Sunday, 12 February 2012

Diaries

           

Dua buku ini bikin saya jadi makin semangat lagi untuk menulis buku harian dengan bahasa - bahasa yang lebih ringan dan kemungkinan besar bisa dibaca oleh seluruh orang ehem....

Saturday, 28 January 2012

Tercapainya Konsensus Nasional (BAB I)

Beberapa hari ini lagi gencar baca buku Tercapainya Konsensus Nasional 1966 - 1969

Buku lama terbitan Balai Pustaka tahun 1985 yang dikasih sama Ayah Ketek ketika pulang kampung tahun 2011 yang lalu.

Buku kecil dengan kertas yang sudah menguning, Bahkan memegangnya saja sepertinya debu sudah masuk ke hidung sehingga agak sulit juga membacanya dengan nafas sesak begitu

Tapi gak masalah

Meskipun baru membaca BAB I dari buku tersebut, tapi saya jadi pengen tahu lebih banyak tentang PKI dan cerita kelam mereka dalam catatan sejarah bangsa Indonesia (ehem ehem secara bangsa Indonesia)


Alhasil film PKI yang udah lama banget gak ditayangin di tivi itu saya download dariu you tube meskipun harus memakan waktu yang sangat lama.

Intinya dari buku kecil ini adalah usaha para pemimpin terdahulu beserta rakyat Indonesia untuk mengembalikan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa Indonesia. Karena setelah pemberontakan PKI di Madiun, partai komunis ini gencar banget melancarkan aksi untuk menanamkan pengaruhnya di benak bangsa Indonesia, baik secara diam - diam maupun terang - terangan. Mau pake cara halus (lewat parlemen) sampe kekerasan yang berujung pada peristiwa berdarah 30 September 1965.

Diceritakan secara kronologisnya gimana langkah - langkah PKI menyusup dalam pemerintahan Presiden Soekarno. Mungkin karena Soekarno adalah penganut paham Marhaenisme (sampe sekarang saya masih belum paham ini aliran apa, yang jelas kiri banget), makanya ketika DN. Aidit perlahan masuk ke pemerintahan, Soekarno tampak memberikan dukungan ke PKI.

PKI yang awalnya gak diterima sama partai lain, akhirnya 'diizinkan' untuk masuk dalam parlemen setelah memenangkan sekiat juta suara yang menjadikannya berhak masuk.

Nah dari itulah PKI mulai memasukkan program - program terselubungnya ke dalam kebijakan pemerintah.

Sampai - sampai mereka bisa meraih hatinya Soekarno (bisa dibilang begitu lah). Bahkan ketika dokumen rahasianya diketahui oleh partai lain, Soekarno keliatannya gak begitu menggubris hak tersebut. Udah kemakan duluan dengan 'rayuannya' DN Aidit dan tokoh PKI yang lain.

Tak hanya itu, bahkan Soekarno ngebubarin Badan Pembela Soekarnoisme dan membekukan Partai Murba. Waaah PKI pastinya ngakak sambil guling - guling ketika hal itu terjadi.

Hanya saja, PKI agak gregetan ketika harus menghadapi TNI-AD. Padahal mereka udah punya kekuasaan tuh ketika Amir Sjarifuddin jadi Menteri Pertahanan. Sayang aja, ketika itu pengaruh Jenderal Soedirman masih kuat sehingga TNI-AD gak bisa disusupi PKI dengan mudah.

Sampe dulu deh ceritanya, ini baru BAB I

Sebenarnya masih ada sedikit cerita tentang usaha - usaha apa aja yang dilakukan sama PKI untuk memecah belah TNI, tapi kapan - kapan deh ya.....

Pasca Sarjana?

Sedang bermuram durja

Sebenarnya gak juga sih, lagi galau aja tentang masa depan. Hampir semua teman - teman punya rencana pasca sarjana. Lah saya mau ngapain?

Ada yang udah dikapling duluan buat jadi guru di sekolah A, sekolah B, pergi jalan - jalan dulu dan lain - lain

Trus saya?

Galau galau galau.....

Galau mau ngapain pasca sarjana

Hahaha benar - benar bukan orang yang punya tujuan kayaknya.

