Showing posts with label KULIAH. Show all posts
Showing posts with label KULIAH. Show all posts

Sunday, 17 July 2016

It Is Not Really Important

Ou yeah penyakit lama muncul kembali. Terakhir ngerasa begini setelah nonton drama King 2  Hearts yang asli bikin hidup ga berasa di dunia nyata, penuh hayalan. Sejak itu aku putusin untuk engga nonton drama lagi yang bisa bikin addicted tapi tetap ngikutin lewat blog sinopsis.

Beberapa kali sih berhasil, sementara Onang dan Kak Adek beli banyak VCD aku cuma minjem One Warm Word yang waktu itu aku tonton juga karena lagi suntuk berat. Dan drama ini berakhir dengan masuknya Lee Sang Woo sebagai salah satu aktor yang kece huhuhuu.

Kejadian yang sama kali ini terjadi lagi setelah aku nonton Reply 1994, drama yang kupinjam dari Dedew gara-gara penasaran. Ketika nonton beberapa menit episode 1 aku ga lanjut nonton karena benar-benar engga tertarik. Mulai dari pemainnya sampe setting dan plotnya yang aku belum paham.

Eh entah kenapa malah muter VCD nya lagi dan berakhir dengan susah move on nya aku dari Chil Bong (Yoon Yeon-seok)!!!!!!!! Di dramatrol.tumblr.com aku sering baca tentang penulisnya yang sering crush on sama So Ji-sub. Setelah aku cari di kamus Oxford, crush on berarti have strong feeling, but not last long. Okeh, artinya perasaan itu meski menggebu, ga akan bertahan lama.

Chil Bong bener-bener bikin akal ga jalan. Gara-gara hampir ga bisa move on, aku stop nonton, padahal tinggal 4 episode lagi. Biarin deh, daripada ngerusak semua. Ngalihin diri ke yang lain. Kayak lanjut baca ulang novel Agatha Christie, Pembunuhan di Mesopotamia. Kalo bacanya ga konsen, sulit juga ngikutin alurnya, malah kehilangan clue penting.

Baca buku pendidikan anak dalam Islam buat persiapan ke Pangkil lumayan dapat poin cara meluruskan kesalahan anak. Walo ga jadi ngisi hahaha.... Ujung-ujungnya malah baca fakta Super Junior -______________-

Padahal waktu dulu Uma suka download video Suju pulang sekolah sering aku remehin dan ejek habis-habisan. Eeeh sekarang malah kejebak kata-kata sendiri. Mestinya nyari sejarah gimana Islam masuk Indonesia, malah jadi hapal sejarah Suju sampe anggotanya yang berkasus.

Kualat sama adek sendiri. Dulu waktu Usup kelas X SMA, dia sering banget muter nasyid di komputer rumah. Kenceng banget pake speaker. Aku yang belum dapat hidayah juga ngencengin radio dari dalam kamar sambil tereak, "Woi, nasyidnya kecilin!!!"

Di masa itu aku seneng buka radio Singapura frekuensi 98.7 dan 95.0 MHz. Sampe manjat-manjat manjangin kabel biar dapat sinyal yang pas dan jelas. Lagu barat terbaru sampe yang lama. Radio emang keren, cuma muterin lagu, engga banyak ngoceh kayak radio lokal. Kita kan dengerin radio itu buat denger lagu, bukannya mau denger curhat atau ocehan penyiarnya hehehe

Eeeh masuk kuliah dan ikut proses tarbiyah. Mulai lah dapat pencerahan dan dengerin nasyid yang dulunya disukai. ckckkckck kena lagi kan -_- Cuma nasyidnya juga milih-milih... Ga demen dengan nasyid yang bawaannya mellow, paling cuma dengar sesekali. Rekom nih buat yang lain, biar semangat itu kalo engga Izzatul Islam, ya Shoutul Harokah. Kalo Madani yaa beberapa aja sih

Tunggu, tunggu ini kenapa jadi ngomongin hal yang ga penting sih? -_-

Namanya juga curhatan ga penting

Thursday, 10 December 2015

LULUS!!!!

GUE  AKHIRNYA LULUS!!!! 



Norak sih sebenarnya tapi saya ingin menuliskan bahwa setelah kuliah selama 7 tahun (!!!!!!) bulan November 2015 kemarin saya dinyatakan lulus setelah sidang skripsi. Heww... lega banget. 

Skripsi yang entah sudah berapa tahun saya kerjakan itu akhirnya berakhir juga di meja para penguji dengan nilai A(lhamdulillaaaaah). Meski saya agak bingung juga kenapa bisa dapat nilai A. 

Ini cerita sidang hari itu. 

Meski telah menunggu hari ini sekian lama, jujur saya gugup juga begitu akan berangkat ke kampus. Pagi-pagi saya sudah bersiap dan mengenakan baju ungu yang bahannya dibelikan Onang di lebaran beberapa tahun lalu. Ibu juga ikut gugup tapi menyempatkan diri untuk membuatkan sarapan. Hmmm saya katakan, "Udaah biasa ajaa."

Hahaha yaa moment begini harus dibuat sebiasa mungkin biar gugupnya ga ketulungan. Bismillah saya berangkat ke kampus. Inilah enaknya kalo datang awal, bisa menyaksikan kedatangan teman teman lain yang juga ga kalah gugup. 

Namanya juga mau sidang ya banyak yang harus disiapkan. But saya bertekad untuk ga lebay untuk bawa ini itu. Cukup bawa laptop dan skripsi yang udah saya tulis. Hari sebelumnya beberapa teman udah sibuk banget ngomongin buku apa aja yang harus mereka bawa. Daaaan hari itu saya sampe melongo betapa berat tas yang mereka bawa karena berisikan buku-buku referensi. Ouuww.....

Sidang kali ini angkatan 2008 ada tiga orang, saya, Widya dan kak Taufik. Senang sekali melihat kak Taufik juga ikut karena saya pikir ia tak akan lanjut lagi mengingat kami sudah kuliah terlalu lama. Alhamdulillah kami bertiga lulus. 

Karena kami masukin skripsi di last minute otomatis kami juga berada di urutan terakhir. Nah banyak di antara peserta sidang yang gugup dan berulang kali bolak balik skripsi mereka. Hehehe saya sebenarnya gugup juga tapi sekali lagi ga mau lebay. Maka, daripada bolak balikin lembar skripsi saya habiskan waktu menunggu dengan main game Onet di HP. Thank you so much bang Rio yang udah menghibahkan hp ini ke saya xixixiixii Kalo pake hape yang lama udah ga muat buat diinstal game lagi XD

Giliran saya tiba. Ehemm dengan sok pede aja dan ngomong seadanya. Ajaibnya saya di kursi panas itu kurang dari 30 menit dengan pertanyaan yang juga ga banyak. Amazing!!! Segalanya dipermudah alhamdulillah

Sidang ini punya arti yang banyak untuk saya. Selain menyatakan kelulusan, ini berarti bahwa saya telah bisa untuk berlari ke pelukannya bang Rio *muntah :p 

Gimana engga, saya harus ngejalanin LDR-an karena harus menyelesaikan kuliah. Tentu dengan sidang ini kami sudah bisa bersama kembali ehemm.... 

