Showing posts with label MyFriends. Show all posts
Showing posts with label MyFriends. Show all posts

Tuesday, 19 August 2014

Sederhana dalam Berbagi

 Wah status Kak Iva WUlandari kali ini asik banget, let me re-write it on my blog. Suka banget

Duhai..semoga kenikmatan dan kebahagiaan kita tidak menjadi sebab kenelangsaan terlebih ketidaksyukuran saudara kita.

Dahulu, penanda yg bisa sebabkan seseorang riya' adalah harta berupa materi. Untuk perkara ini, saya rasa sampai saat ini banyak dr kita yg tahu dan sadar untuk tidak memamerkan materi yg dipunya.

Tapi sungguh... ada kecemasan akankah sy akan masuk pada kubangan riya' yg lainnya. Bahwa pasangan, karunia kehamilan juga anak adalah menjadi bagian nikmat dunia itu pula. Hingga kita berbangga dan mengabarkannya pd khalayak setiap waktu. Memang mengasyikkan bagi sy yg tengah hamil untuk sekedar menulis "hari ini debay bergerak", "ngidam ini nih", dan serangkaian penggalan apa yg sedang dirasa. Tp hanya berhenti pd itu saja. Saya sungguh pernah merasakan nelangsanya..kala proses menunggu hadirnya buah hati dalam rahim, sedang berseliweran teman yg sedang menceritakan serunya kehamilannya di beranda fb sy. Pula, sy memahami bagaimana rasanya saudara kita yg telah sekian tahun menikah, tapi belum diamanahi seorang anak. Bagaimana perasaannya ketika yg ia lihat tiap hari di beranda fb nya adalah postingan foto foto lucu anak-anak teman atau bahkan adik angkatannya yg telah dikaruniai dua atau tiga putra. Kawan-kawan yg tengah asyik membagikan cerita "anakku sudah pintar begini, begitu, dsb."

Semoga kita dikaruniai kerendahan hati dan kebijaksanaan untuk menggubah kabar gembira dan karunia yg kita dapat sebagai sarana yg menambah pengharapan baik bagi saudara kita yg belum mendapatkannya. pula mengingatkan akan kesyukuran bagi yg sedang atau lebih dahulu mendapatkannya.

Begitu pula, manjadi kewajiban kita yg telah lebih dulu menjejaki dunia rumah tangga untuk membantu saudara kita yg blm menikah, untuk terus berpengharapan baik. Serendah-rendahnya bantuan kita pd mereka, yakni menjaga hati mereka agar jgn sampai bahagia kita memadu kasih dgn pasangan, menelangsakan mereka yg telah keras berikhtiar namun belum juga mendapatkan nikmatnya pernikahan. Biarlah kemesraan menjadi madu manis untuk kita dan pasangan. Karena sungguh berbeda antara berbagi hikmah dan memamerkan kemesraan rumah tangga kita..

Sederhananya...membagikan kabar bahagia secukupnya, menampakkan karunia yg sedang kita punya secukupnya pula. Serta menyertakan satu dua kalimat yg menghadirkan pengharapan baik dan mengundang kesyukuran bagi orang lain yg membacanya (terkhusus posting di medsos).

Wahai diri, tersebab kemurahan Allah lah engkau berpunya aneka karunia dan nikmat. Pantaskah engkau berbangga dan jumawa pada orang lain yg belum peroleh kenikmatan yg sama?

#selftalk

--Iva Wulandari, 2014

Saturday, 2 August 2014

Berita di Batam Pos

Noni Lela Kasenda, 72, mengadu ke Mapolsek Sekupang, Jumat (1/8) siang.  Ia mengadukan tetangganya yang bernama Eva, 30, dengan tuduhan telah menganiaya dirinya.

Noni mengadu Si Eva  memukul kepalanya dengan menggunakan panci.
Pemukulan tersebut, menurut Noni, dilakukan Eva pada hari Senin (28/7) malam atau tepat hari raya pertama saat dirinya sedang membeli nasi di warung.


gambar ilustrasi
Berita yang saya baca di portal Batam Pos dengan judul Nenek 72 Tahun Cekcok dengan Tetangga Umur 30 Tahun sebenarnya adalah kejadian yang sudah biasa kita lihat sehari - hari. Hehehe bukan bermaksud untuk bilang bahwa pemukulan terhadap nenek - nenek berusia 70-an adalah pemandangan harian, tapi perkelahian antar perempuan seperti berita di atas :) maaf ya pemirsaaa.....

Saya ga fokus pada isi beritanya. Begitu membaca berita ini yang pertama kali saya bayangkan adalah wartawannya. Memasang berita seperti ini di media, baik cetak maupun online bukan lagi suatu hal yang dianggap unik (menurut saya) karena masih ada berita yang lebih unik. 

Suatu malam ada kesempatan berbagi cerita dengan beberapa teman di sebuah kedai makan. Waah awalnya saya ragu untuk ikut karena laki - laki semua. Namun, karena sudah diajak dan perut memang lapar, saya pun ikut. 

Malam itu kami ngobrol ngalor ngidul, lompat dari topik yang satu ke topik yang lainnya. Lebih banyak membahas masalah pekerjaan, padahal pekerjaan kami beda - beda, hanya dua orang yang sama. Tapi di satu titik kami bertemu, yaa masing - masing kami pernah mencoba untuk menjadi jurnalis. 

 Ketika itu salah satu teman saya yang masih berprofesi sebagai wartawan berbagi cerita yang membuat saya membayangkan wartawan Batam Pos saat menulis berita pemukulan nenek tadi.

Saat proses pencarian berita dan terkejar deadline, terkadang beberapa wartawan lebih memilih nongkrong di kantor polisi untuk dapatkan berita. Cara ini tentu lebih mudah karena wartawan cukup bertanya pada polisi kasus apa yang dilaporkan hari itu dan informasi yang bersangkutan. Jika dikira cukup layak untuk dinaikkan jadi berita segera tulis dan kirim ke kantor dengan redaksi judul yang menarik dan unik. 

Nah inilah yang membuat saya membayangkan wartawan Batam Pos saat menulis berita tersebut. Well, good job. Saya selalu menyukai para wartawan, terutama mereka yang mau menuliskan berita - berita benar. Bukan berita bohong yang membuat masyarakat salah pandangan akan suatu masalah. 


Monday, 6 January 2014

Mengubah Rasa Jadi Logika

Lagi kudengar pengaduan masalah ikhwan akhwat hewwww... Masalah klasik yang ga pernah selesai, sekeras apa pun usaha yang kami lakukan. Well mungkin belum terlalu keras ya hehhe.... 

Beberapa pengaduan tentu hampir dengan nada yang sama seperti yang dulu. Tak ada hijab, pacaran, smsan, chatting dan lain - lain. Okeh jadi sekarang masalahnya ada di mana?