Thursday, 26 January 2012

Sok Indonesia

Selamat menikmati sajian lagu sok nasionalis saya untuk beberapa waktu ke depan dengan Indonesia Raya ciptaan bapak kita, WR. Supratman

Bukan pengen nge-Indonesia, tapi begitulah

Walau apa pun, saya dan anda yang sedang membaca tulisan ini adalah orang Indonesia (kalo enggak, gak mungkin bisa baca tulisan ini, kan pake bahasa Indonesia, kecuali anda adalah bule yang udah kelamaan tinggal di Indonesia hehe)

Blog ini emang udah lama banget gak diupdate, entah apa yang saya lakukan selama ini. SOk sibuk, dan kali ini sok Indonesia

Hahaha biarin lah, meskipun Indonesia banyak masalah, yang penting happy (lah gak care banget ya)

-Sekian-

Thursday, 29 December 2011

Kesabaran Menanti Jodoh

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang perempuan yang sudah saya kenal sejak lama. Ketika itu saya masih duduk di bangku SMP, tidak berjilbab, masih polos dengan hal – hal yang berbau dunia luar, selalu diantar ayah dengan angkot mata pencaharian kami. Rambut masih berkepang dua, karena peraturan sekolah menghendaki murid – muridnya senantiasa rapid an tampak seragam.

Dan di sana lah saya bertemu dengan wanita itu. Wanita yang mengenakan jilbab amat besar menurut saya ketika itu, sama sekali tidak cantik dalam pandangan saya, malah terlihat kuno sekali. Maklum, bacaan saya ketika itu majalah Aneka Yes! yang jadi tren remaja tanggung di kala itu.

Pertama kali bertatap muka, saya hanya berani memandang sekilas dan terkesan tidak berniat untuk mengobrol. Lama kelamaan, obrolan kami menjadi sedikit banyak karena hampir tiap pagi wanita itu naik angkot ayah saya dengan tujuan yang sama pula.

Saya tak akan pernah lupa dengan majalah Annida yang ia pinjam kan kepada saya suatu hari di pertemuan kami yang ke sekian kalinya. Majalah itu seperti jembatan antara saya dan dia. Sebenarnya, sebelum ia meminjamkan majalah itu, saya sudah pernah membacanya di tempat saya mengaji. Guru ngaji saya yang gemar sekali membaca itu menyodorkannya ke saya beberapa kali. Kemudian saya memutuskan untuk terus membaca dan berlangganan.

Lumayanlah untuk kocek anak SMP, majalah itu teramat murah untuk ilmu luar biasa yang disajikannya tiap edisi.
Baiklahl, saya bukannya ingin menceirtakan tentang majalah itu, tapi yang ingin saya bagikan di sini ialah tentang wanita tersebut.

Sebelum melanjutkan ke cerita inti, sekedar pemberitahuan, saya sudah meminta izin kepada wanita itu untuk menuliskan kisahnya. Semoga bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang membacanya.

Seiring berjalannya waktu, belakangan saya ketahui, bahwa wanita tersebut terlibat dalam aktivitas yang sama yang sedang saya geluti. Kami kemudian sering bertemu dalam kegiatan kajian keislaman di kota yang sama, kadang mengadakan baksos di tempat yang sama juga beberapa tempat lainnya. Setiap bertemu ia masih dalam status yang sama, single alias belum menikah.

Awalnya saya mengira wanita itu sudah menggenapkan setengah diennya ketika kami bertemu pertama kali di angkot ayah saya. Jika dihitung – hitung sejak pertemuan pertama, sudah hampir 7 tahun yang lalu (sekarang 2011). Rupanya hingga kini ia masih belum menikah. Saya tak berani menanyakan umur wanita itu karena takut menyinggung perasaannya. Saya hanya mengira – ngira, jika ia sudah menikah, tentulah anaknya sudah duduk di bangku SMP. Tapi biarlah pikir saya ketika itu.