Aaah, akhirnya saya bisa tidur tenang :)


Tuesday, 3 March 2015

KKN 3 : Biaya Hidup dan Anggaran Kegiatan

kunjungan dari dosen pembimbing

Yups, anyeong... Kembali lagi dalam catatan kkn. Ada banyak hal yang pengen aku ceritakan dan tulis sebagai referensi bagi mahasiswa yang akan menjalani kegiatan itu berikutnya. Setelah melampirkan laporan kegiatan di tulisan ini ini dan menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan di awal, seperti hal-hal yang harus dikomunikasikan dengan kepala desa maka di catatan berikut ini aku akan berbagi mengenai hal yang paling penting selama kkn, yaitu mengenai biaya hidup dan anggaran kegiatan. Check it out!!!


Nah, buat mahasiswa mendengar semester ini adalah kkn dengan bobot 4 sks (eh bener ga ya, lupa loh), selain mikir mau ngapain selama kkn, juga harus mikirin berapa biaya yang harus dikeluarkan. Hiyyy... Di kampus aku biaya kkn yang dua bulan itu hampir dua juta rupiah. Itu cuma biaya kkn, nah soal biaya hidup dan kegiatan juga mesti disediakan sama mahasiswa. Kali ini aku akan bagikan bagaimana kami membagi biaya hidup dan kegiatan selama dua bulan.

Di kelompokkku jumlah kami cukup banyak sekitar 14-15 orang. Dalam diskusi, kami mendiskusi hal berikut :

1. Biaya hidup

2. Anggaran untuk kegiatan

3. Kegiatan yang akan dilaksanakan

4. Peraturan dalam posko

5. Siapa yang bisa menginap full dan tidak, siapa yang hanya bisa hadir di akhir minggu

6. Piket membersihkan posko

7. Denda apabila tidak hadir di posko dalam sehari

8. Denda apabila tidak hadir saat kegiatan berlangsung
9. Peralatan posko dan yang diperlukan untuk kegiatan

     BIAYA HIDUP DAN KEGIATAN

kami sedang membuat hiasan untuk TK dan jadwal sholat untuk mesjid

Mari bahas secara perlahan. Sebelum membahas dana, masing-masing orang harus mengutarakan kemampuan ekonominya agar bisa menyesuaikan. Satu sama lain harus menghargai juga membantu kesulitan temannya. Memang kita pengen adil, karena itu buatlah peraturan yang tegas di awal agar engga kacau saat pelaksanaan. Selama kkn, kelompok kami bukannya tanpa masalah dana. Justru ini adalah masalah utama kami.

Nah di kelompok aku untuk soal dana kami sepakat dengan iuran Rp. 50.000,-/minggu. Dana ini digunakan untuk biaya hidup dan sisanya untuk kegiatan. Bila ada kekurangan maka kami akan iuran lagi. Cara ini menurutku cukup efektif dan tidak begitu memberatkan anggota. Aturan Rp.50.000,- /minggu berlaku untuk seluruh anggota, baik yang menginap di posko maupun yang tidak atau yang hanya bisa hadir di akhir minggu.

Bila dihitung artinya dalam seminggu kami mengumpulkan dana 15 orang x Rp.50.000,- yaitu sebesar Rp. 750.000,-/minggu. Wowww sangat banyak kan. Bila dipotong dengan biaya makan kami sehari-hari lebihnya masih banyak. Lagipula yang full di posko kadang hanya 5-6 orang atau paling sedikit 3 orang.

beli lokan dekat gunung Bintan

Selain itu, kami juga memberlakukan denda bagi anggota kelompok yang engga setor muka ke posko setiap harinya sebesar Rp.20.000,-/hari. Jumlah yang cukup lumayan dan mampu mengeruk saku bila tidak datang. Setiap anggota kelompok harus punya komitmen dengan kegiatan kkn. Ini adalah bagian dari pelaksanaan kuliah jadi masing-masing harus berusaha untuk datang setiap harinya.

Memang di antara kelompok kami ada yang hanya bisa datang di akhir minggu karena pekerjaannya yang shift2-an. Alhamdulillah beliau menyanggupi. Ada yang keberatan, namun ketika kami menimbang kondisi ekonomi dan jarak rumah yang kurang memungkinkan, jumlah itu kami kurangi. Apalagi saat itu beliau dalam keadaan hamil tua.

hanya jalan-jalan karena di posko sedang ga ada kegiatan

Dengan mengadakan peraturan seperti ini maka setiap sore posko kami selalu ramai dengan anggota kelompok yang datang sepulang bekerja. Bagi aku pribadi, cukup terharu melihat mereka berusaha untuk hadir dan absen ke posko sejauh apapun. Ada yang tinggal di Berakit, setiap sore mereka melalui jalan Pulau Pucung untuk bisa sampai ke Bintan Buyu. Hey itu bukan jarak yang dekat. Ada juga yang bolak balik ke Tanjungpinang karena mengajar.

Denda ini berlaku untuk alasan apapun, apakah itu urusan keluarga, kegiatan di Tanjungpinang, sakit dan lainnya. Karena itu seingatku hampir seluruh anggota pernah membayar denda ini. Hasilnya? Woowww dana kami terkumpul sangat banyak!!! Ketika membuat kegiatan kami tak lagi mengeluarkan biaya tambahan, bahkan di akhir kkn kami mengadakan perpisahan kelompok dengan makan seafood di Madong (well, seingatku kami menghabiskan hampir 1 juta rupiah untuk makan di sana).
slurrrpppp!!!

Hitung saja berapa dana yang kami kumpulkan. Jika Rp.650.000,-/minggu maka dalam hitungan kasarnya kami telah mengumpulkan dana Rp. 4.550.000,- dalam 7 minggu. Itu belum ditambah dengan dana yang kami dapatkan dari pembayaran denda anggota kelompok yang juga cukup banyak. Ada satu orang yang hanya bisa hadir di hari Minggu. Maka dalam seminggu ia setor Rp. 140.000,- pada bendahara kelompok. Karena itulah kami tidak membutuhkan dana tambahan dalam kegiatan.

Dengan jumlah dana yang terbatas kami harus putar otak kegiatan apa yang harus kami lakukan. Awalnya mencoba untuk memasukkan proposal ke Pemkab Bintan. tapi kupikir tanpa koneksi, hal itu cukup mustahil. Berdasarkan pengalaman, proposal kegiatan BEM memang pernah tembus tapi butuh waktu beberapa bulan. Untuk detail kegiatannya tulisan berikutnya menyusul :)

Oh ya tulisan ini hanya sebagai referensi, silahkan menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Semoga rezekinya dimudahkan ya kawan!

Monday, 2 March 2015

KKN 2 : Komunikasi dengan Kepala Desa

Ini adalah lanjutan dari postingan Laporan Kegiatan KKN di mana aku menyediakan lampiran laporan kegiatan kuliah kerja nyata. Berharap laporan itu bisa digunakan dan bermanfaat serta sebagai referensi bagi adik-adik yang akan melaksanakan kegiatan kkn. Di lapangan kadang banyak yang kebingungan apa yang harus mereka lakukan setiba di lokasi.

Well, let me share you another story of my experience.

Wednesday, 11 February 2015

Laporan Kegiatan KKN

Assalamu'alaikum, anyeong haseyo


Salah satu hal paling seru yang pernah kualami dalam status mahasiswa adalah KKN alias kuliah kerja nyata. Ingin kubagikan ceritanya di sini, namun sebelumnya bagi adik-adik, khususnya mahasiswa STAI Miftahul Ulum yang akan menjalani KKN tahun ini, aku akan bagikan sedikit gambaran kegiatan yang kulakukan bersama teman-teman selama proses KKN itu dalam bentuk lampiran laporan kegiatan pribadi/kelompok. Laporan ini merupakan salah satu item yang harus disiapkan dan dilampirkan dalam laporan kelompok di akhir kegiatan. 