Ohohoho... jika hal - hal di atas terjadi karena pelakunya belum paham okelah ga bisa nge-judge juga kan? Tapi gimana kalo dia udah paham tapi masih melakukan? Okeh ini aku angkat tangan karena bisa jadi aku juga dituding sebagai salah satu pelakunya ahaha... Terserah yang menuding deh, dicurigai juga tak apa apa. 

Nah, dari pengalaman beberapa pasangan berakhir di pernikahan alhamdulillah tapi sebagian juga tak berakhir bahagia. Ohohoho kasihan, aku ga bisa bayangin gimana perasaan si perempuan, kalo yang laki sih cuek aja eh atau kebalik ya? Suka suka deh

Yang jadi masalah pasangan - pasangan yang ada sekarang, berakhir di tempat yang samakah? Atau di kantor polisi kayak judul berita beberapa waktu lalu hehehe Kita cuma bisa lihat dan menunggu semoga berakhir baik. 

Well kadang aku mikir ini, siapa pun pasti pengennya nikah yang berkah. Nah, dalam teori di buku - buku yang namanya nikah berkah itu mesti diawali dengan proses yang berkah pula. Kalo sebelumnya udah pacaran, berkah ga? Tanya aja sono ntar kalo beruntung ketemu sama Allah. 

Dalam konteks aktivitas dakwah, ada juga nih pasangan - pasangan ilegal yang seliweran hehehe... Dan biasanya sih orang - orang ini ga akan bertahan lama. Cuma bentar aja, setelah itu terlempar sendiri karena malu atau alasan lainnya. Yang kutahu, itu cara Allah buat bersihin jalan dakwah. Jika aku salah satu pelakunya, aku juga harus bersiap untuk tersingkir di medan ini dan digantikan sama yang lain. 

Memang yang mundur itu ga hanya karena ini, tapi sebagian besar adalah karena ini. Apa perlu aku sebutkan? Ups ga ahsan kan ya... Jadi sok suci pula hahaha.... 

Merubah Rasa Menjadi Logika

Sesaat kalo aku mendengar kasus - kasus yang ga penting itu pengen deh jewer ikhwan - ikhwan yang suka godain akhwat, apalagi yang masih baru. Beuuhhh sasaran empuk itu. Biasanya saat rajinku kambuh, ekspedisi sms akhwat kulaksanakan gyahahaha..... 

Nanyain kabar mereka satu per satu sekalian nanya ada ga ikhwan yang smsin dan kukorek korek deh tu informasi huahahha maap ya buat yang selama ini jadi korban keisengan inih. Kita cuma pengen bantu kok. Biasanya sih dari 10 yang kutanya akan ada beberapa yang menjawab dengan jujur. Nah saat itulah baru kita beraksi *hero mode on. Ini kalo lagi rajin lhooo klo malesnya datang ya udah lah :p

Nah, biasanya aku udah males untuk mencak - mencak ke ikhwan - ikhwan genit untuk ga gangguin akhwat - akhwat imut itu (ya elaaaah). Kalo dipikir - pikir ya nyapekin. Kenapa harus marahin maling? Lebih baik memberikan perlindungan ke rumah kan? 

Gini nih, maling itu kan beraksi kalo ada niat dan kalo ada kesempatan. Liat rumah ga ke kunci digasak lah itu isi rumah. Coba kalo rumah kita dikunci, dikasih terali dan lain - lain maling juga males mau masuk. Banyak kerjaan, man. Belum tentu juga isi hartanya banyak huahahhaa....

Cewek tuh harus begitu, punya kunci dan terali biar itu maling cuma bisa liatin dari jauh dan nahan iler karena kehabisan akal buat malingin tu rumah yang bernama hati :D :D :D

Artinya, jangan mudah tergoda dooong cewek - cewek. 

Masak kamu luluh gitu aja dengan sms - sms perhatian dari dia? Masak kamu langsung mesem - mesem cuma karena dia suka nge like n komen di status kamu? Suka nganterin kamu ke mana - mana, antar jemput dan lain - lain. Masak kamu jadi demen sama dia cuma gara - gara dia bilang dia juga demen sama kamu. Trus hati kamu jadi ketar ketir karena dia suka mandangin kamuh. Huahahahha beneran deh ini bikin ngakak

Hei hei hei, kita itu kan cantik, cerdas dan colehah. Masak sih bisa luluh karena cara - cara amatiran begitu. Alamak alamak alamaaaakkk..... Mending tenggelam aja noh sama kapal Van der Wijck. 

Dia suka smsin kamu? Kali aja bonus sms nya banyak. Ngajakin chatting tiap malem? Lagi belajar ngetik cepat kali xixixixii.... Suka komenin status kamu? Anggap aja fans beraaaat. Dia bilang suka ke kamu? Biasalaaaah kamu kan cerdas, cantik dan colehah. Kamu juga suka ke dia? Ahaaiiiii ini dia nih kalo cinta udah berbalas emang suseee ngatasinnya. 

Tips ini hanya berlaku untuk membentengi hati biar ga dimalingin sama mereka yang punya tampang maling (loh?). Kalo kamu udah suka ke dia juga yaaa mau gimana lagi. Kita juga ga bisa maksain biar ga suka kan. 

Palingan saran dari kita : silahkan suka tapi ga perlu diucapkan, tetaplah bersikap seperti biasa lama - lama juga ilang sendiri. 

Emangnya rasa suka itu penyakit AIDS atau kanker yang ga bisa disembuhkan????? 

Rasa suka itu kayak demam panas yang cuma bikin kita kesakitan dan menggigil untuk beberapa malam. Setelah itu kita akan baik - baik aja :) 

Ah udahlah toh kadang kamu masih keras kepala. Yang penting aku udah ingetin. Kalo cara ini ga baik silahkan usulkan cara lain yang baik yang lembut dan lain - lain. 

Jika sesuatu terjadi padamu aku ga akan menyalahkan laki - laki itu, tapi dirimu yang tak pandai menjaga hati 

*anggap aja lagi mencak - mencak

Friday, 22 November 2013

Hal Penting yang Harus Diperhatikan Oleh Pegawai Bank

Hey, setiap kamu ke bank apa sih yang kamu perhatiin selama ngantri? Takpayah.com tebak – tebak nih pastilah celingukan liat nomor antrian (itu udah pasti man!). Atau meliarkan bola mata merhatiin pengunjung satu persatu. Kali aja ada yang bisa diajak ngobrol. Lumayan buat nambah temen. Atau bisa juga cuma baca koran atau main gadget sambil baca takpayah.com eaakk :D

Atau ada juga nih yang liatin petugas bank mondar mandir. Mereka rapi ya, keren! Apalagi teller sama customer servicenya, duh ga bosen deh sama keramahan mereka. Meski kadang agak lebay yaa yang penting ga nyebelin.

