Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Thursday, 3 January 2013

Satu Semester

      No comments   
Seorang sepupu pernah berkata dengan tegasnya bahwa bekerja bukanlah untuk mencari muka di hadapan bos atau pun yang lainnya. Menurutnya bekerja adalah ajang untuk unjuk kebolehan, kemahiran, keterampilan dan kedisplinan. Melalui itu semua akan terpilih individu - individu yang unggul, yang tak hanya terampil dalam pekerjaan, juga hebat secara perilaku dan tentu memiliki kompetensi.

Rencana awal saat diminta untuk melamar ke pete adalah bekerja selama satu hingga dua bulan setelah itu berhenti. Untuk memenuhi keinginan orang tua agar tak menganggur di sela - sela kegiatan kuliah dan lainnya.  Tak disangka, sudah satu semester menjalani pekerjaan sebagai seorang admin yang hampir 9 jam berada di depan laptop membuat laporan ini dan itu. Sesekali keluar kantor untuk sedikit urusan di bank atau notaris.

Betah? Mungkin. Serasa menemukan keluarga baru karena dengan adanya beberapa tambahan di bagian pemasaran membuat kantor semakin ramai. Tidak seperti di awal, hanya berdua atau bertiga bahkan lebih sering sendiri di kantor.

Ujian paling tidak mengenakkan dalam sebuah pekerjaan adalah ketika atasan terlihat tidak gembira dengan hasil kerja atau merasa tidak puas dan lain sebagainya. Misalnya laporan yang salah, penampilan yang dianggap seperti anak sekolah, suka pakai ransel dan sepatu non-high heels. Yang lebih parah adalah ditengking di telpon.

Pernah suatu hari diminta untuk memindahbukukan bilyet giro ke rekening tertentu. Masalah dimulai dari clearing cek sehingga dana tak bisa dipindakan. Konfirmasi ke pihak bank rupanya salah no rekening. Awalnya tidak mengerti ketika dana tak bisa dicairkan sehingga harus bolak balik ke lantai dua dan menunggu antrian teller hampir 30 menit.

Hasilnya? Ditengking di telpon karena waktu sudah hampir pukul tiga, waktunya untuk kas di bank tutup. Yah apa boleh buat, no rekening yang bersangkutan tidak benar sehingga harus menunggu kiriman dari mereka.

Sedih? Kesal? Mungkin.
Di saat seperti ini pandangan dan perasaan positif harus lebih dikedepankan daripada mengumpat sana - sini, mengomel dalam hati yang sia - sia. Tarik napas dalam - dalam kemudian hembuskan dan insya Allah akan lebih tenang. Setelah itu melenggang dengan santai dan tak lupa untuk menyebarkan senyum ke orang di sekitar seraya sedikit menundukkan kepala seperti Legolas atau tokoh - tokoh dalam drama Joseon :)

Kena tengking itu biasa, menunjukkan kenaikan tingkat dalam pelaksanaan tugas (loh)

0 comments:

Post a Comment