Showing posts with label OPINI. Show all posts
Showing posts with label OPINI. Show all posts

Wednesday, 27 May 2015

Tanjungpinang dan Mati Lampu



Aku ingin memulai tulisan ini dengan kalimat, "Alawww, ini udah tahun berapa? Kita masih krisis listrik?" 

Soal krisis listrik di Tanjungpinang emang bukan hal yang baru. Dari tahun ke tahun kami dihadapkan dengan masalah yang sama. Aku ingat membuat sebuah tulisan penghibur ketika mati lampu, yah daripada ngumpat engga jelas di sosmed. Berusaha menghindari untuk ngumpat PLN di facebook atau twitter sih. Lebih agak woless aja kalo mati lampu. 

Friday, 13 February 2015

Valentine? Momen Pas Buat Mutusin Pacar

PERINGATAN KERAS --> Tulisan ini cuma buat remaja alay dan pemuda pemudi galau. Buat emak2 dan bapak2 yang maksa buat ikutan baca dikenakan kewajiban untuk menshare tulisan ini ke sosmed, terutama ke hati dan otak anak-anaknya



Udah tahun 2015 ya. Heboh apa tahun ini? Akhir Desember 2014 lalu iklan MEA alias masyarakat ekonomi ASEAN bolak balik di tivi. Kabarnya terhitung 1 Januari 2016 kelak Indonesia bakalan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Whatever deh, kali ini mau ngebahas everlasting-issue *bukan everlasting friend nya Super Junior, The Last Man Standing #duhhh!!

Apakah everlasting-issue itu? Di bulan Februari yang penuh banjir ini, salah satu momen paling diinget sama penduduk hampir di seluruh dunia (kita kecualiin Palestina ya, mereka ga punya waktu tuh buat valentinan) adalah tanggal 14 Februari alias Valentine’s Day, Hari Kasih Sayang. Ups, kecuali buat kamu-kamu yang ultah di bulan ini (met milad!) atau khusus ngelingkerin tanggal 3 Februari pake stabilo paling gede and paling ngejreng trus ikut kuis buat #HappyKyuhyunDay gyahahaha

okeh, ini di luar topik kita, buat intermezzo aja XD


Monday, 2 February 2015

Trio Macan dan Tanjungpinang





Lagi, Trio Macan tampil di Tanjungpinang. Kali ini menghibur para peserta gerak jalan santai dalam rangka hari pers nasional yang berhadiah umroh. 


Mungkin karena aku ini terlalu sok baik dan sok suci, setiap mendengar nama trio macan, rasanya ada yang njelimet di dalam hati. Berkata, wah trio macan lagi? Apa cuma mereka yang mampu diundang sama penyelenggara?

Engga kali ini aja trio macan bikin Tanjungpinang digoyang. Terakhir kali adalah dalam rangka kampanye PDIP jelang pemilihan umum 2014. Aku yang ketika itu penasaran, datang ke Pamedan. Selain penasaran, juga ingin melihat seperti apa partai merah ini dalam berkampanye. Dan subhanallah, benar-benar yackkkkksss.....!! 

Ga cuma pas pemilu aja, aku ingat waktu pemilihan walikota Tanjungpinang Oktober 2012 lalu, grup dangdut ini juga ikut memeriahkan kampanye Lis-Syahrul yang didukung oleh PDIP. Kampanyenya siang, dari pagi hujan udah mengguyur Tanjungpinang dengan lebat. 

Sampe-sampe ketika itu di media sosial banyak yang berdoa (termasuk aku hehehe) agar hujan terus turun agar kampanye dan trio macan gagal tampil. Yah cuaca berkata lain, jam 1 siang, awan muncul dan bikin langit kembali cerah. Walhasil, yang tadi berharap Lis-Syahrul ga jadi kampanye sukses dibully di facebook xixixixi... 

Pas aku gugling, trio macan termasuk artis yang cukup sering diundang. Ada yang risih nanya, kenapa sih kok trio macan lagi. Apa karena mereka biayanya murah? 

Xixixi geli juga mendengar kalo tarif mereka murahan. Seringnya mereka ke sini bukan soal tarif, tapi lebih kepada siapa link atau orang yang ngasih job. Hubungan dengan pihak manajemen artis tentu mempengaruhi ke mana artis akan tampil. Soal bayaran, siapa yang tahu?

Melihat seringnya grup ini tampil, sudah jadi rahasia umum bahwa setiap kali PDIP di Tanjungpinang bikin event baik itu kampanye dan lainnya, tentu salah satu artis yang dibawa adalah Trio Macan. 

Nah, awal Februari 2015 ini trio macan datang lagi dalam rangka hari pers nasional. Beberapa foto yang aku lihat di facebook, buset dah, yang beginian bisa tampil di Tanjungpinang? Kota yang punya tagline jujur bertutur, bijak bertindak? Di ibukota provinsi Kepri yang Berpancang amanah, bersauh marwah? Hmm entah di mana marwah yang disauhkan itu. 

Tentu dengan pemimpin Tanjungpinang hari ini, kita bisa menebak siapa link yang menghubungkan grup dangdut ini. 

Sebagai warga kota Tanjungpinang, dengan segala macam kasus yang terjadi belakangan ini, aku berharap pihak pemerintah lebih berpikir dalam memilih artis yang didatangkan untuk menghibur masyarakatnya. 

Mungkin niat hati ingin menghibur, tapi bila hiburan ini mendatangkan murka Allah SWT, selayaknya ia tak lagi jadi pilihan.

Saturday, 31 January 2015

Kuncinya Banyak Membaca

Suatu waktu ada yang bertanya begini, "Lalu bagaimana kita bisa membedakan bahwa ini adalah cara ibadah yang benar dan ini adalah yang salah, tidak sesuai dengan yang Rasulullah SAW"

Di antara kita belum seorang pun yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW selain para sahabat dan masyarakat yang hidup di masa itu. Tentu kita tak melihat langsung bagaimana cara beliau beribadah seperti sholat dan sebagainya.

Saturday, 22 November 2014

Bertanya

Menurutku, bertanya adalah hal wajib yang harus selalu dilakukan oleh manusia, terutama bagi pelajar, mahasiswa dan pecinta ilmu. Bagiku, bertanya adalah salah satu proses untuk menggali ilmu, mencari tahu sesuatu yang belum diketahui. Bertanya atas rasa ingin tahu akan membangkitkan kreativitas seseorang. Dengan bertanya, ia akan berusaha mendapatkan jawaban dari pertanyaan - pertanyaannya. 

Lihatlah perbedaan antara anak kecil yang terus mengajukan pertanyaan kepada orang tuanya dengan anak yang lebih banyak diam, tak banyak menggunakan lidahnya untuk berbicara. Perkembangan keduanya tentu berbeda. Kita mestinya harus terus menjadi seperti anak-anak yang penuh rasa ingin tahu akan sesuatu. Sibuk bertanya dan mencari tahu jawaban akan masalah ataupun sesuatu yang membuat kita tertarik. 

Meski demikian, sebagai pelajar dulunya, bertanya adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan, terutama di dalam kelas. Aku masih mengingat masa-masa di mana lidahku terlalu kelu untuk mengajukan satu atau dua pertanyaan pada guru akan hal tak kumengerti. Rasanya sungguh menyakitkan karena jantung tak berhenti untuk berdebar, ditambah lagi aku tak dapat jawaban. 

Aku selalu iri pada teman-teman yang dengan mudahnya mengangkat tangan hanya untuk pertanyaan yang menurutku kadang tidak penting alias sepele sekali. Tapi para guru selalu memujinya karena keberanian yang ia miliki. Ouch, rasanya tersiksa sekali melihat ada orang mendapat pujian karena hal demikian. Nuraniku mulai berontak dan berkata, jika dia bisa kenapa aku tidak. 

Mulailah proses bertanya di dalam kelas yang kususun sedemikian rupa agar bisa menjadi seperti teman lain. Walaupun aku tahu bahwa anak-anak yang bertanya hanya segelintir, tapi rasa tak ingin kalah memaksaku untuk mulai melakukan hal konyol. 

Aku ingat bagaimana seorang Hermione Granger, salah satu tokoh dalam novel Harry Potter, membuatku sangat kagum saat membaca setiap seri novel itu. Aku tahu aku bukan siswa yang super duper cerdas sepertinya, tapi kupikir aku bisa meniru yang ia lakukan. Membaca materi pelajaran sebelum guru masuk dan mengangkat tangan untuk menjawab serta bertanya di dalam kelas. 

Tentu tidak mudah. Ada proses penyusunan ulang mental yang harus kulewati. Pertama diawali dengan mengibas-ngibaskan tanganku yang kaku dan berat sekali untuk terangkat di dalam kelas.Ketika guru bertanya apakah di antara kami ada yang ingin bertanya mengenai materi tadi, tangan kananku seperti menggantung di udara. Keraguan menghalanginya untuk terangkat. Padahal telah kupelajari bagaimana tangan yang keren untuk bertanya. Apakah harus mengacungkan tinju? Atau cukup telunjuk? Atau menegakkan kelima jari seperti Hermione?

Setelah itu aku mulai membuat daftar guru yang mengajar di kelas kami. Mulai dari guru Bahasa Indonesia hingga olahraga. Well aku benci pelajaran olahraga karena kami selalu diminta untuk lari mengelilingi sekolah yang berbukit, memiliki banyak tangga. Melelahkan dan membuat engselku terasa akan putus. 

Berbekal daftar yang kubuat aku mulai proses bertanya tersebut. Dengan tekad untuk menghilangkan kekakuan di lidahku, aku mulai memberanikan diri untuk mengangkat tangan di kelas. Ah, aku ingat saat itu pelajaran Geografi. 

