Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Friday, 21 August 2015

Toko Belanjo Online, Distributor Mozarella Pertama di Tanjungpinang



Mozarella? Apa itu? Hehehehe terus terang saya ga tau benda apa itu yang bernama mozarella. Kalaulah bukan karena Kak Salma yang heboh itu komat kamit di sosial media soal kegalauan dan kerinduannya dengan mozarella, bisa jadi mozarella akan jadi satu dari ribuan kata lain yang ga saya ngerti artinya.

Setelah browsing di google baru deh tau mozarella itu apa. Sejenis keju yang lumer di mulut yang biasa dipake untuk topping pizza. Wiww siapa sih yang ga suka pizza *oke saya ngaku, cuma jenis pizza tertentu yang saya makan. Di zaman beginian pizza ga lagi masuk dalam daftar makanan mahal. Banyak restoran yang menawarkan pizza dengan harga irit dan cucok buat kantong, meskipun lagi akhir bulan. 



Okeh kembali ke soal mozarella tadi. Kak Salma ini jenis ibu-ibu kepo yang suka berkreasi di dapur. Maklum, sebelum menikah doi pernah kerja di salah satu restoran di Jakarta. Bukan jadi kasir atau waitressnya tapi doi jadi orang yang bertugas untuk icip icip. Kak Salmaaaaa you're so lucky.

Ya gitu deh, berawal dari hobi makan akhirnya jadi kerjaan. Ga heran sebagai tukang icip icip makanan, Kak Salma jago banget mengolah makanan yang berhubungan dengan keju-kejuan, mayonaise, macaroni daaaan bahan lainnya yang so pasti ga akan kamu temui di dapur saya yang belum punya dapur sendiri xixixiixi.

Waktu kami satu acara, Kak Salma rajin masak n bawain hasil masakannya. Awalnya saya ga berminat buat nyobain tapiiii demi menjaga kesopanan dan ketertiban ketika ditawari makanan, yaaa dicobalah dikit. Daaaan hasilnya, setengah makanan itu saya yang habiskan XD

Naaah, rupanya ada satu bahan makanan yang susah banget dicari Kak Salma di Tanjungpinang ini, yaitu keju mozarella. Wah, benarkah??? Rasanya ga ada makanan yang sulit dicari di sini. Berhubung Tanjungpinang kan bukan negeri yang pelosok banget.

Tapi rupanya bukan Kak Salma sendiri, temannya yang bernama Fita pun merasakan hal yang sama. Well, saya kenal dua orang ini suka bikin kreasi makanan gitu di dapur. Dan saya termasuk orang yang membantu mereka lho. Iya, bantuin makan. Kasian kalo ga dibantuin XD

Setelah berkeliling kota naik sepeda menjajaki swalayan yang ada di Tanjungpinang untuk menemukan mozarellah, akhirnya mereka menyerah dan berkesimpulan, mozarella ga ada di Tanjungpinang. Lalu apa yang mereka lakukan? Apa harus melaporkan hal ini pada polisi? Memasukkan mozarella dalam daftar pencarian orang hilang dan bikin selebaran di mana sekaligus nge broadcast setiap kontak di BBM??

No!!

Kesedihan itu dijawab Kak Salma dengan BISNIS MOZARELLA. Euuyyy emang dasar ibu-ibu kepo yang suka bisnis. Semua kegalauannya berubah menjadi bisnis. 


Yaps, Kak Salma yang juga owner Toko Belanjo Online itu akhirnya memutuskan dan menetapkan bahwa, doi harus jadi distributor mozarella pertama di Tanjungpinang!!

Tring!!! Dalam hitungan waktu mozarella mozarella itu pun berdatangan ke Tanjungpinang ini. Well, siapa yang ga tergiur untuk langsung mendapatkannya. Ada begitu banyak daftar makanan yang bisa dibuat dengan menggunakan mozarella. Pasta, Lasagna, Fetucini, Roast Chicken, Steak Beef, Burger, Hotdog, Nasi Goreng, Moza Stick (dipotong stick & dibalur tepung roti lalu digoreng), Roti Bakar, Roti Goreng, aneka Risoles, Martabak dan lain-lain.

Eh tunggu dulu, kira-kira mozarella bisa ditambahin dalam adukan rendang lebaran ga??? *abaikan

Ga nyampe berapa hari, di sosial media saya udah seliweran aja tuh hasil kreasi makanan yang dibuat teman-teman. Hmmm yummy!!!!!  Jadi pengen coba bikin sendiri xixixixiiii



Nah buat kamu yang pengen kreasi sendiri di rumah dapatkan keju mozarella ini di Toko Belanjo Online yang beralamat di :
Komplek Taman Mekarsari 1 blok C-12 Km.7 Tanjungpinang, Kepri
083893161264 (Salma Aziz) pin : 54860B30

Selamat mencoba!!!!

Wednesday, 8 April 2015

Kenalan Yuk....!



Suatu hari aku menghadiri sebuah acara kajian. Biasanya kajian kayak tasqif atau jalasah ruhiyah atau sekedar aksi jalanan rame banget yang datang. Kadang akhwat yang datang itu entah dari mana, kayaknya belum pernah ketemu. Hahaha kayak yang paling tahu aja jumlah akhwat di Tanjungpinang. 

Tapii kadang kalo sering dateng bisa hafal nama-nama mereka, jadi kalo ada yang baru rada kepo gitu buat nanya-nanya. Antara rasa ingin tahu, penasaran dan kasihan xixixixii....

Friday, 20 March 2015

(Catatan Taujih) Mentor Kece Wanna Be


Assalamu'alaikum have a good day everyone!! Anyeong haseyo.... :)

Alhamdulillah beberapa minggu yang lalu kami termasuk dalam ketegori orang-orang yang beruntung bersama beberapa orang lainnya. Kenapa? Silahkan tanya Galileo XD

Ini adalah rangkuman taujih istimewa dari ustadz dalam pertemuan mentor beberapa minggu lalu. Meski yang datang cuma sedikit engga apa-apa. Aku berasa lagi ikut liqo bareng ustadz ahahha biasa bareng ustadzah kan ya. Tentu yang ini sensasinya beda! Semangat yang ditularin juga beda!

Tuesday, 24 February 2015

Dibalik K-Pop dan Promosi Pariwisata Korea Selatan


Ketika menggunakan sosial media seperti twitter,  salah satu hal yang menjadi perhatian kita adalah topik yang sedang banyak dibicarakan oleh pengguna twitter. Hal ini biasanya terdapat di bagian trending topic di mana setiap Negara memiliki trending topic yang berbeda. Pilihan worldwide digunakan untuk mengetahui pembicaraan terkini di seluruh dunia. Biasanya trending topic hanya bertahan beberapa jam, namun ada kalanya bisa bertahan hingga berhari-hari.

    Awal bulan Februari 2015 ini, #HappyKyuhyunDay menjadi trending topic Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan beberapa Negara lainnya, bahkan di jam tertentu menjadi top worldwide trending topic. Hastag ini pun merupakan salah satu topik yang dibahas dalam acara Trending Topic di Metro TV. Hastag ini dibuat oleh para penggemar dalam rangka ulang tahun idola mereka, yaitu Kyuhyun.
   
    Lalu, siapakah Kyuhyun?

Pria yang baru saja mengeluarkan debut album solonya yang berjudul At Gwanghwamun adalah salah satu member Super Junior (SuJu), boyband yang telah berkarir sejak tahun 2005 lalu. Lagunya yang berjudul At Gwanghwamun sukses merajai tangga-tangga lagu di Korea Selatan. Tak heran di ulang tahunnya yang ke-28 tanggal 3 Februari lalu, ia mendapat sambutan yang luar biasa dari penggemar seluruh dunia.



    Tak dipungkiri media sosial mampu mempresentasikan apa yang sedang terjadi dan hangat diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Meski media televisi disibukkan dengan berita-berita politik dan perseteruan para pelakunya, namun media sosial menjadi bagian dari sebuah kenyataan kondisi sosial masyarakat hari ini, terutama apa yang sedang digandrungi para remaja. Di tahun 2012, dalam daftar yang disebutkan Zeitgeist 2012 (Kompas, 2012), kata kunci Gangnam Style berada diurutan teratas dalam pencarian berita di google. Di tahun-tahun berikutnya, meski tak berada diurutan pertama, pencarian tetap berada dalam salah satu top searching di google.