Silahkan download filenya di Laporan Kegiatan KKN

Semoga laporan ini bermanfaat dalam memberikan gambaran umum tentang kegiatan yang telah kami jalani terlebih dahulu. Ini hanya sebagian kecil, bisa jadi teman-teman lain punya kegiatan yang lebih seru dan punya manfaat besar. 

Well, selamat ber-kkn ria!

Friday, 6 February 2015

Jangan Nunda Terus!

Don't wait till tomorrow what you can do today

Aih, pribahasa ini sering banget kita baca, lihat dengar dan rasakan *jrengggg S07 mode on
Artinya, jangan menunda pekerjaan atau apapun yang bisa kamu lakukan hari ini. Pribahasa beginian selalu nangkring di bagian bawah buku SIDU yang selalu setia nemenin masa-masa sekolah yang paling indah selama 12 tahun. Maklum, ketika kuliah kita udah beralih dengan make binder, atau malah sama sekali ga bawa catatan apa-apa ke kampus *ngekk

Aku coba nemuin spot paling oke buat

Wednesday, 7 January 2015

What's Your First Priority?

Aku tak bisa berpikir dan memprioritaskan segala sesuatunya dengan benar. Segala teori fiqih prioritas menghilang entah ke mana meski sebelumnya aku juga tak melakukan semuanya sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Kesalahan adalah sesuatu yang wajar, namun ketika ia terjadi terus menerus maka aku harus bertanya mengapa kesalahan yang sama terulang terus menerus dalam waktu yang berdekatan. Ketika aku tak lagi mampu membuat skala prioritas dalam aktivitas, kutakut kerusakan diri menjadi semakin besar. Khawatir ia tak bisa kembali seperti semula. 

Ibarat seorang laki-laki yang terbiasa melampiaskan kemarahannya dengan memaku dinding rumah belakang yang terbuat dari kayu. Sengaja memang dibuat begitu untuk membuat ia menghilangkan kemarahannya. Menghindar dari berbuat sesuatu yang bisa berakibat fatal karena dipicu kemarahan yang tak seberapa. Setelah ia tenang, paku-paku itu ia cabut kembali. Tetap saja, tempat yang terpaku tak akan pernah bisa kembali rata seperti sedia kala. 

Mencoba mencari jalan keluar dari labirin yang mungkin sebenarnya sangat kecil. AKu tak sedang berada dalam labirin seperti yang dihadapi oleh Harry Potter dan tiga peserta Goblet of Fire lainnya. Di sini tak ada jebakan yang mematikan apalagi piala yang bisa membuatku berpindah ke dunia lain dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan kebangkitan Voldemort. 

Tantangan itu adalah aku bisa mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan segala keinginan yang tidak pada tempatnya dan tidak pada waktu yang tepat pula. Begitu banyak hal yang ingin dilakukan, tapi sayang saat ini bukan itu yang harus kulakukan. Ayolah, meraih perdamaian ini tak sesulit anak-anak Palestina berjuang mempertahankan tanahnya. Harusnya aku malu. 


Wednesday, 12 November 2014

Aku Bersalah, Perbaiki?

Prosedurku sudah salah, maka inilah konsekuensi yang harus kuterima atas keteledoran dan kelalaian serta sikap yang terlalu meremehkan. 

Memaksakan kehendak juga hanya akan menambah masalah, bahkan simpati itu akan berubah menjadi ketidaksukaan. Oh tidak... Ini tak boleh terjadi. 

Aku ingin semua bisa dilakukan dengan tenang, tanpa masalah yang membuat jantungku terus - terusan mencelos. Rasanya sudah cukup dengan sensasi yang kurasa beberapa hari belakangan. Harus datang dengan wajah yang sangat menyenang, menyapa seluruh orang dan berusaha tersenyum meski hatiku mencerminkan betapa tak percaya dirinya aku menghadapi mereka yang bahkan sebenarnya tak mengenal siapa aku.

Aih, tak menyangka aku akan berada pada titik ini. Titik terendah kah? Bisa jadi... Tapi mungkin ada orang lain yang punya kondisi lebih buruk. Syukuri saja, karena berikutnya aku tak lagi harus merasa canggung. 

Ini pertama kalinya aku ingin sekali menjadi orang yang tak dikenal namanya oleh siapa pun. Apakah aku yang sok terkenal? Apa pun itu, aku berharap tempat - tempat yang kukunjungi belakangan ini adalah tempat yang asing. 

Tempat asing lebih mudah kutempuh karena ia membutuhkan kemampuan adaptasiku. Tempat ini membuatku merasa seperti orang terbuang, sungguh tak layak dan memalukan. Berjalan saja sudah membuat jantungku berdegup tak karuan meski masih kutatap setiap orang yang kulewati. 

Ada sensasi aneh yang pernah kurasakan sebelumnya, namun kali ini lebih parah. 

Ah sudahlah... Aku hanya butuh tempat curhat untuk menumpahkan segalanya. Solusi? Aku sudah punya beberapa pilihan yang melayang - layang dalam derum suara motor yang kupacu. 

Aku membuat kesalahan dan tak mungkin untuk diperbaiki. Yang ada adalah mengakui kesalahan yang kuperbuat dan berusaha untuk mengakali agar ia tak mengganggu prosedur berikutnya. Ingat, aku hanya butuh beberapa waktu, setelah itu semua ini akan selesai. 

Sekarang, belum saatnya berhenti. 

Terima kasih sudah membaca :)


Friday, 21 March 2014

Bimbingan Pertama


Hari ini dateng juga. Aku udah siapin diri untuk bimbingan pertama untuk proposal penelitian. I was so excited karena ini adalah pertama kalinya setelah penundaan tahun lalu.

Beliau bilang ada di kampus jam 10 pagi dan jam 2 siang. Kuputuskan untuk datang jam 11 ke kampus. Oalaa kutemukan doi lagi tanda tangan Kartu Hasil Studi mahasiswa di ruangannya.
Meski deg degan, kusapa beliau dengan senyum sumringah as usual. Dan ini kalimat pertamanya, “Ou Nurul, long time no see you. Sibuk ya?”

AhahahhahaA aku malu banget dikatain begitu. Orang - orang pikir aq sibuk karena nyaleg padahal I have nothing to do with that. Soal nyaleg kupikir adalah something very different with my last paper. Satu sama lain ga saling mempengaruhi. So, stop thinking that I was busy for the election :)

Sambil tanda tangan, dengan sungkan kubuka beberapa pertanyaan untuk ngobrol. Kaku bo’ karena udah lama banget rasanya ga ketemu. Dan ujung - ujungnya kami ngomongin masalah nyaleg hahahaha untung aja Pak Nazar ga ada di ruangan sebelah. Kalo ada, beuh habis aku kena lagi (mahasiswa durhaka yang nyaleg dan nyaingin para dosen).

Selagi bimbingan pikiranku nge blank abiss ketika doi nanya tentang teori dan buku - buku referensi. Shit! Padahal aku udah dengan pede banget nyiapin pertanyaan begituan.

Pas ditanya Nunan, aku jadi kurang yakin aku punya bukunya atau engga. Hooo thank God, thank Mrs Nugraheni yang udah kasih kami foto kopi buku langka itu.

Banyak coretan dan aku terus terang seneng banget. Artinya doi baca apa yang aku tulis. Apalagi doi ahli grammar, makin berantakanlah kertas itu penuh coretan. (I wish I could be the grammar master too)

Coretan - coretan itu bukti bahwa aku harus belajar lebih banyak. Thanks Mam, you’re awesome. Bimbingan pertama yang begitu mengesankan.

