Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Tuesday, 2 August 2011

Tak Patut Ditulis sih Sebenarnya #iseng.com

 ,      3 comments   
Mengawali tulisan ini saya punya dilema cukup besar. Haduuh…

Hmmmm agak lebai jadinya mau bikin tulisan sederhana yang isinya curhatan lagi. 

Sebelum menulis ini terlebih dahulu saya baru aja membaca tulisan Kak Ira Marby dengan judul Before You Marry. Ceritanya nih, saya gak bakalan baca tulisan ini kalo gak di tag di facebook via comment. Soalnya blognya cukup lama gak update jadi jarang berkunjung ke sana lagi hehehe maaf ya kak. 

Dari tulisan itu, timbullah satu tekad yang harus saya laksanakan setelah lebaran dan semua teman kembali ke pos nya masing – masing hehehe… Maksudnya tuh, sekarang mereka sedang berada di kampong halamannya. Kloter terakhir udah berangkat hari Minggu lalu (31/7) dengan menggunakan kapal antar pulau.

Selama saya ikut kajian mingguan, belum pernah rasanya kami membicarakan hal – hal yang berhubungan dengan pernikahan. Apa itu pernikahan, seperti apa pernikahan, gimana bisa nikah, caranya gimana, prosesnya bagaimana yang baiknya, dan hal – hal lainnya. Dauroh pra nikah pun saya jarang, apakah ada atau tidak ( atau jangan – jangan sebenarnya ada, tapi saya aja yang gak dapat jarkoman, anak kecil sih, pasti mikirnya gitu hhh…… ). 


Oleh karena itu, menimbang, memperhatikan beberapa poin yang sudah saya baca di tulisan Kak Ira, maka saya wajib menanyakan hal ini ke murobi. Gak mau sembunyi – sembunyi, atau empat mata doang sama murobi. Mesti di depan teman – teman. Kalo suaminya murobi mau denger juga gak apa – apa ehehehehehe……

Yaaah walaupun dengan resiko yang lain akan beranggapan bahwa saya kebelet nikah, cuek aja deh. Ini kan untuk mereka juga, ya gak? Saya pikir, mungkin mereka selama ini malu untuk menanyakan hal tersebut kepada murobi. Atau takut ketika udah nanya besoknya langsung ditawarin ta’arufan hahahahha itu sih namanya ketiban duren :p 

Secara saya tergolong anak paling kecil di kelompok mingguan ini, jadi gak ada salahnya bantuin kakak – kakak yang lagi sibuk nyusun skripsi itu, di samping saya sendiri juga penasaran hahahha……

Tapi ini tampaknya langkah yang baik, berhubung buku – buku nikah pun saya emoh mau bacanya ( apalagi beli, enggaaaaaak…… lebih rela beli Harry Potter hehehe ). Soalnya di tulisan Kak Ira ada beberapa langkah yang udah ditempuhnya sampai akhirnya beliau nikah juga 21 Mei 2011 lalu ( sayang banget gak bisa datang ).  

Btw, di pertemuan lalu, sebenarnya saya pernah menanyakan hal tentang nikah – nikah gitu ke murobi. Tapi emang dasar! Kayaknya buat beberapa orang ini topic yang gak perlu diomongin sekarang. Jadi ketika murobi lagi semangat jelasin dan saya semangat mendengarkan, tiba – tiba topik berubah haluan ke alat kosmetik. Gubraaakkk……!!!!!

Pernah juga saya isengin salah seorang teman yang dalam kacamata saya sudah siap untuk menikah karena secara fikriyah dan ruhiyah sapalagi jasadiyahnya sudah memenuhi kriteria itu ( ck, lu ni ngomongin kriteria yang mana sih, definisi sendiri pastinya nih ya ). Saya katakan padanya agar segera membuat proposal pernikahan kemudian menyerahkannya ke murobi. 

“ Adeeeeekk……!!!” katanya seraya menepuk saya. Setiap saya mengatakan hal ini maka ia akan segera mengganti topik pembicaraan kami dengan muka memerah hiihiihihi……

Tapiii ya gitu deh, niat ini harus segera saya laksanakan. Tak sabar rasanya ingin melihat reaksi mereka begitu kata ‘pernikahan’ itu saya lontarkan. Hihihhihiihi…… Sekedar membantu yang malu bertanya kok :p

3 comments: