini diteriakkan sama mahasiswa secara serentak, benar-benar bikin dada berdebar-debar. Gemuruh dan bergejolak ( wah, agak berlebihan ). Apalagi kalo lagi demo. Wiiiih... ga kebayang rasanya.
Tapi dibalik semua itu, apakah mahasiswa benar-benar hidup???
Seperti apa mahasiswa yang hidup itu??
Lalu seperti apa pula hidup mahasiswa??
Nantikan catatan berikutnya....
Tuesday, 15 December 2009
PRESIDENKU
Sunday, 13 December 2009
Sedikit Penggalan Manajemen Waktu
Kata Pak Ustadz Ganteng lagi nih, setengah umur manusia dihabiskan cuma untuk tidur. Wah, gawat banget ya. Dilahirkan, eh diciptakan dan hidup di dunia cuma buat tidur. Ga puas juga kali ya udah tidur selama 9 bulan dalam perut mak nya hehehe...
Ternyata waktu tuh berharga sekali. Ga ada yang bisa gantiin waktu kita.
Masalahnya sekarang, gimana caranya supaya setengah waktu hidup ( yang bener-bener melek ) dimanfaatin dengan sebaik-baiknya.
Kata Pak Ustadz Ganteng lagi, yang bisa memenej waktu itu adalah kita sendiri karena kitalah yang paling tahu kegiatan kita. Nah, ini dia nih yang agak rumit. Mengatur waktu.....
Pak Ustadz, materi manajemen waktunya masih kurang....
Sekilas Miss World
Well, emang sih kegiatannya sosial semua. Rata-rata kegiatan Miss-Miss itu pergi ke panti asuhan, daerah-daerahyang kena bencana, menghibur keluargayang tertimpa bencana alam, rakyat miskin, main dengan anak-anak miskin itu, ngajarin mereka sesuatu ( ga tau juga tuh sesuatunya apa ) dan sebagainya.
Bagus sih kegiatan yang dilaksanakan cewek-cewek cantik ini. Tapi ada yang aneh menurut saya. Acara malam itu sama sekali ga....( gimana ya nyebutinnya ). Pokoknya mewah banget lah. Dari baju-bajunya ( sebenarnya ga mewah sih, karena pada kurang bahan ), sepatu, make-up, tatanan rambut, panggung dan segala macam, sama sekali ga bisa dibilang sederhana. Dan itu semua cuma untuk memilih satu orang ja!!! Capek deh. Mendingan dananya buat mendirikan sekolah di negara dunia ketiga, mencarikan mereka guru yang berkompeten, melengkapi sarana dan prasarana, membantu korban gempa dan masih banyak hal yang lebih bermanfaat yang bisa dilakukan.
Heran.....
Catatan Semalam
Apa salah jika Allah masih belum mempetemukannya dengan jodohnya?? Mungkin belum waktunya aja kali. Tapi ya itu, dia harus kebal dengan sindiran-sindiran yang dilontarkan. Kejam sih kedengarannya.
Namun ga tau juga mau berbuat apa.
Allah punya kuasa. Allah tau apa yang terbaik. Bisa jadi ini belum waktunya dia menikah. Belum waktunya dia bertemu dengan jodoh yang sudah ditentukan oleh Allah. Semua hanya masalah waktu. BELUM WAKTUNYA.
Kalau memang belum waktunya memaksa pun ga akan ada gunanaya. Menyalahkan apalagi.
Yah, harus banyak bersabar. " Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. "
Allah sedang mempersiapkan yang terbaik buat dia.
Saturday, 12 December 2009
Gimana ke Depannya???
Jadi bingung. Ketua BEM juga orang sibuk. Bukan orang yang hanya diamanahi satu atau dua. Beliau diamanahi sebagai pengurus di beberapa organisasi. Jadi sibuk. Belum lagi dengan anak muridnya. Banyak banget yang harus dipikirkan. Sementara BEM sedang menunggu beliau. Anak buahnya punya potensi, tapi kemauan untuk bergerak kurang.
