Showing posts with label ANAK. Show all posts
Showing posts with label ANAK. Show all posts

Friday, 25 November 2016

Farah First Trip

Huahahaha banyak banget ya nge post foto sampe belasan gitu.

Ini pertama kalinya ngajak Farah jalan keluar. Selama hampir dua bulan setelah lahiran, saya dan Farah hampir ga pernah ke mana mana kecuali depan rumah. Itu juga cuma sesekali n bentar doang.

Awal awal sih buat jemuran. Tapi berhubung bidan kami ga begitu nyaranin untuk berjemur jadi makin dikit deh waktu kami nongkrong di luar. Alasan ga jemuran sih kata bidannya sekarang ini lapisan ozon makin menipis. Yah efek global warming kali ya. Saya sih setuju aja. Kata bu bidan, yang penting cukup ASI

Kami bawa Farah ke batam center. Buset!!! Jauh banget ya.

Agak merasa bersalah juga sih bawa Farah sejauh itu apalagi sampe malam.

Kami perginya dadakan, ga direncanain. Jadilah saya sore itu heboh sendiri mengenai apa yang mau dibawa. Ya udah masukin aja semua. Celana, popok, selimut, kain bedongan, minyak telon sampe baju ganti buat saya. Kali aja dipipisin, maklum, Farah ga pake diapers hehehe...

Alhamdulillah Farah anteng banget. Mungkin karena kami keluar di jam tidur Farah biasanya. Jadi di perjalanan sampe kami makan n sholat kerjanya tiduuuuur aja. Pipis juga cuma sekali. Rewel minta susu pas kami mau pulang aja berhenti bentat buat beli roti bakar.

Wuaduhh saya yang rempong. Belum pengalaman netekin Farah sambil dalam gendongan sambil ditutupin pake jilbab juga -_-

Khawatir Farah rewel malamnya entah karena masuk angin atau lainnya. Tapi alhamdulillah engga. Cuma pas subuh aja rewel pake banget. Mungkin perutnya sakit. Saya susuin, gantiin bajunya n dikasih minyak habis tu tidur lagi. Hewww.... Ampun dah.

Thursday, 10 March 2016

Semua Harus Ada Aturan

Aku menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri ketika nanti anak yang kukandung lahir ke dunia dan memulai hidupnya di sekolah pertamanya bersamaku, Ibunya. 

Segala sesuatunya memiliki aturan bahkan dalam hal kecil sekalipun. Dalam konteks agama, Islam adalah agama sempurna yang telah memberikan aturan di setiap aspek kehidupan, mulai dari yang besar hingga yang kecil. Ini yang kujadikan sebagai acuan bahwa semua harus ada aturan. 

Aturan dibuat agar hidup lebih terarah, jiwa termotivasi untuk berjuang mendapatkan apa yang diinginkan, dan mengontrol diri dari hal yang tak baik. 

"Tanteeee, mau nonton video laah di laptopnya. Pinjam yaaaa" kata anak A padaku suatu hari. 

"Engga, Ante ga mau pinjamkan apapun untuk yang suka membuang makanan dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk makan" kataku sambil terus menyapu.

"Eeeee,,, pinjamlaaaaah. Kan tadi aku udah ngabisin makanannya, di sekolah juga. Pinjamlaaaa" katanya mulai merengek

"Kita lihat dulu satu minggu ini. Kalo cuma satu atau dua kali makan, ante ga mau." ucapku. 

"Ante pinjamlah laptopnyaaaaa.... Ante ni pelit kali. Nanti kuburannya sempit laaah. Pinjamlah anteeeeee" ujarnya sambil menaikkan volume rengekan. 

Kuhentikan sebentar aktivitas menyapu lalu bicara padanya.

"Merengek aja terus, Ante ga peduli. Kita liat gmana makannya satu minggu ini, setelah itu silahkan ambil video ante. Biarin aja kuburannya sempit, sama ante semua pake aturan" lalu kulanjutkan menyapu. 

"Biar kamu termotivasi untuk dapetin sesuatu. Ga semua bisa diselesaikan dengan rengekan." kataku lagi.

Ia terus cemberut dan merengek. Lalu mengadu pada orang tua nya yang memang berada di situ. Ou, I don't care about that. Prinsipku, jika ia ingin sesuatu harus melakukan apa yang ku mau. 