Yang menyebalkan adalah ketika aku ga bisa jawab doi dalam bahasa Inggris. Blank abiss!!! Padahal doi udah pake bahasa Inggris, almost! Pas Arya datang baru agak nyampur bahasa Indonesia.
Yaah bersyukur aja kemampuan listening aku masih baik. Ketangkap apa yang dibilang. Kan bego kalo aku harus bilang “pardon”. Heyy listening aku ga pernah beranjak dari nilai A dan ini bikin aku yaaah agak bangga hehehe

Tapii ya itu speaking aku luar biasa ancurr. Mungkin ini gara - gara aku lebih sering dengerin lagu Korea ketimbang Inggris. Haaa jjinja!
Well, sebenarnya aku masih belum ngerti dengan operational variable dan indikator yang harus dicantumkan dalam teori. Aku udah tanYa doi tapi tetap ga ngerti. Kupikir aku harus menghubungi Kak Pura atau Kak Kartini lagi besok.

Eh iya pas Arya masuk (anak ini kok makin kecil aja ya, jadi kurang keren haha) kupikir dia mau bimbingan skripsi eeeeh rupanya kami sama. Gyahahhahaaa senangnya ketemu teman senasib. Selain dia masih ada Ami yang kutemui pas acara MTQ kemarin. Hohoho… (Senyum licik)

That’s all

Ini mesti segera direvisi dan diantar lagi minggu depan. Oh iya aku lupa untuk minta catatan prosedur dan cara penelitian ke Pak Gatot. Mungkin besok ke kampus lagi. Karena ga mentoring, ada baiknya aku nongkrong di kamda buat online nyari jurnal. Doi minta aku untuk nambah referensi lagi.

Sunday, 9 March 2014

Masih Belum Kelar

Kebanyakan baca artikel tentang mahasiswa tingkat akhir (okeh, cuma dikit tapi udah makan waktu banyak banget). Nyadar sesadar sadarnya kalo skripsi itu ya harus tetap dikerjain. 

Aku udah berusaha ngalahin rasa males buat buka laptop untuk ngerjain skripsi. Rasa males yang udah stadium tiga ditambah kondisi charger laptop yang sekarang bikin masalah jadilah dia nya naik ke stadium empat. Hampir mati. Tapi gue ga boleh nyerah. 

Akhir Februari kemarin Masyitah udah kelar sidang, akhirnya anak itu sidang juga. Trio skripsi tahun ini tinggal aku and Zulfah yang ga kalah galaunya karena laporan keuangan ga nemu meski udah bongkar internet habis - habisan. Ga tau kenapa tu laporan keuangan engga nemu, kali aja ada perusahaan yang pelit banget ngaplot ke internet, padahal kalo dulu dia kuliah pasti ngerti bakalan ada mahasiswa yang butuh (secara ga langsung kita udah nuduh mereka pelit dan ga kuliah hahhaha songong nih)

So far sih aku nya masih belum sidang, proposal juga belum kelar. Tinggal dua bagian lagi, theoritical framework ama operational variable. Nah yang terakhir aku kurang ngerti, mau nanya sama Widya juga dianya pulang seminggu sekali. Hewww.... Untuk teori, Jumat lalu aku udah nongkrong di pustaka daerah buat donlot file - file yang dibutuhin. Mudah - mudahan sempat dibaca dan ditulis buat teori. 

Obrak abrik rak buku juga percuma, ga bakalan jumpat buku teori. Yang banyak itu cuma buku - buku TOEFL sama bahasa Inggris praktis kayak bicara dalam bahasa Inggris dalam 3 hari (ini buku bohonh banget) atau cara cepat menguasai grammar.

Padahal udah targetin kalo awal Maret itu ketemu sama dosen pembimbing, emang dasarnya aku yang ga bener ya belum kelar lah. Moga minggu ini bisa ketemu ibu dosen dah. Kelamaan malah aku dicuekin pula nanti

Monday, 17 September 2012

Terima Kasih untuk Pelajarannya

Apa yang salah jika memposting hal - hal yang bermanfaat di grup kampus? Apa yang salah jika mengajak untuk menyukai satu page yang memiliki informasi untuk mahasiswa? Apa yang salah jika mengajak seseorang untuk bergabung di organisasi mahasiswa muslim?

Entah aku yang naif atau mereka yang belum mengerti hakikat penggunaan media sebagai sarana bagi setiap orang. Kebebasan yang menjadi hadiah reformasi terindah bagi setiap orang yang hari ini tak perlu takut untuk menyampaikan sesuatu karena semua telah mendapat perlindungan konstitusi. 

Ah, mungkin mereka memandang aku terlalu memikirkan organisasi luar tanpa sekalipun peduli pada pemberdayaan organisasi kampus. Hmm bisa jadi mereka benar akan hal tersebut, karena hari ini aku merasa tidak ada kepentingan lagi di organisasi internal kampus yang dulunya kugeluti. Hari ini, aku beralih pada organisasi intra kampus yang lain untuk mempermudah pelaksanaan misi.

Hahahahha agak lebay memang mereka. Selalu tidak menyukai apa yang kulakukan dan katakan. Kucoba menerka - nerka apa yang sebenarnya tidak mereka sukai dari tindakanku. 

Apa karena aku begitu getol mengajak anak - anak baru untuk gabung di KAMMI? Apa salahnya? Setiap orang berhak untuk melakukan perekrutan selama tidak melanggar aturan yang ada. Memang ada aturan di kampus yang melarang mahasiswanya bergabung di KAMMI? 

Apa yang salah ketika aku lebih cenderung untuk aktif di KAMMI ketimbang di kampus? Mungkin mereka pikir aku tidak peduli pada kampus, hanya memikirkan kepentingan organisasi luar, lebih sibuk di luar. Seorang dosen pernah berkomentar ketika salah satu tulisanku ada di koran lokal. Katanya dalam penulisan status, aku lebih mendahulukan organisasi luar daripada organisasi kampus yang saat itu aku geluti. Hihihihihi dosen ini lucu sekali. Bukankah keduanya tetap kucantumkan? Ah, hal sepele dipermasalahkan. Gak substantif! Padahal ketika itu tulisanku berbicara sebagai anggota organisasi intra kampus. 

Aku sadar, ini tantangan untuk membangun argumentasi yang lebih jitu sehingga mereka mati kutu. Tidak bermaksud jahat, hanya saja kalau sudah begitu geram, aku harus cari cara untuk bungkam mulutnya. 

Untuk adu argumentasi, aku ingat ketika mereka mengkritik ramai - ramai saat kampus udah sepi banget. Mereka berempat plus satu dosen. Semua laki - laki. Mengajukan kritik terhadap aturan yang kubuat untuk pertandingan antar kelas. Meskipun jantungku berdenyut dan nafas terasa sesak, kupaksakan untuk tetap senyum dan menjawab apa yang mereka lontarkan dengan tenang. Tak lupa kutantang untuk berpartisipasi langsung jadi panitia (hanya bisa protes tapi gak mau jadi panitia). Jawabannya, saya bantu dengan doa aja buk, saya sibuk, ini bukan kapasitas saya bla bla

Geram? Pasti! Begitu mereka pulang, pertahanan sebagai cewek langsung lepas. Sepanjang jalan nangis sejadi - jadinya. Bukan karena mereka protes dan tak mau jadi panitia, tapi aku pikir gak adil! Lima lawan satu!! Apa apaan mereka itu --"

Memang hadiah pertandingan itu sampai hari ini belum bisa kutunaikan. Aku minta maaf jika hal itu belum sempat kupenuhi. Hhhh aku yakin mereka akan berkata bahwa aku ingkar janji, tapi mereka tidak tahu dan tak perlu tahu mengapa hal itu belum bisa kulaksanakan. 