Nah, berdasarkan pengamatan takpayah.com ada beberapa hal yang harus diperhatikan para pegawai Bank, cekidot yuk

1. Mesti Rajin Ngupil
Upsss, jangan underestimate dulu bro. Seorang pegawai bank itu harus rajin ngupil sebagai bentuk kerapihan dan kebersihannya. Apalagi bagian yang ngitungin uang kayak teller dan beberapa pegawai di officenya yang bertugas nyimpen n ngitungin uang. Kamu bayangin aja deh, yang namanya uang itu ga pernah steril krna udah ribuan tangan yang menyentuh. So pasti kuman – kuman itu bertebaran di mana – mana. Nah pas uang dihitung di mesin itu kuman juga ga mau kalah nyangkut di lubang – lubang hidung pegawai bank. Nah klo seorang pegawai bank males ngupil kamu bayangin deh betapa ilfeelnya kita ngeliat hidungnya hiiiyyyy… Tentunya aktivitas ngupil harus memperhatikan keadaan sekitar ya :)

2. Mesti perawatan kulit intensif
Fakta kedua tentang seorang pegawai bank adalah mereka rentan banget terkena penyakit kulit. Wowwww.. Salah satu syarat jadi pegawai bank adalah berpenampilan menarik. Mulai dari berat badan hingga karakternya. Tapi ternyata penampilan yang menarik itu harus dibayar dengan kerentanan penyakit kulit. Yaaa bukan mau nakutin atau gimana tapi ini fakta. Coba deh perhatikan, mereka itu masuk kantor saat matahari lagi malu – malu pengen keluar. Dan ketika mereka pulang, matahari udah ga ada lagi alias udah malem. Hewww kapan ya jadwal ketemu sama matahari? Kerjaannya seharian di kantor, apalagi bagian office, teller dan customer service. Padahal matahari, terutama pagi hari bagus banget buat kesehatan. Ditambah lagi nih ruangan kerja yang full AC bikin kulit jadi kering dan kadang menjadi berkerut. Yaah mereka mesti ngeluarin biaya tambahan lagi buat perawatan kulit. Fiuhhh…

Sekian ya, mohon maaf klo tulisan ini menyungging para om om dan tante tante yang bekerja sebagai pegawai bank. Hmmm sebenarnya mereka itu pahlawan perbankan. Tanpa mereka ga tau deh gimana masyarakat mau dapetin pinjaman buat usaha atau naik haji :) Keep spirit!!

klik juga nih http://www.takpayah.com/artikel/hal-penting-yang-harus-diperhatikan-oleh-pegawai-bank/

3 Reaksi Orang Saat Bahagia

Pernah dapat kabar gembira yang bikin kamu senang ga? Kalo hidup kamu suram lebih baik berhenti baca artikel ini dan cari bacaan lain yang cocok buat melengkapi kesuraman hidup kamu itu. Hahaha…

Nah siapa pun pasti pernah senang lah, yang namanya senang itu ga kenal usia, tua muda apalagi anak – anak. Bayi aja senang terus meskipun dia nangis. Di saat kamu senang harusnya ada hal – hal yang kamu lakukan untuk mengekspresikan kesenangan kamu itu. Liat aja para striker yang berhasil mencetak gol, Mereka punya cara – cara sendiri buat memperlihatkan kepada orang lain bahwa mereka tuh lagi seneng. Ada yang teriak – teriak keliling lapangan, sujud sampe manjatin pagar pembatas.

Nah, yang namanya senang itu harus dibagi biar orang lain ngerasain energi positif dari kita. Biar dunia lebih ceria, ga lucu dong semua orang harus sedih gara – gara kamu. Hewww. Berikut beberapa reaksi orang kalo lagi bahagia :

1. Kabari Orang Terdekat
Hal pertama yang kamu mesti lakuin saat dapat kabar gembira dan itu bikin kamu seneng adalah memberitahukan kabar tersebut ke orang – orang terdekat. Orang tua, temen dekat, ketua kelas, kepala sekolah, rektor sampe ketua erte. Mengabari itu penting karena dengan begitu mereka akan ngerasa dihargain.

2. Update Status
Naah berhubung kita hidup di  dunia yang udah serba sosmed, kabar gembira itu layak untuk kamu publikasikan jadi status keren di akun sosmed. Sesekali hiasi gitu status di akun sosmed kamu dengan berita – berita seru yang bikin orang lain tersenyum dan berkata selamat padamu. Kurangin deh nulis status galau dan sedih – sedihan.

3. Bersyukur
Wajib niiiih, sebagai anak muda selain gaul juga mesti bisa bersyukur. Meski semau gue tapi kita juga harus kenal sama Maha Pencipta. Bersyukur ini juga wujud rasa senang kamu loh karena udah dikasih kabar gembira yang bikin kamu senang sepanjang hari sambil nyanyi tralala tralili ala Agnes Monica. Bersyukur itu juga bikin kabar yang ga baik jadi baik dan dunia ga jadi sempit. Makanya orang yang selalu bersyukur ga pernah sedih. Loh kok jadi ceramah ya xixixii

So, setelah kamu baca artikel ini jangan lupa lakuin tiga hal di atas ya kalo kamu lagi seneng. Berbagilah kesenangan dengan orang lain karena bisa jadi energi positif itu akan ngalir ke yang lainnya. Tapi senengnya jangan lebay sampe bikin orang kesel :p

Sampe ketemu di artikel takpayah.com berikutnya

klik sini juga yah http://www.takpayah.com/artikel/3-reaksi-orang-saat-bahagia/

Monday, 18 November 2013

Agus Syafriadi dalam Kenangan

Tulisan di foto profil FB nya yang terakhir :
ILMU itu dimiliki dengan LIDAH yang banyak bertanya dan AKAL yang gemar berpikir (Abdullah ibnu Abbas)

Namanya Agus Syafriadi, kelahiran 15 Agustus 1992, angkatan 51 SMANSA yang kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Riau. Aku belum pernah bertemu dengannya, hanya mendengar ceritanya dari salah satu anak mentoring yang kebetulan merekomendasikan untuk kudekati. 

Awalnya niatku hanya ingin tahu dan mencoba menggiringnya untuk masuk dalam lingkaran dakwah di UR. Subhanallah, anak ini telah menemukan sendiri jalan itu tentu melalui tangan - tangan Allah yang memang sudah siap merangkulnya dan menjadikannya bagian dari dakwah. 

Beberapa kali chatting di facebook kusampaikan kalau nanti dia pulang ke Tanjungpinang bolehlah sekali - kali untuk kopdar. Tentu barengan sama anak mentoring yang lainnya. Lama tak chatting kudengar dia ternyata sudah masuk dalam lingkaran dakwah di kampus bahkan jadi aktivis di sana. Alhamdulillah... Semakin ingin bertemu dengan anak ini. 

Dan 17 November 2013 saat pagi itu kubaca timeline di twiiter ada sebuah kabar duka tentang kematiannya. Tak percaya begitu saja langsung kucek ke facebook dan kubaca ucapan - ucapan belasungkawa dari teman - temannya. Innalillahi wa inna ilaihirojiuun... Jiwa itu telah kembali pada Rabbnya. 