    K-Pop atau Korean Pop mulai masuk ke Indonesia diawal tahun 2000-an. Kita mengenal musik k-pop melalui boyband dan girlband yang memang menjamur di Korea Selatan. Beberapa boyband dan girlband seperti Shinee, Super Junior, Big Bang, Girl’s Generation, 4Minute ternyata tak hanya populer di negaranya sendiri namun juga mengembangkan sayap ke Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Hal ini pula yang membuat para promotor berani untuk mengadakan konser selama lebih dari satu hari.

      Tak seluruh industri k-pop di Korea Selatan diisi oleh boyband dan girlband. Nama-nama seperti Ailee, K. Will, Sung Si Kyung, Lee Seung Gi, dan Baek Ji Young yang merupakan penyanyi solo pun mampu menembus pasar dunia. Kemudahan akses internet hari ini semakin membuat arus k-pop mengalir deras di Indonesia. Setiap fans meeting yang diadakan tak pernah sepi yang juga didukung dengan penyebaran informasi melalui fanbase dan komunitas pecinta k-pop di setiap daerah.

    Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kehidupan remaja saat ini sangat dipengaruhi oleh budaya dari Korea Selatan yang tersebar melalui musik, bahasa, makanan, budaya, film dan drama. Hal-hal tersebut telah menjadi konsumsi sehari-hari yang dapat dinikmati melalui media-media online seperti allkpop.com, soompi.com, dramabeans.com, koreanindo.net dan lain sebagainya.

    Menurut para remaja ini mereka menyukai k-pop bukan hanya karena penampilan para artisnya yang hampir mendekati ciri fisik yang sempurna, melainkan karena totalitas yang mereka berikan. Profesionalisme dan gaya yang khas dari masing-masing artis tak membuat remaja ini bosan. Belum lagi kualitas suara, alunan musik dan gerak yang disajikan membuat k-pop terlihat berbeda dari musik Indonesia.

    DAMPAK K-POP


Dampak yang ditimbulkan oleh arus k-pop ini sangat besar. Mulai dari skala kecil yang besar. Dari pengumpulan pernak-pernik yang berhubungan dengan artis k-pop, menghiasi dinding kamar dengar poster para artis, pencarian informasi terbaru di internet, membentuk komunitas pecinta k-pop, kompetisi k-pop dance hingga yang paling ekstrim adalah meniru idola mereka seperti yang dilakukan oleh sekelompok remaja putri yang tergabung dalam Zuzu Cover Dance Super Junior.

Belakangan ini terdapat sebuah wacana yang berhembus di Malaysia untuk mengharamkan konser k-pop. Hal ini karena dipicu oleh aksi salah satu boyband asal Korea Selatan tersebut, B1A4. Dikutip dari situs malaysiandigest.com, ketika itu adalah sesi permainan Pop Parody di mana ada 5 penggemar diajak ke panggung untuk memerankan beberapa adegan dalam drama Korea. Saat itulah, salah satu anggota B1A4, yaitu Baro, secara refleks mencium dahi penggemar perempuan asal Malaysia. Aksi ini menimbulkan banyak kecaman karena tindakan tersebut dianggap tidak pantas dilakukan di negara itu.

Dampak yang timbul karena demam k-pop ini dalam beberapa kasus memang telah masuk kategori mengkhawatirkan, khususnya dalam konteks kebudayaan nusantara. Anak muda Indonesia lebih tertarik untuk memberikan waktu mereka untuk mencari tahu segala hal tentang Korea Selatan. Mulai dari jenis musik, pakaian tradisional, makanan, tempat wisata, alat musik tradisional, sejarah hingga tulisanya yang disebut Hangul.

Hal ini dalam beberapa titik tentu mengkhawatirkan karena dalam hitungan waktu, anak muda Indonesia perlahan tapi pasti, akan melupakan kebudayaannya sendiri. Tak ada lagi motivasi untuk mempelajari akar budaya dan sejarah negeri sendiri. Kesibukannya akan terganti dengan mencari tahu tentang kebudayaan negara lain yang hal itu diawali dengan kecintaannya pada dunia k-pop.

PERAN PEMERINTAH

    Tak dapat dipungkiri, salah satu penyebab keberhasilan Korea Selatan dalam mengalirkan segala hal tentang negeri tersebut adalah campur tangan pemerintah di dalamnya. Dalam sebuah diskusi, budayawan Radhar Panca Dahana mengatakan bahwa keberhasilan k-pop bukan dikarenakan kulturnya, melainkan adalah hasil kerja politik. Lebih lanjut lulusan S1 Fisip UI jurusan Sosiologi ini menjelaskan bahwa pemerintah Korea Selatan tak segan-segan untuk membiayai pembuatan film dengan nilai miliaran.

    Memang, sejak pelantikan Presiden Korea Selatan ke-10, Lee Myung Bak, pemerintahan ini menyadari pentingnya pertumbuhan pariwisata bagi perekonomian yang kemudian melakukan reformasi kebijakan pariwisata dan mengubah nama kementerian menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Dalam perjalanan reformasinya, Visi Pariwisata 21 (1999-2003) dan kedua Rencana Pembangunan Pariwisata (2002-2011) yang diterapkan. Salah satunya adalah ketika pelaksanaan Piala Dunia di tahun 2002 dan Asian Games September 2002. Melalui event ini, pemerintah meningkatkan sarana dan prasarana yang menunjang pariwisatanya dan kemudian melakukan ekspor besar-besaran produksi drama Korea ke negara Asia dan Eropa yang mendapatkan langsung mendapatkan hati dari para penontonnya.

    Di tahun 2004, ekspor film dan program televisi bersama dengan pariwisata dan produk k-pop menghasilkan pendapatan total hampir US$2 miliar. Selain itu menurut statistik Bank of Korea dari bidang ekspor budaya dan jasa hiburan, industry k-pop telah menghasilkan US$794 juta tahun 2011 dan mengalami peningkatan 25% dari US$637 juta dari tahun 2010 seiring k-pop semakin diminati oleh publik internasional.

    Melihat bagaimana pemerintah Korea Selatan mampu menyelamatkan perekonomiannya melalui pariwisata, terutama k-pop yang merupakan bagian dari fenomena Hallyu (fenomena di mana Korean wave menyebar ke seluruh dunia), tak ada salahnya pemerintah Indonesia mengambil langkah yang mirip. Mengingat dalam sebuah janji oleh Presiden Jokowi yang akan meningkatkan dan memberi dukungan penuh pada pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.

    Meski hari ini arus k-pop mengalir sangat deras dan sukar untuk dibendung, ada harapan dalam benak kita semua bahwa hal ini tak menjadi berlebihan dan membawa dampak yang buruk bagi generasi muda Indonesia. Budaya hiburan adalah sesuatu yang netral, tergantung bagaimana cara konsumen menikmatinya. Kita berharap arus k-pop ini tidak sampai pada tahap penghapusan jati diri bangsa. Semoga bermanfaat.
   



Sunday, 23 November 2014

Akhlak = Tauhid? (Catatan Kisah JPRMI)

Hari Minggu emang hari paling kece buat tidur lebih lama alias bangun telat di atas jam 9 pagi. Ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang super duper brrrr buat narik selimut. Tapi sepertinya mulai minggu ini harus bangun lebih awal karena JPRMI alias Jaringan Pemuda dan Remaja Mesjid Indonesia bakalan ngadain kajian rutin.


Well, sebagai informasi buat remaja n pemuda Tanjungpinang, JPRMI insya Allah akan terus ngadaian KISAH alias Kajian Islam Setiap Ahad pukul 9 pagi yang bertempat di Mesjid Zul Firdaus, Bintan Centre, Tanjungpinang, Kepri.