Hasilnya? Sungguh menyenangkan. Pertama kali kulakukan ada begitu banyak keringat dan rasa yang tak nyaman di sekujur tubuh. Belum lagi jantung yang terus berdetak kencang seakan - akan ia akan keluar dari tubuhku. 

Benar, orang-orang selalu berkata, langkah pertama adalah yang paling berat namun setelah itu kau akan rasakan bagaimana kau dapat melangkahkan kaki dengan ringan tanpa beban. 

Aku melewatkan seminggu hanya untuk membaca materi pelajaran, membuat daftar guru dan pertanyaan apa yang akan kulontarkan. Kulakukan ini rutin. Banyak sekali manfaat yang aku dapatkan dari aktivitas ini. Selain aku semakin memahami materi, aku mulai membangun kemampuan berkomunikasi yang tampaknya cukup sulit untuk dikuasai oleh setiap anak di kelasku. 

Rupanya suatu waktu aku mendapatkan dalil tentang anjuran seorang penuntut ilmu untuk bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan 

Dan kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad) melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS An Nahl : 43)

Di catatan kaki ada penjelassan mengenai orang yang memiliki pengetahuan adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab. 

Nah ternyata anjuran untuk bertanya juga bermanfaat ga cuma untuk si penanya. Salah seorang di antara kita dianjurkan untuk bertanya dalam sebuah forum untuk membantu orang lain yang ada di forum tersebut bisa memahami hal-hal yang dibahas. Karena bisa jadi ia tidak paham dan enggan untuk bertanya. So, pertanyaan yang kita ajukan bisa membantunya untuk lebih paham. 

Emang sih sebagian kita suka jengkel kalo ada teman yang bertanyanya kelewatan sampe ga ingat waktu. Nah, sebagai orang yang suka bertanya kita juga mesti ingat kondisi yang ada di kelas. Kalaupun tidak cukup waktunya, silahkan ajukan pertanyaan tersebut di luar forum. 

Alhamdulillah bertanya itu sangat banyak manfaatnya. Tapi kita juga harus menghindarkan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, tidak penting dan tidak bermanfaat. Jangan sampai kita jadi seperti bangsa Yahudi yang selalu bertanya, bukan karena rasa ingin tahu, tapi karena ia sombong. Sampai-sampai bangsa ini bertanya bagaimana rupa Tuhan yang sesungguhnya, padahal mereka telah diselamatkan. Yah, ujung-ujungnya Yahudi toh ingkar pada Allah juga kan. 

Bukan karena ia tak percaya, tapi karena ia sombong

Karena itu, bertanyalah karena ia akan menjawab rasa ingin tahumu
Bertanyalah karena ia akan membantumu mengembangkan kemampuan berkomunikasi
Bertanyalah karena ia akan membantumu memahami sesuatu secara keseluruhan
Bertanyalah...... 

Wednesday, 19 November 2014

Negara Hemat, Rakyat Sekarat

Hal yang tak pernah aku pahami sedari dulu kala adalah alasan pemerintah menaikkan harga BBM setiap waktunya. Mengapa pemerintah harus menaikkan harga BBM sementara mereka memahami benar kondisi keuangan rakyatnya. Atau jangan - jangan mereka tidak tahu? 

Alasan yang sama dari pemerintahan SBY selama 10 tahun belakangan adalah untuk mengurangi beban negara, karena itulah subsidi harus dicabut sehingga harga BBM menjadi naik. Negara lalu dapat menghemat sekian triliun rupiah yang akan digunakan untuk pembangunan. 

Baiklah, apa pun alasan dibalik itu, aku tetap engga setuju dengan kenaikan harga BBM. Kenaikan seribu atau dua ribu bukan masalah sebenarnya, melainkan dampak yang timbul dari dua ribu rupiah itu. 

Kita tahu bahan bakar minyak sudah termasuk dalam kebutuhan primer hari ini disamping sandang pangan dan papan. Keberadaannya mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita kan. 

Kenaikan ini berdampak pada naiknya biaya produksi perusahaan yang otomatis untuk tetap mendapatkan keuntungan harga produk juga harus dinaikkan. Siapa yang akan membeli produk? Kita. 

Kenaikan harga minyak tentu berpengaruh pada biaya transportasi. Perusahaan yang bersangkutan atau alat transportasi pasti juga tidak mau rugi. Apa mereka penganut besar pasak daripada tiang? No, mereka ini pengusaha. Yang dicari adalah keuntungan. Untuk tetap untung, satu-satunya cara adalah menaikkan ongkos transportasi. Lalu siapa yang menggunakan alat transportasi? Kita

Tak hanya itu kenaikan harga minyak ini sangat mempengaruhi harga kebutuhan barang pokok. Fenomena yang selalu terjadi, begitu isu kenaikan bbm berhembus, secara otomatis para pedagang menaikkan sendiri harga barang-barang mereka. Padahal belum ketok palu. Lalu siapa yang akan membeli barang-barang itu? Kita. 

Apa selanjutnya? Kitalah yang akan membeli kebutuhan pokok tersebut dengan harga yang tak bisa kita kendalikan. Kitalah yang akan membayar ongkos transportasi. Kitalah yang harus menghemat pengeluaran rumah tangga, memotong anggaran rumah tangga dan lain sebagainya. Kita jugalah yang akan lebih bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan lebih banyak untuk menutupi sudut ekonomi rumah tangga.

Lalu di manakah hasil penghematan anggaran yang dikatakan pemerintah? Bisakah hasil penghematan itu mengendalikan harga-harga di pasar? Bisakah ia membuat kondisi ekonomi sebuah keluarga tak harus melakukan penghematan sana sini agar kebutuhan pokoknya terpenuhi? Untuk apakah triliunan rupiah hasil pencabutan subsidi itu digunakan? 

Apakah gaji kita akan dinaikkan? Sebagai pemilik usaha, apakah kita akan menjual produk dengan harga yang sama dengan harga sebelum kenaikan bbm? 

Entahlah, aku bukan pakar ekonomi. Hanya pertanyaan yang muncul. Kuharapkan kalian sebagai pakar ekonomi jujur dalam membuat analisa dengan kondisi ekonomi keluarga sebagai pertimbangan juga sudut pandangnya.

Bila negara bisa menghemat lalu bagaimana dengan rakyat?




Tuesday, 18 November 2014

Tentang KTP Tanpa Agama

Belakangan ada hal yang cukup menghebohkan bagi 'sebagian' umat Islam. Aku mengatakannya sebagian karena memang hanya segelintir orang yang tampaknya memperhatikan dan punya waktu khusus untuk mengikuti perkembangan beritanya. 
Sebenarnya kalo dipikir aku termasuk salah satu orang yang sedikit cuek dengan perkembangan kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini. Mataku sudah sangat malas untuk membaca berita apalagi menonton televisi khusus berita.

Semalam karena ibu menonton Damai Indonesiaku di TVOne, mau tak mau aku juga ikut mendengarkannya karena beliau menaikkan volume suaranya. Kali ini membahas mengenai peran agama dalam kehidupan. Ada anaknya almarhum Zainuddin MZ dan Kiai Hasyim Muzadi.

Rupanya belakangan ini sudah mulai heboh isu tentang penghapusan kolom agama di KTP oleh Mendagri. Isu ini bukan hal baru karena memang sudah digembar-gemborkan sejak Jokowi-JK berkampanye untuk pemilihan presiden.

Tentunya kebijakan ini mendapat pro kontra dari berbagai kalangan. Kalangan ulama , khususnya, sangat menentang akan penghapusan kolom agama ini. Meski bagaimanapun agama adalah identitas seseorang. Menghapusnya dari kartu identitas sudah melanggar hak yang bersangkutan.

Alasan lainnya yang menurutku sangat logis adalah kerepotan yang akan ditimbulkan setelah kolom ini dihapuskan.

Sebelumnya aku teringat pada sebuah percakapan meengenai hal-hal sensitif yang tidak boleh ditanyakan pada turis asing, terutama mereka yang berasal dari negara barat. Yaitu jangan tanya mengenai usia, status pernikahan, pekerjaan dan agama yang mereka anut.

Aku berpikir mengapa mereka tidak ingin ditanyakan mengenai agama yang mereka anut. Sebagai seorang muslim, agama adalah hal paling penting dalam hidup karena tanpa agama kehidupan ini tidak tentu arah. Agama adalah bagaimana kita hidup, bukan sekedar keyakinan tentang Tuhan.

Balik lagi mengenai alasan logis tentang penghapusan kolom agama. Bila memang agama adalah wilayah pribadi setiap individu, maka pemerintah tak boleh ikut campur. Ups, bukan bermaksud sekuler. Maksudku pemerintah tak punya hak untuk menghapus kolom tersebut.

Tugas pemerintah adalah melayani kebutuhan masyarakat mulai dari hal terkecil hingga yang terbesar. Pemerintah mestinya memahami benar bagaimana masyarakatnya hidup dan juga mati. Untuk itulah kebijakan dikeluarkan agar kebutuhan itu terfasilitasi.

Tanpa keterangan agama yang dianut, maka tatanan kehidupan masyarakat yang paling sederhana akan kacau balau. Misalnya dalam pernikahan, kematian, tata cara pelaksanaan ibadah, pendidikan.

Bagaimana mungkin sebuah negara yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa mampu menghilangkan identitas agama pada masyarakatnya? Bagiku, penghapusan ini merupakan penghinaan terhadap Pancasila dan founding father Indonesia yang telah berjuang merumuskan dasar - dasar negara.

Sejauh ini belum kudengar protes dari umat beragama lainnya selain muslim. Entahlah aku yang ketinggalan berita atau memang hal ini tidak menjadi masalah bagi umat lainnya.

Semoga pemerintah hari ini berpikir ulang dan jernih dalam mengambil kebijakan.

Sunday, 16 November 2014

Dokter Misionaris?