Duh susahnya untuk bergerak. Namanya juga organisasi, ga mungkin kerja sendiri. Butuh orang lain.
Beginilah jadinya kalau para aktivis kampus juga punya pekerjaan. Bukan sampingan, tapi tetap. Kalau cuma freelance sih gampang atur waktunya, tapi mereka tidak. Tapi yang lain, yang tidak bekerja juga acuh ga acuh. Urusan organisasi ini dianggap angin lalu. " Emang gue pikirin " kira-kira itulah yang ada dibenaknya.
Hmmmm....ngeluh juga tidak ada gunanya. Lebih baik kembali membangun komunikasi dengan senior untuk menggerakkan BEM. Sudah terlalu lama vakum. Semoga tahun ini bisa jadi batu loncatan untuk kek depannya.
Amiin...
Sedikit masalah organisasi
Saturday, 7 November 2009
Mengirim Makalah Via Surat Elektronik
Penulis menyarankan agar seluruh mahasiswa beserta dosen memiliki e-mail ( electronic mail ). Dengan e-mail atau surat elektronik para mahasiswa tidak lagi perlu mencetak hasil makalah mereka dalam bentuk hardcopy. Cukup mengetik di computer kemudian mengirim makalah tersebut ke alamat e-mail dosen terkait.
Cara ini sangat praktis, cepat, dan hemat. Dan tidak ada yang akan dirugikan dalam hal ini. Jika sistem pengumpulan makalah mahasiswa seperti yang penulis sebutkan, maka manfaatnya banyak sekali.
Kemudahan bagi para mahasiswa. Mereka tidak lagi perlu mem-print hasil makalah tersebut di kertas. Dari segi ekonomi, mahasiswa dapat berhemat. Mereka hanya perlu membayar layanan internet yang mereka pakai. Tidak perlu membayar hasil tersebut per lembarnya. Harga kertas yang mulai mahal membuat harga print juga mahal. Di beberapa tempat yang sering dikunjungi oleh mahasiswa kota Tanjungpinang untuk mencetak tugas mereka, harga per lembar adalah Rp. 1.000,- dan untuk covernya Rp. 2.000 per lembar. Tentu saja ini sangat memberatkan keuangan mahasiswa yang memang sudah berat.
Jika satu makalah terdiri dari 12 lembar maka biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa tersebut adalah Rp. 12.000,- untuk kertas biasa dan Rp. 4.000 untuk covernya. Total seluruhnya ialah Rp. 16.000,- Ini belum ditambah dengan layanan internet ataupun sewa computer yang mereka gunakan untuk mengetik.
Bayangkan jika mereka mengambil 10 mata kuliah dalam satu semester. Berapa biaya yang mereka butuhkan untuk membuat makalah?
Bagi penulis, makalah dalam bentuk kertas ( hard ) adalah pemborosan. Setelah dosen membaca dan menilai makalah yang dibuat oleh mahasiswanya ( sebenarnya penulis agak meragukan, benarkah dosen-dosen tersebut membaca makalah itu dengan cermat ), logikanya, makalah itu hanya akan jadi tumpukan kertas yang tak berarti. Terkumpul di sudut rumah dosen yang jika tumpukan itu sudah meninggi maka ia akan membuangnya. Hufff…… sungguh sangat tidak efektif. Walaupun makalah tersebut sudah menjadi hak dosen, namun di sana terdapat kerja keras mahasiswa dalam mengumpulkan data dan informasi.
Bila makalah dikirim via e-mail, makalah tersebut masih dapat disimpan dengan rapi dalam bentuk file di computer ataupun flashdisk. Mudah dibawa dan sangat praktis jika dosen ingin membacanya lagi. Dan memory yang diperlukan juga tidak begitu besar, jadi dapat memuat makalah puluhan mahasiswa.