Alhamdulillah akhirnya ada kajian rutin juga. Kadang rada iri kalo baca postingan kajian di TL-nya Ustadz Akmal Sjafril dan kawan-kawan. Atau temen-temen yang aktif di Insist Jakarta. Kayaknya sih kalo di luar kota banyak banget kajian Islam. Nah, semoga langkah awal JPRMI ini menjadi modal buat kita yang penasaran sama Islam dan ingin menggali ilmu itu lebih dalam lagi.

Di antara ratusan ribu orang yang ngebaca pengumuman soal kajian ini di facebook, grup wa, BC bbm dan sms, aku dan belasan orang lainnya disetting untuk hadir :D Pasti bukan kebetulan. Padahal sih tadinya ga niat mau pergi, maunya di rumah aja sambil nonton TV.

Alhamdulillah meski rada telat datang, ternyata kajian belum dimulai. Melihat mesjid yang masih sepi, anteng ah, engga boleh ga semangat walopun yang datang sedikit. Begitu markir motor, eh pak tukang bilang untuk parkir agak jauh dari mesjid. Yah, biar ga ketimpa bahan bangunan, soalnya mesjid lagi dalam proses renovasi. Ohooo di tempat parkir rupanya udah ada tiga orang akhwat manis yang juga baru datang. Mesti aku yang duluan senyum dan yang duluan nyapa mereka.

Kajian minggu ini tentang aqidah dan akhlak yang disampaikan oleh Ustadz Suparman. Beliau lulusan universitas di Sudan yang juga kuliah bareng istrinya. Tahun ini beliau mengabdikan diri di Tanjungpinang.

Hmm sebelumnya beliau menyampaikan tentang bagwa ilmu itu harus didapatkan dengan belajar. Tak ada ilmu tanpa belajar. Belajar yang tepat adalah dengan guru. Belajar yang hanya dengan membaca maka akan lebih banyak kesalahannya.

Islam ada satu-satunya agama yang menjadikan hati dan jiwa menjadi tenang. Tapi seringkali kita ga merasakan hal tersebut. Pertanyaannya kenapa?

Menjelaskan tentang akidan dan akhlak, tentu saja ini merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Banyak di antara kita yang susah ngebedain apa itu akhlak dan apa itu aqidah.

Dalam penjelasannya, Ustadz Suparman menganalogikan keduanya seperti jam dinding. Bagaimana jam dinding itu bisa bergerak? Tentu karena ia mempunya mesin. Lalu bagaimana mesin bisa menggerakkan jarum? Tak lain karena ia memiliki baterai. Oleh karena itu jam dinding bisa bergerak karena adanya baterai yang memiliki energi untuk menggerakkannya.

Seperti itulah aqidah dan akhlak. Aqidah adalah sebuah keyakinan yang ada dalam diri seseorang yang meyakini dengan sebenar-benarnya mengenai keberadaan Allah dan hari akhir, hari di mana seluruh amal perbuatan akan dihitung. Sementara akhlak secara sederhana diartikan sebagai cara seorang manusia berinteraksi dengan Allah SWT, dengan saudaranya, dengan tetangganya, dengan teman-temannya dan dengan lingkungannya.

Oleh karena itu, akhlak seseorang akan mencerminkan sejauh mana keyakinannya pada Allah SWT dan hari akhir. Cara ia berinteraksi adalah tergantung kelurusan aqidahnya. Keyakinan adalah baterai, akhlak adalah jarum jam yang berputar. Jika baik aqidahnya, maka akhlak yang akan ia tunjukkan adalah akhlak yang baik. Demikian sebaliknya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akhlak adalah landasan utama. Kita sering ya mendengar bahwa baik buruknya suatu negara adalah tergantung pada wanitanya. Orang bilang, wanita adalah tiang negara. Tentu ini berhubungan dengan akhlak yang kita bicarakan tadi. Kemuliaan akhlak wanita dalam satu negara akan mempengaruhi keberlangsungan kehidupan beradab di negara tersebut.

Lebih jauh lagi dijelaskan, untuk melihat kualitas keislaman seseorang, lihatlah akhlaknya. Lihatlah bagaimana ia berinteraksi dengan Allah, apakah ia melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan atau sebaliknya. Lihatlah bagaimana ia memperlakukan makhluk Allah yang lain seperti binatang dan tumbuhan. Lihatlah bagaimana ia memperlakukan sesamanya.

Kembali lagi pada ketenangan jiwa yang kita sebut di awal tulisan ini. Kenapa sih kayaknya kita ga bahagia, padahal kita udah jadi seorang muslim.

Nah, ayuk kembali pada penjelasan aqidah.

Sesungguhnya, keyakinan yang paling tinggi yang diharapkan ada dalam diri seorang muslim adalah muroqobatullah alias ia merasakan betul pengawasan Allah. Masih ingat bangunan Islam?

Islam terdiri dari 3 elemen yaitu iman sebagai pondasi, nilai-nilai Islam yang dipresentasikan dalam bentuk amalan sebagai tiangnya dan yang ketiga adalah ihsan sebagai atapnya.

Ihsan sendiri diartikan sebagai engkau beribadah seolah-olah engkau melihat Allah, jika engkau tak melihatnya maka yakinlah bahwa Allah melihat apa pun yang engkau lakukan.

Nah, di sini nih sumber kebahagiaan. Merasa diperhatikan dan diawasi terus oleh Allah. Sebagai seorang muslim harusnya kita memiliki prinsip wakaafa billahi syahida. Dan cukuplah Allah menjadi saksi

Saat menjalankan nilai-nilai Islam jangan pernah dipengaruhi oleh penilaian orang lain terhadap kita. Biarlah hanya Allah yang menjadi saksi apa yang kita lakukan. Mempedulikan penilaian manusia bisa-bisa membuat kita terjebak seperti kisah keledai, pemuda dan ayahnya (yang ingin tahu cerita si keledai hubungi pemilik blog aja biar dibikin tulisan selanjutnya).

Potensi kita sering terhalangi oleh hal-hal duniawi. Contoh, kita pengen sholat dhuha di sekolah, kampus ataupun kantor. Tapi karena kita khawatir dibilang sok sholeh atau diciyein teman-teman akhirnya engga jadi sholat dhuha. Atau ketika memutuskan untuk ga pacaran sebelum menikah. Karena takut dibilang ga gaul atau jomblo level satu, ujung-ujungnya kita pacaran juga sama cowok sebelah. Hewww....

Yang begini nih yang bikin kita bergerak dalam penilaian manusia sehingga hal-hal yang harusnya menjadi akhlak seorang muslim engga jadi terlaksana karena takut dibilang ini itu sama manusia.

Hellooo, Iman Hasan Al Banna jauh-jauh hari udah berpesan. Jika kamu dikritik karena akhlakmu, maka berubahlah. Tapi jika kamu dikritik karena keyakinan dan prinsip gerakanmu, maka abaikan dan teruslah maju.

So, kalo kita dikritik karena akhlak yang ga bener misalnya karena suka nyontek, males belajar, suka boncengan dengan cowok yang bukan mahromm (meskipun statusnya teman atawa pacar) maka berubahlah. Kenapa? Karena Islam tidak mengajarkan hal-hal tersebut.

Sebaliknya kalo kamu dikritik karena suka baca Quran atau sholat dhuha atau nyebarin buletin Islam di kampus, sekolah atau kantor, lanjutkan saja. Abaikan orang-orang yang ngatain perbuatan itu sia-sia.

Kalau kita engga mau merubah akhlak tercela menjadi akhlak yang terpuji, maka keyakinan kita pada Allah dan hari akhir akan dipertanyakan. Saat kita enggan untuk pakai jilbab misalnya, karena belum siap atau karena dilarang orang tua, bisa jadi kita belum sepenuhnya meyakini akan adanya perintah Allah maupun hari di mana seluruh amalan dihitung. Ups, jangan sampai kita jadi orang yang lalai.

Tahukah kamu bahwa dahsyatnya kekuatan Islam adalah karena aqidahnya yang ga bisa dikalahkan oleh kekuatan manapun di dunia ini. Lalu di manakah letaknya aqidah itu? Jawabannya ada di hati.