Entah mengapa meski kami tak pernah bertemu dan sangat jarang berkomunikasi tapi air mata ternyata tak bisa diajak kompromi. Pagi itu mengalir terus sampai saat aku pergi ke rumah duka. Ah, ternyata dia tinggal di daerah yang selama ini selalu kulewati. 

Ini adalah pertemuan pertama dan terakhir, meski aku tak sempat melihat wajahnya. Biasanya aku berjumpa dengan teman - teman dari dunia maya dalam acara - acara di luar kota dan sebagainya. Namun kali ini berbeda. Aku menemuinya di hari kematiannya di tempat peristirahatannya yang terakhir T.T

Selamat jalan Agus Syafriadi, meski hari ini kita tak bertemu di dunia, tapi semoga nanti kita bertemu di surga Allah bersama teman - teman lainnya. 

Thursday, 29 August 2013

Orientation Period


Some people asked me about the things they had to bring for the orientation time in university. What a very important thing for them. Nevermind, I had been on their position long ago. Become uneasy when we had not find one or two things. Sometimes it just a simple thing like noodle or eggs and so on.

This is what I wanna say to the new students this year. Don’t be afraid! Tomorrow, when you don’t bring what your seniors ask, they will not give you death punishment. They only ask you to run around the field or stand up in front of the others. Don’t be afraid. Take the positive.

Running will sweat you, that makes you healthy. Stand up in front of other students just make you more popular than the others. Isn’t it fun??? Being popular is so lucky!!

So, what are you afraid of?? *fear the God

Thursday, 27 September 2012

Bukan Berarti Aku Menyerah

Saya cukup tersentak ketika membaca status salah seorang teman di facebook tentang sebuah pemahaman agama. Tidak salah bagi saya apa yang ia pahami saat itu. Hanya saja barangkali pernyataan itu sedang ditujukan pada orang - orang yang selama ini 'mungkin' terkesan menyalahkan dirinya.

Tidak yakin juga apakah saya termasuk di dalam pernyataannya itu. Memang beberapa kali saya men-tag beberapa catatan atau pun foto tentang jilbab hingga pacaran. Maksud saya semoga ada sebuah pemahaman baru baginya. Terus terang bagi saya dia adalah anak yang luar biasa cerdas dengan prilaku yang baik pula. Lahir dari keluarga terhormat dan dianugerahi fisik yang baik serta saudara - saudara yang tak kalah hebatnya.

Dari apa yang ia nyatakan, saya kembali introspeksi diri. Mungkin apa yang ia katakan benar juga. Saya terlalu sibuk mengurusi orang lain sehingga lupa bahwa belum tentu saya lebih baik dari mereka. Saya lupa bahwa bisa jadi di mata Allah mereka punya nilai plus daripada saya yang masih saja berkutat pada maksiat.

Allah....

Apa yang harus saya lakukan? Kadang ketika menasihati orang lain atau ada seseorang yang minta untuk dinasihati, saya merasa bersalah. Saya masih berlumur maksiat tapi sudah berani menjadi 'sok suci' di depan orang lain yang saya tak pernah tahu apakah kadarnya lebih dari saya.

Untuk pernyataan teman di facebook itu, saya punya seribu argumentasi untuk membalikkannya. Saya yakin itu. Jika ada pembelaan darinya saya yakin akan ada argumen lain yang bisa mematahkannya.

Tapi saya pikir saya tak akan melakukanya

Sia - sia. Tak perlu saya buang waktu untuk berargumentasi dengan seseorang yang sudah memiliki pemahamannya sendiri tentang hakikat beragama. Tentang cukupnya beragama hanya dengan jilbab dan shalat. Tentang concernnya ia pada siapa yang menyampaikan, tapi tidak menelaah apa yang disampaikan.

Apa saya terkesan sedang melarikan diri dan menyerah pada teman saya itu? Tentu saja tidak.
Saya sedang mencoba membuat prioritas. Mana yang harus saya jadikan perhatian utama, mana yang menengah dan mana yang harus saya abaikan

Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia, demikian Sang Imam Hasan Al Banna berpesan
Wahai imam, semoga saya tak salah memilih langkah. Ya Rasul, semoga ini tak menyimpang dari caramu.
Allah, pilihkan jalan yang baik....

Untuk temanku, hanya satu yang tertinggal
QS. Al An'am : 125

#menapaki jalan berduri sembari berusaha untuk istiqomah



Tuesday, 3 July 2012

Power Ranger

Power ranger itu fenomenal, lebih hebat dari Ksatria Baja Hitam, Ultraman, Superman, apalagi Spiderman yang berjuang sendirian. Power ranger, dalam banyak versi terdiri dari 3 orang laki - laki dan 2 perempuan. Masing - masing mereka punya kostum dengan warna yang berbeda.Hitam, merah, biru, kuning dan merah jambu. Kadang ada putih, tapi dia lebih sering jadi penyelamat kalo kelima ranger udah KO

Gambaran kami sekarang ya begitu.

Tinggal power ranger yang mencoba menyelesaikan tugas - tugas jelang acara puncak nanti. Hmm tidak masalah, meskipun hanya berlima, tapi kesolidannya tidak diragukan (hahahaha agak lebay memang).

Dengan sisa tenaga yang harusnya bukanlah tenaga sisa sedikit demi sedikit membenahi kerja yang belum terselesaikan oleh pihak yang seharusnya menyelesaikan.

Thursday, 29 December 2011

Kesabaran Menanti Jodoh

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang perempuan yang sudah saya kenal sejak lama. Ketika itu saya masih duduk di bangku SMP, tidak berjilbab, masih polos dengan hal – hal yang berbau dunia luar, selalu diantar ayah dengan angkot mata pencaharian kami. Rambut masih berkepang dua, karena peraturan sekolah menghendaki murid – muridnya senantiasa rapid an tampak seragam.

Dan di sana lah saya bertemu dengan wanita itu. Wanita yang mengenakan jilbab amat besar menurut saya ketika itu, sama sekali tidak cantik dalam pandangan saya, malah terlihat kuno sekali. Maklum, bacaan saya ketika itu majalah Aneka Yes! yang jadi tren remaja tanggung di kala itu.

Pertama kali bertatap muka, saya hanya berani memandang sekilas dan terkesan tidak berniat untuk mengobrol. Lama kelamaan, obrolan kami menjadi sedikit banyak karena hampir tiap pagi wanita itu naik angkot ayah saya dengan tujuan yang sama pula.

Saya tak akan pernah lupa dengan majalah Annida yang ia pinjam kan kepada saya suatu hari di pertemuan kami yang ke sekian kalinya. Majalah itu seperti jembatan antara saya dan dia. Sebenarnya, sebelum ia meminjamkan majalah itu, saya sudah pernah membacanya di tempat saya mengaji. Guru ngaji saya yang gemar sekali membaca itu menyodorkannya ke saya beberapa kali. Kemudian saya memutuskan untuk terus membaca dan berlangganan.