Lagipula jika makalah bentuknya soft, akan lebih memudahkan dosen membacanya. Cukup buka e-mail, simpan dan baca di manapun serta kapan pun ( bagi dosen yang menggunakan laptop ).
Perbaikan makalah juga akan lebih mudah. Tinggal meng-edit paragraf atau kalimat yang dimaksud tanpa harus mengeluarkan biaya cetak lagi.
Untuk itulah penulis berharap kepada dosen di seluruh universitas dan sekolah tinggi di Tanjungpinang agar tugas makalah yang mereka berikan dikirim via e-mail. Selain praktis dan cepat, cara ini sangat hemat dan tidak membebani mahasiswa secara ekonomi.
Monday, 2 November 2009
In Memoriam of Bu Asiah
Sabtu, 17 Oktober 2009 pukul 15.30 Kampus STAI
Ruang 1 begitu riuh. Rapat HMJ PBI sedang berlangsung. Perbedaan pendapat membuat peserta rapat yang lain kebingungan. Padahal hal yang dibahas sangat sepele.
Dalam keriuhan itu Widya yang duduk cukup jauh dariku berusaha menyampaikan pesan padaku tanpa suara. Aku berusaha membaca gerak bibirnya. Keningku berkernyit. Tak dapat menangkap pesan yang ia sampaikan.
Bu Asrah meninggal dunia. Akhirnya itu yang dapt kusimpulkan dari gerak bibirnya. Bu Asrah??? Ah enggaklah, begitu kataku padanya. Aku ingat guru Fisika SMA yang terkenal dengan kedisiplinannya. Reaksiku yang tidak percaya cukup membuat Widya tidak puas. Ia serahkan handphonenya agar aku bisa membaca pesan singkat yang baru saja ia terima. Katanya dari Kak Desi. Hah?? Aku mulai heran. Apa hubungannya Kak Desi dengan Bu Asrah?? Aku tidak habis pikir hingga aku membaca SMS itu.
Bu Asiah meninggal dunia
Singkat, jelas, tepat, dan padat. Kalimat itu menggambarkan seluruhnya. Oooo jadi Bu Asiah, bukan Bu Asrah. Keningku kembali berkerut. Tidak percaya. Tidak ada perasaan apa-apa. Tapi sms ini dari Kak Desi. Ia jarang sekali bercanda. Ah, tapi aku tidak peduli. Konsentrasiku kembali pada rapat yang semakin tidak jelas.
Tak lama kemudian, giliran HPku yang bergetar. Ayah. Huff…. Pasti menanyakan posisiku lagi. Begitu kuangkat ayah langsung berkata, “ Za, Bu Asiah maningga. Capek pulang. Ayah sedang managak an tenda “
Deg.
Jadi benar. Ah, aku masih tidak merasakan apa-apa. Sampai HPku bergetar lagi untuk yang kedua kalinya. Ibu. Apakah memberikan kabar yang sama??
“ Za, Bu Asiah maningga. Capek pulang. Ko ibu sedang manolong urang maurus jenazahnyo. ”
Aku hanya bisa berkata iya dan menambahkan bahwa aku akan ke
Tanpa merasa sedih ataupun khawatir aku kembali masuk ke ruangan. Tapi kali ini konsentrasiku sudah pecah. Benar-benar pecah. Aku mulai mempercayai kebeneran pesan singkat dari Kak Desi beberapa saat tadi. Aku menjeling pada Widya. Tapi tak kudapati ia melakukan hal yang sama padaku. Rapat terus saja berlanjut.
Diam-diam aku mulai kesal dengan rapat ini. Kenapa dari tadi hal yang dibahas itu-itu saja. Tidakkah ada agenda lain selain membahas penanggung jawab masing-masing penampilan??