Kamu tahu hati? Hati adalah segumpal daging yang ketika ia baik maka baiklah seluruhnya. Sebaliknya jika ia buruk maka buruklah semuanya. Ia adalah raja dalam diri kita yang bersemayam tapi kita tak bisa memilikinya. Lalu siapa pemilik hati? Dia-lah Allah SWT. Dia-lah yang membolak-balikkan hati kita. Karena itu hati tak akan pernah berbohong. Ia tak seperti akal yang bekerja untuk berpikir dan terkadang mampu membalikkan sebuah kebenaran.

Kekuatan seorang muslim itu ada pada hatinya. Pada aqidahnya. Pada keyakinannya. Muslim yang memiliki keyakinan tinggi terhadap Allah dan hari akhir tak akan bisa dikalahkan. Keyakinannyalah yang memberinya energi untuk bergerak dan terus bergerak.

Maka kadang kita temui seorang ulama yang hanya tidur 2 jam tapi sangat greget dakwahnya. Harusnya ia merasakan penat. Tapi darimanakah datangnya kekuatan yang menjadikan ia senantiasa sehat? Tak lain dari keyakinannya pada Allah SWT dan hari akhir.

Atau masih ingatkah pada Syekh Ahmad Yasin dari Palestina itu? Seorang tua yang lumpuh. Namun mengapa ia begitu ditakuti oleh Israel? Mengapa ia yang bahkan tak mampu untuk berjalan harus tewas oleh Apache? Mengapa beliau mampu mengobarkan semangat jihad para pemuda Palestina hanya melalui lisannya? Jawabannya adalah hati. Keyakinannya pada Allah SWT dan hari akhirnya telah menggerakkan jarum akhlaknya.

Aqidah dan akhlak sangat berkaitan dengan kondisi hati kita. Sebagai penutup kutuliskan kalimat akhir dari kajian minggu ini.

Wahyu Allah tidak akan membekas kecuali pada hati yang dekat Allah SWT. Bila hati kita tak lagi bisa menerima hidayah melalui ibadah-ibadah, tilawah, maka mintalah hati yang lain pada Allah.

Sekian semoga bermanfaat dan minggu depan kita berkesempatan untuk hadir lagi dalam majelis ilmu ini :)


*oh ya sedikit informasi bahwa tanggal 21 Desember 2014, insya Allah JPRMI akan mengadakan pertemuan dengan sleuruh pemuda dan remaja mesjid se-Kepri. Untuk minggu depan kajian insya Allah akan diisi oleh Ustadzah Rojiah atau Siti Maheran

Thursday, 4 September 2014

Agama di Korea Selatan (2)

Bahiklah setelah bagian satu saya posting di Agama di Korea Selatan (1) postingan berikut ini adalah kelanjutan dari tulisan yang saya terjemahkan dari korea.net. Btw fyi terjemahan ini berhasil saya kerjakan dalam dua hari hahaha lama banget ya... Maklum tergantung mood. JUga saya kerjakan ini untuk sejenak melupakan hal - hal yang ga menyenangkan yang saya temui seminggu belakangan -_- yuk ah lanjut bacanya, neng. Happy reading and I wish for your correction ^_^

Agama Katolik
Turun naiknya aktivitas misi Kritenisasi tiba di Korea pada abad ke 17 saat salinan para misionaris Katolik milik Matteo Ricci bekerja di Cina dibawa kembali ke Beijing dengan misi pembayar upeti tahunan ke kaisar Cina. Bersama doktrin agama, buku - buku ini memasukkan aspek pelajaran orang - orang barat seperti kalender matahari dan masalah lainnya yang menarik perhatian para sarjana Joseon di Silhak atau Sekolah Belajar Praktik.

Di abad 18, ada beberapat orang yang masuk agama ini di antara para sarjana tersebut dan keluarga - keluarga mereka. Tak ada pendeta yang masuk ke Korea hingga pendeta Cina bernama Zhou Wenmo mengunjungi Korea tahun 1794. Jumlah pemeluk agama ini terus meningkat walaupun perambatan agama asing di tanah Korea secara teknis masih melawan hukum dan sekali - kali ada penyiksaan. Tahun 1865, dua tahun setelah putra bupati Daewongun yang fobia akan orang asing mendapat kekuasaan, lusinan pendeta memimpin sebuah komunitas yang memiliki lebih dari 23.000 penganut.

Tahun 1925, 79 orang Korea telah menjadi martir selama penyiksaan Dinasti Joseon di-beatified di Gereja St Peter di Roma dan tahun 1968 tambahan 24 orang dihormati dengan cara yang sama.

Selama dan setelah perang Korea (1950-1953) jumlah misionaris dan organisasi Katolik meningkat. Gereja Katolik orang Korea tumbuh dengan cepat dan hirarkinya berdiri tahun 1962. Gereja Katolik Roma di Korea merayakan dies natalis dengan kunjungan Pope John Paul II ke Korea dan penyucian martir misionaris sebanyak 93 orang Korea dan 10 warga Prancis tahun 1984.

Ini pertama kalinya upacara pensucian diadakan di luar Vatikan. Hal ini menjadikan Korea berada di peringkat 4 dunia yang memiliki orang suci.

Agama Protestan
Tahun 1884, Horace N. Allen, seorang doktor medis berkebangsaan Amerika dan misionaris Prebiterian tiba di Korea. Horace G. Underwood misionaris Uskup Metodis dan sekte yang sama, Henry G. Appenzeller, datang dari Amerika Serikat di tahun berikutnya. Mereka diikuti oleh misionaris lainnya dari uumat  Protestan lainnya. Para misionaris asing tersebut berkontribusi pada masyarakat Korea melalui pelayanan kesehatan dan pendidikan sebagai usaha penyebaran agama mereka. Penganut Protestan Korea seperti Dr. Seo Jae-pil, Yi Sang-jae dan Yun Chi-ho, seluruh pemimpin kemerdekaan, memasukkan diri mereka dalam arus politik.

Sekolah swasta Protestan, seperti Yonhi dan Ewha, berfungsi untuk mempertinggi pemikiran nasionalis di antara orang ramai. Asosiasi Pemuda Kristen Seoul (YMCA) berdiri tahun 1903 bersamaan dengan organisasi Kristen lainnya. Organisasi yang membawa program sosial - politik dengan aktif, mendorong pembukaan kelompok anak muda Korea yang sama. Grup ini tak hanya mengejar politik dan pendidikan isu tapi juga menyadarkan masyarakat untuk melawan kebiasaan buruk dan praktek takhayul sambil menaikkan isu persamaan perempuan dan wanita, penghapusan sistem gundik dan penyederhanaan upacara adat.

Agama Pribumi
Kejatuhan Dinasti Joseon dan kedatangan kependudukan Jepang membentuk beberapa kepercayaan baru.

Agama Buddha Won didapati memimpin semua yang hidup untuk menenggalamkan diri di laut penderitaan untuk sebuah surga yang tak terbatas. Ini adalah kepercayaan berdasarkan latihan moral dan ketabahan dan pencarian kebenaran. Nama agama Buddha Won, Wonbulgyo oleh orang Korea, merupakan kumpulan kata yang menandakan kebenaran, pencerahan dan pengajaran. "Won" berarti lingkaran kesatuan dan simbol kebenaran akhir. "Bul" berarti mencerahkan dan "gyo" berarti mengajarkan kebenaran. Oleh karena itu agama Buddha Won adalah agama yang disebut sebagai pencerahan kebenaran dan aplikasi ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari - hari.

Chondogyo diprakarsai sebagai gerakan teknologi dan sosial yang melawan perjudian dan gangguan asing di tahun 1860-an. Pada masa itu disebut Donghak (pengajaran timur) yang berlawanan dengan pengajaran barat. Prinsip Chondogyo adalah Innaecheon yang mengenalkan laki - laki dengan "Haneullim", Tuhan Chondogyo, meski ia tak sama dengan tuhan. Setiap pria mendukung Haneullim dan melayaninya sebagai sumber kemartabatannya sementara latihan spiritual membuatnya bersatu dalam sifat ketuhanan.

Daejonggyo, agama nasionalis yang menyembah Dangun, memainkan peranan kritikal dalam memimpin gerakan kemerdekaan Korea selama tahun 1910-an dan 20-an.