Lumayanlah untuk kocek anak SMP, majalah itu teramat murah untuk ilmu luar biasa yang disajikannya tiap edisi.
Baiklahl, saya bukannya ingin menceirtakan tentang majalah itu, tapi yang ingin saya bagikan di sini ialah tentang wanita tersebut.

Sebelum melanjutkan ke cerita inti, sekedar pemberitahuan, saya sudah meminta izin kepada wanita itu untuk menuliskan kisahnya. Semoga bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang membacanya.

Seiring berjalannya waktu, belakangan saya ketahui, bahwa wanita tersebut terlibat dalam aktivitas yang sama yang sedang saya geluti. Kami kemudian sering bertemu dalam kegiatan kajian keislaman di kota yang sama, kadang mengadakan baksos di tempat yang sama juga beberapa tempat lainnya. Setiap bertemu ia masih dalam status yang sama, single alias belum menikah.

Awalnya saya mengira wanita itu sudah menggenapkan setengah diennya ketika kami bertemu pertama kali di angkot ayah saya. Jika dihitung – hitung sejak pertemuan pertama, sudah hampir 7 tahun yang lalu (sekarang 2011). Rupanya hingga kini ia masih belum menikah. Saya tak berani menanyakan umur wanita itu karena takut menyinggung perasaannya. Saya hanya mengira – ngira, jika ia sudah menikah, tentulah anaknya sudah duduk di bangku SMP. Tapi biarlah pikir saya ketika itu.

Dan Allah mempertemukan saya kembali dengannya beberapa waktu yang lalu. Kali ini dengan status yang berbeda. MENIKAH. Sungguh kejutan luar biasa yang saya dapatkan saat ia memberitahukan hal tersebut. Aura wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang tak dapat saya lukiskan dalam kata – kata sederhana ini. Namun yang pasti adalah, wajah penuh rasa syukur dan berserah diri itu selalu tergambar pada wanita itu.

Ia berkata pada saya bahwa ini pernikahannya kali ini sungguh membuatnya merasa sangat bersyukur. Allah telah memberikannya seorang pendamping hidup yang baik baginya. Pendamping hidup yang dianugerahi oleh Allah itu sangat mengerti akan dirinya, sangat sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Hidupnya merasa sudah terlengkapi kala pernikahan itu dilaksanakan. Alhamdulillah……

Penantian wanita tersebut selama puluhan tahun bagi saya bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk seorang perempuan. Dalam hati saya memuji keteguhan dan kesabaran yang wanita itu menanti jodoh yang telah ditetapkan Allah baginya. Doa – doa panjangnya selama tahun – tahun penantian itu terjawab sudah. Siapa yang menyangka di usia yang sudah senja, Allah memberinya seorang lelaki gagah yang menerimanya apa adanya.

Janji Allah itu selalu benar. Allah senantiasa mengabulkan doa hambaNya yang selalu berdoa padaNya. Dia telah menciptakan manusia berpasang – pasangan. Semua hanya masalah waktu. Tentang kapan janji itu akan ditunaikan. Bersabarkah manusia tersebut dalam menunggu tertunainya janji Rabbnya yang dicintainya. Hanya masalah waktu.
Selamat untuk ibuk atas pernikahannya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta senantiasa menjadi teladan bagi rumah tangga yang lain.

*tribute to Ibuk yang telah bersabar dalam penantian panjang menjemput jodoh

Thursday, 8 December 2011

Sebuah Nasihat

Adik adikku dan kakakku sayang…..

Sebuah nasihat untuk diriku dan dirimu…..

Suatu hari seseorang menceritakan perkara cintanya pada saya.

“Dia bilang dia mencintai saya kak”

Aku tersenyum sejenak

“Benarkah? Melalui apa ia ungkapkan hal tersebut?”

“Mmmm…. Sms kak”

“Tinggalkan orang yang menyampaikan perasaannya padamu tanpa engkau melihat matanya”

Di hari lain ada lagi yang bercerita dengan sedikit variasi

“Dia ngajak saya nikah kak”

“Benarkah? Kapan keluarga kalian akan bertemu?”

“Dia minta saya menunggu dua tahun lagi hingga kami menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang mapan”

“Tidak ada yang bisa menjamin perasaan seorang laki – laki pada seorang perempuan masih sama, meskipun sedetik”

Malam itu datang lagi curhatan baru

“Kak, dia serius untuk menikahi saya. Saya sudah berbicara dengan ibunya lewat telpon”

“Oh ya? Apakah ia sudah bertemu dengan ayahmu?”

“Mmm belum kak, dia menunggu waktu yang tepat”

“Tinggalkan ia. Jangan mempercayai laki – laki yang tidak berani menemui ayahmu”

Cerita di lain hari

“Kami pacaran sudah beberapa tahun kak”

Hanya tersenyum, sambil terus mendengarkan ceritanya

“Dia orangnya perhatian, romantis, penyayang sekali. Saya sudah bertemu dengan keluarganya. Keluarga saya pun sudah tahu dengan dia”

“Semoga dia adalah orang yang ditakdirkan Allah untukmu”, kataku masih tetap karena tak dapat berkata banyak. Tak ada nasihat lagi yang keluar kecuali doa semoga hubungan itu berujung di pelaminan. Namun, ada satu hal yang tersisa di benak saya, apakah pernikahan mereka akan diberkahi oleh Allah, Sang Pemilik Hati?

Tidak mudah membuat hati tetap mengarah pada Sang Pemilik yang lebih berhak.

Meski sempat tergelincir beberapa kali untunglah tidak sampai jatuh ke jurang.

Setiap kali ingin memberi nasihat, mendadak lisan berhenti karena mengingat respon kompakan yang selalu didapat, “Gak usah ngomong deeeh klo belum permah ngalamin”

Hahahaha…. Ketawa aja deh

Atau berkata dalam hati

“Terserah eloch” Hiiihihihiiii……

Siapa pula yang tidak pernah merasakan getar – getar cinta terhadap seseorang. Hanya saja mungkin cara saya dengan mereka sedikit berbeda. Semoga menggapai bahagia J


#beginilah mereka mengajarkan saya

Thursday, 27 October 2011

Tentang Mereka yang Menangis di Tengah Jalan

Satu lagi makna perjuangan yang saya dapatkan beberapa hari belakangan ini.

Menjelang agenda perekrutan yang entah ke berapa kalinya yang dilakukan wajihah ini, maka saya memastikan diri untuk terus terlibat di dalamnya. Mumpung masih berstatus mahasiswa, punya waktu kosong yang amat banyak, fasilitas pendukung, dan cukup terkenal di kampus untuk beberapa waktu ini yang pastinya dijadikan modal utama untuk terus menarik mereka dalam pusaran kebenaran. Hahaha……

Mendadak dan mendesak sudah menjadi slogan tersendiri bagi kami. Padahal seharusnya hal ini tidak boleh ada. Actually, semua hal sudah dipersiapkan dengan sangat konsep yang amat matang. Menurut saya, sesuatu dikatakan menjadi dadakan dan kemudian mendesak disebabkan oleh bergantinya petugas.

