Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Thursday, 30 January 2014

Perjalanan Ini Hanya 23 Hari

      No comments   
Perjalanan telah berakhir. Kini saatnya melanjutkan apa yang sudah kutinggalkan selama 23 hari perjalanan ke Pulau Jawa untuk menemani Ibu menjenguk Uma di Gontor dan Usup di Depok.

Awalnya Ibu ingin pergi sendiri untuk menghemat biaya perjalanan juga makanan selama perjalanan. Beliau sudah memperkirakan bahwa tak akan cukup menghabiskan waktu 10 hari sesuai dengan jatah liburan Uma. Ayah pun tak memberi izin karena Ibu akan naik kapal menuju Jakarta. Ayah berencana untuk menemani tapi kalau aku yang tinggal toh tak bisa bawa angkot kan. Artinya malah akan lebih merepotkan. Aku disuruh pergi menemani Ibu. 

Senang? Belum tentu karena kupikir bepergian selama hampir sebulan tentu akan berefek pada aktivitas kuliah (pembuatan proposal dan lain - lain), organisasi dan juga pencalegan. Meski aku juga ingin ikut tapi di awal ini adalah pilihan yang sulit karena aku juga tak punya niat untuk pergi. 

Setelah kupikirkan sekarang, aku jadi ingat sebuah kisah yang diceritakan Bu Charly ketika kami mabit seminggu sebelum aku berangkat. Tentang seorang pemuda yang ingin dan sangat berniat untuk pergi haji namun ia terkendala pada biaya. Suatu hari dengan dibiayai oleh saudara - saudara lain, Ibu nya akan diberangkatkan haji. Jelang hari keberangkatan para saudara mulai bermusyawarah siapa yang akan menemani ibu mereka untuk pergi haji karena tak mungkin ibunya akan berangkat sendiri. Saudara yang lain tak bisa menemani karena mereka harus bekerja dan tak memperoleh izin. 

Maka diputuskanlah oleh saudara - saudara itu agar pemuda tersebut yang akan menemani ibu mereka untuk pergi berhaji. Masya Allah..... Pemuda itu pun berhaji bersama ibu nya tanpa mengeluarkan biaya apa pun. Bukankah cerita ini penuh hikmah?

Dari cerita ini aku pun berpikir apa yang dialami oleh pemuda ini juga kualami di bulan Januari 2014 ini. Masya Allah, Dia mendengar setiap keinginan hambaNya meski tak disebutkan :) 

Terakhir kali aku bepergian adalah November 2012 bersama Puri dalam rangka Mukernas KAMMI di Depok. Perjalanan penuh arti namun ada satu agenda yang kulewatkan, mengunjungi Ibuk, Bapak dan keluarga PPMI di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saat itu aku dan Puri tak punya waktu untuk singgah karena kami harus berangkat dini hari untuk mengejar pesawat jam 5 subuh. Aku tak ingin merepotkan Bapak maupun yang lainnya maka kami memutuskan untuk ikut Tikha dan Cila. 

Sejak saat itu ada keinginan besar dalam hati untuk bisa kembali ke Jakarta mengunjungi mereka yang ada di Jati Padang. Mereka orang - orang baik dan penuh semangat, menginspirasi. Aku pun mulai merencanakan perjalanan di 2013, sayang tak ada celah untuk pergi. Tak hanya ingin ke Jakarta lagi, aku juga sangat ingin untuk pergi wilayah Jawa lainnya. Meski aku telah sampai ke Malang, Jawa Timur tapi kupikir itu bukan perjalanan sebenarnya karena ia kutempuh dengan pesawat dalam waktu singkat. 

Dan di awal 2014 Allah punya rencana sendiri untuk ku. Dengan judul menemani ibu, keinginanku pun Allah kabulkan. Ke Jakarta berkunjung ke Jati Padang dan menempuh perjalanan ke Ngawi, Jawa Timur dengan bus dan kereta api. Menyaksikan pemandangan seperti apa Jawa dan bagaimana hidup masyarakatnya. 

Beberapa teman memang berpikiran aku sedang jalan - jalan. Ya memang, kupikir jalan - jalan adalah bonus yang kudapatkan secara cuma - cuma untuk sebuah perjalanan menemani ibu. Meski hanya seminggu di Solo dan sisanya di Gontor tapi bersyukurlah. Buat mereka yang hidup di pulau Jawa, hal ini sangat dan amat biasa. Namun bagiku yang tinggal di Tanjungpinang, Kepulauan Riau ini adalah kesempatan yang tak akan datang dua kali. 

Hidup di provinsi kepulauan dengan biaya hidup serba mahal merupakan hal yang sulit untuk melakukan perjalanan seperti itu. Kupikir kami sempat kehabisan biaya selama di Gontor dan harus minta kiriman dari Tanjungpinang. Alhamdulillah rezeki ku dan ibu masih Allah berikan, tergantung bagaimana kami menjemputnya selama dalam perjalanan.

Oh ya, sempat iri dengan mereka yang di Tanjungpinang. Selama aku pergi ada banyak rapat koordinasi yang tak kuhadiri, ada begitu banyak agenda pembangkit semangat yang terlewatkan dan agenda lainnya.

Sampai suatu hari seorang ummahat berkata bahwa aku pun berada kebaikan yang sama karena ini adalah bentuk birrul walidain yang biasanya selalu kami bicarakan. Ini adalah salah satu kesempatan yang tak semua orang bisa dapatkan karena itu bersyukurlah dan perbanyaklah berdoa. Semoga akan terus dalam kebaikan dan ditetapkan iman itu. Sejuk deh :-)

Dan kini aku telah kembali dan siap untuk memulai lagi dari awal juga meneruskan apa yang telah kutinggalkan selama 23 hari. Hmmm musafir aku bisa mengatakannya demikian.


0 comments:

Post a Comment