Beberapa hari belakangan ini media sosial cukup dihebohkan dengan video mengenai aksi terselubung para misionaris di car free day jakarta. Dalam video yang berdurasi hampir 24 menit tersebut diperlihatkan ada sekumpulan orang yang membagi-bagikan suvenir ke warga Jakarta yang lewat di jalan tersebut. 

Yang paling jelas mengenai kristenisasi di video tersebut adalah ketika salah seorang anggota komunitas berpakaian hitam berlambangkan burung merpati mencoba untuk membuat seorang nenek untuk mempercayai Yesus. Ajakan yang disampaikan secara terang - terangan. 

Melihat ini aku teringat pada satu pengalaman yang belum lama ini kualami. Ketika itu Khalisa, anak dari sepupuku demam tinggi dan harus dibawa ke dokter. Setelah sholat Isya kami pun pergi ke salah satu dokter yang ada di kota kami. 

Dalam perjalanan, Onang (panggilan untuk anak pertama dalam masyarakat Minang) berkata, "Iza sampe sana jangan kaget ya". 

"Kenapa, nang?"

"Soalnya begitu kita masuk tempatnya Iza bakalan tengok gambar - gambar Yesus gitulah" jawab Onang. 

Selama sisa perjalanan aku mulai berpikir keras, benarkah perjalanan kami ini jika kondisinya memang demikian. Apakah kami harus pergi ke dokter yang tempatnya dipenuhi gambar demikian? 

Kami sampai di klinik tersebut.. Pada awalnya kami sudah mencari beberapa alternatif, namun berhubung hari minggu, maka tak banyak tempat klinik yang kira - kira bisa kami datangi. Ya sudahlah, aku pun masuk ke klinik itu. 

Terus terang ada rasa enggan untuk masuk. Awalnya kupikir apa yang akan orang katakan saat melihat ada orang sepertiku berobat di tempat yang dipenuhi gambar Yesus? Lalu aku berpikir lagi bukankah kami hanya ingin berobat? Apakah salah? Lalu aku membayangkan bukankah tidak semua dokter adalah muslim? Apakah ada larangan untuk mengunjungi dokter non muslim? Aku terus berpikir

Begitu memasuki halaman ada rasa lega sekaligus hmmm apa ya, sulit untuk kucari kata yang tepat, ada beberapa pasien yang sedang menunggu antrian. Aku masuk. 

Dan memang cukup membuatku kaget saat melihat ruangan depan. Di dindingnya terpasang gambar Yesus yang pernah kulihat dalam film Jesus Christ. Aku menontonnya bersama Usup hingga tengah malam karena rasa penasaran kami akan kisah Yesus versi umat kristian. 

Gambar itu menunjukkan bagian adegan di mana Yesus berjalan menuju tempat ia akan disalib sambil membawa kayu salib yang amat berat itu. Dengan tubuh penuh darah dan wajah yang menahan sakit. Berikutnya adalah gambar penyaliban Yesus di mana tangan dan kakinya dipaku. Ouchhh ini benar - benar sadis. Darah di mana - mana dan itu terpampang jelas! Ditambah dengan kawat yang melingkari kepala Yesus menambah kesadisan yang tak layak untuk diperlihat pada anak - anak. 

Selama menunggu aku masih memperhatikan gambar tersebut dan membaca keterangan yang ada. Sementara itu anak - anak yang juga menunggu asik bermain dan beberapanya menangis karena sakit kepala yang mereka alami. Khalisa sendiri masih duduk manis bersama aku dan bundanya. Tapi kuyakini bahwa matanya juga melihat ke gambar tersebut. 

Tibalah saat giliran Khalisa diperiksa. Begitu masuk ke ruangan itu kuakui sungguh ia adalah dokter yang amat sangat cantik dan juga ramah. Menurut Onang yang sudah cukup sering ke dokter anak, dokter ini melayani kami dengan baik. Ia menanyakan gejala yang dialami oleh anak, mencatatnya dengan detil. Tidak seperti dokter yang biasa dikunjungi, hanya bertanya sedikit kemudian memberi resep obat. 

Meski demikian, ada hal yang menggangguku saat memasuki ruangan itu. Di samping meja dokter ada semacam gambar yang menjelaskan mengenai hari kebangkitan, paskah dan sejenisnya. Tempelan ini menjelaskan tentang bagaimana Yesus telah mengorbankan dirinya dan menyelamatkan manusia. Tulisan yang sangat besar. 

Kemudian di atas meja ada buku mengenai mukjizat yesus atau kristen, ah aku lupa tulisannya. Berwarna biru dan berukuran cukup besar dengan kertas yang tebal. Selain itu begitu aku perhatikan dokternya, ia mengenakan beberapa benda kecil dan warna warni yang penuh simbol kristen. Gantungan kecil juga ada. 

Tempat tidur dipenuhi dengan boneka yang memang menjadi kesukaan anak - anak, mulai dari spongebob sampe Mickey Mouse. Lalu di bawah tempat tidur ada meja kecil berlaci yang di atasnya ada banyak benda - benda kecil pula. Benda - benda itu salah satunya yang lihat adalah adanya tanda salib dan simbol - simbol kecil yang aku ketahui sebagai simbol kristen. 

Setelah diperiksa, dokter cantik itu pun pergi ke belakang untuk membuat resep obat. Menurutku kami cukup lama menunggu di ruangan itu. Aku berpikir bahwa dokter ini pastilah seorang kristen taat. Terlihat bagaimana ia mencoba membuat tempat kerjanya dipenuhi nuansa keyakinannya. Ia pastilah orang yang memahami psikologi anak. 

Ia menggunakan barang-barang akan menarik perhatian anak - anak untuk dilihat. Berbunyi dan berwarna. Seorang anak yang melihat benda - benda di klinik itu menurutku akan memasukkan informasi tersebut di alam bawah sadarnya. Apalagi mereka yang berobat ke sana rata - rata adalah anak yang berada dalam fase golden age atau fase keemasan di mana pada fase ini anak - anak sangat mudah menyerap apa pun yang ia dengar, lihat dan rasakan. 

Ini adalah hasil analisaku selama beberapa jam berada di tempat itu. Pengalaman pertama yang membuatku sadar bahwa mereka yang non muslim pun berusaha untuk mensyiarkan keyakinan yang ia miliki. Memakai segala simbol keagamaan dengan rasa bangga tanpa rasa malu apalagi takut. 

Namun satu hal yang ingin kukritisi adalah pemasangan gambar penyaliban yesus di ruang tunggu. Untuk tempat yang dikunjungi oleh anak - anak ini bukanlah gambar yang tepat untuk dipajang. Biasanya umat kristiani hanya memajang gambar Yesus atau Bunda Maria di dindingnya atau gambar salib. Tapi gambar penuh darah dan kesadisan? It's not very good.

Aku menyebutnya dokter misionaris bukan karena kecenderungan tertentu. Aku tak menyalahkannya karena mungkin itu salah satu usaha yang bisa ia lakukan untuk menyebarkan agamanya. Toh, bagiku ia tak menyampaikannya dari lisan hanya berupa gambar dan benda penuh simbol. 

Lagipula sebagai seorang kristen taat itu pulalah yang bisa ia lakukan untuk melakukan pelayanan terhadap tuhan yang ia yakini. Sebagaimana seorang muslim yang juga sebagian di antaranya mendapat tugas untuk menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. 

Sebagai orang yang beragama dan sangat meyakini keyakinannya, tentu mengajak orang lain adalah tugas yang semestinya dilakukan. Dengan syarat ia tak mengajak orang yang telah beragama untuk masuk ke agamanya. 

That's it semoga kita sebagai seorang muslim yang bangga dengan kemuslimannya melaksanakan seluruh ajaran yang tertera pada Al Quran dan juga sunnah Rasulullah SAW. 

Hari ini aku belajar dari seorang non muslim


Wednesday, 5 November 2014

Arti Menjadi Kader LDK

Bismillahirrahmanirrahiiim

Selain mentoring atau pertemuan pekanan, hal yang rutin dilaksanakan di LDK alias Lembaga Dakwah Kampus adalah agenda perekrutan atau biasanya yang

lebih dikenal sebagai Training Kader atau pelatihan kader dan sebagainya. Kegiatan ini bertujuan untuk merangkul para mahasiswa untuk bergabung di LDK.

Fenomena yang terjadi di daerah Kepri, yang saya pikir juga terjadi di daerah lainnya adalah jumlah peserta yang jauh dari harapan alias sangat sedikit

sekali. Dari seribu mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa baru, yang mengikuti kegiatan tersebut hanya sekitar 30 - 50 mahasiswa. Sebuah

perbandingan yang amat jauh. Namun beginilah fenomenanya, tak hanya di Kepri tapi juga di daerah lainnya.

Lalu, apakah semangat kita akan turun karena jumlah yang sedikit? Ups, saya harap kita belum terlalu kendor

Nah, dari puluhan mahasiswa yang ikut tersebut, mulailah mereka menjalani kehidupan dengan sebuah predikat sebagai kader dakwah kampus, sebuah

sebutan yang telah lazim dan membumi di Indonesia. Walaupun ada rasa enggan untuk disebut demikian, mau tidak mau masyarakat kampus akan

menyebutnya demikian.

Mari kita ibaratkan para mahasiswa baru ini sebagai penumpang kapal yang baru saja akan berlayar. Apakah mereka hanya akan berlayar begitu saja. Eits,

tentu tidak. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh kapten kapal, para anak buahnya (ABK) dan tak lupa oleh penumpang itu sendiri.

1. Kapten Kapal, berikan petunjuk apa yang harus dilakukan oleh ABK dan penumpang.
Seorang kapten kapal yang merupakan pemimpin harus memberikan pengarahan kepada anak buahnya melalui briefing dan pemberitahuan -

pemberitahuan tentang hal - hal apa saja yang harus mereka lakukan. Tujuannya agar penumpang dapat menikmati perjalanan itu, tahu tujuan berlayar dan

selamat sampai tujuan. Tak hanya itu pengarahan kepada ABK juga merupakan langkah untuk keamanan penumpang dalam menghadapi kondisi darurat.