Islam
Walaupun ada pertukaran hubungan diplomasi dan perdagangan antara Dinasti Goryeo dan dunia Islam, hal ini menghilang selama Dinasti Joseon. Orang - orang Korea pertama yang diperkenalkan pada Islam baru - baru ini adalah para pekerja yang dikirim dari timur laut Cina pada awal abad 20 sebagai bagian dari kebijakan kolonial kekaisaran Jepang.  Hanya sedikit penganutnya yang kembali setelah Perang Dunia II. 

Mereka hidup menyendiri dengan kepercayaan barunya hingga perang Korea membawa pasukan Turki ke sini bersama pasukan PBB. Orang - orang Turki tersebut mengundang muallaf Korea untuk ikut mereka sholat. Pengukuhan muslim Korea diadakan pada September 1955, diikuti dengan pemilihan imam pertama Korea. Masyarakat Islam Korea tersebar dan terorganisasi kembali sebagai Federasi Muslim Korea tahun 1967 dan mesjid sentral diresmikan di Seoul tahun 1976.

Agama di Korea Selatan (1)

Hai, saya kembali mencoba menerjemahkan sebuah artikel di korea.net yang kali ini membahas tentang agama di Korea. Well, kesukaan saya pada drama, film dan lagu yang berasal dari negara ini menarik saya untuk terus membaca mengenainya, termasuk kehidupan beragama di sana.

Karena tulisan ini menurut saya sangat panjang maka akan dibagi menjadi dua bagian, semoga menjadi bermanfaat dan informatif ya. Btw sebelumnya maaf kalo terjemahannya kurang greget, saya akan berusaha untuk terus memperbaiki kualitas terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Selamat membaca!
Tidak seperti beberapa kebudayaan lain yang didominasi satu agama, kebudayaan Korea memiliki unsur agama yang sangat bervariasi yang telah membentuk prilaku dan cara berpikir masyarakatnya. Di awal sejarah Korea, fungsi agama dan politik digabungkan tapi kemudian dibedakan.

Menurut sejarah, orang - orang Korea hidup di bawah pengaruh sihir, Buddha, aliran Tao atau Konfusius dan di era modern, agama Kristen masuk ke negara tersebut yang selanjutnya masih menjadi faktor penting yang mengubah landasan spiritual masyarakat. Pesatnya perkembangan industri dalam 2 dekade dibandingkan 2 abad di barat telah membawa kegelisahan dan pengasingan diri yang mengganngu kedamaian pikiran orang - orang Korea, mengarahkan pengejaran mereka dalam aktivitas keagamaan. Sebagai hasilnya, populasi penganut kepercayaan agama telah meluas begitu menyoloknya dengan munculnya institusi agama sebagai organisasi masyarakat yang berpengaruh. 

Kebebasan beragama dijamin dalam undang - undang Korea. Berdasarkan survei statistik tahun 2005 53,1% masyarakat Korea menganut agama tertentu. 43% menganut agama Buddha, diikuti Protestan 34,5% dan Katolik 20,6%. 


Aliran Konfusius
 
Ditemukan oleh Konfusius di abad ke 6 SM, aliran Konfusius lebih kepada etika moral daripada sebuah agama kepercayaan. Ini adalah sistem dari aturan penuh kasih sayang, kebaikan, adab pergaulan dan desain kepemimpinan yang bijak untuk menginspirasi dan melindungi manajemen keluarga dan masyarakat yang pantas. Juga, aliran ini dapat dilihat sebagai agama tanpa Tuhan karena ketika telah meninggal, beberapa penganut menjadi bijaksana dan mengikuti prinsip kedisiplinan dalam sistemnya dengan taat.

Aliran ini diperkenalkan bersamaan dengan bahan - bahan spesimen tulisan Cina pertama kira - kira pada awal era agama Kristen. Tiga Kerajaan Goguryeo, Baekje dan Silla seluruhnya meninggalkan rekaman yang mengindikasikan permulaan pengaruh keberadaan  Konfusian. Di Goguryeo, universitas negara yang bernama Taehak didirikan pada tahun 372 dan akademi - akademi Konfusian swasta ditemukan di provinsi - provinsinya. Bahkan Baekje  mengatur lembaga seperti itu lebih awal.

Persatuan Silla mengirimkan perwakilan sarjana ke Tang Cina untuk mengamati cara kerja lembaga Konfusius pusat dan membawa kembali tulisan tentangnya dalam jumlah yang besar. Untuk Dinasti Goryeo di abad ke 10, agama Buddha adalah agama negara dan aliran Konfusius membentuk tulang punggung struktural dan filosofi negara. Ujian pegawai negeri sipil di Gwageo mengadaptasi sistem Cina di akhir abad ke 10, sangat menganjurkan mempelajari Konfusius klasik dan menanamkan nilai - nilai Konfusius di masyarakat Korea.

Dinasti Joseon yang berdiri pada 1392 menerima aliran Konfusius sebagai ideologi negara dan mengembangkan sistem Konfusius dalam pendidikan, upacara dan administrasi pemerintah. Ketika kekuasaan Barat dan Jepang mulai menggunakan kekuatan militer untuk menyerang di akhir abad ke 19 untuk menekan Korea agar lebih terbuka, penganut Konfusius mengumpulkan 'tentara kebaikan' untuk melawan para penyerang.

Usaha ini juga untuk membentuk kembali aliran Konfusius dan menyesuaikannya pada perubahan kondisi pada waktu itu. Para reformis ini menerima pemerintahan Barat yang baru dan mencoba mendirikan pemerintahan yang modern dan mandiri. Juga, selama masa penjajahan Jepang di Korea, reformis Konfusius mengikuti banyak gerakan kemerdekaan untuk melawan kekaisaran Jepang. Hari ini pemujaan pada leluhur Konfusian masih lazim dilakukan dan perempuan dan laki - laki yang alim sangat dipuja sebagai kebajikan dalam masyarakat Korea.
 
(bersambung ke Agama di Korea Selatan (2) )

Tuesday, 29 October 2013

5 Alasan Kenapa Banyak Pelajar yang Nyontek

Nyontek itu adalah sebuah perbuatan yang melanggar norma-norma sosial yang berlaku di sekolah atau gimana klo kamu cari tau aja sendiri di kamus bahasa. Mau definisiin sendiri juga boleh. Terserah deh yang penting asik :D

Nah ngomongin tentang nyontek emang ga ada habisnya. Mulai dari yang pro sampe yang kontra. Mulai dari tips nyontek yang benar sampe trik yang benar buat nyontek bertebaran di seantero jagad internet. Eh sama aja kali ya? :D

Banyak nih yang nanya ke takpayah.com kenapa pelajar abad 21 ini masih demen nyontek. Kita liat yuk:

1. Lupa Belajar
Lupa belajar itu beda sama malas belajar. Bedanya di mana? Yang satu lupa, satunya lagi malas. Hohoho… Pelajar sekarang ga sama kayak jaman dulu yang mottonya “Walau hujan aku tetap pergi ke sekolah”. Puisi favorit nih di sekolah dulu. Pelajar era Justin Bieber ini lebih inget sama game online ketimbang rumus logaritma. Mereka lebih inget siapa aja yang mau di follow daripada inget tahun berapa Perang Dunia II berakhir. Hadeh hadeeeh….

2. Soal Ujian Ga Nyambung
Berdasarkan fenomena di atas pelajar – pelajar ini lebih milih nyontek. Gimana ga nyontek klo soal – soal ujian itu pernah nyambung di kehidupan mereka. Contohnya nih, mereka lebih sering baca status temennya trus komen – komenan sampe tengah malam. Lah pas ujian matematika besok soalnya malah nyerempet ke rumus Trigonometri. Yah mana nyambung. Coba aja soalnya itu berubah jadi : berapa menit yang dibutuhkan oleh akun X untuk mengomentari status Y? Klo model soal begini, dijamin kagak ada yang nyontek hahaha…. Atau soal yang nanyain hasil pertandingan Barcelona ngelawan Setan Merah.