Sejujurnya aku sedikit takut orang tua nya akan kesal karena aku tidak mau meminjamkan laptop. Beranggapan bahwa aku memang sangat pelit hahahhaha

But I don't really care... They should be grateful and learning how to control the kid. I don't say that they are wrong in educating the kid, but there is something they should learn.

Menyayangi anak bukan berarti harus mengikuti semua kemauannya dan mengabulkan apa pun yang ia inginkan. Panik ketika ia telah mulai merengek. No, hal itu akan memaksa orang tua jadi penyihir. Maksudku, orang tua akan jadi kacung bagi anak-anak mereka. 

Anak-anak itu pintar. Begitu kita memperlihatkan sebuah titik kelemahan, maka ia akan terus mempermainkan kita di titik itu. 

Aku ingat dengan cerita anak-anak yang merengek pada orang tuanya di keramaian. Orang tua yang tak punya aturan akan langsung panik dan memberikan apa yang si anak inginkan. Akibatnya di kemudian hari si anak akan berbuat seperti itu lagi. Karena ia tahu orang tuanya bisa ditekan di tengah orang ramai. 

Namun bagi orang tua yang mengerti, ia tak akan panik dan serta merta langsung memberikan apa yang anak minta. Ada orang tua yang hanya akan membiarkan saja si anak merengek. Biarlah ia menangis hingga berguling-guling. Satu yang harus anak pahami bahwa cara pengecut seperti itu tak akan pernah berhasil. 

Yah mendidik anak bukan hal yang mudah. Kita butuh ilmu agar semua sesuai jalur. Menjadi orang tua adalah tentang bagaimana menjadi teladan bagi anak-anak dan orang -orang di sekitarnya. Semoga kita semua bisa menjalaninya dengan baik dan penuh keilmuan ya.

*hi kid, ingatkan Ibu ya untuk mendidikmu dengan aturan yang baik


Thursday, 18 June 2015

#18 ~ Learn 3 Things from Me, Kids!

Hari pertama puasa ya hewww cobaannya lumayaan. Pas mau ngantar Widya pulang eh ternyata ban motor bocor. Mana pake racing di belokan daan kaget karena ternyata kondisi ban lagi ga kece, sukses hampir jatoh. Alhamdulillah masih bisa jalan. 

Berhenti ngecek ban daaaaaan ternyata emang bocor bocor bocor. Ya udinlah mesti dorong bareng Widya sampe ke tambal ban terdekat. Celingak celinguk sepanjang jalan ga nemu T_T
Adek haus baaaaang, pengen minuum. Ini tangan pegel banget nge gas sambil jalan kaki. Ga mau dinaikin motornya karena khawatir bocor bocor bocor nya makin parah. Entah bisa terjadi kerobekan yang tak disengaja di ban dalam yang pastinya berakhir pada perkataan abang bengkel ganteng, "Ganti ban dalam nya ni dek"

Isshh si abang bengkel suka gitu. Belum diperiksa main langsung ganti aja. Apa doi ga tahu kalo duit dikocek engga ada sama sekali *beneraaaan ga bawa dompet, ga bawa hape, cuma modal helm.

Tapi itu cuma dialog hayalan karena kami berhenti di depan swalayan Pinang Kencana. Siruuuuuss Black berasa jalan berkilo-kilo. Mana panas, dan hauuuuus banget. Liat makanan bukaan sepanjang jalan rasanyaaaaa..... Widya cuma bilang, "Apa nih Nurul yang bisa aku bantu". 

"Bantu aku sediain duitnya wiiiid, sepuluh ribu ada kan?"

"Engga, uang aku tinggal 9.000 di tas."

"Apppaaaaah??!! Segera hubungi Zulfah wid, suruh dia segera ke sini", dan dengan segera gaya bossy keluar secara otomatis. 

Walaaah jadi curhat kan, ya sudin lah kalo udah terlanjur baca moga terhibur :D

Malam ini temanya tentang anak ya? Xixixixi honestly, saya kadang suka anak-anak dan lebih sering suka terganggu dengan kehadiran mereka yang super heboh dan selalu punya misi untuk ngancurin apa yang ada di sekitar mereka, terutama kalo mereka lagi dicuekin. Oughhh males banget. 

Kadang saya mikir, helllooowww bisa diem bentar ga sih? I'm working right now, please go to other place and find your own fun things. 

But, akhir-akhir ini saya kembali hidup di tengah-tengah mereka sejak bolak balik ke TK dan kantor salah satu parpol di dunia (hahahhaa) yang entah berapa kali dalam sehari. Kalo dibandingin dengan kantor parpol lainnya, mungkin kantor parpol ini lebih kelihatan kayak tempat penitipan anak daripada kantor. 