Begitu pula di LDK, ketua merupakan cerminan dan salah satu sumber penyemangat bagi para kader di bawahnya. Tanpa sosok ketua, kader, terutama

kader baru akan sulit untuk membaca apa yang harus ia lakukan. Tak hanya itu, ia juga akan sulit menemukan teladan yang bisa mereka contoh prilaku

keseharian, pemikiran, cara ia bicara, bertindak, berpakaian dan sebagainya. Memanglah berat namun sesuai dengan balasan yang akan diterima dari Allah

SWT.

2. Anak buah kapal
Apa yang biasanya dilakukan para ABK? Yups, mereka mengurus seluruh bagian kapal untuk memastikan keadaannya baik - baiknya. Memeriksa setiap

sudut, memberikan pelayanan maksimal kepada para penumpang, memberi pertolongan, membersihkan kapal dan menjalankan serta merawat mesin.

Seperti itukah para kader LDK?

Tentunya. Mereka yang telah berkecimpung terlebih dahulu secara otomatis mengemban tugas sebagai pelayan. Para kader ini memberikan apa yang

dibutuhkan kader baru baik dalam hal yang terkait dengan LDK maupun dalam kehidupan kampus juga kehidupan sosialnya.

Selain menjadi penyambung lidah dan pelaksana kegiatan yang ada di LDK, kader - kader ini juga bertugas untuk membangun ukhuwah di antara mereka

sendiri, terutama kader baru.

Ah, banyak ya... Sekali lagi, balasan yang akan diterima tentu sesuai ;)

3. Penumpang kapal
Hal pertama yang harus seorang penumpang ketahui adalah tujuan. Ke manakah kapal ini akan berlayar? Berapa lama waktu perjalanan yang dibutuhkan?

Jalur manakah yang akan digunakan? Adakah panduan dalam perjalanan? Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan? Adakah petunjuk

keselamatan di dalamnya?

Bila kamu adalah seorang penumpang namun tak mampu menjawab pertanyaan di atas, maka kami mengkhawatirkan keadaanmu.

Seorang penumpang yang tak mengetahui ke mana ia akan berlayar bisa berakibat fatal. Penumpang yang berlayar tanpa tujuan hanya akan menambah

beban dan dilanda kebingungan terus menerus. Beruntung bila dalam perjalanan tersebut ia berinisiatif untuk bertanya pada orang - orang sekitar ke mana

kapal ini akan pergi. Tapi bagi yang cuek, ia tak akan peduli pada hal tersebut sehingga ia bisa saja melakukan hal - hal yang bertentangan atau terindikasi

untuk pindah ke kapal lain.

Hmmm untukmu adik - adik baru yang telah mengecap training kader bersikaplah lebih pro aktif dalam mencari ke mana sebenarnya LDK ini akan pergi.

Apa yang dapat kamu lakukan di dalamnya. Ketahui pula apa keuntungan yang akan kamu dapatkan dengan bergabung dalam organisasi ini. Berikan

sedikit waktumu untuk mencari tahu tentangnya. Penumpang yang baik adalah penumpang yang mengetahui apa yang harus ia lakukan dalam kapal

tersebut selama perjalanan.

Waktu Kita Sedikit, Kewajiban Kita Begitu Banyak

Jauh - jauh hari, Imam Hasan Al Banna telah mengingatkan kita bahwa kewajiban yang kita miliki lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Benar

memang adanya. Ada begitu banyak hal yang harus kita lakukan sementara dalam sehari kita hanya punya waktu 24 jam. Ah, sedikit sekali... Bahkan seperti

tak ada waktu untuk istirahat.

Di tengah kesibukan kuliah yang menyita waktu kader LDK harus pula menyediakan waktu untuk mengurus LDK dan mempelajari hal - hal yang berkenaan

dengannya. Apakah melelahkan? Tentu. Belum lagi jika mereka adalah kader baru.

Fenomena hari ini menunjukkan kesadaran untuk ber-LDK itu belum sepenuhnya menyelimuti hati - hati para kader. Masing - masing kader kehilangan arah

tujuan. tidak tahu apa arti keberadaan mereka di sana. Yang mereka tahu cuma mentoring, kajian, pelatihan atau rujak dan ice cream party.

Tidak, tidak, tidak. LDK bukan hanya soal itu.

Menjadi seorang kader LDK artinya kita siap untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Menambah waktu untuk merubah diri sedikit demi sedikit seperti

yang tertulis dalam Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

Tak hanya itu kader LDK adalah orang - orang yang siap untuk menjadi contoh baik di tengah - tengah masyarakat kampus. Menjadi orang - orang yang

akan mengingatkan orang lain akan arti beradaan manusia di dunia.

Kader LDK adalah teman yang akan membuat teman - teman di sekitarnya mengingat Tuhannya setiap kali mereka bertemu. Kader LDK adalah orang -

orang yang menghidupkan nilai - nilai Islam di kampus. Tak saklek pada perbedaan, menyebarkan senyum, salam dan sapa, memberikan kenyamanan serta

mempresentasikan Islam dalam setiap tindak tanduknya.

Ah, banyaknya.... Sanggupkah kader LDK melakukannya?

Penulis minta maaf jika tulisan ini menjadi sesuatu yang menakutkan dan memberatkan. Tulisan ini hanya  mencoba membantu para kader agar

mendapatkan gambaran untuk apa mereka bergabung di LDK. Apa yang harus dilakukan? Ah, sekali lagi penulis minta maaf jika tulisan ini terkesan terlalu

idealis yang belum tentu penulis juga mampu melaksanakan segala hal.

Hanya ingin berbagi bahwa menjadi aktivis dakwah kampus adalah hal yang paling dan patut disyukuri karena membuat kehidupan kampus lebih berarti.

Hidup lebih punya tujuan. Tahu rasanya melakukan sesuatu. Tahu rasanya untuk siapa kita berbuat dan apa yang akan kita dapatkan sesuai janji.

Menjadi aktivis dakwah kampus (ADK) adalah sesuatu yang istimewa.

Tak akan kau temukan kebahagiaan selain berkumpul bersama orang - orang sholeh dan yang sedang belajar menjadi orang sholeh.

Tak akan kau temukan kebahagiaan selain membangun bangunan ukhuwah yang dibangun atas dasar akidah, bukan nasab, kampung halaman ataupun

suku.

Seperti indahnya ukhuwah Mush'ab bin Umair saat dipersaudarakan dengan Abdullah ibnu Maktum. Atau mengharukannya pengorbanan tiga sahabat yang

syahid dalam perang karena mendahulukan air untuk saudaranya yang lain.

Bergabung dalam LDK berarti mengubah diri sesuai tuntunan Al Quran.
Bergabung dalam LDK berarti siap berukhuwah.
Bergabung dalam LDK berarti menghidupkan nilai - nilai Islam di kampus dan lingkungan sekitar
Bergabung dalam LDK berarti menyamakan mimpi untuk menggapai cita - cita kejayaan Islam

Sanggupkah? Tetapkan pilihanmu, niatkan dengan benar karena begitu kita tak berhasil meluruskan niat, suatu hari kita hanya akan menjadi orang - orang

yang mundur atau terlempar dari jalan itu.

Selamat mempelajari LDK!!

Tulisan Para Da'i

Kami adalah pena pena yang tajam
yang akan menuliskan kebenaran
tanpa ragu ungkapkan keadilan

Penggalan lirik nasyid Tekad yang dipopulerkan oleh Izzatul Islam di atas sudah lama tak kami nyanyikan dalam forum KAMMI. Sebelum ada Mars KAMMI baru yang diciptakan oleh Pak Maukuf yang saat itu menjabat sebagai staf kaderisasi pusat, setiap acara kami menjadi Tekad sebagai mars yang dinyanyikan. Isi liriknya menggugah semangat siapa pun yang mau menghayati liriknya. 
Yang aku tuliskan tadi adalah bait terakhir dari lagu itu. Yang dimaksudkan adalah, kami, yang telah masuk dalam lingkup tarbiyah, yang telah menikmati ukhuwah diharapkan untuk menjadi pena - pena yang tajam yang akan menuliskan kebenara, baik kebenaran Islam maupun hal - hal yang terjadi di sekitar kami. 

Menulis adalah salah satu bagian yang amat penting. Dalam sebuah kutipan dikatakan bahwa menulis adalah pekerjaan menciptakan keabadian. Menulis adalah perkara mencatat sejarah. Siapa yang tidak menulis sehebat apa pun bila ia tidak menulis maka namanya hanya akan hilang ditelan zaman. 

Landasan pemikiran seperti inilah yang membuat beberapa senior di KAMMI begitu gencar menciptakan penulis - penulis handal. Untuk tingkatan Kepri, siapa yang tak mengenal Raja Dachroni dengan tulisan - tulisan berbau sosial politik yang nyaris pernah nangkring di seluruh media lokal yang bahkan merambah ke Riau. 

Belum lagi jika berbicara tentang para kader di Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan bagian Indonesia lainnya. Sejak dicanangkannya Gerakan KAMMI Menulis di masa kepemimpinan Rijalul Imam, aku yang baru bergabung di KAMMI tahun 2008 merasakan perkembangan itu terutama di media sosial. Tak banyak nama penulis di KAMMI yang kukenal di antara mereka ada Syamsuddin Kadir, Sofistika Carevy, Dina Fauziah, Amin Sudarsono, Rijalul Imam dan para penggiat KAMMI Madani juga tak lupa para penulis ideologi di KAMMI Kultural

Lalu terpikir olehku tentang para dai yang ada di Kepri. Di daerah ini aku yakin mereka tak kalah hebat dengan mereka di luaran sana. Aku bertemu mereka dalam forum - forum ilmu dan mendengarkan taujih para dai dengans seksama. Namun hari ini aku berpikir, harusnya pemikiran dan ilmu mereka juga berhak dinikmati oleh orang lain yang tak sempat hadir dalam forum - forum tersebut? 

