Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Monday, 27 October 2014

Awal Mengikuti JPI dan BPAP 2011

Ini sedikit ceritaku saat ikut JPI dan BPAP tahun 2011 yang lalu. Buatku ini adalah keberuntungan karena diperkenankan untuk ikut kegiatan ini meski aku tidak punya bakat di bidang seni sama sekali. Aku mengikuti seleksinya di kantor Dispora Kota Tanjungpinang karena tertarik dengan yang namanya pertukaran pemuda. Dari SMP udah ngejajalin otak dengan kisah - kisah keren dari orang - orang yang ikut pertukaran pemuda ke luar negeri. Kayaknya si keren aja hahaha... 

Berbekal kekerenan itu aku datang ke Dispora hari Minggu pagi. Rupanya banyak juga yang ikut seleksi daaaan buat aku mereka ini jagoan seni semua. Yaaah, pupus harapan buat lulus kalo begini. 

Seleksi terdiri dari tiga sesi, tulisan, wawancara dan terakhir pertunjukan dari masing - masing perserta. Ujian tertulis kucoba jawab dengan baik meski tak yakin dengan hasilnya. Soal yang diajukan di luar ekspektasi dan sebagai orang yang baru belajar tentang budaya Tanjungpinang, soal - soal itu cukup sulit. 

Kemudian, ujian lisan alias wawancara. Kami dipanggil satu per satu oleh panitia yang bersangkutan. Kucoba setenang mungkin. Ketika ditanya kota mana yang menjadi tujuanku, spontan kujawab NTB. Saat itu Kepri akan bertukar dengan 4 daerah lainnya yaitu Kalimantan Tengah, NTB, Jakarta dan Maluku. Setelah kupikirkan sejenak, akan sangat menyenangkan bisa ke NTB untuk menyaksikan keindahan alam di sana, terutama lautnya. 


Aku tak memilih Kalimantan Tengah karena kupikir apa yang bisa kulihat di sana. Lagipula ketakutanku akan suku yang ada di sana membuatku urung. Maluku tidak begitu menarik untuk menjadi pilihanku, meski ia masuk dalam list tempat yang ingin kudatangi karena letaknya yang di bagian timur Indonesia. Sementara untuk Jakarta, dengan sombongnya aku berpikir bahwa kota ini tak ingin lagi kukunjungi karena sudah pernah ke sana sebelumnya. Lagian aku bisa ke Jakarta kapan pun karena aku menilainya dengan kondisi pekerjaan dan aktivitas yang kumiliki saat itu. Ditambah lagi, aku sejujurnya kapok ke Jakarta karena kondisi masyarakat di bawah jembatan sangat parah dan aku ga berani untuk melihat mereka lagi. 

Untuk pertunjukan bakat aku benar - benar tidak tahu harus menampilkan apa. Peserta lainnya sangat terampil dalam bernyanyi, memainkan alat musik, menari, berpantun, membawakan acara dan lainnya. Di detik terakhir aku memutuskan untuk mendongeng. Aku memilih ini karena belum ada peserta yang menampilkan ini dan hanya ini yang bisa kuberikan pada mereka. Ga mungkin aku harus berlagak jadi mentor di hadapan mereka :D 

 Dengan langkah gontai, menjelang adzan zuhur aku pulang setelah prosesi seleksi selesai dan peserta diizinkan pulang. Meski dalam hati sangat berharap bisa terpilih, namun aku juga sadar diri. Dengan penampilan akhwat begini tak mungkin mereka akan memilihku. Bukankah para peserta harus mampu menampilkan kebudayaan mereka masing - masing di kegiatan JPI dan BPAP nanti? Menari dan menyanyi? Ah, aku tak pantas untuk melakukannya. Pantun? Lupakan saja, apalagi membaca gurindam

Salah satu peserta yang dari Penyengat bahkan mengetahui setiap jenis zapin dan langkah tari. Bagaimana panitia akan memilihku yang tak tahu apa apa tentang tarian Melayu. Menyanyi? Ah, kalian bisa keluar ruangan sesegera mungkin begitu aku menyanyikan kata pertama. Suaraku yang seperti anak kecil dan sungguh cempreng hanya akan merusak suasana. 

Aku menyerah untuk berpantun, meski aku sangat menyukainya. Salah satu peserta adalah pemantun Tanjungpinang yang sudah melalang buana dan mendapat penghargaan dari pemerintah kota. Gurindam? Aihh si suara emas lebih mahir membacakannya. 

Selang setelah hari itu aku ngelanjutin aktivitas seperti biasa. Dengar - dengar sudah ada pengumuman peserta terpilih, dan karena aku tak mendapat telpon itu artinya aku ga masuk dalam daftar. ya sudahlah lain kali mungkin bisa ikut. 

Ketika aku lagi ikut training jurnalistik, habis Zuhur Pak Zamanes, pegawai Dispora yang bertanggung jawab akan kegiatan tersebut menelponku. Wah ada apa nih? 

Tak disangka dan dinyana ternyata beliau mengatakan bahwa aku harus bersiap untuk mengikuti karantina selama seminggu sebagai bekal untuk JPI dan BPAP nanti. :D :D :D :D :D :D Senangnya tiada terkira. 

Rupanya keikutsertaanku kali ini karena peserta yang mendapat urutan pertama ga dapat izin dari tempatnya bekerja. Jadilah aku yang bisa ikut karena ternyata hasil seleksi namaku ada di urutan ketiga. Surprised! 

Alhamdulillah, sungguh kesempatan yang berharga dan patut disyukuri 


0 comments:

Post a Comment