Dan Allah mempertemukan saya kembali dengannya beberapa waktu yang lalu. Kali ini dengan status yang berbeda. MENIKAH. Sungguh kejutan luar biasa yang saya dapatkan saat ia memberitahukan hal tersebut. Aura wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang tak dapat saya lukiskan dalam kata – kata sederhana ini. Namun yang pasti adalah, wajah penuh rasa syukur dan berserah diri itu selalu tergambar pada wanita itu.

Ia berkata pada saya bahwa ini pernikahannya kali ini sungguh membuatnya merasa sangat bersyukur. Allah telah memberikannya seorang pendamping hidup yang baik baginya. Pendamping hidup yang dianugerahi oleh Allah itu sangat mengerti akan dirinya, sangat sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Hidupnya merasa sudah terlengkapi kala pernikahan itu dilaksanakan. Alhamdulillah……

Penantian wanita tersebut selama puluhan tahun bagi saya bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk seorang perempuan. Dalam hati saya memuji keteguhan dan kesabaran yang wanita itu menanti jodoh yang telah ditetapkan Allah baginya. Doa – doa panjangnya selama tahun – tahun penantian itu terjawab sudah. Siapa yang menyangka di usia yang sudah senja, Allah memberinya seorang lelaki gagah yang menerimanya apa adanya.

Janji Allah itu selalu benar. Allah senantiasa mengabulkan doa hambaNya yang selalu berdoa padaNya. Dia telah menciptakan manusia berpasang – pasangan. Semua hanya masalah waktu. Tentang kapan janji itu akan ditunaikan. Bersabarkah manusia tersebut dalam menunggu tertunainya janji Rabbnya yang dicintainya. Hanya masalah waktu.
Selamat untuk ibuk atas pernikahannya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta senantiasa menjadi teladan bagi rumah tangga yang lain.

*tribute to Ibuk yang telah bersabar dalam penantian panjang menjemput jodoh

Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas

 Baiklah, tulisan ini bukanlah tulisan saya, melainkan tulisan dari buku La Tahzan karya Dr. Aidh al Qarni yang terkenal itu. Diklaim sebagai salah satu buku terlaris di dunia. Ini adalah salah satu judul dalam buku tersebut yang membuat saya bisa bangkit kembali dan mampu tersenyum di saat – saat yang mungkin saja juga dialami oleh orang lain.



Sang Pencipta dan Pemberi rezeki Yang Maha Mulia, acapkali mendapat cacian dan cercaan dari orang – orang pander yang tak berakal. Maka, apalagi saya, anda dan kita sebagai manusia yang selalu terpeleset dan salah. Dalam hidup ini, terutama jika anda seseorang yang selalu memberi, memperbaiki, mempengaruhi dan berusaha membangun, maka anda akan selalu menjumpai kritikan – kritikan pedas dan pahit. Mungkin pula, sesekali anda akan mendapat cemoohan dan hinaan dari orang lain.

Dan mereka, tidak akan pernah diam mengkritik anda sebelum anda masuk ke dalam liang bumi, menaiki tangga ke langit dan berpisah dengan mereka, adapun bila anda masih berada di tengah – tengah mereka maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat anda bersedih, dan meneteskan air mata, atau membuat tempat tidur anda selalu terasa gerah.

Perlu diingat, orang yang duduk di atas tanah tak akan pernah jatuh dan manusia tidak akan pernah menendang anjing yang sudah mati. Adapun mereka, marah dan kesal kepada anda karena mungkin anda sudah mengungguli mereka dalam hal kebaikan, keilmuan, tindak tanduk, atau harta. Jelasnya, anda di mata mereka adalah orang berdosa yang tak terampuni sampai anda mlepaskan semua karunia dan nikmat Allah yang ada pada diri anda, atau sampai anda meninggalkan semua sifat terpuji dan nilai – nilai luhur yang selama ini anda pegang teguh. Dan menjadi orang yang bodoh, pandir dan tolol adalah yang mereka inginkan dari diri anda.

Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan. Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan, cemoohan dan hinaan mereka. Bersikaplah laksana batu cadas; tetap kokoh berdiri meski diterpa butiran salju yang menderanya setiap saat, dan ia justru semakin kokoh karenanya. Artinya jika anda merasa terusik dan terpengaruhi oleh kritikan atau cemoohan mereka, berarti anda telah meluluskan keinginan mereka untuk mengotori dan memcemarkan kehidupan anda. Padahal yang terbaik adalah menjawab atau merespon kritikan mereka dengan menunjukkan akhlak yang baik. Acuhkan saja mereka dan jangan pernah merasa tertekan oleh setiap upaya mereka untuk menjatuhkan anda. Sebab kritikan mereka yang menyakitkan itu pada hakikatnya merupakan ungkapan penghormatan untuk anda. Yakni, semakin tinggi derajat dan posisi yang anda duduki, maka akan semakin pedas pula kritikan itu.

Betapa pun, anda akan kesulitan membungkam mulut mereka dan menahan gerakan lidah mereka. Yang anda mampu adalah hanya mengubur dalam – dalam setiap kritikan mereka, mengabaikan solah polah mereka pada anda, dan cukup mengomentari setiap perkataan mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah,

Katakanlah (kepada mereka), “Matilah kamu karena kemarahanmu itu” (QS. Ali Imran : 119)


Bahkan anda juga dapat menyumpal mulut mereka dengan potongan – potongan daging agar diam seribu bahasa dengan cara memperbanyak keutamaan, memperbaiki akhlak, dan meluruskan setiap kesalahan anda. Dan bila anda ingin diterima oleh semua pihak, dicintai semua orang dan terhindar dari cela, berarti anda telah menginginkan sesuatu yang mustahil terjadi dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh untuk diwujudkan.


Sumber : La Tahzan hal 10 -11

Wednesday, 14 December 2011

Rapat Nyebelin

Rapat paling nyebelin!!


Eh gak juga ding...

Kayaknya ada lagi rapat yang lebih nyebelin

Ah peduli amat

Yang penting rapat kali ini nyebelin banget!!!


Thursday, 8 December 2011

Sebuah Nasihat

Adik adikku dan kakakku sayang…..

Sebuah nasihat untuk diriku dan dirimu…..

Suatu hari seseorang menceritakan perkara cintanya pada saya.

“Dia bilang dia mencintai saya kak”

Aku tersenyum sejenak

“Benarkah? Melalui apa ia ungkapkan hal tersebut?”

“Mmmm…. Sms kak”

“Tinggalkan orang yang menyampaikan perasaannya padamu tanpa engkau melihat matanya”

Di hari lain ada lagi yang bercerita dengan sedikit variasi

“Dia ngajak saya nikah kak”

“Benarkah? Kapan keluarga kalian akan bertemu?”

“Dia minta saya menunggu dua tahun lagi hingga kami menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang mapan”

“Tidak ada yang bisa menjamin perasaan seorang laki – laki pada seorang perempuan masih sama, meskipun sedetik”

Malam itu datang lagi curhatan baru

“Kak, dia serius untuk menikahi saya. Saya sudah berbicara dengan ibunya lewat telpon”

“Oh ya? Apakah ia sudah bertemu dengan ayahmu?”

“Mmm belum kak, dia menunggu waktu yang tepat”

“Tinggalkan ia. Jangan mempercayai laki – laki yang tidak berani menemui ayahmu”

Cerita di lain hari

“Kami pacaran sudah beberapa tahun kak”

Hanya tersenyum, sambil terus mendengarkan ceritanya

“Dia orangnya perhatian, romantis, penyayang sekali. Saya sudah bertemu dengan keluarganya. Keluarga saya pun sudah tahu dengan dia”

“Semoga dia adalah orang yang ditakdirkan Allah untukmu”, kataku masih tetap karena tak dapat berkata banyak. Tak ada nasihat lagi yang keluar kecuali doa semoga hubungan itu berujung di pelaminan. Namun, ada satu hal yang tersisa di benak saya, apakah pernikahan mereka akan diberkahi oleh Allah, Sang Pemilik Hati?

Tidak mudah membuat hati tetap mengarah pada Sang Pemilik yang lebih berhak.

Meski sempat tergelincir beberapa kali untunglah tidak sampai jatuh ke jurang.