Kurasa ada banyak orang yang menulis termasuk para dai, hanya saja tulisan - tulisan itu tak terpublikasikan. Aktivitas harian yang menyita waktu bisa saja membuat para dai ini tak memiliki waktu lebih untuk berkutat pada web pribadi untuk menyebarkan ilmu, pemikiran dan pandangan mereka terhadap permasalahan yang ada. 

Semoga nanti ada tim yang akan mengumpulkan tulisan para dai ini yang kemudian dirangkum dalam satu web. Hal ini memudahkan penyebaran pemikiran. Ah semoga saja.... Aku berniat untuk memulainya, mungkin hanya perlu berkomunikasi dengan para dai tersebut. Insya Allah

Sunday, 7 September 2014

Mentoring dan LDK, Kita Hadir Buat Kamu [Iya, kamu]

Anyeong haseyo :) 
Mengingat hutang tulisanku pada Ari mengenai LDK beberapa waktu lalu kali ini sepertinya bisa kulunasi hehehe harapannya tulisan ini bisa disebar luaskan. Menulis tanpa dibaca itu berasa kayak makan gulai tanpa garam eaaaa... 

Oh ya, tulisan ini kupersembahkan buat kamu - kamu yang belum mengenal LDK dengan harapan semoga Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu gerakin hati kamu buat gabung bersama kami. 

Sebelumnya aku mau tegasin dulu kalo di sini aku bukan kader inti LDK yang kece itu. Aku cuma orang luar yang mengamati dan mengenal mereka yang berkecimpung di LDK. Secara administrasi aku ga gabung di organisasi internal kampus ini. Lah trus kenalnya gimana? Hehehe ketergabunganku di organisasi lain yang juga diisi oleh anak - anak LDK bikin aku secara ga langsung berinteraksi dengan mereka. 

Well kalo kamu males gabung sama LDK dengan alasan ini itu ya ga apa apa. Aku cukup ngerti kenapa banyak mahasiswa ga tertarik sama LDK. Yang pertama kali aku sering dengar itu adalah karena jilbab cewek - ceweknya gueeede kayak kapal Poseidon (eh udah pada nonton film ini?). Yaaa ga apa apa sih kalo masih risih, kita udah biasa nanggepinnya. 

Melalui tulisan ini aku pengen ngabarin suatu kegiatan yang bikin LDK itu BEDA banget dari organisasi kampus yang lain. Mentoring. 

Kalo LDK kadang bikin seminar, menurut aku seminar yang diadain BEM biasanya lebih keren tuh. Atau kalo mau jalan - jalan, ah anak - anak Mapala lebih ahli. Soal kedisiplinan anak - anak Menwa melebihi siapa pun loh. Tapi mentoring? Cuma LDK yang punya barang itu :D

Mentoring apaan sih? 

Hehehe yang belum tahu jangan jawab sotoy ya... Aku ga bakalan bilang ini kegiatan terkece sejagat raya, ga pengen berlebihan aja sih. Kalo minjem istilahnya mantan Ketua GAMAIS ITB (nama LDK di ITB), Ridwansyah Achmad Yusuf, metoring itu mentoring sebenarnya adalah proses untuk “akselerasi kedewasaan”. Kedewasaan ini, sangatlah luas, bisa jadi, kedewasaan dalam memahami Islam,kedewasaan dalam berilmu sesuai pilihan kompetensinya, kedewasaan dalam mensikapi masalah, kedewasaan dalam memilih keputusan, bahkan kedewasaan dalam bergaul- mengenal karakter manusia.(aihhh ga ribet dong ya ngartiinnya). 

Ini nih program andalan LDK yang ga dimiliki organisasi internal lainnya. Kalo istilahnya bikin ribet, kita sederhanain deh. Secara teknis, kegiatan mentoring itu adalah pertemuan antara peserta mentoring dengan mentornya setiap seminggu atau dua minggu sekali. 

Sebuah kelompok mentoring biasanya berisikan peserta mentoring yang berjumlah 8-12 orang, engga boleh kebanyakan n sedikit juga. Tempat pertemuannya bisa di mana aja. Mau di kampus oke, di kos - kosan, rumah makan, rumah sakit, pantai, aula pertemuan, tempat pembuangan sampah, kuburan, jalan raya daaan lain - lain. Tergantung kesepatakan bersama aja sih.... 

Trus mentoring ngapain? Be-la-jar 
Hehehe jangan alergi dulu dong. Belajar itu ga saklek kayak di sekolahan atau kampus gitu juga kali yang mesti duduk diam sambil dengerin penjelasan gurunya. Para mentor punya kurikulum dan materi yang mesti disampaikan dengan metode yang insya Allah ga bikin kamu ketiduran hehehee.... 

Apakah harus masuk LDK dulu baru boleh ikut mentoring? 

Jaaaaah, ini pertanyaan paling rame yang aku sering dapat. Hmmmm... mentoring itu adalah program LDK paling keren yang engga ngebatasin pesertanya. Siapa pun boleh ikut meskipun dia belum tercatat sebagai kader LDK. Kalo kamu udah terlanjur memilih organisasi kampus yang lain engga jadi masalah. Kamu masih boleh ngikutin program mentoringnya LDK. Sip, langsung hubungi anak LDK ter-kece yang kamu kenal n daftar mentoring se-ka-rang :D :D :D 

Nah tujuan mentoring itu sendiri selain proses akselarasi kedewasaan, biar kamu ga ribet lagi sedikit aku kasih penjelasan. Mentoring itu untuk mengenal diri sendiri. Loh, emang kita lagi pada amnesia? Hey hey tenang dulu. 

Maksudku, ketika mengikuti proses mentoring dengan catatan rutin n engga bolong - bolong, kita tuh digiring untuk mengenal diri sendiri. Siapa aku, buat apa aku hidup, ngapain aja selama hidup, mau ngapain setelah engga hidup, asalku darimana dan kemana aku akan kembali. 

Ini dinamakan proses mengenal diri sendiri. Eitsss jangan salah, LDK memahami bahwa kita yang lagi diusia tergalau sepanjang sejarah engga mengenal diri sendiri yang nyebabin kita engga kenal apa itu Tuhan, siapa Dia n gimana hubungan kita dengan Dia. Hmmmm.... 

Ditulisan berikutnya deh kujelasin tentang mentoring yang lebih mendalam eaaaa ini sih baru kulit - kulitnya. 

So, buat kamu mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang terombang ambing dalam samudera kehidupan yuuuuk dengan mengucapkan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, aku dan juga teman - teman mentoring lain ngajakin kamu buat gabung n ikut proses mentoring. 

Biar komunikasi kita lebih mudah, silahkan hubungi nomer di samping ini --> 0852 6499 0817
Digunain dengan sebaik - baiknya ya semoga kita bertemu dalam lingkaran mentoring, guys. Oh ya, aku minta maaf jika tulisan ini kepanjangan n sukses bikin kamu muntah. Maksudku baik kok :D

Saturday, 2 August 2014

Berita di Batam Pos

Noni Lela Kasenda, 72, mengadu ke Mapolsek Sekupang, Jumat (1/8) siang.  Ia mengadukan tetangganya yang bernama Eva, 30, dengan tuduhan telah menganiaya dirinya.

Noni mengadu Si Eva  memukul kepalanya dengan menggunakan panci.
Pemukulan tersebut, menurut Noni, dilakukan Eva pada hari Senin (28/7) malam atau tepat hari raya pertama saat dirinya sedang membeli nasi di warung.


gambar ilustrasi
Berita yang saya baca di portal Batam Pos dengan judul Nenek 72 Tahun Cekcok dengan Tetangga Umur 30 Tahun sebenarnya adalah kejadian yang sudah biasa kita lihat sehari - hari. Hehehe bukan bermaksud untuk bilang bahwa pemukulan terhadap nenek - nenek berusia 70-an adalah pemandangan harian, tapi perkelahian antar perempuan seperti berita di atas :) maaf ya pemirsaaa.....

Saya ga fokus pada isi beritanya. Begitu membaca berita ini yang pertama kali saya bayangkan adalah wartawannya. Memasang berita seperti ini di media, baik cetak maupun online bukan lagi suatu hal yang dianggap unik (menurut saya) karena masih ada berita yang lebih unik. 

Suatu malam ada kesempatan berbagi cerita dengan beberapa teman di sebuah kedai makan. Waah awalnya saya ragu untuk ikut karena laki - laki semua. Namun, karena sudah diajak dan perut memang lapar, saya pun ikut. 

Malam itu kami ngobrol ngalor ngidul, lompat dari topik yang satu ke topik yang lainnya. Lebih banyak membahas masalah pekerjaan, padahal pekerjaan kami beda - beda, hanya dua orang yang sama. Tapi di satu titik kami bertemu, yaa masing - masing kami pernah mencoba untuk menjadi jurnalis. 

 Ketika itu salah satu teman saya yang masih berprofesi sebagai wartawan berbagi cerita yang membuat saya membayangkan wartawan Batam Pos saat menulis berita pemukulan nenek tadi.

Saat proses pencarian berita dan terkejar deadline, terkadang beberapa wartawan lebih memilih nongkrong di kantor polisi untuk dapatkan berita. Cara ini tentu lebih mudah karena wartawan cukup bertanya pada polisi kasus apa yang dilaporkan hari itu dan informasi yang bersangkutan. Jika dikira cukup layak untuk dinaikkan jadi berita segera tulis dan kirim ke kantor dengan redaksi judul yang menarik dan unik. 