Perlahan aku pindah ke tempat Widya. Sepertinya tidak ada yang sadar dengan pergerakanku. “ Wid, betul Bu Asiah meninggal. “
“ Innalillahi wa inna ilaihirojiuun………” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Aku tersentak. Aku baru saja menyadari bahwa tak sedikitpun aku mangeluarkan kata-kata itu dari tadi. Lantaran aku tidak percaya barangkali. Ah entahlah, kenapa aku tidak sedih atau mengeluarkan air mata?? Begitu keraskah hatiku?? Bukankah selama ini ia orang yang memiliki tempat di hatiku?? Aku tak lagi berkonsentrasi dengan rapat. Hatiku berkecamuk. Menimbang-nimbang, haruskah aku sedih dan menangis. Ataukah berusaha tetap tegar seperti yang aku rencanakan selama ini jika suatu saat orang terdekatku meninggal???
Sabtu, 17 Oktober 2009 18.30 dalam perjalanan menuju rumah duka
Astaghfirullah……
Hampir saja motor yang kukendarai masuk lubang. Pikiranku ntah ke mana-mana. Sudah tak karuan. Lubang itu tak lagi kusadari. Syukur masih dapat kuhindari.
Aku masih bertanya-tanya benarkah Bu Asiah meninggal? Baru semalam dia ke rumah untuk bertanya mengenai
Minggu lalu ia ke rumah meminta aku untuk membuatkannya
Tapi karena terlalu disibukkan dengan urusan lain hingga hari ini pun
Sepanjang jalan hal itu yang terus menghantui pikiranku.
Kenangan di sekolah, pesan-pesannya padaku, gurauannya di hari-hari kami mengelola kelas bersama berkelebat sepanjang jalan.
Teringat aku pada dadanya yang sesak akan urusan-urusan di sekolah, masalah anak-anaknya dan kesulitan ekonomi yang dihadapinya. Sejak berhenti mengajar di sekolah yang sama denganku, ia harus pontang panting mencari pekerjaan baru. Bersyukur dalam waktu singkat ia kembali mengajar di sebuah Kelompok Bermain. Agak jauh memang, tapi ia mengaku senang di
Ilmunya kembali bermanfaat saat banyak tetangga mempercayakan anaknya pada beliau untuk dibimbing dalam pelajaran sekolah. Beberapa di antaranya minta diajarkan mengaji. Saat ia bercerita aku bisa melihat binar di matanya. Aku yakin ia tak lagi berada dalam himpitan ekonomi. Atau setidaknya ia tak perlu lagi cemas walau gaji suaminya kadang tidak mencukupi untuk kehidupan mereka.
Betapa senangnya ia saat memberitahuku bahwa ia diberi uang sejumlah
Ah, Bu Asiah. Masih tergambar jelas di pelupuk mataku rasa terima kasih yang disampaikan oleh Mama Darma, salah satu wali murid kami. Anaknya yang pada saat itu berada dalam bimbingan Bu Asiah menunjukkan perkembangan yang sangat memuaskannya. Di sekolah dialah satu-satunya guru yang mampu menenangkan anak, sesuatu yang jarang sekali berhasil dilakukan oleh guru-guru lain. Karena itu, tak jarang ia mendapat hadiah dari wali murid.
Jantungku berdetak tak karuan saat berbelok ke gerbang perumahan Bu Asiah.
Begitu tiba di tempat tujuan, aku melihat ada tenda berdiri. Bukan untuk pesta pernikahan. Tapi tenda dari Babul Khairat yang biasa digunakan oleh pengurus mesjid saat ada warga yang meninggal dunia.
Kakiku bergetar begitu aku turun dari sepeda motor. Pandangan ketakutan dan tak percaya tergambar di wajahku. Aku cemas. Mengurungkan niat pergi ke rumah duka, aku berbelok ke rumah Bu Ita.
“ Assalamu’alaikum……”
Aku masuk begitu saja dan berhenti di ruang tengah. Mendapati Bu Ita berdiri menatapku.