Setiap kali ingin memberi nasihat, mendadak lisan berhenti karena mengingat respon kompakan yang selalu didapat, “Gak usah ngomong deeeh klo belum permah ngalamin”

Hahahaha…. Ketawa aja deh

Atau berkata dalam hati

“Terserah eloch” Hiiihihihiiii……

Siapa pula yang tidak pernah merasakan getar – getar cinta terhadap seseorang. Hanya saja mungkin cara saya dengan mereka sedikit berbeda. Semoga menggapai bahagia J


#beginilah mereka mengajarkan saya

Mumpung Masih Muda

Kenapa harus mumpung masih muda? Itu dia yang selalu jadi pertanyaan saya atau orang – orang yang mungkin juga punya pertanyaan yang sama.

Sesungguhnya ketika manusia itu mati, maka salah satu pertanyaan yang akan diajukan ketika ‘sidang’ adalah “Untuk apa masa mudamu kau gunakan”

Hmmm kayaknya belum pernah tuh baca referensi yang menuliskan “Ngapain aja kamu waktu udah tua?” Hihihihihi… aneh juga kali ya

Trus kenapa yang ditanya Cuma masa muda? Kenapa masa tua gak ditanyain?

Pertama karena kita (pake kata kita, karena secara yang nulis masih muda euy!) memiliki kekuatan fisik yang lebih daripada orang – orang tua. Dalam hadits aja Rasulullah bilang kalo muslim yang kuat itu lebih disukai daripada yang lemah. Nah kelihatan banget kan, mana yang lebih disenangi. Orang muda.

Kedua, kita memiliki kecerdasan luar biasa yang gak dimiliki oleh orang tua (duh ngakimin orang tua banget ya kayaknya, durhaka pula nanti, maaf ya bapak ibu ). Orang tua sekarang yang punya ilmu banyak, pandai juga mengetahui segala macam hal dan lain sebagainya itu karena dia pernah muda (loh?). hehehehhe….. maksudnya dia dapetin itu ketika dia masih muda dulu. Ketika otaknya masih bisa menyerap dan menyimpan segala informasi yang dibaca, didengar, dilihat, dan dirasa.

Coba deh perhatiin, orang yang udah tua, semangatnya udah menurun. Lebih banyak memikirkan kehidupan setelah matinya. Banyak ngelakuin persiapan untuk menghadap Tuhannya.

Kita (orang muda-red) punya semangat yang lebih tinggi dibandingkan orang tua dalam menuntut ilmu. Orang muda, apalagi belum menikah senantiasa haus akan ilmu karena akalnya membutuhkan itu. Beda lah dengan orang tua.

Semangatnya udah kalah duluan. Kenapa? Karena banyak yang dipikirkan. Istrinya lah, anaknya lah, sanak saudaranya lah dan lain – lain. Ups, gak bermaksud bilang orang tua pada malas looh…  Hanya saja kadarnya lebihan di anak muda
Nah kalo ada orang muda yang punya semangat menuntut ilmu lebih rendah dari orang tua, padahal secara umur masih dikategorikan orang muda, bisa dipastiin ada yang konslet didirinya. Dijamin nyesel deh kalo ketika muda gak manfaatin waktu buat belajar ini itu, ikut ini itu dan lain – lain yang bersifat positif.

Yang ketiga, orang muda itu punya ketinggian moral atau bisa dibilang punya idelisme yang gak dimiliki sama orang tua. Sekali dia bilang benar, maka perjuangannya untuk buktiin kebenaran itu lebih heboh ketimbang yang tua. Karena ketinggian moralnya itulah banyak banget orang muda yang selalu garda terdepan terjadinya sebuah perubahan. Duh kita gak lagi ngomongin perubahan sebenarrnya, bahas laen waktu aja deh.

#cerita ini belum selesai :p

Friday, 2 December 2011

La Tahzan

La Tahzan...

Sekali lagi jangan bersedih ya Nurul....
Apa pun itu pasti ada tujuan dan hikmahnya kok


Semalam bermaksud mengadakan rapat BPH BEM untuk ke sekian kalinya. Nyadar juga jarang buat rapat beberapa minggu belakangan ini. Diundanglah seluruh BPH untuk hadir di kampus jam 8 malam. Sengaja dibuat jam segitu karena kalo dibuat pagi, alasannya kerja. Dibuat siang ada yang masih kerja dan kuliah. Malam pilihan terbaik meskipun beberapa orang berpendapat gak ahsan rapat malam - malam. Ah peduli amat, daripada gak rapat sama sekali atau rapat tidak dihadiri siapa pun. 