Nah inilah yang membuat saya membayangkan wartawan Batam Pos saat menulis berita tersebut. Well, good job. Saya selalu menyukai para wartawan, terutama mereka yang mau menuliskan berita - berita benar. Bukan berita bohong yang membuat masyarakat salah pandangan akan suatu masalah. 


Friday, 25 July 2014

Ga Cuma Marshanda

Waaaah pada heboh ya di dunia maya soal Marshanda yang lepas jilbab dengan mengunggah beberapa foto dan videonya tanpa jilbab. Namanya juga artis papan atas ya ga lucu juga klo soal beginian ga bisa bikin heboh penghuni dunia maya seluruh Indonesia. Sayangnya kehebohan kali ini rada lebay. DI instagram Marshanda sendiri banyak banget komentar pedas yang sama sekali ga dibalas sama pemilik akun hehehe kasian. Malah pada kelahi dengan akun yang lain.

Nah, tiap orang punya sikap beda - beda dengan isu kali ini. Meski belum jadi trending topic di twitter, tapi yaa dengan melihat jumlah komenan di instagram dan media sosial lainnya, banyak pihak yang memberi perhatian toh. Termasuk saya.

Awalnya hanya mengamati perkembangan, ga terlalu baca berita, paling judul doang. Berkali - kali ngecek instagram barangkali ada foto terbaru yang diupload. Males sih mau buka video, sayang aja ama kuotanya hehehe Di twitter malah pedas pedas juga komenannya. Ada satu akun yang lumayan getol ngomentarin sampe bawa - bawa ketek mamaknya -_-

Di sini aku mau bilang agak ga pantes aja sih kita kasih komentar yang pedas - pedas soal perubahan seseorang. Bukannya mau ngebelain Marshanda yang sekarang lebih dikenal sebagai artis labil, tapi aku sedikit mencoba untuk bersikap menengah.

Gini, soal jilbab itu kan emang udah perintah wajib dari sono nya ya, dari Al Quran. Perintah Allah itu cuma bisa dikerjain kalo ada hidayah, ada iman atau keyakinan dalam diri. Kalo ga ada ya ga bisa. Jilbab gitu juga, mungkin sebagian orang akan pake karena terpaksa pada awalnya, tapi lama kelamaan kesadaran bahwa jilbab itu suatu perintah, suatu kebutuhan buat perempuan akan muncul.

Dari kasus Marshanda ini aku mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Bukan pada Marshandanya, karena fenomena beginian ga cuma Marshanda yang ngalamin. Ada banyak perempuan berjilbab yang kemudian sekarang pake jilbab lagi. Atau yang dulunya pake jilbab gede sekarang jilbabnya udah sukses diet alias makin kecil.

Terlepas dari itu semua, hidayah itu milik Allah, hak prerogatif. Kita sih cuma bisa berusaha, yang kasih keputusan, kebijakan Allah juga toh. Orang yang hari ini baik belum tentu akan baik seterusnya sampe ajal menjemput. Kayak cerita pendeta Al Bishri yang beribadah sepanjang hidupnya tapi harus mati dalam keadaan tidak beriman hanya karena takut mati. Tapi belum tentu juga orang yang hari ini kita lihat berbuat kerusakan, kemaksiatan dan keburukan akan begitu seterusnya sampe mati. Bisa jadi di masa depan dia adalah orang yang punya ilmu dan amal yang lebih baik dari kita kan. Kalo yang beginian sih contohnya banyak. Mulai dari Umar bin Khattab sampe cerita pelacur yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing.

So, soal Marshanda ini mudah - mudahan kita ga berlebihan nge judge doi. Kasihan juga kan, mungkin dia sedang melewati tahap hidup yang keras sehingga bikin keputusan yang salah. Lebih baik mendoakan supaya dia kembali ke jalan yang benar. Emang sih bagi sebagian kita mikirnya dianya labil, padahal seorang ibu, motivator pula. Lho, tapi itu bukan jaminan kan buat seseorang untuk ga buat keputusan yang salah?

Ya muqollibal quluub tsabbits qolbi 'alaa diinika wa laa tho'atik
Wahai Dzat yang maha membolak balikkan hati, tetapkan aku dalam agamaMu dan dalam ketaatan kepadaMu

Friday, 30 May 2014

Ngeblog Merekam Jejak

Aku punya blog dari tahun 2007 tepatnya ketika usiaku 17 tahun, usia yang manis tapi kulewati dengan hal - hal biasa. Yah setidaknya hal biasa sebagai remaja tanpa menikmati kisah cinta di sekolah. Kupikir hari ini sudah terlalu mainstream bagi remaja untuk memaksakan diri merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta atau pacaran dengan orang yang mereka suka.

Di awal niat bikin blog cuma buat nyobain hal baru yang aku baca di majalah. Ketika itu banyak banget postingan tentang blogger.com


Trus karena keasyikan blog ini jadi tempat buat curhat atau memaki - maki sesuatu yang ga bisa aku lakukan di dunia nyata hahahha what a coward! Tapi semakin ke sini aku sedikit demi sedikit nyadar nih kalo nge blog ga cuma buat begituan. Nge blog adalah bagaimana cara kita ninggalin jejak sejarah kita sendiri.

Kata Anis Matta, jangan biarkan sejarah kita ditulis oleh orang lain. Yaa beda sih memahaminya.

Yang pasti pemahaman aku tentang nulis makin luas. Dulu ketika ikut mentoring kepenulisan sama Dacho dan teman - teman lain kami diarahkan untuk menulis di koran lokal maupun nasional jika mampu. Tujuannya sederhana, koran merupakan media massa yang menyentuh masyrakat hingga pelosok sekalipun sehingga pembentukan opini akan lebih mudah terbentuk

Well, dia benar dan kami melakukannya beberapa kali. Aku berusaha keras untuk membuat tulisan yang punya nilai. Mulai dari mempelajari undang - undang yang berhubungan dengan masalah, searching berita, cari pendapat tokoh dan mulai nyusun tulisan. Yaa beberapa tulisan pernah nangkring di koran lokal.

Nah semakin ke sini, intensitas kami ketemuan itu makin dikit. Aku udah mulai meninggalkan dunia jurnalistik yang dulu disorong - sorongkan sama Dacho. Ya, kupikir aku tak begitu cocok di dunia seperti itu karena duniaku adalah dunia yang penuh curhatan seperti ini.

Aku lebih menyukai menulis sebuah tulisan yang bebas tanpa harus memperhatikan EYD dan yang lainnya, tapi bukan berarti aku meninggalkan semuanya. Hanya saja sekarang aku lebih suka menulis di blog dengan tema bebas. Mungkin sekali - kali aku perlu kembali menulis yang serius untuk dikirimkan ke media hehehe

Bagaimanapun juga karena tulisan lah aku bisa berkenalan dengan orang - orang hebat. Jurnalistik itu sungguh dunia yang menyenangkan. Meski tak banyak yang kukenal tapi itu sudah sungguh membahagiakan.

Well, sekali lagi menulis adalah bagaimana cara kita meninggalkan jejak bukan?

Bayangkan jika nanti kita sudah mati dan ga ada lagi di dunia ini. Ini kan zamannya sosial media, hampir semua orang punya dan mereka udah bisa ninggalin jejaknya sendiri. Nah kita yang suka nulis tentu ga mungkin cuma ninggalin status - status gaje di sosmed kayak facebook, twitter dan lainnya kan. Aku pikir blog merupakan harta berharga yang bisa aku wariskan pada siapapun. Bukan dalam hal pengelolaannya tapi isinya.

Kupikir begini, ketika kita mati ada tiga hal yang akan tetap ngalir kepada seorang muslim yaitu ilmu yang bermanfaat, doa anak sholeh dan sedekah jariyah. Di antara tiga hal tersebut yang aku punya dan bisa lakukan cuma hal yang pertama yaitu ilmu yang bermanfaat.

Meski aku bukan orang yang berilmu - ilmu amat tapi sedikit ada ilmu hehehe karena itu aku menuliskan hal - hal yang mudah - mudahan bermanfaat bagi orang lain ketika membacanya. Dengan harapan mereka terinspirasi oleh kebaikan dalam tulisan dan mengamalkannya.

Yah semoga hal ini bernilai ibadah ya

Sunday, 18 May 2014

Reading is the Best Teacher

Reading is the best teacher, membaca adalah guru terbaik. Begitulah kira - kira jika diterjemahkan. Aku membaca tulisan itu di lampu merah di daerah Kantor Gubernur Kepulauan Riau.

Well, sekali lagi pemerintah mencoba menggalakkan orang - orang untuk rajin membaca buku melalui Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepri.

Sebenarnya engga kali ini aja aku liat spanduk begituan. Sebelumnya di simpang Senggarang juga ada dengan kalimat ajakan yang berbeda. Lupa dink

Kita ini masalahnya apa sih? Malas dan jarang baca gitu aja. Ada orang yang mengatakan dan menyalahkan kalo kejarangan dan kemalasan membaca itu gara - gara ga ada fasilitas yang memadai, yang keren dan sebagainya. Mereka ngimpiin punya perpustakaan super gede dengan ruangan yang nyaman full AC dan buku - buku yang menumbuhkan minat bacanya.

Hellloooowww kalo kamu ga suka dan emang malas membaca jangan salahin orang lain, apakah dia itu pemerintah atau yang lainnya. Oke di sisi lain aku setuju bahwa kita di Tanjungpinang khususnya emang masih kekurangan fasilitas yang berhubungan dengan buku. Apakah itu perpustakaan yang ga nyaman, buku yang ga lengkap, buku yang mahal dan lain sebagainya. Untuk soal beginian biar pemerintah menyelesaikan tugasnya, kita dukung programnya dan kasih kritik juga saran sebagai bahan perbaikan mereka.