3. Masih Belum PD
Hmmm anak – anak Indonesia itu masih krisis percaya diri. Apa apa tuh ga yakin dengan punya sendiri. Jangankan mau jawab soal ujian pake kemampuan sendiri, wong klo di disemprit sama polisi lalu lintas aja pada kabur kok. Ga pede aja gitu klo harus ngadepin polisi hahaha

4. Ikut – ikutan
Ada juga sih di antara yang nyontek itu karena cuma sekedar ikut ikutan. Biasalah ya, solidaritas pelajar itu kan tiada duanya. Liat deh tuh kalo diajak tawuran aja seneng banget kok, apalagi nyontek beuuhh ga mikir dua kali deh.

5. Banyak yang Larang
Sifatnya manusia itu suka ngerjain apa yang dilarang. Dilarang buang sampah sembarangan eeh sampah permen seenak dengkulnya dibuang di jalanan. Ga boleh pake baju seksi eeh malah makin rame yang make. Gitu juga nyontek, makin dilarang makin banyak tuh yang demen.

Nah, meskipun begitu dengan alasan apa pun nyontek itu ga baik buat. Inget orang tua deh kalo mau nyontek, apa ga kasihan klo ternyata anaknya ga jujur?

Tak payah nyontek lah, Berani Jujur itu Hebat :)

http://www.takpayah.com/artikel/5-alasan-kenapa-banyak-pelajar-yang-nyontek/

Friday, 28 September 2012

Bercermin pada Korsel, Mencitrakan Indonesia



Bendera Korsel
Pariwisata memiliki peran penting dalam peningkatan pendapatan suatu daerah atau negara. Selain itu ia juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kebudayaan suatu daerah ke daerah lainnya. Industri pariwisata juga memberi andil dalam pembangunan sosial dan ekonomi, baik itu di Negara maju maupun berkembang

Indonesia merupakan daerah potensial untuk maju dan berkembang dari sektor pariwisata karena Indonesia menawarkan tempat – tempat indah untuk dijadikan objek wisata unggulan. Luas wilayah yang termasuk dalam salah satu Negara terbesar di dunia ditambah dengan kondisi alam yang luar biasa menakjubkan menjadikan Indonesia sebagai Negara yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Sayangnya, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Indonesia pada Juli 2012 turun 5,94 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yakni 745.500 menjadi 701.200 (Kompas.com/edisi 3 September 2012). 

Keterangan dari Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin, mengatakan bahwa penurunan ini terjadi mungkin dikarenakan memang terjadi pada bulan puasa lalu dan mendekati perhelatan olimpiade dan krisis Eropa yang masih berlanjut. Hanya saja jika dibandingkan Juni 2012 malah naik tipis sebesar 0,82 persen.


Tentu hal ini membuat kita berpikir keras bagaimana untuk menaikkan angka kunjungan wisatawan terutama yang berasal dari mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Strategi pemasaran dan peningkatan sarana prasarana serta pemeliharaan tempat wisata yang dilakukan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata harus lebih digenjot. Meskipun dalam hal ini peran pemerintah pusat lebih kepada bagaimana memasarkan, pihak swasta dan daerah juga seharusnya bahu membahu.

Dalam UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pasal 41 ayat 1 menegaskan tugas Badan Promosi Pariwisata untuk meningkatkan pencitraan pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi sejauh mana pencitraan mengenai Indonesia sudah dilakukan oleh badan ini.

Mari melongok ke Negara Asia Timur yang saat ini menjadi salah satu tujuan wisata utama dunia, terutama kawasan Asia. Korea Selatan mendapat kunjungan oleh wisatawan mancanegara sekitar 5,3 juta per tahun, diungguli oleh Republik Rakyat Cina dengan 30 juta wisatawan per tahun. Bagaimana dengan Indonesia? 

Naiknya kunjungan wisatawan ke Korea Selatan merupakan salah satu efek dari Korean Wave yang sekarang sedang melanda kawasan Asia, tak ketinggalan Indonesia. Korean wave ini menarik minat masyarakat di Asia khususnya untuk melancong ke sana. Masyarakat Indonesia pun banyak yang ingin mengunjungi Negara tersebut karena ketertarikan mereka salah satunya pada tempat – tempat yang dilihat dalam drama dan film dari Korea Selatan. 

Salah satu lokasi syuting Winter Sonata
di Pulau Nami
Penulis mengakui kepiawaian pemain industri hiburan di Korea Selatan dalam memproduksi drama dan film yang tak hanya booming di negaranya sendiri, tapi juga di Negara lainnya. Ada apa dengan drama dan film tersebut sehingga menjadi magnet bagi masyarakat dunia untuk berkunjung ke Korea Selatan?

Sebelumnya mari kita lihat indutri hiburan di Negara kita, Indonesia, yang didominasi dengan hal – hal yang tidak mendidik. Sinetron Indonesia muncul dengan tema – tema cinta remaja berlebihan dan tidak sesuai dengan usia. Kemudian, kebencian yang begitu mendalam, dengki, perebutan harta, balas dendam, adegan yang tak layak tayang, pergaulan laki – laki dan perempuan yang tanpa batas, lokasi syuting yang hanya berkutat di tempat – tempat mewah menjadi sajian bangsa ini setiap hari. 

Lalu Negara mana yang mau mengkonsumsi sinetron – sinetron tanpa akhlak tersebut? Beberapa stasiun televisi di Malaysia membuat langkah yang salah dengan menayangkan ini di negaranya. Sinetron yang bahkan harusnya tak layak ditonton oleh bangsanya sendiri.

Lalu bagaimana dengan industri perfilman? Ironis. Didominasi oleh fitnah sarat SARA, hal – hal mistik yang hanya butuh biaya sedikit tapi mendapat keuntungan besar karena ada orang – orang bodoh yang rela antri untuk menontonnya. Tak banyak film yang berkualitas apalagi yang mengambil lokasi syuting di tempat – tempat wisata.

Lalu bagaimana Korea Selatan, Negara kecil yang hingga hari ini masih belum berbaikan dengan ‘saudaranya’ di Utara? 

Salah satu keunggulan drama Korea yang digandrungi oleh masyarakat hari ini terletak di lokasi syutingnya. Banyak drama Korea yang menjadikan tempat – tempat wisata mereka sebagai lokasi syuting. Efeknya, tempat – tempat tersebut menjadi objek wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik domestic maupun asing. 


Lokasi syuting drama Winter Sonata (2002) di Pulau Nami membuat kunjungan ke pulau tersebut yang sebelumnya hanya 200.000 meloncat menjadi 1,6 juta kunjungan di tahun 2010. Pulau Jeju yang menjadi lokasi favorit untuk pengambilan drama di Korea Selatan. Di antaranya Boys Before Flower (BBF), Secret Garden, Dae Jang Geum, Thank You dan beberapa drama lain yang kita ketahui sangat booming di Indonesia. Bahkan Museum Teddy Bear makin banyak dikunjungi karena drama Princess Hours (Goong). Tak hanya itu, N Seoul Tower juga menjadi salah satu objek wisata favorit setelah kemunculannya di drama BBF dan Goong.




Dae Jang Geum
Selain lokasi syuting, alur cerita yang ditawarkan pun tidak berbelit – belit dengan jumlah episode yang minimalis. Selain itu, tema percintaan yang disajikan juga tidak berlebihan dan kadang disisipi dengan masalah sosial politik di Negara itu seperti drama King Two Hearts (2012). 

Kemudian, tak ketinggalan drama – drama produksi Korea Selatan juga memperlihatkan kebudayaan Negeri Ginseng tersebut yang terlihat dari drama seperti Dae Jang Geum, Hwang Ji Ni, Dong Yi dan drama lainnya yang menggambarkan Korea di zaman Joseon.

King Two Hearts

Kekuatan inilah menjadikan Korea Selatan sangat menarik untuk dikunjungi. Lokasi dan sejarah yang mencerminkan kebudayaan Korea Selatan di drama TV. Kedua hal ini yang belum kita temukan di sinetron maupun film di Indonesia. 

