Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Monday, 10 September 2012

Notulensi Tasqif (FIQIH THAHARAH)

      No comments   

FIQIH THAHARAH
ü  Ridho Allah sebuah kunci untuk membuka pintu surga.
ü  Menjalani kehidupan dengan semulia-mulianya, dengan sebaik-baiknya.
ü  Semua buku fiqih yang ada di Indonesia, selalu dimulai dengan thaharah
ü  Bersuci mencakup dua ruang lingkup : suci jasmani dan suci rohani
ü  At thaharah : mensucikan diri badan pakaian dan tempat dari najis dan hadats
ü  Air adalah sebagian dari kehidupan. Hal pokok dalam bersuci.
ü  Macam – macam air : dibagi menjadi 4 macam :
1.      Air mutlak > air suci lagi mensucikan (secara sifatnya) > boleh dipakai untuk bersuci : air sumur, air salju, air laut, air telaga, air mata air.
2.      Air musta’mar > air yang telah terpakai/digunakan : air sisa wudhu yang telah terpakai, ketika kita mandi. Menurut imam Hambali, boleh dipakai untuk bersuci. Imam syafi’I tidak membolehkan.
3.      Air yang bercampur dengan sesuatu : contoh air teh, air kopi. Secara sifat dia suci, tapi tidah dapat dipakai untuk bersuci. Bagaimana jika ia tercampur dengan kotoran? Imam Syafi’I : jika kurang dari dua kullah (60x60x60 cm), air tersebut tidak suci lagi. Tiga imam yang lain (hanafi, hambali dan maliki), sedikit ataupun banyak jika tidak merubah sifatnya (bau warna dan rasa), maka airnya tetap suci.
4.      Air yang bercampur dengan najis (air najis) > misalnya bercampur dengan kotoran anjing : tidak boleh lagi digunakan untuk bersuci.
ü  Macam – macam thaharah :
1.     Wudhu
Ø  Al Maidah : 6 > dalil wajib thaharah
-          Ayat ini merupakan panggilan untuk orang – orang yang beriman.
-          Basuhlah mukamu, kemudian sapulah tanganmu hingga siku, sapulah kepala, basuhlah kaki hingga mata kaki.
-          Perbedaan arjulakum dan arjulikum. Arjulakum > menghubungkannya dengan kalimat sebelumnya. Fathah : perintah kaki itu dibasuh, bukan disapu. Wafsahu (menyapu) untuk kepala. Arjulikum > kaki boleh disapu, bukan dibasuh. Kedua-duanya sah.
Ø  "Allah tidak akan menerima shalat salah seorang di antara kamu jika kamu sedang berhadats, sampai orang itu berwudhu”
Ø  Orang yang berhadats kecil menghilangkannya dengan berwudhu > ijma’ para ulama
Ø  Wudhu akan mempengaruhi aktivitas ibadah yang kita lakukan.
Ø  Rukun wudhu ada 6, Al Maidah ayat 6
-          Niat
-          Membasuh muka, batasannya dari tempat tumbuh rambut di dahi sampe dagu. Dari batas telinga kanan sampe batas telinga kiri.
-          Membasuh tangan hingga siku, jika berlebih boleh karena di hari akhir anggota itu akan bersinar.
-          Menyapu kepala > banyak perbedaan > ada yang keseluruhan ada yang setengah ada yang sedikit >> semuanya benar. Imam syafi’I : kalo mengena tiga helai rambut saja, maka itu sah.
-          Menyapu kaki sampai ke mata kaki, berlebih lebih baik.
-          Tertib.
Ø  Mencuci tangan, kumur – kumur, memasukkan air ke dalam hidung, membasuh telinga, berdoa setelah wudhu hukumnya sunnah.
Ø  Shalat dua rakaat setelah wudhu. Bilal bin Rabah selalu mengerjakan shalat dua rakaat setelah berwudhu, sehingga Rasulullah mendengar terompah bilal lebih dulu di surge.
Ø  Niat adalah amalan qolbi, amalah hati, tidak perlu dilafadzkan.
Ø  Hal yang membatalkan wudhu :
-          Keluar salah satu dari lubang dubur (BAB, pipis, kentut).
-          Na’um amid : tidur yang nyenyaaak sekali. Ada juga yang berpendapat, a. jika tidurnya duduk, ada ulama yang berpendapat wudhunya tidak batal, kalo berbaring baru batal total. Tidur duduk dan tidur berbaring >> tidurnya berbaring, dalam posisinya seperti itu ia membuka rongga2 pintu – pintu, bisa jadi dia buang angina tau cairan. Tapi dalam posisi duduk, rongga pintu tersebut terjepit sehingga tidak mengeluarkan apa pun. Dianjurkan jika tertidur, baik duduk atau baring, memperbaharui wudhu.
-          Memegang kemaluan dengan tidak memakai alas, baik milik sendiri maupun orang lain (anak-anak)
-          Keluar darah (bukan dalam bentuk luka).
Ø  Bagaimana jika bersentuhan antara laki – laki dan perempuan. Ada yang tidak membatalkan > contoh saat haji. Imam syafi’I > bernafsu atau tidak jika tanpa alas, wudhunya batal. Imam yang lain > jika tidak batal jika tidak bernafsu
Ø  Bagaimana dengan suami istri? Aisyah berkata : Rasul mencium istri-istrinya sebelum ke mesjid, dan beliau tidak memperharui wudhunya. Rasul pernah shalat tahajud, kemudian tempat sujudnya dihalangi oleh kaki Aisyah, kemudian beliau memindahkan kaki Aisyah >> tidak membatalkan
2.     Mandi wajib
Bagaimana jika setelah mandi wajib, apa harus wudhu lagi atau boleh langsung shalat? Kaidah ushul fiqih > hal yang besar dapat menghapus/mengganti posisi yang kecil artinya dengan mandi wajib otomatis kita sudah menghilangkan hadats kecil. Tapi jika ingin wudhu lagi itu lebih baik.
3.     Tayammum (pengganti wudhu/mandi ketika tidak ditemui air)