Nah kembali ke kita deh

Anak - anak hari ini lebih doyan ngemong di depan internet berjam - jam ketimbang baca buku sambil nikmatin susu buatan ibu mereka. Yaaa ga bisa salahin mereka juga sih, namanya juga anak - anak, cuma bisa nyontoh apa yang mereka lihat.

Oleh karena itu tugas kita nih sebagai generasi kece supaya anak - anak doyan baca. Yaaa minimal adik, ponakan, sepupu di rumah.

Ada satu sesi dalam acara di Metro TV tentang membaca. Para orang tua khawatir karena anak - anaknya lebih seneng main gadget daripada baca buku. Acara ini menghadirkan Asma Nadia (wowww). Nah ada nih Asma Nadia cerita. Ada seorang ibu - ibu bertanya kenapa anaknya itu ga suka baca. Lalu oleh Asma Nadia balik nanya, "Mohon maaf, ibu baca buku ga?"

Hehehehe jelas banget kan kalo pengen anak - anak kita itu doyan baca ya dimulai dari ibunya dulu. Secara ibu itu orang yang paling banyak interaksinya sama anak - anak dibanding ayah.

Nah sekarang giliran kita nih. Kalo emang pengen anak - anak yang pinter n rajin baca, ya kitanya mesti suka dulu sama buku

Gitu aja deh nulisnya

Saturday, 10 May 2014

Mati Lampu? Wolessss!

Hai beb kamu sehat kan? Semoga udah pada shalat dan baca Quran semua ya ketika baca tulisan ini

Baidewei, akhir - akhir ini mati lampu udah mulai lagi di Tanjungpinang. Kadang dalam sehari bisa lebih dari 5 jam. Bikin kesel ya? Pasti hehehehe

Mati lampu itu emang merugikan masyarakat beb, mulai dari aktivitas yang terhambat apalagi yang emang bergantung sama listrik dan ga punya genset. Trus belum lagi barang - barang elektronik di rumah juga bakalan mudah rusak. Nyebelin? Iya. 

Ga jarang nih ketika mati lampu bergilir kayak begini banyak tuh bertebaran status di sosmed mulai dari bbm sampe path ngomelin dan ngumpatin PLN. Ahahahaha isinya macem macem. Tapi ga semuanya juga sih, ada beberapa status yang mencoba berlapang dada nerima takdir hehehe 

Yupsss mati lampu itu emang masalah yang belum selesai dari zaman dahulu kala bahkan ketika Tanjungpinang udah ganti kepala daerahnya. Masih belum kelar juga. Terbukti, hari ini kita masih ngerasain yang namanya mati lampu. 

Kabar - kabarnya sih mesin di PLN itu rusak (lagi). Hmmm engga tahu juga deh gimana ceritanya, yang jelas PLN udah minta maaf dua bulan yang lalu. Baca aja beritanya di sini. Wali Kota Tanjungpinang juga udah komunikasi langsung sama direkturnya. Yaaa kayaknya sih segala usaha udah dilakuin. 

Dan nasib kita masih begini - begini aja guys, mesti puas dengan pemadaman bergilir yang berjam - jam hehehhe

Nah kita sih cuma agak risih dan prihatin aja gitu ngebaca status teman - teman yang banyakan ngeluuh dan ngomel kalo mati lampu xixixixi.... 

Model kita tuh kayak pecundang sih, ngomel di sosmed doang tapi ga ada usaha buat ketemu sama direktur PLN nya hehhehee... Pernah nih kita lagi aksi damai di tepi laut buat Pemilu 2014 lalu, eh ada abang - abang deketin. Doi ngajakin kami yang jumlahnya waktu itu cukup banyak (untuk hitungan organisasi di Tanjungpinang itu udah banyak banget, apalagi itu baru kadernya aja belum lagi simpatisan hehehe) buat demo di PLN hahahahha 

Ini abang punya semangat provokasi tapi sayang engga punya massa :p 

Sebenarnya sih kalo mati lampu ya ga perlu ngomel - ngomel amat lah ya. Sesuatu itu bakalan asik kalo dinikmatin. Mati lampu itu juga nikmat loh, ambil positifnya aja. Bikin dada sesak tau kalo ngomel melulu

 Banyak banget kegiatan yang bisa kita lakuin pas mati lampu. Kalo emang lagi apes hapenya lowbat ya udah lah tidur aja. Kalo panas pake kipas sate. Suasana emang makin panas karena di samping kamu itu lagi ada banyak setan yang ngebisikin "Panas, panas, panas" hahahaha

Trus kita juga ngikutin bilang panas. Padahal nih kata si setan, "Elu belum tau aje di neraka panas nya lebih daripada beginian" Trus dia ngakak :D :D :D 

Kalo emang kita lagi ada kerjaan yang deadline trus mati lampu ya udahlaaah biarin aja tunggu sampe lampunya hidup lagi. Ngomel atau marah cuma bikin nambah masalah. Nikmatin, tinggalin meja kerja trus keluar, hirup udara segar dan pandangi tumbuhan hijau :-)

Yaaa terserah aja sih gimana mau menyikapi kondisi yang mati lampu kita cuma ngasih masukan. Dipake alhamdulillah, ga dipake aku rapopo hehehe ini juga ditulis biar lebih rileks

Terakhir, mari kita doain supaya PLN diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa untuk memberikan pelayanan terbaiknya buat kita - kita semua tanpa pandang dia pejabat atau bukan. Selalu tampil prima, ramah dan terjauhkan dari godaan korupsi berjamaah. Amiiiiiiin



Tuesday, 21 January 2014

Mengapa (Tidak) Menonton Film Korea?


sumber : http://www.angelfire.com/pro/perpika/filmkorea.html 

Jumat, 10 Oktober 2003 
Ratih Pratiwi Anwar, 
Mahasiswa Korean Movie Class, Fall-Winter Course 2002 Kyung Hee University, Korea 
Peneliti di Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada dan Pusat Studi Korea UGM 

Sepekan Film Korea IV telah terselenggara di Jogjakarta tanggal 16-20 September lalu untuk memberi kesempatan masyarakat mengapresiasi sinema Korea. Masyarakat menyambutnya dengan sangat antusias, terlihat dari satu film ditonton rata-rata 600 orang. Apakah ini berarti sinema Korea sudah diterima masyarakat Indonesia?

Setelah kesuksesan sinetron Taiwan Meteor Garden, pemirsa Indonesia melihat bahwa serial teve dan film Asia, termasuk dari Korea, merupakan alternatif tontonan yang menarik. Itu sebabnya ketika serial Korea seperti Winter Sonata, Endless Love, Hotelier, atau All About Eve memasuki layar kaca Indonesia mendapat sambutan yang hangat. Namun dibandingkan dengan Cina, Jepang dan Taiwan yang secara budaya dan geografis dekat dengan Korea, Indonesia dan negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura dan Vietnam memang terlambat mengenal hallyu. Istilah hallyu muncul di Cina tahun 1997 untuk menyebut gelombang budaya pop Korea yang melanda generasi muda Cina. Dampaknya di Cina luar biasa karena kemudian lahirlah hahanzu, yaitu fans fanatik aktris, aktor, penyanyi dan budaya pop Korea.

Umumnya negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Perancis yang melakukan ekspansi budaya sampai ke luar batas negara. Sebab, ekspansi budaya akan berkelanjutan jika fundamental perekonomian suatu negara sudah cukup kuat (Yang Seung-yoon, 2000). Lalu mengapa Korea kini melakukan ekspansi budaya pop dan bisa mencapai pengaruh yang luas di Asia? Ada beberapa sebabnya, antara lain:

Pertama, Korea memang telah menjadi negara maju dan sejak tahun 1996 resmi menjadi anggota OECD. Kesuksesan industrialisasinya membawa pengaruh yang besar di Asia. Cina, Vietnam dan Indonesia adalah penerima investasi asing Korea dan pasar bagi produk-produk industri Korea. Ekspansi budaya umumnya mengawali atau mengikuti ekspansi ekonomi suatu negara dan menjadi salah satu strategi perluasan pasar.

Kedua, budaya pop Korea mempunyai keunikan, yaitu meskipun memadukan elemen Amerika dan Jepang, terlihat segar dengan kandungan yang kuat budaya khas Korea-nya. Kemampuan mengharmoniskan nilai Timur dan Barat ini membuat drama dan film Korea lebih disukai di Cina. Sebaliknya, sinema Jepang tidak disukai di Cina karena dianggap mengandung elemen yang terlalu ekstrem dan kebarat-baratan. Lagu pop Korea juga sangat laris di Cina karena berirama dinamis, tidak konvensional, dan dianggap mampu memuaskan jiwa dan keinginan generasi muda yang tertekan di negeri tirai besi ini. Di Jepang, film layar lebar Korea disambut hangat karena menawarkan tema-tema alternatif dan mengandung segi hiburan yang tinggi.

Ketiga, perkembangan industri budaya pop di Korea sangat pesat sepuluh tahun terakhir ini. Tahun 1997 disebut sebagai tahun kebangkitan film Korea dengan digunakannya pendekatan baru dalam memproduksi film, yaitu lebih menonjolkan tema individualisme (yang merupakan kecenderungan masyarakat Korea sekarang), kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Hasilnya muncul berbagai jenis tema, film, dan lahir pula sutradara-sutradara film independen. Pendekatan baru ini meningkatkan gairah untuk membuat film, termasuk film-film pendek yang didukung penayangannya oleh bioskop-bioskop lokal.

Keempat, pertumbuhan industri film di Korea tak lepas dari peran pemerintah. Di samping memberlakukan kuota tayang (minimal 106 hari per tahun untuk film domestik), pemerintah Korea melakukan revitalisasi industri film domestik sejak tahun 1973 melalui Komisi Film Korea (KOFIC).