Penulis berharap, pemerintah mampu mendorong industry hiburan untuk menghasilkan hiburan – hiburan yang dapat dijual di Negara lain. Hiburan yang menggambarkan Indonesia seutuhnya dari segi geografis maupun sejarah besar bangsa ini. Untuk para pemilik industry hiburan harapan besar itu selalu ada. Mereka yang berkecimpung di dunia hiburan penulis yakini mampu memberikan gambaran tentang Indonesia. Bukan lagi tentang hal – hal SARA sarat kontroversi hingga hal mistik yang tak masuk akal, melainkan pencitraan Indonesia sebagai Negara yang aman, indah dan berbudaya. 

Semoga!


Wednesday, 25 April 2012

Membangun Gerakan yang Beretika


Mahasiswa merupakan bagian dari pemuda yang berfungsi sebagai agen perubahan. Dalam kedudukannya dengan pemerintah, mahasiswa bisa diposisikan sama rata namun berbeda dalam peran. Jika peran pemerintah adalah melaksanakan pembangunan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat, maka mahasiswa harus mengambil peran sebagai kekuatan penyeimbang yang mengawasi kinerja pemerintah. Mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat harus menjadi agenda besar mahasiswa sebagai agen perubahan.
Beberapa waktu lalu, masyarakat mungkin merasa resah atas aksi yang dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM se Kepri. Aksi ini dilakukan dengan tujuan untuk memboikot kegiatan Temu BEM Nusantara ke V yang diselenggarakan di Asrama Haji. Penulis meyakini akan opini yang terbentuk di benak masyarakat terkait aksi tersebut. Seharusnya mahasiswa bersatu untuk membela kepentingan rakyat, menyuarakan kepada pemerintah untuk mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok. Bukannya terlibat dalam aksi yang mengakibatkan terbentuknya dua kubu mahasiswa. Jika sudah begini, maka kepentingan masyarakat menjadi terabaikan.
Lalu sebenarnya apa yang terjadi ketika itu? Apa yang menyebabkan adanya dua kubu kekuatan mahasiswa di mana yang satu berusaha untuk menyelenggarakan pertemuan BEM se Indonesia, dan yang lainnya menyatakan penolakan atas kegiatan tersebut. Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan kepada masyarakat beberapa alasan terkait dengan pemberitaan di media mengenai pertemuan BEM Nusantara ke V beberapa waktu lalu.
 Pertama, legalitas kegiatan tersebut. Kedua, tidak adanya koordinasi antara pencetus kegiatan dengan BEM se Kepri selaku tuan rumah. Ketiga, sebagian besar pihak penyelenggara yang bukan anggota  BEM, bahkan ada yang bukan mahasiswa. Keempat, adanya indikasi kepentingan politik di dalamnya. Dan kelima, jumlah anggaran yang digunakan yang sangat besar.
Kegiatan tersebut dinilai tidak sah secara hukum karena sebelum pertemuan diadakan, pihak penyelenggara kegiatan menggunakan tanda tangan beberapa ketua Badan Eksekutif Mahasiswa yang ada di Universitas Maritim Raja Ali Haji tanpa izin terlebih dahulu. Artinya, yang bersangkutan tidak mengetahui hal tersebut. Hal ini sudah menjadi pelanggaran berupa pemalsuan tanda tangan seseorang. Ditambah lagi, dari pihak penyelenggara tidak berkoordinasi dengan BEM se Kepri bahwa akan diadakan pertemuan BEM se Nusantara. Dalam hal ini BEM hanya diberitahu beberapa hari sebelum kegiatan diadakan.
Ketika aksi dilakukan, pihak penyelenggara menjelaskan di hadapan peserta dan peserta aksi bagaimana mereka bolak balik ke Jakarta untuk mensukseskan acara ini. Namun ternyata mereka mengatasnamakan diri di Jakarta sebagai utusan dari BEM Universitas Maritim Raja Ali Haji. Padahal seperti yang kita ketahui, di UMRAH belum terbentuk BEM Universitas, yang ada hanya BEM Fakultas. Dari awal panitia sudah menggunakan cara – cara tidak benar untuk melaksanakan kegiatan ini. Lalu pertanyaannya mengapa?
Adanya indikasi kepentingan politik tertentu mewarnai pertemuan ini. Dikabarkan bahwa salah satu anggota Dewan Perwakilan Daerah menjadi pendukung dana untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Ada pula isu yang berkembang bahwa ini adalah salah satu langkah untuk mengumpulkan mahasiswa se nusantara dalam rangka mendukung salah satu calon yang akan maju pada pemilihan presiden 2014 mendatang. Tentu saja ini tidak boleh terjadi karena mahasiswa bukanlah alat yang bisa digunakan untuk mewujudkan keinginan politik seseorang untuk mendapatkan jabatan tertentu.
Terkait masalah dana, kegiatan ini menghabiskan anggaran yang berasal dari APBN dan APBD yang dikisar berjumlah hingga 4 miliar rupiah. Angka yang dahsyat dengan kondisi masyarakat hari ini. Miris jika melihat mahasiswa menghabiskan anggaran dengan jumlah besar hanya untuk kegiatan yang tidak jelas tujuannya. Sementara dana sebesar itu bisa digunakan untuk pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Meskipun pihak penyelenggara mengakui menggunakan dana senilai 60 juta rupiah dari Dikti, tetap saja ini merupakan penyimpangan penggunaan anggaran.
Pertemuan ini bertujuan untuk mempertemukan seluruh Badan Eksekutif Mahasiswa yang ada di Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan bangsa melalui rumusan masalah dan rekomendasi yang berasal dari peserta. Lalu, sejauh manakah permasalahan bangsa akan terselesaikan melalui pertemuan ini? Penulis berkeyakinan bahwa untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang sangat rumit ini, tidak perlu diadakan pertemuan yang menghabiskan begitu banyak dana untuk hasil yang tidak pasti dan tidak jelas.
 Mahasiswa seharusnya bertindak dan mengawal pemerintahan yang ada di daerahnya masing – masing. Perubahan nasional hanya bisa terealisasi jika mahasiswa masing – masing daerah bergerak serentak untuk mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Dan gerakan yang akan menghasilkan efek domino ini akan mampu membawa perubahan secara nasional.
Namun demikian, pertemuan ini hanyalah kegiatan seremonial yang dilakukan mahasiswa. Tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah. Dari pertemuan ini, hal yang paling banyak dibahas adalah penentuan tuan rumah Temu BEM Nusantara berikutnya. Sudah barang tentu ini amat melukai hati masyarakat. Bagaimana tidak, anggaran sebesar itu digunakan hanya untuk membahas pertemuan berikutnya tanpa sedikit pun membicarakan kepentingan rakyat.
Untuk itulah, penulis berharap ke depannya pertemuan seperti ini tidak lagi diadakan karena sangat lebih banyak mudharat yang ditimbulkan dibandingkan manfaatnya. Oknum – oknum yang mengatasnamakan dirinya sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa juga harus ditindaklanjuti dan dimintai pertanggungjawabannya terkait dengan penyelenggaraan pertemuan tersebut, khususnya terhadap penipuan yang telah dilakukan.
Marilah kita mengambil hikmah dari kepengelolaan kegiatan yang kurang professional ini untuk bersama bergerak satu tujuan dan kita harus bersama-sama membangun gerakan yang beretika dan mengedepankan azas kebersamaan serta saling curiga. Semoga mahasiswa yang ada di Indonesia, khususnya Kepulauan Riau dapat bergerak bersama dalam kebaikan masyarakat secara utuh.

Saturday, 14 April 2012

Penulis, BEM, dan Kita Semua (Sebuah Pernyataan Sikap)

 Ditulis oleh Nurul Azizah, Ketua BEM STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh 

Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan mahasiswa terhadap kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa Stai Miftahul Ulum Tanjungpinang periode 2011-2012 yang disampaikan saat kegiatan debat kandidat calon presiden BEM periode 2012-2013. Sebagai seorang mahasiswa penulis menggunakan tulisan sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan aspirasi terutama apa yang penulis pikirkan dan rasakan. Penulis sangat yakin tidak banyak yang masih mengingat apa saja yang disampaikan oleh teman – teman mahasiswa yang memberikan pernyataan miring mengenai kinerja bem setahun ini. Mengapa? Karena mereka hanya sekedar berbicara. Dan tulisan ini, tidak akan ada seorang pun yang akan melupakannya karena ia disampaikan secara tertulis dan dapat dibaca berulang kali.

