Showing posts with label BUKU. Show all posts
Showing posts with label BUKU. Show all posts

Thursday, 23 September 2010

Konsep Dasar Kerja Pers


-->
Dalam bukunya Fikih Jurnalistik, Faris Khoirul Anam menuliskan lima konsep dasar kerja pers yang mesti menjadi pegangan bagi siapa pun yang melibatkan diri dalam dunia pers.  Ketika menyebutkan kata pers, maka yang terbayang dibenak kita adalah kegiatan yang berhubungan dengan berita dan memberitakan. Kelima konsep dasar kerja ini bukanlah untuk membatasi aktivitas dalam dunia pemberitaan melainkan agar pekerja pers dapat bekerja lebih tertib dan mampu memberikan informasi yang akurat dan benar kepada masyarakat.
Konsep dasar kerja pers yang pertama ialah mengklasifikasi sumber berita di mana ini adalah hal yang sangat utama karena menyangkut kebenaran informasi atau berita yang akan disampaikan kepada masyarakat. Dalam mengklasifikasikan sumber berita seorang pekerja pers membutuhkan saksi mata yang dapat dipercaya dan memenuhi syarat untuk berbicara (jika sumber adalah orang). Sumber berita tak hanya berupa orang, namun juga catatan, dokumentasi, referensi, buku, kliping dan sebagainya yang memberikan makna dan kedalaman suatu peristiwa.
Seorang pekerja pers juga tidak boleh terburu – buru dalam memberitakan suatu peristiwa sebelum ia melakukan klasifikasi dan cross check secara terus menerus hingga kevalidan berita ia terima dapat dipertanggungjawabkan, meskipun sedang dikejar deadline.
Kemudian yang kedua, membekali kerja dengan kejujuran sebagaimana disebutkan dalam butir pertama KEWI ( Kode Etik Wartawan Indonesia ), “ wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar “. Setelah mengklasifikasikan sumber berita, maka diperlukan kejujuran seorang pekerja ketika menuliskan berita tersebut dan menyebarkannya ke masyarakat. Dalam hal ini kejujuran yang dimaksud adalah kejujuran berita dan kejujuran hukum.
Kejujuran berita ialah berita tersebut ditulis dengan sebenar – benarnya dengan tidak memanipulasi data dan fakta yang ada di lapangan. Sedangkan kejujuran hukum berarti seorang pekerja pers tidak diperkenankan untuk mengambil keputusan dalam menyikapi suatu berita, untuk diterima atau tidak. Pandangan pekerja pers hanya dapat dituliskan dalam berita tersebut dengan syarat pendapat merupakan penjelasan tafsir yang benar tentang suatu berita dan dampaknya, bukan pendapat pribadinya.
Konsep dasar kerja pers yang ketiga yaitu menyempurnakan kejujuran dengan akurasi. Artinya sebuah berita juga mesti dilengkapi dengan berita sekunder untuk menghindari kesalahpahaman pembaca akan berita tersebut. Sebelum berita disampaikan kepada masyarakat, kebenaran berita harus diperiksa dengan teliti dan meminta konfirmasi dari pihak yang bersangkutan, sehingga ketika berita diterbitkan, tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan tersebut.
Seperti kasus memilukan yang terjadi dibalik peristiwa Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Peristiwa ini terjadi akibat pemberitaan yang kurang akurat, asal memberitakan dan lebih mengutamakan keinginan pasar. Di mana diekspos di media massa bahwa Letnan Djaja Suparman saat peristiwa ledakan sedang berada di Bali. Ia merasakan pers tidak berupaya menghubungi untuk meminta konfirmasi atas isu tersebut. Dan tidak dengan memberikan bukti – bukti yang ada seperti tiket pesawat atau bill hotel untuk membuktikan kebaradaannya di Bali. Jadi tidak menelan mentah – mentah informasi dari sumber anonym yang mengatakan ‘ ada dua Jenderal yaitu jendral TNI Angkatan darat dan Jenderal Polisi ada di Bali dan dikaitkan mereka berada di belakang peritiwa Bom Bali ‘.
Hal ini tentu saja memojokkan Djaja Suparman dan harus menerima kenyataan mertuanya meninggal karena shock mendengar berita itu. Setelah 40 hari pemberitaan itu ayah kandungnya juga meninggal.
Keempat, objektif dalam menjelaskan kejadian, yang artinya seorang penulis berita harus mengemukakan pendapatnya berdasarkan fakta yang ada bukan kecondongan dan ambisi pribadinya. Berita yang ditulis haruslah mencakup jalannya suatu kejadian, kelanjutan dan dampak sebuah peristiwa, fakta dan data di lapangan kemudian catatan dan solusi yang konkrit lagi bermanfaat. Seorang pekerja pers tidak diperkenankan untuk memasukkan pendapat pribadi yang bertujuan untuk memenuhi ambisinya, apalagi yang jauh dari kebenaran. Tak hanya itu, berita juga ditulis dengan gaya bahasa yang tidak melecehkan maupun menjatuhkan martabat  pihak yang diberitakan.
Konsep kelima ialah mematuhi aturan dan etika umum ( kode etik ). Ketika menulis berita pekerja pers diikat oleh aturan – aturan  dan ketentuan – ketentuan yang berlaku di komunitasnya. Dengan adanya aturan dan ketentuan tersebut diharapkan akan tercipta kondisi yang dapat diterima masyarakat namun tidak merugikan pihak pers.
Di Indonesia ada banyak organisasi wartawan, namun yang paling besar adalah Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI ) dan Aliansi Jurnalis Independen ( AJI ). Organisasi – organisasi ini memiliki kode etik sendiri bagi para anggotanya yang bertujuan untuk mengontrol cara pemberitaan sehingga tidak mengganggu pihak – pihak yang akan diberitakan.

Friday, 13 March 2009

Hebatnya Sihir Harry Potter

wohoi....
Apa yang yang ada dibenak sodara sekalian klo liat lambang ini???

Hehehe....
Tak lain tak bukan inilah karya besar abad ini, sekuel Harry Potter. Novel yang banyak mendapat banyak penghargaan ini ditulis oleh seorang janda bernama JK. Rowling.
Wuih.... mungkin aja waktu dia nulis novel pertamanya di kafe-kafe sambil ngasuh anaknya, dia ga bakalan nyakngka klo suatu saat, novel ini jadi pembicaraan banyak orang dengan berbagai pandangan yang berbeda.
Barangkali Bu Rowling ini juga ga ngira klo hari ini setiap launching buku baru, akan ada antrian panjang anak-anak dengan menggunakan kostum tokoh-tokoh Harry POtter. Akan ada begitu banyak penggemar yang menanti-nantikan sekuel terakhir novel ini.

Fenomena Harry Potter sudah mencuat sejak pertama kali novelnya diterbitkan. Hal inilah yang juga membuat sutradara Chris Colombus tertarik untuk memfilmkan karya ini. Dan hasilnya bisa kita saksikan sendiri. Tidak hanya novelnya yang mendulang sukses, film pertamanya yang berjudul " Harry Potter and the Sorcerer's Stone " meledak di industri perfilman. Rasanya inilah film anak-anak yang juga digemari dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh penonton remaja dan dewasa. Hingga saat ini sudah 5 dari 7 karya JK. Rowling ini yang difilmkan. Dan kelima benar-benar sukses di pasaran. Tak sia-sia budjet yang telah dikeluarkan untuk membiayai pembuatan film ini. Kesuksesan yang diraih kini melebihi dari dari perkiraan awal. Bahkan pemeran Harry Potter, belum lama ini tercatat sebagai salah satu remaja terkaya di Inggris, menyaingi keluarga raja.

Novel sihir yang satu ini benar-benar telah menyihir seluruh pembacanya ( temasuk aku ). Disebutkan bahwa banyak sekali anak-anak yang begitu mencintai ( atau terobsesi ) novel yang mengisahkan perjuangan seorang anak melawan penyihir hitam yang telah membunuh kedua orang tuanya di masa lalu dan meninggalkan bekas luka di dahinya.
Mayoritas mereka dapat ' melahap' novel tersebut dalam satu malam. Bayangkan, novel kelima Harry Potter dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia memiliki 1200 halaman. Novel keempatnya hanya sedikit lebih tipis dari novel kelima. Begitu hebatnya sihir yang dihasilkan oleh JK. Rowling.....
Beberapa waktu lalu pun ia mendapat penghargaan dari pemerintah atas usahanya yang menumbuhkan minat baca pada anak-anak Inggris.