Tidak bermaksud mengesampingkan urgensi regenerasi dalam roda organisasi, mungkin inilah salah satu kelemahan ketika regenerasi itu dilakukan. Namun proses ini akan terus dilalui karena jika tidak, maka tidak akan ada anggota yang belajar untuk mengerjakan hal baru dan mencoba beradaptasi dengan hal – hal baru itu.

Sedikit bercerita tentang perjuangan teman – teman ketika mempersiapkan suatu kegiatan. Tentu saja insya Allah ini adalah kisah nyata yang telah digariskan Allah dalam kehidupan fana ini J Dan yang pastinya saya berada di sana, ikut menyaksikan apa yang telah mereka perbuat. Setidaknya mendapatkan cerita ini langsung dari orang yang bersangkutan. Semoga Allah balas dengan kebaikan dan berkenan untuk bertemu dengan mereka di hari akhir kelak.
Amiiiin……

Tak jarang saat mempersiapkan kegiatan yang akan diadakan beberapa hari lagi, ketegangan semakin meninggi. Emosi bisa saja pecah saat itu tanpa peduli memandang di mana dan kapan hal itu terjadi.

Pagi sebelum acara, ketika dia sedang menyetrika bajunya datanglah pesan singkat beruntun yang juga diiringi dengan panggilan ke handphonenya. Mengabarkan bahwa tak bisa hadir di acara pagi ini karena berbagai alasan. Sakit, orang tua tak memberi izin, harus bikin tugas kuliah, ada kerja kelompok, banyak pekerjaan rumah menumpuk, baju belum dicuci, rumah belum dibersihkan dan berbagai macam alasan lainnya. Manusiawi lah menurut saya. Tapi tidak untuk sang penerima alasan.

Seketika itu juga air matanya entah bagaimana langsung jatuh dan ia menangis sejadi – jadinya di pagi itu beberapa jam sebelum kegiatan dimulai. Tiba – tiba saja ia merasa sendirian dan merasa ditinggalkan, diabaikan dan merasakan bahwa tak seorang pun peduli pada kegiatan hari ini. Hanya dia. Mungkin air mata itu merupakan sebuah tanda kemarahannya yang mendalam sehingga tak ada lagi kata – kata kasar yang bisa ia keluarkan kecuali aliran air yang menganak di pelupuk mata.

Semoga tiap tetes air matamu diganjar Allah di jannah-Nya kelak, kawan

Ketika merasa bekerja sendiri dan ditinggalkan begitu saja, air mata tak kan mampun dibendung. Pernah saya harus mendengarkan curhatan seorang akhwat waktu mengantarnya pulang di malam hari. Di perjalanan, tiba – tiba saja ia menangis tersedu – sedu mengingat betapa sulitnya ia menahan perasaan di rumah. Sikap orang tua yang tak mendukung sepenuhnya membuat akhwat itu harus ‘makan hati’ setiap minta izin untuk sekedar nginap atau pergi ke pulau seberang demi mengikuti sebuah pelatihan dengan biayanya sendiri.

Itu lah semangat. Istiqomah. Allah masih mentakdirkan ia bertahan di jalan ini. Entah sampai kapan ia akan bertahan, yang saya tahu, perlahan orang tuanya mulai menunjukkan isyarat bahwa mereka merestui apa yang dilakukan putrinya di luar kegiatan perkuliahan. Suatu waktu saya dibuat menganga ketika menemaninya di markas hanya untuk mencetak file – file yang berkaitan dengan kegiatan. Pasalnya, yang setia menungguinya saat itu ialah orang tuanya!!

Sedih saya melihat wajah kuyu itu terduduk lesu di depan pintu markas kami, karena tak ingin mengganggu anaknya bekerja. Pastinya itu adalah wajah penuh kepenatan setelah seharian penuh berkeringat mencari nafkah bagi keluarga. Saya tahu ia berasal dari keluarga yang sederhana dan masing – masing anggota keluarga berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Sebuah keluarga yang dipenuhi pekerja keras. Subhanallah……

Semoga Allah beri keberkahan dunia dan akhirat pada mereka.

Di lain hari, saya menyaksikan betapa layu dan sayunya mata seorang teman saya. Begitu saya tanya, ia menjawab bahwa semalaman ia harus mencetak sekian banyak kertas untuk memudahkan kepanitiaan esok harinya.

Cerita cukup menegangkan juga sampai ke telinga saya. Di mana saat para ikhwan ditugaskan untuk memasang bendera pada malam hari, beberapa di antaranya hampir saja tertangkap oleh polisi yang sedang patroli malam itu.

Mungkin mereka salah karena berada di tempat yang salah di waktu yang salah pula. Namun Allah masih menyayangi mereka dan memberikan jalan keluar yang tak terbayangkan oleh para ikhwan itu sebelumnya.

Salah satu dari mereka terselamatkan ketika tangkapan yang lain berulah dan berusaha melarikan diri. Kunci motor yang sudah berada di tangan polisi tak membuat ikhwan ini kehabisan akal. Berbekal gunting kecil yang senantiasa nangkring di tas, mesin motor bisa dihidupkan. Setelah itu yang ia tahu hanyalah berdoa pada ilahi Rabbi sembari memegang erat stang motor sekaligus melaju dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran polisi.

Semoga Allah senantiasa memberikan jalan keluar dan mereka lebih bersungguh – sungguh

Dakwah adalah cinta dan ia akan menuntut segalanya darimu. Demikian yang saya kutip dari beberapa teman dengan status fb yang sama.

Wahai teman, sesungguhnya Abu Bakar ra pernah merasa hampir putus asa dalam perjalanan hijrahnya bersama Rasulullah ke Madinah. Lalu apa yang dikatakan Rasul SAW?

“La tahzan, innallaha ma’ana. Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Dalam Al Ankabuut Allah telah menjanjikan bahwasanya siapa yang bersungguh – sungguh maka ia akan diberikan jalan keluar. So  gak perlu merasa rugi ketika banyak hal yang dikorbankan, bahkan mungkin jika itu adalah perasaan kita sendiri (cewek.com).

Maka, jangan pernah lagi kita merasa sendiri atau pun ditinggalkan. Jika itu memang terjadi, maka yakinlah bahwa Allah masih menemani kita dalam perjalanan ini. Dia tak akan berlepas tangan, duhai saudaraku, dan ia tak akan pernah meninggalkan kita.

# tribute to all my friends, this struggle hasn’t ended. Keep fight on it!!!!

* Seseorang pernah mengajarkan kami untuk senantiasa meminta, " Ya Allah rezekikanlah kepada kami keikhlasan dalam setiap perkataan dan perbuatan kami"

Monday, 8 August 2011

Memaknai dan Menjaga Keikhlasan

“Seorang yang melakukan perbuatan, tetapi didasari untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang bukan berdasarkan pada Allah. Juga termasuk Ikhlas! Tetapi, keikhlasan itu hanya pada sesuatu yang diinginkannya saja. Dan dia tidak mendapatkan pahala ikhlas yang diberikan oleh Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, diriwayatkan oleh Ahmad. “Sebaik-baik usaha adalah usaha tangan seorang pekerja apabila ia mengerjakannya dengan tulus.”