Bagaimanapun, orang - orang ini sudah membuat aku belajar menghadapi the reality in society. Belajar untuk tak banyak mengeluh dan terlalu banyak mengadu pada orang lain. Belajar juga untuk lebih hati - hati dalam memilih orang, mana yang bisa kupercayai dan mana yang tidak. Mana orang yang jujur dan tulus bekerja untuk kepentingan bersama, mana orang yang hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.

Terima kasih

Saturday, 2 June 2012

Ketakutan Tak Normal


Takut. Semua orang punya rasa itu. Dan rasa takut itu adalah ciptaan Allah. Hanya saja, perintah takut untuk manusia adalah takut kepadaNya, bukan kepada makhlukNya. Lalu, jika takut terhadap ciptaanNya masih mendominasi, ada apa sebenarnya? Hanya satu jawaban, saat itu keimanan tidak berada di tempat yang semestinya. Iman sedang turun, bahkan mungkin sedang ambruk.

Sudah hampir satu bulan kami menjalani hidup di Kampung Bintan Buyu sebagai mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diambil untuk meraih gelar sarjana. Kelompok saya terdiri dari 15 orang anggota dengan rincian 4 laki – laki dan 11 perempuan. Di antara kami ada 5 orang dari jurusan pendidikan bahasa inggris, 4 orang dari jurusan pendidikan agama islam kelas extension dan 6 orang dari jurusan yang sama namun kelas regular. Keberagaman ini membuat kami belajar untuk memahami satu sama lain, apalagi ada beberapa di antaranya yang baru bertemu meskipun sudah hampir 4 tahun kuliah di kampus yang sama.

Kampung Bintan Buyu terletak di Kabupaten Bintan, tepatnya di Kecamatan Teluk Bintan, Desa Bintan Buyu. Ketika menghadap kepala desa, kami diberikan kesempatan untuk memilih sendiri lokasi KKN di mana desa ini terdiri dari 4 kampung yaitu, Kampung Bintan Buyu, Kampung Sidodadi, Kampung Bukit Batu dan Kampung 46 (begitulah mereka menyebutnya). Kami memilih Kampung Bintan Buyu karena melihat lokasinya yang tidak jauh dari jalan besar dan juga balai pertemuan yang kami gunakan sebagai tempat tinggal sementara tidak jauh dari rumah masyarakat sehingga memudahkan kami untuk bersosialisasi.

Awal KKN, ada hal yang tidak nyaman yang saya rasakan. Mulai dari posko yang terkesan angker, kebingungan untuk memulai komunikasi dengan warga, listrik yang tidak 24 jam, jauhnya saya dari teman – teman seperjuangan, banyaknya waktu kosong hingga kenyataan bahwa saya tinggal satu rumah bahkan tidur di ruangan yang sama dengan lawan jenis.
Posko yang kami tinggali kabarnya adalah bekas kuburan seorang anak kecil yang sudah dipindahkan bertahun – tahun yang lalu. Dulunya ada sebuah keluarga yang tinggal di posko tersebut (posko itu sebenarnya adalah bekas rumah warga) namun entah mengapa selalu saja sakit – sakitan hingga mereka menjual rumah tersebut pada warga. Tahun lalu, dari berita yang kami dengan dari masyarakat, mahasiswa yang sedang KKN di sana melihat penampakan yang tidak seharusnya.

Pada mulanya saya sama sekali tidak takut akan hal tersebut sehingga merasa biasa saja. Namun sayang kondisi keimanan yang fluktuatif membuat saya menyerah pada keadaan dan berada dalam ketakutan tidak normal selama seminggu lebih berada di tempat itu. Setiap malam saya tak bisa tidur lelap bahkan tak bisa tidur sama sekali hingga subuh. Gejala tak normal lainnya muncul bersamaan dengan ketakutan itu. Tiap malam saya harus buang air kecil dan terpaksa membangunkan teman seposko untuk menemani ke belakang. Saya selalu bangun sebelum jam 2 dini hari dan sangat sulit untuk tidur kembali. Padahal suasananya sangat membuat tidak nyaman. Listrik desa yang sudah mati pukul 11 malam makin membuat saya takut bahkan untuk bergerak.

Memalukan memang. Selama dua malam saya hanya bisa menangis karena ketidaknyamanan tersebut sementara teman – teman lain tertidur pulas. Tak ingin berlama – lama dengan keadaaan seperti itu saya putuskan untuk pulang mencari obat setelah permintaan saya untuk pindah posko ditolak oleh teman – teman. Mungkin menurut mereka alasan saya tidak masuk akal dan pindah posko artinya penambahan biaya. Barulah setelah melakukan hal – hal yang disarankan oleh teman – teman yang menurut saya keimanan mereka jauh di atas saya, di akhir minggu kedua saya baru bisa mulai merasa nyaman tidur di posko. Bahkan keimanan mulai berangsur membaik dari sebelumnya.

Dari malam – malam yang saya lewati di sana dengan ketidaknyamanan dan ketakutan tak normal tersebut, ada hikmah yang saya coba cerna. Allah azza wa jalla sedang memberikan tegurannya pada saya. Oh mungkin tidak hanya teguran, tapi ini merupakan hukuman bagi saya karena kelalaian – kelalaian yang selama ini saya lakukan.

Untuk menaikkan keimanan yang sudah jatuh di jurang yang paling dalam saya memperbanyak shalat berjamaah karena kebetulan mesjid tak jauh dari posko. Shalat sunnah pun harus saya paksakan setiap selesai shalat wajib. Tilawah yang dulunya tidak pernah mencapai target mau tidak mau saya paksakan hingga suara serak, kadang beberapa teman menggoda bahwa saya sedang meruqyah mereka. Hahahaha tidak apa lah.

Di satu waktu saya mencoba mengajak beberapa orang untuk membaca surah Al Baqarah bersama – sama untuk mengusir jin yang mungkin ada di rumah itu. Tentu saja ada karena rumah itu sudah lama sekali kosong. Setelah maghrib rupanya listrik desa tak kunjung menyala hingga kami hanya menggunakan penerangan seadanya. Hati saya mulai cemas tak normal dan berprasangka bahwa mungkin saja jin di rumah tersebut tidak mau kami membaca surah itu hingga ia membuat listrik tidak menyala. Geli jika mengingat pikiran saya ketika itu.

Dengan berbekal senter HP, setelah maghrib saya tetap membaca surah Al Baqarah dari ayat pertama dan bertekad menyelesaikannya malam itu juga. Ketika memasuki rumah baru disunnahkan untuk membaca surah Al Baqarah agar jin tidak memasuki rumah tersebut. Inilah yang saya lupakan di awal KKN sehingga menjadi tak normal. Jelang pukul 10 malam saya merasa penuh oleh bongkahan keimanan yang bergelayut dalam dada sehingga meskipun saat itu teman – teman sudah terlelap, saya merasa tidak lagi takut seperti malam – malam sebelumnya. Namun tinggal 4 lembar lagi yang harus say abaca, tiba – tiba ada reaksi aneh yang saya rasakan. Huekk! Berasa ingin muntah saat itu juga. Wusss…… seketika itu saya terhenti membaca.

Membaca surah Al Baqarah dari awal hingga akhir merupakan salah saru langkah untuk meruqyah diri sendiri. Jika ada reaksi pusing, berasa ingin muntah artinya ada jin yang memang selalu mengikuti dan mengganggu setiap kali kita ingin beribadah. Itu yang pernah saya dengar dalam sebuah majelis ilmu.