Terkait dengan komentar tentang kinerja BEM maka penulis akan memetakan kondisi internal bem agar seluruh mahasiswa mengetahui dan dilibatkan dalam kondisi tersebut. Kepengurusan yang penulis bangun setahun yang lalu bukanlah terdiri dari orang – orang yang biasa. Para pengurus bem penulis pilih dari berbagai latar belakang yang berbeda, mulai dari jurusan, semester hingga organisasi eksternal yang mereka naungi. Tentunya dengan melihat kinerja mereka di organisasi kampus. Mereka bukanlah orang – orang yang penulis pilih hanya karena keaktifannya di kampus, tapi lebih kepada keaktifan mereka di organisasi kampus. Bukan orang yang hanya dikirim kampus untuk mengharumkan nama kampus atau untuk membuat kampus senang, tapi lebih kepada pengalaman organisasi mereka. Karena BEM tidak butuh orang yang hanya mengharumkan nama kampus tapi nonsense di organisasi.

Kepengurusan yang penulis bangun dengan harapan dapat membantu untuk melaksanakan fungsi bem yang sesungguhnya, ternyata tersendat di tengah jalan. Berbagai alasan disampaikan oleh pengurus. Kerja, kuliah, menikah, lebih aktif di organisasi luar dan lain sebagainya, bahkan ada yang mengundurkan diri sebelum dilantik dengan alasan pekerjaan. Inilah dilemma yang harus penulis hadapi selaku seorang pemimpin. Lalu apa yang penulis dapat lakukan? Banyak yang menyarankan untuk mereshuffle kepengurusan, tapi itu bukan hal mudah. Penulis masih ingin memberikan kesempatan untuk mengembalikan komitmen sebagai pengurus. 

Selain itu, penulis juga harus menghadapi kenyataan  betapa lemahnya keinginan mahasiswa STAI untuk berkecimpung dalam organisasi. Mahasiswa memilih untuk menjadi penonton jika ada kegiatan. Saran untuk membuat kegiatan itu banyak. Hanya saja setiap panulis tawarkan untuk membantu di kepanitiaan, kebanyakan mahasiswa menolak dengan alasan sibuk kerja dan kuliah. Saking rendahnya semangat mahasiswa untuk ikut serta dalam kegiatan kampus terutama organisasi kampus, bahkan untuk menjadi peserta dalam kegiatan pun sulitnya luar biasa. Dengan alasan ini pula lah penulis tidak melakukan reshuffle kepengurusan dan lebih memilih untuk berjalan dengan sisa kekuatan yang ada. 

Kemudian selama waktu yang tersisa, bem bergerak perlahan dengan hanya menyisakan beberapa orang pengurus aktif. Demikian pula halnya dengan kegiatan, perlahan bem mencoba untuk terus melaksanakan program hingga membuka kesempatan luas bagi mahasiswa baru untuk ikut terlibat dalam kepanitiaan.

Toh hasil yang bem dapatkan hari ini hanya cercaan, kritikan, dan komentar sepihak dari orang – orang yang bahkan ia sendiri tidak mengerti dengan keadaan BEM. Bersuara keras mengeluarkan kata – kata bahwa bem periode 2011-2012 tidak berfungsi sama sekali. BEM tidur. BEM tidak punya program yang jelas. Ketua BEM hanya disibukkan dengan kegiatan di luar kampus dan lain sebagainya. Satu yang penulis tangkap, ketidakpuasan itu hanya tertuju pada satu pihak dalam hal ini adalah ketua. 

Seharusnya sebagai orang yang bijak dan memahami alur organisasi (benarkah mereka paham?), sebelum menilai sesuatu harus diadakan kajian terlebih dahulu dengan melampirkan data dan fakta yang ada di lapangan. Jika memang BEM tidak bekerja, apa buktinya? Data dan fakta apa yang mendukung hal tersebut? Sampaikan secara tertulis, tidak hanya sekedar berbicara di dalam forum. Berbicara secara sepihak tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Maka dari itu penulis sebenarnya berharap teman – teman mahasiswa memiliki inisiatif untuk membuka dialog untuk mempertanyakan kinerja BEM. Dan bukan disampaikan hanya dari mulut ke mulut tanpa pernah langsung ke organisasi BEM dalam forum yang legal.

Satu hal yang membuat penulis sangat kecewa adalah pernyataan miring bahwa BEM sama sekali tidak berfungsi, keluar dari pihak – pihak yang sebenarnya ada dalam tubuh bem, menjadi bagian dari BEM. Baik itu disampaikan di dalam forum ataupun hanya sebatas diskusi kosong dengan teman mahasiswa yang lain. Pihak – pihak yang sebenarnya adalah pengurus BEM (atau orang yang pernah penulis ajak untuk membangun BEM). Sungguh fenomena yang menggelitik. Jika mereka mengatakan BEM tidak berfungsi itu artinya mereka juga ikut bertanggungjawab untuk ketidakberfungsian BEM tersebut. Seharusnya orang seperti ini dipertanyakan, dan penulis menilai bahwa mereka bisa dicap sebagai pengkhianat organisasi. 

Bukan berarti BEM anti kritik. Malah BEM sangat membutuhkan kritikan dari mahasiswa, karena itulah bem menyediakan kotak saran. Yang sangat penulis sesalkan ialah kritikan itu datang tanpa disertai dengan adanya solusi dan kontibusi nyata dari para pengkritik. Kritikan itu disampaikan hanya untuk menjatuhkan satu orang tanpa melihat secara objektif dalam kacamata organisasi.

Berbicara itu mudah, namun pembuktiannya sulit. Memberikan masukan itu mudah, tapi untuk menjadi bagian dari perbaikan tidak semua orang bersedia. Ada orang – orang yang hanya mau berkomentar tanpa mau menyatakan kesediaan untuk membantu BEM secara total. BEM tidak butuh bantuan dari belakang seperti yang selalu dikatakan para komentator. BEM membutuhkan orang – orang yang  memiliki komitmen tinggi dan rasa kepemilikan terhadap BEM. Adakah kalian di antaranya?

Jika yang menghalangi mahasiswa selama ini untuk bekerja di BEM Adalah karena sosok ketua, maka penulis amat sesalkan hal tersebut. Jika tidak menyukai sosok ketua harusnya mahasiswa berani untuk melengserkannya lebih awal. Tidak di saat terakhir masa kepengurusan dengan menghujaninya dengan komentar tak bertanggungjawab. Artinya apa? Bahkan untuk mengganti seorang pemimpin perempuan pun mahasiswa tidak berani dan tidak memiliki inisiatif untuk itu. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berbicara dan mengabaikan segala hal yang diarahkan. Mereka lebih memilih untuk tidak mendengarkan instruksi ketua untuk menjalankan program kerja ketimbang menggantinya dengan ketua yang lebih baik. 

Wahai mahasiswa, hari ini, penulis mendengar begitu banyak keluhan tentang kinerja BEM, maka hari ini semua yang ikut serta dalam membaca tulisan ini terutama yang hadir dalam debat kandidat juga bertanggungjawab terhadap permasalahan yang ada. Jangan hanya mengkritisi, juga jangan hanya berkomentar. Pernahkah anda berpikir dan berkontribusi untuk kemajuan BEM dan kampus kita? Kita semua sudah dewasa, ini saatnya untuk berkarya. Penulis selaku ketua BEM periode sebelumnya hanya bisa melakukan apa yang bisa penulis lakukan dengan keterbatasan yang penulis dan teman – teman pengurus miliki. 

Terakhir, tulisan ini penulis buat sebagai bagian dari instropeksi diri sendiri dan bagi kita yang menginginkan perubahan juga perbaikan BEM dan kampus yang kita cintai ini. Mohon maaf atas segala kekurangan penulis selama menjabat di BEM. Akhirul kalam wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh