Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Wednesday, 29 October 2014

Matinya Anak Ayam

      No comments   

Dua hari ini dua anak ayam mati karena sakit. Karena ayah n ibu sedang di rumah sakit maka ga ada yang ngurus alias kasih makan. Aku tadi pagi disuruh ngasih makan ayam. Baiklah, meski bertolak belakang dengan hati nurani, tapi karena melihat satu anak ayam yang sakit ya sudah berani ga berani kuisi tempat makannya. 

Kuperhatikan anak ayam itu dari pagi dan setelah kuberi makan kondisinya mulai semangat. Bahkan dia udah minum dan berusaha berdiri dengan dua kakinya. Kupikir akan ada harapan dia masih bisa sehat. Eeeeh ternyata jam 11 siang kulihat kandangnya karena ayam - ayam kecil pada riuh, dia udah mati. 

Mulai deh celingak celinguk liat anak - anak tetangga buat minta mereka keluarkan bangkainya dari kandang. 

Sejujurnya aku punya rasa fobia pada unggas, terutama ayam. Unggas lainnya seperti burung, angsa dan bebek pun membuat bulu kudukku merinding setiap berada di dekat mereka. Aku tak tahu sejak kapan hal ini terjadi. Kalau aku tidak salah perhitungan, mungkin saat suatu hari aku harus melarikan diri dari induk ayam yang mengamuk karena mengira aku mengganggu anak - anak ayam yang baru menetas. Ketika itu kakiku dipatok oleh paruh tajamnya. Yang lebih mengerikan adalah bulunya yang mengembang membuat badannya menjadi semakin besar. Matanya tajam dan fokus mengejar orang yang mencoba mengganggu anak - anaknya. 

Ayam yang mati karena sakit itu unik. Ketika ia sakit ia memeluk dirinya sendiri dengan menekuk kedua kaki sehingga membuat tubuhnya ditutupi bulu - bulu yang ada. Namun begitu aku menemukan mereka selalu dalam keadaan lurus, maksudku kakinya menjadi lurus (ouchhh menuliskannya saja membuatku merinding). Matanya yang tadi sayu akhirnya tertutup rapat. 

Ah, kusudahi saja... Semakin aku menulis dan memikirkannya semakin membuat seluruh tubuhku merinding dan bergetar tak karuan

0 comments:

Post a Comment