Aktivitas KOFIC dibagi dalam lima departemen yaitu, Departemen Promosi menyediakan dana dan berbagai bantuan untuk film lokal. Departemen Promosi Internasional bertugas mempromosikan film Korea di luar negeri. Departemen Pendidikan mengelola Akademi Film Korea dan Akademi Film Animasi Korea serta mendukung 40 institut perfilman di Korea. Departemen R&D yang membuat penelitian, statistik film, dan publikasi. KOFIC juga mengelola studio out-door dan in-door di Seoul Complex Studio untuk mendongkrak mutu visual sinema Korea.

Beberapa kegiatan KOFIC yang menarik adalah lomba penulisan skenario film dua kali setahun, sedangkan untuk skenario film animasi sekali setahun. Pemenangnya mendapat hadiah uang yang lumayan besar. KOFIC menyeleksi dan mendanai film pendek, film dokumentasi, film independen dan film animasi. Untuk mempromosikan film Korea di luar negeri, KOFIC membuat terjemahan film Korea dalam berbagai bahasa seperti Perancis, Jerman, Itali, Jepang, Cina, Rusia, dan Spanyol. KOFIC mendukung ikut sertanya sinema Korea di festival-festival film internasional bergengsi, disamping Korea sendiri sering menjadi tuan rumah seperti di Busan Internasional Film Festival. Jika tahun 1999 sejumlah 80 film Korea diikutsertakan di 73 festival film internasional, maka tahun 2002 lalu jumlahnya meningkat menjadi 280 film (KOFIC, 2002).

Hasilnya tidak sia-sia dan beberapa film Korea meraih penghargaan internasional. Tahun 2002 lalu film Chihwaseoun dan Oasis memenangkan Sutradara Terbaik pada Festival Film Internasional di Cannes dan di Venice. Film animasi My Beautiful Girl, Mari mendapatkan grand prize pada Festival Film Animasi Internasional. Film-film terlaris tahun 2001 seperti My Sassy Girl dan My Wife is A Gangster, masing-masing dibeli oleh Dreamworks Pictures dan Miramax International untuk dibuat versi Amerikanya (Cinemags, April-Mei, 2003).

Di dalam negeri film Korea juga sukses mendatangkan banyak penonton. Statistik film yang dirilis KOFIC memperlihatkan film lokal mampu menggeser dominasi film impor, terutama dari Hollywood. Jika pada tahun 1991 di Korea pangsa penonton film lokal hanya 21 persen, maka pada tahun 2001 melonjak jadi 50 persen, justru saat kuota tayang makin dikurangi. Dari 10 film terlaris di Korea tahun 2001, enam adalah buatan lokal dimana rangking satu sampai lima diduduki oleh film Korea. Film yang menjadi box office tahun 2001 adalah Friend yang ditonton 2,5 juta orang. Tahun 2002 lalu kembali film lokal menendang film Hollywood. Dari 10 film paling laris di Korea, lima di antaranya produksi lokal. Film The Way Home yang disutradarai oleh sutradara muda perempuan Lee Jeong-hyang menjadi box office dan ditonton lebih dari 1,5 juta orang di Korea.

Film-film terlaris tahun 2001 dan 2002 bercerita tentang realitas sosial masyarakat Korea. Film Friend menuturkan hubungan pertemanan dan per-gangster-an yang merupakan bentuk hubungan sosial dan kenyataan hidup di Korea. Sedangkan The Way Home yang diputar dalam Pekan Film Korea IV menyentil runtuhnya keagungan relasi anak-orang tua di Korea. Masyarakat Korea yang dulu menekankan pentingnya menghormati orang tua, kini terkesan mulai mengabaikan orang tua. Film ini membuat banyak orang Korea merasa ¡°sangat bersalah¡± karena meninggalkan orang tua mereka yang jompo sendirian di kampung, sementara mereka sibuk dengan urusan masing-masing di kota besar.

Adakah sesuatu yang bermanfaat dari gelombang budaya pop Korea ini? Masyarakat Indonesia setidaknya punya alternatif baru jenis tontonan. Hanya saja mungkin sebaiknya kita meniru orang Cina yang pilih-pilih apa yang ditonton. Suatu film bercerita tentang isu, budaya, sistem sosial, atau karakter orang yang memerlukan apresiasi sebelum kita memetik suatu nilai darinya. Apresiasi tentang budaya Korea yang mencukupi tentunya sangat bermanfaat agar lebih memahami suatu permasalahan yang disuguhkan lewat film.

Sebagai contoh, menonton film Korea bertema gangster atau mafia seperti Guns and Talks atau Friend (keduanya produksi tahun 2001) lebih asyik jika tahu bahwa masyarakat Korea adalah masyarakat patriarkal dengan hubungan antar lapisan sosial yang ketat. Tema gangster dan mafia yang menjadi genre sinema Korea akhir-akhir ini muncul akibat frustasi masyarakat atas tergerusnya nilai-nilai tradisional, diskriminasi gender, dan ketidakpastian politik. Dalam film bertema gangter atau mafia, orang Korea mencoba menyusun suatu keluarga artifisial dimana laki-laki tetap dominan dalam masyarakat (Kim Sohee, 2002).

Namun tanpa tahu menahu tentang Korea sebelumnya, tidak disalahkan jika menonton sinema Korea. Sambil menonton kita mulai mengenal kehidupan bangsa, adat istiadat dan karakter orang Korea. Dari film Korea bertema kekerasan dapat kita saksikan kekerasan sosial dalam masyarakat Korea sebagai akibat negara mereka dijajah Jepang selama 35 tahun, perang saudara pada periode 1950-1953, periode diktator militer, dan periode perang dingin dengan Korea Utara yang tak kunjung berakhir.

Melihat orang Korea berakting di berbagai macam tema film, kadang-kadang muncul pertanyaan: mengapa sering ada adegan orang Korea menangis atau adegan yang sentimentil? Dari adegan menangis ini ternyata kita bisa mengenal karakter orang Korea. Lee O-Young, mantan Menteri Kebudayaan Korea, mengatakan bukan orang Korea kalau tidak bisa menangis. Jika sedih orang Korea menangis, jika bahagia juga menangis. Meskipun suku Indian Sioux di Amerika terkenal sebagai suku yang paling mudah menangis, tak ada yang menandingi orang Korea dalam hal menangis akibat lamanya mereka hidup dalam penderitaan karena keterbatasan sumber daya alam, iklim yang keras, perang dan kediktatoran. Tak heran jika aktor dan artis Korea bisa berakting menangis dengan sangat piawai dan membuat perasaan penonton ikut sentimentil.

Film juga dapat menjadi media untuk peningkatan pemahaman budaya antar negara dan alat diplomasi. Selama ini budaya pop Korea telah mendukung keberhasilan Korea dalam hubungan diplomasinya dengan negara-negara di ASEAN. Film dan musik Korea telah mengubah persepsi orang Vietnam terhadap Korea yang menjadi sekutu Amerika Serikat waktu perang Vietnam. Perasaan benci berubah menjadi hubungan romantis dan sentimentil generasi muda Vietnam dengan artis dan musisi Korea. Banyak generasi muda Vietnam kini juga menjadikan Korea sebagai kiblat budaya pop, mode, dan standar kemakmuran.

Di Indonesia sinema maupun musik Korea belum begitu sepopuler di Vietnam. Ini karena masih sedikitnya pemutaran film Korea di teve atau di bioskop serta sedikitnya resensi tentang sinema dan musik Korea. Bagi orang awam juga sulit membedakan film Korea dari film Jepang, Hongkong atau Taiwan karena aktor atau artisnya mempunyai ciri-ciri fisik yang hampir sama. Cara mudah untuk mengenali film Korea adalah bahasanya (jika tanpa dubbing) atau dari nama pemainnya karena nama mereka berbeda dengan nama Jepang atau Cina.

Film Korea produksi tahun 2001-2002 yang sudah banyak beredar VCD-nya di sini dapat dikenali dari sampulnya. Nama aktor-aktrisnya biasanya ditulis dengan huruf hangeul (alfabet Korea) dan dengan sistem penulisan nama yang unik. Nama Korea terdiri dari tiga suku kata dengan nama marga seperti Kim, Lee, Anh, Lim, Choi, Park atau Yang. Dalam film nama marga jarang disebut, sehingga hanya dipanggil Sang-yeon, Jung-woo, Jae-young dan Ha-yeon (dalam Guns and Talks).

Permintaan film Korea di Indonesia diprediksikan meningkat karena pesatnya hubungan ekonomi Indonesia-Korea. Keinginan untuk menguasai bahasa Korea muncul dari banyaknya mahasiswa dan masyarakat yang ingin bekerja di perusahaan Korea seperti LG, Hyundai atau Samsung, atau mereka yang ingin bekerja di Korea. Perusahaan Korea di Indonesia juga mengajukan syarat penguasaan bahasa Korea bagi yang melamar kerja. Jadi film Korea bisa berperan dalam memperlancar penguasaan bahasa Korea dan untuk mengenal budaya dan watak orang Korea yang akan ditemui di tempat kerja. *** 

Referensi:

Kim Sohee, ¡°A Review of Korean Cinema in 2002¡±, Korean Cinema 2002, KOFIC, Seoul

KOFIC, ¡°The Korean Film Commission¡±, Korean Cinema 2002, KOFIC, Seoul

My Wife is A Gangster, The Most Powerful Lethal Weapon is in a Woman!, Cinemags Edisi 46/Mei 2003

My Sassy Girl, A Big-Hearted Boy and His Eccentric Girl Friend, Cinemags Edisi 45 April 2003

Kim Youn-jung, ¡°Korean Pop Culture Craze Hallyu Sweeps through Asia,¡± Korea Pictorial, Seoul

Yang Seoung-Yoon, ¡°Expanding Cultural Exchange with Southeast Asia¡±, Korea Focus, January-February, 2000

Lee O-Young, In This Earth and In That Wind, This Is Korea, Hollym Corporation and Royal Asiatic Society, Seoul, Korea, 1967