Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Thursday, 7 January 2010

3 Fase Kedudukan dan Peran Perempuan dalam Kebangkitan Islam

      No comments   
“ Dan orang – orang yang beriman, lelaki dan perempua, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang makruh dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu ajan diberi rahmat oleh Allah, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksan. ”
( QS. At Taubah, 9 : 71 )

Adalah tulisan ini dibuat oleh penulis dalam rangka menjelaskan secara singkat 3 fase pergerakan muslimah dan perannya dalam kebangkitan Islam. Tulisan ini penulis persembahkan untuk teman-teman penulis, yang masih memiliki kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya.

1. Fase Jahiliyah
Fase jahiliyah ialah fase sebelum datangnya Islam. Pada fase ini manusia berada dalam kekosongan dakwah para Rasul. Fase ini ditandai dengan rusaknya garis-garis kehidupan di masa itu.
Di fase ini, perempuan di seluruh belahan dunia mendapat perlakuan yang tidak adil dan kejam. Sama sekali tidak manusiawi. Kedudukan perempuan dalam masyarakat sama sekali tidak diperhitungkan.
Dalam ajaran Nasrani, misalnya, perempuan adalah salah satu dari 4 golongan yang tidak akan didengar perkataannya setelah orang gila, orang lanjut usia, dan anak-anak. Di Romawi, perempuan juga sangat direndahkan bahkan dihina. Tak jarang ia juga disiksa dengan kejam. Di Athena, menurut Encyclopedia Britannica, status perempuan disamakan dengan status budak. Dan di dalam UU Hammurabi wanita tak lebih dari binatang ternak. hal yang sama juga dialami oleh perempuan-perempuan di Cina yang hidup pada masa itu. Mereka dianggap sebagai warisan dan penyakit.
Bahkan di Arab, seperti kita ketahui, memiliki anak perempuan, adalah suatu penghinaan yang amat besar. Maka, setiap bayi perempuan yang lahir harus dikubur hidup-hidup. Kalaupun dibiarkan hidup, kebaradaannya sama sekali tidak diakui. Tidak mendapat warisan dan hidup miskin. Tak hanya itu, dalam tradisinya, saat suaminya meninggal istri tersebut dapat diwariskan layaknya harta pusaka. Dalam agama Hindu, seorang istri harus ikut mati dan dibakar ketika suaminya meninggal.
Inilah fenomena tentang kedudukan perempuan di masa lalu, masa sebelum Islam datang. Maka sungguh beruntung dan bersyukur bagi kita yang hidup di masa ini tidak mendapat perlakuan seperti yang telah penulis ganbarkan di atas.

2. Fase Datangnya Islam
“ Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempaun dalamkedaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan balasan dengan ppahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“
( QS. An Nahl : 97 )

“ Bagi laki – laki ada hak bagian dari harta peniggalan kedua orang tua dankerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian ( pula ) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atua banyak menurut bagian yang ditetapkan.”
( QS. An Nisa, 4 : 7 )

“ Hanya laki – laki yang berakhlak mulia yang menghormati perempuan dan hanya laki – laki berakhlak hina yang merendahkan perempuan. “

“ Orang yang paling sempuna agamanya adalah orang yang paling bak wataknya. Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang memperlakukan anggota keluarga perempuannya paling baik. ”
( HR. At Tarmidzi )

Ayat – ayat dan hadist di atas merupakan beberapa bukti yang menunjukkan betapa Islam begitu memuliakan perempuan. Dengan datangnya Islam maka derajat perempuan diangkat dan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki di kehidupan sosialnya. Di Arab, setelah Islam diajarkan oleh Rasulullah saw. pembunuhan terhadap bayi – bayi perempuan tidak dilakukan lagi. Kebiasaan – kebiasaan jahiliyah pun ditinggalkan oleh masyarakat yang mengikuti ajaran ini.

Perempuan yang mulanya dipandang sebelah mata, bahkan diabaikan mulai menunjukkan eksistensinya. Sejarah membuktikan banyak perempuan pada zaman Rasulullah memiliki peran yang luar biasa dalam dakwah beliau. Setelah beliau wafat pun tak sedikit perempuan-perempuan yang senantiasaa mengembangkan dirinya dan berperan di aspek kehidupan.

Islam memberikan kesempatan kepada perempuan untuk berkarya dan terjun ke masyarakat tanpa meninggalkan tugas utamanya ( sebagai ibu rumah tangga bagi yang telah menikah ). Beberapa muslimah di zaman Rasulullah yang patut dijadikan teladan antara lain :
 Khadijah binti Khuwailid
Beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam. Khadijah adalah contoh muslimah ideal di zaman Rasulullah. Beliau terkenal cerdas, penuh kasih sayang dan berhati lembut. Ia berhasil mendidik putri-putrinya Fatimah, Ummu Kultsum, Zainab dan Ruqayyah menjadi perempuan solehah. Tak hanya itu ia juga piawai dalam berbisnis dan sangat dermawan.

 Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq
Aisyah adalah istri Rasulullah yang sangat cerdas. Banyak sahabat Rasulullah yang menjadikannya sebagai sumber rujukan atas berbagai persoalan di masa kekhalifahan. Beliau juga meriwayatkan 2220 hadis dair Rasulullah.

 Fatimah Az Zahra
Anak perempuan Rasulullah ini terkenal dengan kesabarannya dan selalu mendukung perjuangan ayahnya dalam menegakkan Islam.

Selain ketiga muslimah di atas, masih banyak lagi muslimah yang berpartisipasi dalam kegiatan dakwah Rasul. Mereka memelihara hak tetangganya, belajar dan mengajar serta mengkritik para penguasa.

Ini adalah tulisan yang panjang. Oleh karena itu fase terakhir, yaitu fase kebangkitan Islam akan penulis sambung di tulisan berikutnya. Semoga dengan melihat kembali sejarah perempuan baik sebelum datang maupun setelah datangnya Islam mampu memberikan suntikan semangat kepada kita semua.

Tanjungpinang, 7 Januari 2010
Hasil Fokat
Forum Diskusi Akhwat KAMMI Daerah Kepulauan Riau
Dalam Rangka Memperingati Hari Ibu 22 Desember 2009

0 comments:

Post a Comment