Sayang beribu sayang, man proposes God disposes. Konon gitu sih katanya. Hingga pukul 9 malam nongkrong di depan kampus gak ada seorang anggota BPH pun yang nongol. Yang ada malah sms izin gak datang, Duuh cape deeeh. Gak lama kemudian untunglah sang sekretaris datang, membuat saya cukup senang. Terhibur dikitlah. Tapi ya rapatnya gak jadi, cuma diskusi bentar aja dengan sekretaris.

Bukan main lagi sedih hati niiiiiiii..... Gimana program mau berjalan dengan lancar kalo pertemuan pun seperti ini??? Berpikiran positif aja siiiih... Kali aja lagi diuji. Jadi mesti kuat!!


Akibat baca buku La Tahzan beberapa lembar energi positif mau gak mau harus dipancarkan. Hehehe lagi ngomong apa toh kamu ni Nuruuuul....

Intinya JANGAN BERSEDIH.
Gak ada yang perlu disedihkan

Kata Hasan Al Banna, carilah seribu alasan untuk saudaramu yang gak datang.

Gak masalah... Gak apa - apa, gak apa - apa

Jika tak ada yang datang maka keputusan berada di tangan saya. Biarlah dikatakan ini itu. Dikatakan diktator atau otoriter. Jadi tidak disukai oleh teman - teman yang lain. Lagian, peduli apa mereka suka atau tidak? Emang ada untung ruginya? Idih kegeeran xixixixixi....

Jelang pemilihan baru maka saya akan bekerja dengan orang yang mau bekerja, bukan dengan orang yang hanya mau bicara. Tapi ketika ditantang untuk bekerja melengos pergi dengan berbagai macam alasan. 

Huh!! 

Upss.... Gak boleh gitu ya Nuruuuuuull.... Mesti lapang dada menerima perlakuan setiap orang. 
Semangat!!!!


# JIka ada 100 orang yang bekerja dipastikan satu di antaranya adalah aku. Jika ada 10 orang yang bekerja, dipastikan satu di antaranya adalah aku. Jika hanya ada satu orang yang bekerja, maka itu pasti aku

Umar bin Khattab ra, thanks banget ya udah motivasi saya ^____^

Saturday, 19 November 2011

Tuesday, 1 November 2011

Musyawarah Daerah II MUI Kepulauan Riau


Mengikuti Musyawarah Daerah II Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kepulauan Riau selama dua hari membuat penulis sedikit banyak mulai mengetahui bagaimana dan seperti apa kondisi organisasi para ulama itu selama ini. Untuk itu, penulis ingin berbagi beberapa hal yang didapatkan ketika kegiatan berlangsung.

Dalam kata sambutannya, dewan penasehat MUI Pusat mengatakan bahwa Musyawarah Daerah selayaknya bisa membawa penyegaran terhadap kerja – kerja MUI selama ini di mana terdapat 4 bingkai MUI yang terdiri dari bingkai politis, yuridis, sosiologis dan teologis. Keempat bingkai ini sangat dibutuhkan agar visi Majelis Ulama Indonesia, terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, memperoleh ridho dan ampunan Allah swt (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur) menuju masyarakat berkualitas (khaira ummah) demi terwujudnya kejayaan Islam dan kaum muslimin (izzul Islam wal-muslimin) dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai manifestasi dari rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin) dapat tercapai. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Suhajar Diantoro yang mewakili Gubernur. Majelis Ulama Indonesia memiliki peran yang amat signifikan dalam hal perbaikan dan pembinaan umat Islam, khususnya di Kepulauan Riau yang berbudaya Melayu.