Gimana engga, setiap pengurus yang datang mereka bawa pasukannya. Ada yang bawa empat, bahkan hari ini ada yang bawa enam. Itu kantor beserta halamannya udah jadi milik mereka. Dan hebatnya anak-anak ini tahu aturan bahwa mereka ga boleh main di jalan (posisi kantor persis di tepi jalan raya). 

Anak-anak itu sebenarnya menyenangkan dan lebih menyenangkan lagi jika jadi anak-anak. Ga perlu mikirin masa depan, uang makan, tugas akhir yang ga kelar, meski pake baju apa biar matching sama acara atau harus ke mana nyari biaya nikah apalagi nyari calonnya -_-

Nah seandainya nih kelak saya punya anak, saya harap mereka bisa mewarisi atau mempelajari tiga hal dari saya. Apa saja? Cekidot!

1. Jangan Gampang Merajuk, Berlapang Dadalah
Bukan berarti saya ga pernah merajuk, justru karena pernah itu maka berharap beneeeer anak saya entar bukan termasuk anak super sensitif yang gampang rajukan. 

Merajuk itu sungguh bukan hal baik. Ngerugiin diri sendiri. Orang lain juga ga peduli. Saya termasuk orang yang males ngebujuk orang yang suka merajuk. Kalo ada yang merajuk dibiarin aja, emang gue pikirin :D 

Harus lebih lapang dada karena dengan begitu hati ga gampang sakit. Kalo dikit-dikit sakit, entar sakit yang dihati bisa nyebar ke mana-mana. Berlapang dada bisa memudahkan untuk bersyukur dan terhindar dari konflik yang engga perlu, engga penting! 

2. Senyumlah!
Jangan pelit senyum ya. Senyum bikin kita lebih mudah untuk akrab dengan orang lain. Bahkan seorang yang jahat pun akan tersentuh ketika ia dilempar dengan senyum. 

Senyum juga identik dengan ceria, berwajah manis, dan hidup senang. Ladang pahala yang terus menerus. Berwajah manis di hadapan saudara itu anjuran Nabi kita yang mulia kan? 

3. Punya Blog, Kalo Suka Musik Dengerin Aja Jangan Nonton MVnya
Hahaha ga tau deh ini yang ketiga. But, I really want my children in the future have their own blog to share everything, to build society opinion, to spread the goodness. Banyak juga para emak blogger yang para anaknya dibuatin blog. 

Kalo masih kecil sih mungkin emaknya yang nulisin, berharap diterusin sama anaknya kelak di waktu yang tepat. Nge blog bukan cuma ikutan trend tapi termasuk ibadah hehehe *niat niaaaaat

Soal musik, saya pengen mereka cuma mendengar aja dan mengambil hikmahnya tanpa harus nonton MV nya. Suka was-was aja sih kalo liat MV, banyak adegan yang ga penting. Bisa memicu kelebayan dalam hal mengidolakan, entah itu si penyanyi atau modelnya *pengalaman -_-

Yaa begitu deh, moga tulisan ini ga dikategorikan sebagai tulisan narsis ya. I know myself and I want people around learn the best things of me and leave the bad. 

Tentang kesabaran, humble dan lain sebagainya biarlah anak saya kelak belajar dari para tokoh sejarah dan orang-orang di sekitarnya. I dont have kind of thing like that. 





Wednesday, 26 November 2014

Menangkap dan Melempar

Kupikir anak-anak Pinang Hijau, terutama yang tinggal di blok C-C4 sudah kehilangan tempat bermain mereka. Sejak lapangan disulap menjadi lapangan badminton jarang sekali ada anak-anak berkumpul di sore hari atau hari libur untuk sekedar bermain. Tapi rupanya masih ada generasi penerus kami yang menghabiskan waktunya untuk menangkap ikan dan belut di parit.

Melihat mereka siang ini kupikir sejak dini mereka harus belajar menangkap dan melempar. Mengapa? Karena begitu mereka menginjak usia 6 tahun dan punya teman sepermainan lebih banyak, tanpa disadari mereka, terutama anak laki-laki akan terjun ke parit dan sejenisnya untuk berlatih menangkap ikan :D

Aku ingin mengungkapkan sedikit pendapatku tentang dua kegiatan sederhana ini sebelum aku mencari faktanya dari sumber yang mendukung. Ketika beberapa waktu yang lalu aku beraktivitas sebagai guru TK, tiap hari kami harus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan anak, aktivitas pendukung, psikologi anak, cara menjadi guru yang baik dan sebagainya.