DISKUSI
1.      NATASHA > haid memasuki mesjid
Dalam kondisi darurat, seseorang boleh memasuki mesjid, contoh, tidak ada lagi tempat belajar kecuali di mesjid itu karena menuntut ilmu adalah wajib. Dianjurkan untuk mencari tempat lain.
2.      HADIJAH > tentang rambut kuku dll saat haid
Tidak ada larangan.
3.      MURHAYATI > menjama’ shalat
Jama’ takdim, jama’ takhir.
Shalat safar > shalat dalam perjalanan, kiblatnya mengikuti arah kendaraan, arah duduk kita dalam kendaraan dan boleh langsung di jama/qashar pada saat itu
4.      DWI RAHAYU > menjawab panggilan/bersuara saat berwudhu
Wudhunya tidak batal, itu hanya masalah adab, karena ketika wudhu ketika dianjurkan untuk berzikir.
5.      Hukum memegang al quran ketika haidh. Mushaf yang benar2 mushaf, tidak ada terjemahan, tajwid, tafsir dll tidak boleh dipegang sama sekali. Yang sudah bercampur boleh dipegang. Bagaimana dengan membacanya? Terjadi perbedaan juga. Kalo membacanya dengan niat zikrullah, diperbolehkan. Pendapat lain, boleh membaca, tapi yang dihapal dengan tidak memegang mushaf. Pendapat lain, boleh dengan niat untuk belajar.
6.      Mazhab mana yang harus kita ikuti? Dalam bermazhab, kita tidak boleh terlalu fanatik karena fiqih merupakan ijtihad para ulama. Tapi kita juga tidak boleh memudah – mudahkan. Imam syafi’I : kalau kalian menemukan pendapat imam yang lain lebih baik, silahkan.
7.      Menyentuh kemaluan dengan sarung tangan.
8.      Sakit lagi haidh dan tidak bisa kena air.
ILMU ITU UNTUK DITERAPKAN, BUKAN UNTUK DIKUMPUL.

0 comments:

Post a Comment