Dengan mengangkat tema Memantapkan Peran Ulama dalam Perbaikan Akhlak dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, MUI Kepri menghadirkan beberapa orang pembicara yang terkait tema tersebut. Dalam kesempatan tersebut, pimpinan Bank Riau Kepri menjelaskan tentang pentingnya umat Islam memakai bank syariah untuk mengurangi riba. Hari ini, masyarakat Kepri khususnya masih menggunakan bank – bank konvensional untuk bertransaksi ataupun untuk menyimpan uang mereka. Beliau berharap ulama – ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia mampu mensosialisasikan hal tersebut kepada masyarakat.

Razali Wijaya, sebagai dewan penasehat MUI Kepri yang juga mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Kepri berpesan bahwa pengurus MUI harus fokus mengurus organisasi. Menurutnya, selama ini kegiatan di MUI banyak yang tidak terlaksana dikarenakan banyaknya pengurus yang tidak bisa berperan aktif langsung di MUI. Mayoritas pengurus yang merupakan pegawai negeri menjadikan MUI dinomorduakan, padahal organisasi ini memiliki peran yang amat penting dalam hal pembentukan umat yang berakhlak mulia. Meskipun saat ini Kepri memiliki organisasi Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMPAM) yang diketuai oleh Aida Ismeth, namun organisasi ini dinilai tidak mampu menjawab tantangan dan merealisasikan visi Kepri yang berakhlak mulia. Selain itu, penganggaran dana yang jelas juga menjadi faktor penting bagi kelancaran tugas dan peran MUI Kepri.

Di samping, ada hal yang menarik saat Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepri, Ing Iskandarsyah menyampaikan kritikannya terkait prinsip entrepreneurship bahwa saat ini pemerintah mengelola Negara seperti mengelola panti asuhan.Dikatakan bahwa ketika seseorang memberikan bantuan ke panti asuhan, maka bantuan tersebut akan habis pada saat itu juga tanpa memberikan keuntungan dalam bentuk materi. Pemerintah saat ini lebih banyak memberikan bantuan kepada masyarakat tanpa pengelolaan yang seharusnya sehingga bantuan yang diberikan tersebut tidak memberikan keuntungan pada pemerintah. 

Terkait masalah anggaran yang banyak dipertanyakan oleh peserta, Ing Iskandarsyah mengatakan bahwa anggaran pemerintah untuk organisasi masyarakat yang berbasis Islam sudah cukup besar. Kelemahan selama ini ialah penggunaan dana tersebut yang tidak maksimal. Sebagai contoh, bila ada peringatan hari besar Islam maka ormas – ormas Islam akan mengadakan kegiatan dengan momen dan spirit yang sama. Di sinilah terjadi pemubaziran anggaran. Padahal jika ormas – ormas tersebut bekerja sama dalam membuat suatu kegiatan, ini akan lebih mengefektifkan dana sehingga sisa dana yang ada bisa dialihkan ke program yang lain, khususnya program perbaikan dan pembinaan umat.

Musyawarah Daerah II MUI Kepri ini disejalankan pula dengan penandatanganan MoU antara Bank Riau Kepri dan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kepulauan dalam rangka sosialisasi penggunaan bank syariah dalam pemberdayaan umat. Tak hanya itu, sosialisasi dinar dan dirham sebagai alat tukar yang bebas riba dan inflasi juga disampaikan oleh Huzrin Hood,pemilik Wakala Gurindam. Mendampingi beliau, turut pula Dr. Agustin dan Mastur Taher. Keduanya menyampaikan pentingnya umat Islam untuk kembali memakai dinar dan dirham sebagai alat tukar. 

Dalam laporan pertanggungjawabannya, K.H.T. Azhari Abbas selaku Ketua MUI Kepri periode 2006 – 2011 menyampaikan bahwa selama menjabat ada beberapa kendala yang dihadapi ketika menjalankan program yang sudah direncanakan. Daerah Kepulauan Riau yang terdiri dari pulau – pulau sedikit menyulitkan para pengurus untuk berkordinasi secara langsung. Padahal di daerah terpencil, umat Islam rentan terhadap agenda pemurtadan. Keterbatasan dana juga menghambat realisasi kegiatan MUI Kepri dalam peranannya membina umat.