Sekolah kami memiliki tiga kelas yang terdiri dari satu kelas PAUD untuk anak usia 3-4 tahun, TK kecil untuk usia 4-5 tahun dan TK besar untuk usia 5-6 tahun. Dari ketiga kelas ini aku diamanahkan kepala sekolah untuk berada di TK besar. Alhamdulillah tidak di dua kelas lainnya karena sepertinya aku tak sanggup untuk menghadapi anak-anak seusia itu.

Begitu kuperhatikan saat para berkumpul untuk membuat satuan kegiatan harian, ada beberapa hal yang harus diajarkan pada anak-anak di usia tertentu, salah satunya adalah menangkap dan melempar. Seingatku dua hal ini ditekankan pada anak usia 4-5 tahun.

Menurutku kepala sekolah meletakkan kelas ini di bawah, selain sisi keselamatan, adalah agar mereka bisa bebas melakukan aktivitas harian. Salah satu hal yang dikembangkan dari segi motorik murid-murid di TK kecil adalah kemampuan mereka dalam menangkap dan melempar bola. Ohooo awalnya kupikir sepele sekali, rupanya kegiatan ini punya pengaruh pada kegesitan mereka.

Berdasarkan pengamatanku yang masih jahil ini, ketika anak melempar bola mereka belajar untuk mengatur kekuatan tangan. Ketepatan mencapai sasaran juga diperlukan sehingga dari sini mereka belajar untuk fokus. Menangkap pun begitu. Anak yang bisa menangkap sesuatu dengan baik biasanya lebih lincah dan punya daya konsentrasi yang tinggi. Entahlah jika aku salah menilai hal ini.

Beberapa kali di saat jam pelajaran, aku turun ke lantai satu, memang anak-anak itu bermain dalam kolam bola dan beberapa di luar bersama para ummi untuk melakukan melempar dan menangkap. Dan ga semua anak bisa melakukannya dengan baik.

Sementara TK kecil fokus pada melatih fisik, anak-anak di kelasku fokus untuk menghaluskan sisi motorik mereka yang lain. Kami harus mengajari mereka untuk bisa menghubungkan tau membuat garis dengan rapi, tentu sebagai persiapan untuk menulis.

Nah rupanya kekuatan tangan anak juga harus dilatih. Salah satu latihan mereka adalah dengan bermain plastisin. Well, bagi sebagian anak plastisin merupakan barang mahal. Tak semua orang tua mampu membelikan plastisin, ditambah mereka tak begitu paham apa fungsi plastisin sebenarnya.

Melatih kekuatan tangan biasanya dilakukan oleh para anak-anak 3-4 tahun alias di kelas PAUD. Dari buku yang kubaca kami bisa melakukannya dengan alat sederhana, yaitu kertas. Bisa dengan kertas yang tak lagi dipakai maupun dengan kertas koran. Kupikir Khalisa bisa kuajari hal ini.

Di awal adalah meremas kertas itu menjadi bola yang besar. Selanjutnya akan sampai pada tahap meremas-reman kertas menjadi bola-bola kecil. Well, ini sangat berguna dan sangat pas untuk melatih tangan-tangan kecil itu.

Untuk para orang tua, tangan adalah salah satu anggota tubuh yang sangat punya peran penting dalam kehidupan. Hampir segala aktivitas hari ini menggunakan tangan. Pun ini sangat berguna agar motorik halus mereka terlatih dan tak canggung lagi dalam menulis.

Semoga bermanfaat, maaf jika ada kesalahan. Silahkan sampai kritik dan saran.
Have a nice day!

Tuesday, 18 September 2012

Re-Post untuk Khalisah dan Syahdan

Khalisah Adriani

Khalisah Adriani, Syahdan Muttaqin, kalau kau besar kelak, maka ingatlah selalu:
1. Jgn sekadar belajar bahasa (entah itu bahasa indonesia, inggris atau lainnya), tp lbh penting belajar menulis.
2. Jgn sekadar belajar IPA, fisika, biologi, kimia tp juga memahami kebijakan alam dan keseimbangan.
3. Jgn sekadar belajar IPS, geografi, ekonomi, sosiologi, dsbgnya tp jg melihat dunia membentang luas dgn keberagaman dan kesamaan

5. Jgn sekadar belajar PMP, PPKN atau apalah nanti namanya, tapi jg tentang etika, moralitas dan kepedulian
6. Jgn sekadar belajar matematika, aljabar, kalkulis dsbgnya tp lbh penting belajar nalar dan sistematika
terakhir, jgn sekadar belajar agama, lengkapilah dgn akhlak dan kebermanfaatan.