Jadi semua itu, mempunyai nilai keikhlasan sendirisendiri.
Jika seseorang meniatkan dirinya untuk Allah, maka Allah lah yang akan
menjadi tujuannya. Dan pahala yang akan didapatkannya. Sedangkan, jika seorang
meniatkan untuk hal-hal yang lain. Selain Allah. Maka, hanya hal itu saja yang akan
didapatkannya!” jelasku.

“Lalu, cara untuk ikhlas atau menjaga ikhlas dalam dakwah bagaimana Mbak?
Kadang, ana sangat ikhlas sekali untuk mengadakan kegiatan. Tetapi, saat kegiatan itu
tidak sesuai dengan harapan. Keihlasan ana menjadi pupus!” tanya Maya.

“Iya, kadang kita benar-benar sangat bersemangat dalam beradakwah. Dan kadang
kala kita menjadi luntur atau futur. Saat-saat apa yang kita harapkan tidak tercapai.
Atau kita bosan dengan kegiatan tersebut! Mungkin, kita perlu merefiu kembali jalan
dakwah yang kita lakukan. Saat kita melakukan sebuah kegiatan. Dengan harapan,
bahwa kegiatan itu akan mencapai target yang ingin kita capai.

Tetapi sayang,beberapa teman-teman kita banyak yang tidak datang dalam kegiatan tersebut.
Biasanya membuat kita menjadi pesimis dengan berlangsungnya kegiatan dengan
bagus! Atau panitia kegiatan banyak yang datang terlambat. Itu juga, salah satu yang
membuat keikhlasan menjadi luntur!

Pernah ada seorang akhwat, melakukan kegiatan yang sudah sangat dirancang
dengan matang. Lalu, pada saat pelaksanaan kegiatan. Banyak akhwat-akhwat panitia
yang terlambat hadir atau bahkan tidak hadir. Akhwat ini bingung. Peserta sudah
sangat membludak. Tetapi, panitia banyak yang tidak hadir. Akhirnya akhwat ini
menelephon seorang akhwat yang belum hadir.

Sebuah percakapan terjadi :

Akhwat A       : Ukhti, anti dimana? Peserta sudah banyak. Anti tolong
   kemari dong!
Akhwat B       : Afwan ana tidak bisa hadir. Ana ada keperluaan! Semoga anti dan teman-teman  bisa mengatasi sendiri. (Ucapnya dengan enteng, tidak ada penyesalan sama sekali)
Akhwat A       : Anti kok nggak bilang saat syuro’. Kalau seperti ini kan kasihan Al Ukh yang  lain. (Ucapnya, sedikit agak emosi)
Akhwat B       : Iya, Afwan. Ana hari ini ada teman yang lagi main kerumah. Jadi nggak bisa ninggal! Semoga anti tetap niat ikhlas anti tidak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah)
Akhwat A       : Masya Allah, Ukh! Anti kan bisa ajak teman anti disini! (Ucapnya agak tegas, dengan nada yang meninggi. Sedikit terlihat emosi)
Akhwat B       : Afwan, nggak enak. Nanti ganggu anti dan teman - teman. Lebih baik, anti dan teman-teman tetap istiqomah dijalan dakwah. Dan tetap, semoga niat anti nggak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah. Seperti ingin menasehati)
Akhwat A       : TAHU APA ANTI TENTANG ISTIQOMAH DAN IKHLAS. (Ucapnya dengan keras. Setelah itu menutup telephon)

Baik. Sekarang siapa yang salah” ucapku. Sambil melihat satu persatu Al Ukh, Halaqoh Cyber Liqo’.

Mereka terlihat bingung. Sesekali ada yang mengatakan salah satu yang salah. Tetapi ada juga, yang menyalahkan kedua akhwat itu. Dengan alasan, akhwat satu yang menelphon tidak mempunyai kesabaran untuk menghadapi Akhwat yang ditelephon. Lalu akhwat yang ditelephon, tidak mempunyai rasa persaudaraan yang kuat kepada akhwat yang lainnya. Tetapi, lebih banyak yang diam. Tidak berkomentar, atau menungguku untuk lebih dalam menjelaskan persoalan ini.

“Iya! Dalam kasus tadi. Kita dapat mengambil sebuah ibroh atau hikmahnya.

Memang, niat ikhlas itu sangat diharapkan untuk tidak keluar dari dalam niat kita. Tetapi, ada penyebab yang membuat niat ikhlas itu keluar. Yaitu, dengan cobaan seperti apa yang terjadi dalam kasus tadi! Seorang, yang sudah ikhlas dalam hatinya.

Akhirnya ternodai oleh saudaranya sendiri!
Ikhlas, bukan berarti tidak butuh bantuan.
Ikhlas, bukan berarti bertindak sendirian.

Dan  seharusnya, untuk menjaga keikhlasan sesama saudara.
Maka saudara yang lainnya, pun harus ikut menjaga niat keikhlasan dalam perjuangan saudaranya.
Bukan malah, membiarkan saudaranya berjuang sendiri. Lalu dengan seenaknya, saudara yang lainnya mengatakan tentang keikhlasan.

Keikhlasan tentang saudara yang lainnya. Ini berarti, menjadikan tumbal saudara kita sendiri!”
Aku sedikit menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. “Maka, untuk menjaga niat ikhlas kita. Seharusnya, sikap kita adalah tidak mementingkan hasil dari apa yang kita kerjakan.

Cukuplah usaha yang kita jalankan, sesuai dengan apa yang memang seharusnya. Tidak usah begitu mengharapkan hasil yang sempurna. Tetapi, tetap ada hasilnya! Dan cukuplah Allah, yang memberikan hasil dari kita. Cukuplah kita, berikhtiar dengan usaha yang kita lakukan.”

#copas dari E-Book Aku Menggugat Ikhwan dan Akhwat karya Fajar Agustanto

Thursday, 4 August 2011

Batam dan Antar Pulau

Pelabuhan Sri Bintan Pura yang ada di Tanjungpinang sudah mengalami perombakan dan kini kami sebagai masyarakat bisa menikmati fasilitas yang ada. Meskipun menurut saya tidak banyak yang bisa kami nikmati selain ruang tunggu yang lebih bersih dari sebelumnya di mana ketika saya memasukinya saya teringat pada bandara Raja Haji Fisabilillah. Dan untuk fasilitas tersebut penumpang dikenakan pas masuk Rp. 5.000/orang dan Rp. 3.000 bagi yang mengantarkan.

Hari itu saya mengantar kak Pura pulang ke Tanjung Batu, Karimun. Pertama kalinya saya memasuki ruang tunggu tersebut setelah ianya direnovasi. Di persimpangan, kami agak bingung karena ada dua pintu masuk. Namun kebingungan itu segera teratasi dengan adanya papan petunjuk jalan.