Hambatan lainnya ialah kurangnya tenaga pengurus yang dapat melaksanakan tugas sepenuhnya karena mayoritas pengurus adalah pegawai negeri. Diharapkan pengurus MUI Kepri periode selanjutnya mampu lebih maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai pengurus yang menjalankan roda organisasi MUI Kepri mengingat begitu pentinganya organisasi ini dalam kehidupan umat Islam, khususnya di daerah Kepulauan Riau.

Berdasarkan hasil sidang dan pertimbangan para peserta, maka untuk periode 2011 – 2016 MUI Kepri kembali dipimpin oleh K.H.T. Azhari Abbas dengan Sekretaris Jenderal Drs. H. Fauzi Mahbub, MM.

Banyak hal yang direkomendasikan oleh para peserta kepada pengurus yang telah terpilih untuk kinerja MUI Kepri yang lebih baik ke depannya. Dalam rekomendasi tersebut disebutkan bahwa umat Islam di Provinsi Kepulauan Riau merindukan pemimpin – pemimpin yang amanah, adil dan menjunjung tinggi nilai – nilai adat dan budaya Melayu sehingga dapat mencerminkan visi Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu yang berakhlak mulia, sejahtera dan ramah lingkungan. Untuk itu diharapkan MUI Kepri dapat mendesak pemerintah untuk membuat Peraturan Daerah tentang Bunda Tanah Melayu, Pendidikan Akhlak dan Agama, Zakat dan Wakaf, Ketertiban Sosial dan lain sebagainya.

Kepada aparat hukum agar semakin dapat mencegah dan menindak tegas segala bentuk penyelewengan dan penyalahgunaan wewenang serta segala bentuk maksiat dan aliran sesat. Lalu, sesuai dengan Permendagri No. 21 Tahun 2011 diharapkan pemerintah daerah Provinsi Kepulauan Riau mampu mengalokasikan dana APBD pada lembaga maupun organisasi agama Islam secara proporsional dan professional serta memfasilitasi terbentuknya lembaga ekonomi dan keuangan berbasis syariah untuk mewujudkan kesejahteraan umat.

Di bidang pendidikan, dalam rangka mensukseskan pelaksanaan pendidikan akhlak dan agama Islam, agar pemerintah bersama masyarakat dapat membangun mesjid dengan segala fasilitasnya mulai Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Tak hanya itu, diharapkan siswa dan mahasiswa yang tidak mampu diberikan bantuan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

Terkait pendidikan di sekolah, penulis berharap MUI mampu menawarkan program pembinaan umat yang dimulai dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi, bahkan jika perlu mulai dari sekolah dasar. Dengan demikian, sekolah tak hanya menjadi tempat para siswa mendapatkan ilmu pengetahuan umum, namun juga agama mengingat sedikitnya waktu yang dialokasikan dalam kurikulum untuk Pendidikan Agama Islam.

Untuk memantapkan kerukunan hidup umat beragama, MUI berharap agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum mampu mencegah dan melarang segala upaya pemurtadan dan penyesatan akidah di Kepri. Selain itu juga diharapkan pariwisata di Kepri apa pun bentuknya tidak merusak nilai budaya religius yang sudah menjadi karakter masyarakat Kepri. 

Bagi penulis, Majelis Ulama Indonesia memiliki peranan yang sangat signifikan dalam menjalankan fungsinya sebagai mengayomi dan mengembangkan kehidupan yang Islami serta pengamalan ajaran Islam juga penggalangan ukhuwah Islamiyah. MUI yang merupakan lembaga independen yang bersifat keagamaan dan kemasyarakatan tentunya akan lebih mudah diterima oleh masyarakat khususnya dalam hal pemberian fatwa baik diminta maupun tanpa diminta oleh pemerintah.

Penulis juga berharap ke depannya MUI juga lebih melibatkan mahasiswa dan juga pasca sarjana dalam program – program pembinaan umat untuk mewujudkan misi pelaksanaan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar dalam mengembangkan akhlak karimah agar terwujud masyarakat berkualitas dalam berbagai aspek kehidupan.

Akhirul kata penulis ingin mengucapkan selamat kepada pengurus MUI Kepri terpilih. Semoga diberikan punggung yang kuat untuk memikul amanah umat.