Rasanya seperti dihempaskan ke bebatuan mengetahui kenyataan demikian. Saya berkesimpulan bahwasanya selama ini di diri saya lah jin itu bertengger dan membisikkan ketakutan – ketakutan dalam dada saya. “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” (QS. An Naas : 5). Astaghfirullah…… pantaslah selama ini saya menjadi tidak normal.

Puji syukur bagi Allah, Tuhan semesta alam yang sudah memberikan saya pelajaran, teguran dan hukuman. BagiNya segala pujian

Setelah malam itu, ketidaknormalan saya berangsur pulih dan bisa lebih fokus pada program yang telah kami canangkan. Tak hanya itu, ada banyak hal yang bisa saya lakukan, lihat, dengar dan rasakan di sana. Ketidakberuntungan, ketidakpahaman, kemiskinan, kebodohan, dan kesedihan di masyarakat. Mohon doanya agar KKN ini tak hanya sekedar menghabiskan waktu di kampung orang tanpa sedikit pun memberikan kontribusi nyata bagi mereka, baik secara fisik apalagi non fisik.

Wednesday, 9 May 2012

Road to KKN (BIntan Buyu)

Kembali di bulan Mei

Tahun lalu, akhir Mei adalah masa - masa karantina di Hotel X sebelum mengikuti Jambore Pemuda Indonesia di Malang dan Bakti Pemuda ANtar Provinsi di Jakarta. Tahun ini pertengahan Mei adalah waktu untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata di Kabupaten Bintan tepatnya di Bintan Buyu.

Dua tahun berturut - turut meninggalkan KAMMI untuk berada di daerah lain. Meskipun kali ini tidak begitu total (karena masih bisa pulang karena satu daratan) tapi rasanya tetap sama.

Di Jakarta mungkin penempatannya di tengah kota, dengan berbagai macam fasilitas dan tempat wisata yang kami kunjungi. Lebih banyak jalan - jalan ketimbang gabung di masyarakat. Tahun ini sepertinya harus lebih sabar karena di Bintan Buyu kabarnya listrik hanya empat jam sehari terhitung dari jam 6 sore hingga 11 malam. Kemudian tempatnya yang sangat jauh dari kota cukup menyulitkan untuk berkomunikasi via telpon apalagi internet.

Setelah ini intensitas untuk berinternet ria akan berkurang hingga bulan Juli mendatang. Bisa gak ya?

Lalu apa yang harus kami lakukan di sana? Jika proposal yang kami buat tidak tembus satu pun, maka sudah barang tentu kegiatan yang kami buat sesuai dengan biaya yang kami punyai. Artinya tidak akan membuat kegiatan yang besar. Mungkin yang bisa kami lakukan dan bermanfaat adalah membuat database tentang tingkat sadar pendidikan, buta aksara, baca Al Quran masyarakat di lokasi KKN. Ini untuk membantu pemerintah kabupaten dan provinsi khususnya, semoga bisa membuat program yang lebih mengena ke masyarakat untuk mengurangi angkat tersebut (yakin banget angka sadar itu rendah).

Selamat berjuang ya Nurul!!!
Harus berhasil kembali hidup - hidup dari lokasi KKN!!!!

Saturday, 28 January 2012

Pasca Sarjana?

Sedang bermuram durja

Sebenarnya gak juga sih, lagi galau aja tentang masa depan. Hampir semua teman - teman punya rencana pasca sarjana. Lah saya mau ngapain?

Ada yang udah dikapling duluan buat jadi guru di sekolah A, sekolah B, pergi jalan - jalan dulu dan lain - lain

Trus saya?

Galau galau galau.....

Galau mau ngapain pasca sarjana

Hahaha benar - benar bukan orang yang punya tujuan kayaknya.

Friday, 2 December 2011

La Tahzan

La Tahzan...

Sekali lagi jangan bersedih ya Nurul....
Apa pun itu pasti ada tujuan dan hikmahnya kok


Semalam bermaksud mengadakan rapat BPH BEM untuk ke sekian kalinya. Nyadar juga jarang buat rapat beberapa minggu belakangan ini. Diundanglah seluruh BPH untuk hadir di kampus jam 8 malam. Sengaja dibuat jam segitu karena kalo dibuat pagi, alasannya kerja. Dibuat siang ada yang masih kerja dan kuliah. Malam pilihan terbaik meskipun beberapa orang berpendapat gak ahsan rapat malam - malam. Ah peduli amat, daripada gak rapat sama sekali atau rapat tidak dihadiri siapa pun. 

Sayang beribu sayang, man proposes God disposes. Konon gitu sih katanya. Hingga pukul 9 malam nongkrong di depan kampus gak ada seorang anggota BPH pun yang nongol. Yang ada malah sms izin gak datang, Duuh cape deeeh. Gak lama kemudian untunglah sang sekretaris datang, membuat saya cukup senang. Terhibur dikitlah. Tapi ya rapatnya gak jadi, cuma diskusi bentar aja dengan sekretaris.

Bukan main lagi sedih hati niiiiiiii..... Gimana program mau berjalan dengan lancar kalo pertemuan pun seperti ini??? Berpikiran positif aja siiiih... Kali aja lagi diuji. Jadi mesti kuat!!


Akibat baca buku La Tahzan beberapa lembar energi positif mau gak mau harus dipancarkan. Hehehe lagi ngomong apa toh kamu ni Nuruuuul....

Intinya JANGAN BERSEDIH.
Gak ada yang perlu disedihkan

Kata Hasan Al Banna, carilah seribu alasan untuk saudaramu yang gak datang.

Gak masalah... Gak apa - apa, gak apa - apa

Jika tak ada yang datang maka keputusan berada di tangan saya. Biarlah dikatakan ini itu. Dikatakan diktator atau otoriter. Jadi tidak disukai oleh teman - teman yang lain. Lagian, peduli apa mereka suka atau tidak? Emang ada untung ruginya? Idih kegeeran xixixixixi....

Jelang pemilihan baru maka saya akan bekerja dengan orang yang mau bekerja, bukan dengan orang yang hanya mau bicara. Tapi ketika ditantang untuk bekerja melengos pergi dengan berbagai macam alasan. 

Huh!! 

Upss.... Gak boleh gitu ya Nuruuuuuull.... Mesti lapang dada menerima perlakuan setiap orang. 
Semangat!!!!


# JIka ada 100 orang yang bekerja dipastikan satu di antaranya adalah aku. Jika ada 10 orang yang bekerja, dipastikan satu di antaranya adalah aku. Jika hanya ada satu orang yang bekerja, maka itu pasti aku

Umar bin Khattab ra, thanks banget ya udah motivasi saya ^____^

Wednesday, 11 May 2011

Bimbingan Konseling : Prinsip dan Asas

Oke pagi ini saya sudah sangat sangat berniat untuk membuat sebuah tulisan sebagai persiapan untuk ujian nanti malam. Begitu sudah siap akan menulis tiba – tiba suara sms masuk berbunyi dan datang lah perintah sang ketua untuk mengirimkannya beberapa file serta beberapa hal lainnya yang patut disiapkan hari itu. Niat yang sudah di ujung jari akhirnya kembali ke kaki dan saya harus menunda untuk menulis, sebagai gantinya pagi ini saya sibuk mengedit semua surat – surat. Hoooooh……

Waktu berjalan begitu cepat dan hari sudah menunjukkan pukul 10 lewat beberapa menit ketika tugas itu selesai. Mari kembali ke niat awal untuk menuliskan hal – yang harus saya persiapkan untuk ujian bimbingan dan konseling nanti malam.