Panah yang satu menunjukkan "Batam" sementara yang satunya lagi untuk "Antar Pulau". Sontak kak Pura protes, "Emang apa bedanya? Bukannya Batam juga pulau??"
Hahahaha saya hanya bisa tertawa geli. Benar juga, kenapa harus dipisahkan seperti itu. Jika redaksinya Antar Pulau, sudah barang tentu Batam termasuk di dalamnya.Ada - ada aja orang pelabuhan ini.

Mengetahui hal ini saya hanya bisa menjadikannya lelucon jelang keberangkatan kak Pura.

Tuesday, 2 August 2011

Ketika Dihadapkan dengan Realita KAMMI dan Gerakan Mahasiswa

Baru – baru ini saya baca tulisannya Ahmad Rizky Mardhatillah Umar lagi di catatan fb nya. Orang yang saya kenal tahun 2007 lalu saat sama – sama jadi finalis Olimpiade Ilmu Sosial dari Universitas Indonesia ini benar – benar bikin saya geleng kepala. Sudah sepantasnya panitia memberikan piala super gede itu saat dia terpilih sebagai peserta terbaik OIS 2007, walaupun sekolahnya tak masuk dalam tiga besar finalis ( pemenangnya di pegang oleh Insan Cendikia, katanya sekolah Pak Habibie, . Mengalahkan teman – teman lainnya dari seluruh nusantara. 

Dalam tulisannya, Umar ( begitu dia dipanggil – saya sih taunya dari fb aja, kan gak pernah ketemu lagi sejak itu heee ) benar – benar mengkritisi arah gerak KAMMI ditinjau dari segi sejarah KAMMI dari 1998 hingga saat ini. Era reformasi hari ini menuntut mahasiswa bergerak menuju penguasa, bukan lagi rakyat yang seharusnya menjadi objek utama perjuangan mahasiswa.

Baca Buku Nikah

Menyambung tulisan awal sebelum tulisan ini ditulis. Masih terinspirasi dari tulisan Kak Ira Marby dengan judul Before You Marry?

Poin terakhir ialah mengenai buku – buku yang direkomendasikan oleh beliau, lengkap dengan nama pengarangnya ( ni orang bener – bener niat punya buku yang berhubungan dengan rumah tangga ). 

Tak Patut Ditulis sih Sebenarnya #iseng.com

Mengawali tulisan ini saya punya dilema cukup besar. Haduuh…

Hmmmm agak lebai jadinya mau bikin tulisan sederhana yang isinya curhatan lagi. 

Sebelum menulis ini terlebih dahulu saya baru aja membaca tulisan Kak Ira Marby dengan judul Before You Marry. Ceritanya nih, saya gak bakalan baca tulisan ini kalo gak di tag di facebook via comment. Soalnya blognya cukup lama gak update jadi jarang berkunjung ke sana lagi hehehe maaf ya kak. 

Dari tulisan itu, timbullah satu tekad yang harus saya laksanakan setelah lebaran dan semua teman kembali ke pos nya masing – masing hehehe… Maksudnya tuh, sekarang mereka sedang berada di kampong halamannya. Kloter terakhir udah berangkat hari Minggu lalu (31/7) dengan menggunakan kapal antar pulau.

Selama saya ikut kajian mingguan, belum pernah rasanya kami membicarakan hal – hal yang berhubungan dengan pernikahan. Apa itu pernikahan, seperti apa pernikahan, gimana bisa nikah, caranya gimana, prosesnya bagaimana yang baiknya, dan hal – hal lainnya. Dauroh pra nikah pun saya jarang, apakah ada atau tidak ( atau jangan – jangan sebenarnya ada, tapi saya aja yang gak dapat jarkoman, anak kecil sih, pasti mikirnya gitu hhh…… ). 

Friday, 22 July 2011

Semua Terjadi Karena Saya Lalai

Hari sudah malam.

Tak ada yang bisa saya tuliskan untuk berbagi cerita atau pun hanya sekedar meng-update blog sederhana ini. Namun ketika mata ini sudah mulai memberikan tanda untuk menutup dan meminta haknya, tiba – tiba jari – jari ini tergerak untuk bercerita kepada pengunjung blog sebuah keluhan selama berada di Malang dan DKI Jakarta dalam rangka mengikuti kegiatan Jambore Pemuda Indonesia dan Bakti Pemuda Antar Provinsi tahun 2011.

Ketika hari itu saat saya sedang mengikuti pelatihan kepemimpinan di Hotel Bintan Plaza datanglah telpon dari Pak Zamanes yang bekerja di Disdikpora Kota Tanjungpinang. Dalam percakapan singkat tersebut ia menanyakan kesediaan saya untuk menggantikan teman yang lulus seleksi namun tidak jadi berangkat dikarenakan pekerjaannya yang tak bisa ditinggalkan. 

Seperti mendapatkan durian runtuh, hanya butuh waktu beberapa menit sebelum saya mengiyakan dan menyatakan bersedia untuk mengikuti program tersebut. Padahal ketika itu tak terpikirkan sedikit pun tentang kuliah dan berbagai hal lainnya yang harus saya tinggalkan selama hampir 45 hari. 

Allah Maha Tahu dan Maha Mengetahui apa yang saat itu sedang saya alami. Di tengah dahsyatnya kefuturan yang saya rasakan, saya merasa Allah memberikan kesempatan ini, tentunya dengan maksud ( menurut pemikiran saya sendiri ) agar saya bisa mengambil hikmah dari perjalanan yang akan saya lalui nanti.

Tentu!
Tanggal 24 Mei, hari itu lah saya bertemu dengan teman – teman dari kabupaten lainnya di Provinsi Kepri. Tanjungpinang, Batam, Karimun, Natuna, Anambas, dan Bintan. Sayang sekali Lingga tidak mengirimkan utusannya untuk kegiatan ini. 

Awalnya saya berpikir saya bisa kuat di antara teman – teman yang berasal dari lingkungan yang sama sekali berbeda dengan lingkungan saya. Alhamdulillah di antara 40 peserta tersebut masih ada satu akhwat namun sayangnya kami harus berpisah karena kami tidak satu daerah tujuan.

Thursday, 19 May 2011

Terlalu Sedih

S   E   D   I   H

http://www.mp3-codes.com/download/143981-1-litre-of-tears-theme--instrumental-mp3.html

Monday, 16 May 2011

Si Pembuat Jejak

Saya melihat video ini untuk pertama kalinya di Dauroh Quran yang diadakan oleh KAMMI Komisariat Batam tahun lalu di Batam. Tentu saja saat itu ketika itu yang menjadikannya menarik bagi saya pribadi hanyalah backsound Jepang yang diputar.
Namun setelah saya melihat lagi, betapa video ini memberikan inspirasi tersendiri bagi diri saya pribadi dan semoga juga semua teman - teman yang melihatnya.