*sy repost dr postingan lama, karena 2 Mei adalah hari pendidikan :)


sumber : https://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/belajar/372237279493513
Syahdan Muttaqin
catatan Tere Liye dengan mengganti nama anaknya (Abdullah Pasai)

Wednesday, 24 February 2010

Al Bina


Dari kiri ke kanan :
Andi Mochammad Gerhan Firzha, Pandu Fathul Huda, Afry Saputra, Selta Ferzia, Adinda, Nabila Farhannah......

Angkatan pertama yang kami didik selama setahun penuh dengan penuh kasih sayang, kasih ibu, kasih kakak, kasih duit ( yang terakhir tidak ).
Penampilan pertama untuk Tari Persembahan. Hasil latihan Ummi Tami. Walupun hasilnya tidak begitu bagus, namun kami puas dengan penampilan anak-anak ini.

Kelas TK B yang berjumlah 40 murid merupakan kelas yang menjengkelkan pada awalnya, menyenangkan di tengahnya dan menyayangi di akhirnya.

Kesal saat tak ada yang mau mendengar kami berbicara di depan kelas
Jengkel saat mereka lebih memilih untuk bercerita dengan teman di sebelah ketimbang di depan kelas
Menyesal setelah kami marah, yang seharusnya tidak pantas kami lakukan
Sedih saat hari wisuda telah datang
Senang saat mereka sudah bisa membaca

Rindu ingin kembali ke TK
Pergi pagi-pagi menunggu murid di depan pagar
Begitu datang " Assalamu'alaikum.... "
Pujian dan senyuman dilemparkan pada mereka
Bahkan tak hanya anak-anak polos itu, tapi juga para orang tuanya

Klasikal pagi begitu mengasikkan
Hmmmm.....


Thursday, 4 June 2009

I'M SORRY I LOVE YOU

Upss.....
Ini bukan judul lagu, bukan pula judul drama TV
Ini adalah pernyataan untuk Rian Setiawan

Hahaha....
Dia bukan pacar, bukan pula orang spesial

Rian itu salah satu murid aku
Umurnya 6 tahun
Anaknya sangat "aktif"
Hmmmm.......
LUAR BIASA!!!!!

Sementara teman yang lain mewarnai, menulis, bermain seadanya
yang dilakukan Rian adalah merangkak ke sana kemari, melompat di kelas, mengganggu anak perempuan, melepas satu persatu halaman majalah miliknya (syukur sekali bukan punya temannya ).

Saat ditegur, cuma bisa nyengir
Aku???
Hufff......
Ga bisa lagi pasang muka marah, lembut apalagi
Udahlah biarin aja


Hari Kamis, 28 Mei 209
Waktu bermain, semua anak-anak turun, termasuk si Rian ini
Seperti biasa aku juga ikut turun, jadi pengawas
klo ada yang ngajak main ular-ularan aku ikut hom pim pa
tapi hari itu, tidak...( pada capek kali )

" Ummi, ummi sini lah dulu " kata Rian
" Hmmm, apa ?" kudekatkan kepalaku karena ia memberi isyarat mau membisikkan sesuatu

" Ummi....."
Muach...
Muach....
Muach...

Pipi kanan
Pipi kiri
Lalu kening....

Deg!!!

Ya Allah anak ini.....

Bisa bayangkan tidak perasaan aku ???

Rian adalah anak yang kadang luput dalam perhatian aku sebagai guru
Anak laki-laki tetangga depan rumahku yang sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu
sejak masih orok
Bukan karena ibunya mati, melainkan karena perceraian

Anak laki-laki usia 6 tahun yang selama ini aku anggap sangaaaaaat nakal
( upsss, bagi yang membaca tulisan ini, harap kata NAKAL tidak digunakan pada anak, apalagi menyebutkan kata ini di depan anak tersebut )

Aku dituntut untuk memperhatikan seluruh anak
Aku dituntut untuk mengetahui perkembangan setiap anak
Aku dituntut untuk memenuhi segala pemintaan orang tua

Dan sekarang aku tidak melaksanakan tugas itu dengan baik
Huff....
Betapa berdosanya.....