Bimbingan dan konseling pada hakikatnya berfungsi untuk memfasilitasi para siswa di sekolah untuk mengembangkan potensi dirinya serta mengambil peran dalam proses tumbuh kembangnya. Ini merupakan tulisan yang tercatat dalam buku kuning saya yang sacral itu (heee…). Seorang guru BK bukanlah seperti yang kita lihat dan alami selama ini. Persepsi kita tentang guru BK hanya sebatas guru yang bertugas untuk menangani anak – anak bermasalah, terutama dalam hal kedisiplinan dan perilaku menyimpang di sekolah. Tentu saja ini sempit sekali dan merupakan pengertian yang salah menurut saya.

Selanjutnya muncul pertanyaan di kepala saya, jika demikian seharusnya satu sekolah tidak cukup memiliki satu atau dua orang guru BK. Kira – kira jika fungsinya seperti itu, berapa ya idealnya guru BK di sekolah? Lalu seberapa besarkah pengaruh guru BK dalam keberhasilan peserta didik? Hmmm saya masih belum bisa menemukan jawabannya karena juga tidak memungkinkan dengan sistem pendidikan saat ini ( emang sistem yang gimana toh hehehe *sotoy.com )

Baiklah, kembali ke catatan berikutnya. Karena BK yang sedang saya pelajari saat ini lebih mengarah kepada bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh anak – anak, maka ada beberapa prosedur yang harus dilewati ketika seorang guru atau konselor (secara dosen saya itu berprofesi semacam konselor gitu, aktif di KPAI soalnya ) menemukan seorang anak yang punya masalah ( bukan anak bermasalah lhooo ).

Pertama yang harus dilakukan ialah mengidentifikasi kasus yang sedang menimpa anak tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan kepada peserta didik atau istilahnya call them approach. Hal ini bertujuan untuk menjalin keakraban dengan peserta didik atau anak yang sedang mendapatkan masalah tersebut. Dalam upaya mendekatkan diri dengan peserta didik dengan sendirinya ia akan belajar memahami masalahnya sendiri. Kemudian, di langkah pertama ini seorang guru BK melakukan analisis dengan memberikan pertanyaan – pertanyaan kepada peserta didik untuk mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi.

Kedua, mengidentifikasi masalah yaitu dengan cara mendeteksi peserta didik yang bermasalah tersebut dengan meggunakan instrument atau alat ungkap masalah. Adapun aspek – aspek yang diperlukan dalam mengungkapkan masalah ialah sebagai berikut; bagaimana kondisi jasmani dan kesehatan, kepribadian, interaksi sosial, financial, keadaan dan hubungan keluarga, hubungan muda mudi serta penggunaan waktu senggang.

Ketiga, melakukan diagnose, yaitu mencari factor penyebab masalah peserta didik tersebut. Factor penyebab bisa berasal dari luar juga bisa berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Kemudian yang keempat melakukan prognosis yaitu menganalisis apakah masalah itu bisa diatasi atau tidak.

Langkah kelima ialah dengan melakukan treatment atau upaya penyembuhan atau penyelesaian masalah peserta didik. Dan terakhir, evaluasi dan follow up untuk mengetahui apakah layanan/konseling yang sudah dilakukan berhasil atau tidak.

PERTEMUAN II


Di pertemuan selanjutnya dosen saya mulai menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling. Dalam catatan di buku kuning saya, dikatakan bahwa konseling merupakan bimbingan atau teknik yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang sedang dihadapi oleh peserta didik. Sementara itu bimbingan dijelaskan sebagai bantuan yang diberikan kepada peserta didik.

Ketika diajuka pertanyaan apa saja syarat menjadi konselor, maka untuk menjadi konselor itu merupakan hal yang tidak mudah karena memerlukan persiapan mental, fisik dan rohani serta mesti ramah pada orang yang akan dibimbing. Selain itu peserta didik yang akan dibimbing juga mesti menyatakan kesediaannya untuk mendapatkan bimbingan tersbut.
Adapun misi layanan konseling ada tiga macam, pertama pendidikan yaitu melakukan pembentukan karakter terhadap peserta didik. Kedua, pengembangan potensi peserta didik. Yang terakhir, pengentasan masalah yaitu mengeluarkan peserta didik dari permasalahan.

Berhubungan dengan pengertian konseling, maka ada dua teknik bimbingan yang biasa dilakukan yaitu grup guidance dan individual conselling. Dalam grup guidance ada banyak hal yang bisa dilakukan antara lain home run yaitu melakukan pendekatan kepada peserta didik . kemudian berwisata dan diskusi kelompok di mana masing – masing peserta terlibat untuk memecahkan masalah bersama – sama. Kegiatan lainya dapat berbentuk kegiatan kelompok, organisasi siswa, sosio drama atau bermain peran, dan psiko drama yaitu menyelesaikan masalah dari segi psikis. Sementara itu untuk individual conselling merupakan teknik bimbingan yang dilakukan face to face artinya hanya antara peserta didik dan konselor atau guru BK.

PERTEMUAN III


Cukup lama tidak mengadakan pertemuan dengan dosen cantik kami. Di pertemuan ketiga kami mulai membahas prinsip – prinsip bimbingan konseling dan asas bimbingan konseling.

Prinsip bimbingan konseling yang pertama ialah bimbingan konseling ini diperuntukkan bagi semua individu yang artinya siapapun orangnya berhak mendapatkan bimbingan konseling dan setiap konselor mengarah pada promotif, preventif, akuratif dan rehabilitative. Kedua bimbingan konseling merupakan proses individuasi yang benar – benar diberikan pada anak yang bermasalah meskipun menggunakan teknik kelompok.

Ketiga, bimbingan yang diberikan menekankan pada hal positif. Keempat, bimbingan ini merupakan usaha bersama. Selanjutnya hal esensi dalam bimbingan konseling ialah pengambilan keputusan. Terakhir, dapat dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan.

Selanjutnya mari kita bicarakan masalah asas bimbingan konseling antara lain meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan (artinya orang yang akan dibimbing harus menyatakan kerelaannya), asas keterbukaan ( tidak boleh ada fakta yang disembunyikan ), asas kegiatan ( individu harus berpartisipasi ), kemandirian ( anak yang bermasalah menjadi dewasa dalam menghadapi masalah ), serta asas kekinian. Kemudian, asas kedinamisan, keterpaduan ( kerjasama antara beberapa pihak ), keharmonisan ( tidak bertentangan dengan adat dan nilai agama ), dan keahlian ( dilakukan oleh seorang professional ). Asas yang terakhir yaitu asas ahli tangan kasus yang artinya kasus dapat dialihkan jika tidak dapat ditangani oleh pihak – pihak terkait.

Ya gitu lah catatan saya selama tiga pertemuan bimbingan dan konseling ini, pertemuan berikutnya kami lanjutkan dengan mendiskusikan kasus – kasus yang paling banyak dihadapi oleh anak – anak zaman sekarang seperti pergaulan bebas, kekerasan dalam rumah tangga dan kasus lainnya.

So semoga catatan ini bermanfaat buat teman – teman semua. Dan boleh dicopas, asal mencantumkan penulis aslinya hohhooho....

Tuesday, 1 March 2011

Memimpin = Memberi Teladan

Ini adalah cerita yang cukup memalukan bagi saya sendiri terutama di masa awal kepengurusan di organisasi internal kampus. Rasanya ingin saya mengatakan "tak ada gading yang tak retak", namun apa daya saya hanya bisa terdiam ketika itu.