“ Buk, betul ya???? “ seketika itu juga tangisku meledak. Ketidak percayaan akan berita duka yang dari tadi kupertahankan runtuh sudah. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jelas sudah bahwa hal itu benar. aku terus terisak sambil berkata “ Buk, betul ya??? “ Sejujurnya aku masih tidak percaya akan kenyataan bahwa Bu Asiah sudah meninggal. Buk Ita hanya bisa mengangguk.
Air mataku semakin deras, dadaku naik turun, suaraku parau. Suatu hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya terjadi hari ini. Penyesalan semakin menyelimutiku.
“ Buk, iza…… ga sempat….bikinin…..
“ Buk, iza…mau …ke
Setelah memasang jilbabnya, kami pergi ke rumah duka. Jarak rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Bu Ita. Begitu sampai di depan pintu, aku bisa melihat jenazah Buk Asiah yang terbaring dikelilingi oleh kerabat dan tetangganya.
Aku masih terus terisak saat masuk. Dan tangisku meledak lagi ketika kain penutup wajahnya dibuka. Wajah Bu Asiah. Pucat. Tak lagi berdarah. Bibirnya tidak merah. Matanya tertutup. Dan sekujur tubuhnya diselimuti oleh kain panjang.
Aku percaya. Aku percaya. Aku percaya. Innalillahi wa inna ilaihirojiuuun………
Ya Allah, benar Kau telah memanggilnya. Di umurnya yang masih sangat muda. Dia hanya Kau beri kesempatan 37 tahun untuk hidup di dunia ini. Terima ia di sisiMu Ya Rabb. Ampuni dosa-dosanya. Jauhkan ia dari siksa kuburmu dan bangkitkan ia bersama orang-orang yang beriman.
Keterangan :
Capek = cepat
Maningga = meninggal
Managak an tenda = mendirikan tenda
Manolong urang maurus jenazahnyo = menolong orang mengurus jenazahnya
Friday, 9 October 2009
JANGAN SEKEDAR NGAMPUS
Tadi sore udah mulai gencar. Sampai-sampai pak ketua promosi di atas bus. Udah kayak pengamen. Rencananya tadi mau dampingi sambil keliling pegang kantong kresek wakakakakaka......
Anak-anak pada manggut-manggut aja. Ga jelas, mereka ngerti ato ga. Atau malah lagi liatin pak ketua??? hahahahaha.... Pasti jenggotnya jadi pusat perhatian.
Mudah-mudahan menjelang tanggal 24 Oktober 2009 calon kader yang masuk daftar udah banyak.
Biasanya mahasiswa agak susah untuk aktif. Dengan alasan yang macam-macam tentunya.
Padahal ga ada ruginya kok aktif di kampus atau luar kampus. Ada tastenya.
Kalo mau hitung untung rugi....hmmmm hitung ja sendiri.
Tapiii, dari sumber mana pun, ga ada yang nyaranin : kuliah tu kuliah aja. Serius. Ga usah ikut kegiatan.
Ya ampun capek deh. Mari saudara-saudara, jangan ulangi kesalahan yang sama seperti di mas SMP n SMA. Sekolah sekedar sekolah, dapt ijazah.
Kalau semua mahasiswa aktif di kegiatan kampus ataupun kegiatan bermanfaat lainnya, dijamin ga sepi.
LAGI, KEKERINGAN DI JATENG
Bukti-buktinya udah di depan mata. Apalagi tanda-tanda kekeringan dan kebasahan ( bahasanya aneh...) udah nyata banget.
Banjir bandang di Turki ngeri banget. Di Jawa Tengah malah kekeringan sampe warga mesti rela berjam-jam antri untuk dapetin air bersih dari pemda.
Waah tragis banget ya. Pasti mandi cuma sekali. Mau nyuci mikir2 dulu. Ah, serba sussah....
Bersyukurlah yang tinggal di Perumahan Pinang Hijau. Khususnya buat penghuni RT 3, soalnya kami hampir tidak pernah kehilangan air. Walaupun daerah lain kering kerontang.
Alhamdulillah......