Ujian Akhir Semester membuat saya cukup kelimpungan dalam persiapan secara administrasi. Selama ini saya hampir tidak pernah memikirkan masalah administrasi kampus karena longgarnya peraturan dari kampus itu sendiri kepada mahasiswanya.

Biasanya untuk UAS hal penting yang harus dimiliki meliputi kartu mahasiswa, kartu perpustakaan, kartu rencana studi yang sudah ditandatangani semua dosen yang bersangkutan serta kartu ujian. Nah saya merupakan salah satu mahasiswa yang masih cuek dengan hal - hal seperti itu. Hingga tiba hari H UAS dilaksanakan saya kelimpungan untuk mendapatkan kartu perpustakaan, syukurlah 10 menit sebelum ujian berlangsung petugas perpustakaan akhirnya bersedia juga memberikan saya kartu tersebut.

Tibalah waktu ujian. Saya gelisah sekali karena kali ini kami diawasi langsung oleh Kepala BAAK yang cerewetnya minta ampun kalau sudah berurusan dengan persyaratan ujian. Seperti yang sudah ditebak, tepat setelah kertas ujian dibagikan, ia mulai berjalan memeriksa kelengkapan ujian kami.

Biasanya saya bisa dengan mudah lolos namun tidak kali ini. Kekesalan dosen ini bermula dari salah satu teman saya yang belum mengisi KRS sama sekali. Dosen itu pun mengambil kertas ujian dan tidak mengizinkan teman saya itu untuk ikut ujian. Untungllah tak lama setelah itu, meskipun dengan ketegangan yang sangat tinggi, dia masih bisa ikut ujian.

Giliran saya diperiksa. Pada awalnya saya berusaha untuk santai karena saya sudah tahu saya salah karena beberapa dosen belum menandatangani KRS. Dengan tiba - tiba dosen itu langsung berbicara lantang di depan kelas , "Nih lihat! Ketua BEM! Sang ketua sendiri belum mendapatkan tanda tangan."

Berdesir hati saya ketika dia mulai menyebutkan jabatan saya di kampus. Apa daya saya hanya terus berpura - pura menyelesaikan soal ujian yang ada di depan mata.
"Kalau kamu mahasiswa biasa saya bisa memaklumi. Tapi ini seorang ketua BEM, pejabat teras di kampus tidak mampu memberikan contoh yang baik!!"

Merahnya telinga saya ketika beliau berkata demikian. Rasanya ingin marah, hati saya memberontak dan ingin berkata bahwa bukan keinginan saya untuk jadi ketua BEM di kampus ini. Tentu saja hal itu tidak bisa saya lakukan karena akan semakin membuat malu diri sendiri. Diam memang langkah yang sangat mudah.

Sekian lama saya mencoba menjadi baik dan jadi yang terbaik, hari ini harga diri saya dijatuhkan dan diinjak - injak hanya karena saya seorang ketua yang tidak mampu menjadi teladan. Astagfirullah....

Dipermalukan seperti itu membuat saya ingin meninggalkan kelas dengan segera. Pertanyaan di kertas saya jawab semampunya, saya langsung menyerahkan jawaban pada dosen tersebut kemudian keluar kelas tanpa sedikitpun berani menoleh ke arah teman - teman lain.

Begini rupanya berada di posisi teratas sebuah organisasi, apa pun yang saya lakukan dan katakan menjadi pusat perhatian dan saya yakin menjadi bahan gunjingan bagi siapa saja.

Kembali memori saya bergerak pada pertemuan ke sekian di mata kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan dengan topik konsep kepemimpinan.

Dosen saya ketika itu mengatakan bahwa, "Memimpin artinya siap menjadi teladan serta memempin adalah membina".

--"
saya memang harus mengakui bahwa yang saya lakukan adalah karena kesalahan saya sendiri dan akhirnya hal tersebut memang merugikan diri serta telah merusak citra diri saya

Tuesday, 22 February 2011

Rapat Kerja

Rapat kerja alhamdulillah sudah terlaksana pada Minggu, 13 Februari 2011 yng lalu. Meskipun hampir kecewa dengan jumlah kehadiran pengurus yang sempat hadir, namun semangat tak boleh luntur.
Prinsip yang mesti ditanamkan ialah berapa pun yang hadir hari ini, maka tidak akan mengurangi esensi pertemuan tersebut.

Berikut evaluasi untuk rapat kerja :
1. Acara pembukaan yang tidak tepat waktu
2. Tidak adanya perwakilan kampus yang datang karena kurang pro aktifnya ketua panitia pelaksana dalam membangun komunikasi walaupun sudah diarahkan dari jauh - jauh hari.
3. Mekanisme rapat yang awalnya disepakati memakai mekanisme sidang berubah dengan musyawarah atas permintaan peserta rapat.
4. Acara pembukaan tidak berlangsung lama karena kata sambutan hanya berasal dari ketua BEM.
5. Secara keseluruhan, program yang dibuat oleh masing - masing bidang, sudah sesuai dengan keinginan yaitu tidak terlalu banyak dan muluk - muluk.

Semoga dengan ini program dapat dilaksanakan dengan baik dan kegiatan berikutnya lebih baik lagi...

Rekomendasi :
1. Percepat pengadaan sekretariat BEM
2. Meminta transparansi dana pihak kampus untuk kegiatan kemahasiswaan

Wednesday, 9 February 2011

Amanah Baru

Tidak bermaksud narsis atau pun pamer karena saya bukanlah siapa-siapa.
Saya hanya orang yang kebetulan dapat amanah ini, tapi mungkin bukan suatu kebetulan juga, pastinya dan saya percaya bahwa ini sudah diatur dan dicatat dalam Lauhul Mahfuz. Catatan kehidupan seorang hamba Allah seperti saya.

Nah di sinilah sekarang saya berdiri dan harus tetap kokoh.
Amanah baru, pengalaman baru dan tentu saja akan banyak hal yang akan saya dapatkan dari kedudukan saat ini.

Oleh sebab itu yang saya perlukan sekarang hanyalah semangat dan dorongan dari orang - orang terdekat. Orang - orang yang masih ingin memberikan saya dorongan untuk menyelesaikannya. Oh, bukan. Bukan untuk menyelesaikannya, tapi untuk memanfaatkannya dengan sebaik - baiknya.


 Allahu rabbi...
Terima kasih.....

Wednesday, 1 September 2010

An Embarassing Presentation

This  is a picture in Syntax class a few times ago. It was an embarrassing presentation all my life (certainly I had one, when I had to talk in front of the great committee in a social competition a few years ago ).

Let me introducethe member of the group. The girl used white scarf was Asnani and the brown one was Juminisari. Certainly, I was the girl in the middle. They were good partners for me, helping each other.

Well, that day, our group had to explain to the class what was syntax and the system on that subject.

I recognized that I didn’t do my best in finishing the paper, whereas we had no more preparation fot it. I tried to find the articles on internet, read it and I found that it was too difficult to understand.

I knew I was wrong for not asking the lecturer about it, then it was a very big mistake in my academic life. A day before presentation, I was not too serious on the subject and not reading it carefully. Actually, I had difficulty in understanding the words.

And it’s time to sit in front of the class. I was not too nervous to speak, but on what I had to talk about. No idea at all. So I explained something that I, myself, understand nothing of it. I talked nonsense. What a bad performance!

When my classmates gave us some questions, I and the other two said nothing. Finally, I asked the lecturer to explain it again and we apologized for the bad performance.

Now, I can imagine the result of my syntax subject. I will not get A….!!

Ou em jiii, it’s digusting! I’m angry to my self.