Tanggal 30 September 2010 dua orang petinggi KAMMI Daerah Kepulauan Riau berangkat menuju Solo untuk menghadiri Pra Muktamar sekaligus sosialisasi Manhaj KAMMI yang baru.
Apa hasil dari pertemuan rapimnas kali ini? Apa saja yang dibahas dalam rapimnas tersebut? Isu hangat apa yang sedang dperdebatkan oleh mereka?
Menunggu hasil keputusan sambil terus mencoba bergerak dan menggerakkan yang tersisa di sini.....
Saturday, 2 October 2010
Thursday, 23 September 2010
Konsep Dasar Kerja Pers
Dalam bukunya Fikih Jurnalistik, Faris Khoirul Anam menuliskan lima konsep dasar kerja pers yang mesti menjadi pegangan bagi siapa pun yang melibatkan diri dalam dunia pers. Ketika menyebutkan kata pers, maka yang terbayang dibenak kita adalah kegiatan yang berhubungan dengan berita dan memberitakan. Kelima konsep dasar kerja ini bukanlah untuk membatasi aktivitas dalam dunia pemberitaan melainkan agar pekerja pers dapat bekerja lebih tertib dan mampu memberikan informasi yang akurat dan benar kepada masyarakat.
Konsep dasar kerja pers yang pertama ialah mengklasifikasi sumber berita di mana ini adalah hal yang sangat utama karena menyangkut kebenaran informasi atau berita yang akan disampaikan kepada masyarakat. Dalam mengklasifikasikan sumber berita seorang pekerja pers membutuhkan saksi mata yang dapat dipercaya dan memenuhi syarat untuk berbicara (jika sumber adalah orang). Sumber berita tak hanya berupa orang, namun juga catatan, dokumentasi, referensi, buku, kliping dan sebagainya yang memberikan makna dan kedalaman suatu peristiwa.
Seorang pekerja pers juga tidak boleh terburu – buru dalam memberitakan suatu peristiwa sebelum ia melakukan klasifikasi dan cross check secara terus menerus hingga kevalidan berita ia terima dapat dipertanggungjawabkan, meskipun sedang dikejar deadline.
Kemudian yang kedua, membekali kerja dengan kejujuran sebagaimana disebutkan dalam butir pertama KEWI ( Kode Etik Wartawan Indonesia ), “ wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar “. Setelah mengklasifikasikan sumber berita, maka diperlukan kejujuran seorang pekerja ketika menuliskan berita tersebut dan menyebarkannya ke masyarakat. Dalam hal ini kejujuran yang dimaksud adalah kejujuran berita dan kejujuran hukum.
Kejujuran berita ialah berita tersebut ditulis dengan sebenar – benarnya dengan tidak memanipulasi data dan fakta yang ada di lapangan. Sedangkan kejujuran hukum berarti seorang pekerja pers tidak diperkenankan untuk mengambil keputusan dalam menyikapi suatu berita, untuk diterima atau tidak. Pandangan pekerja pers hanya dapat dituliskan dalam berita tersebut dengan syarat pendapat merupakan penjelasan tafsir yang benar tentang suatu berita dan dampaknya, bukan pendapat pribadinya.
Konsep dasar kerja pers yang ketiga yaitu menyempurnakan kejujuran dengan akurasi. Artinya sebuah berita juga mesti dilengkapi dengan berita sekunder untuk menghindari kesalahpahaman pembaca akan berita tersebut. Sebelum berita disampaikan kepada masyarakat, kebenaran berita harus diperiksa dengan teliti dan meminta konfirmasi dari pihak yang bersangkutan, sehingga ketika berita diterbitkan, tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan tersebut.
Seperti kasus memilukan yang terjadi dibalik peristiwa Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Peristiwa ini terjadi akibat pemberitaan yang kurang akurat, asal memberitakan dan lebih mengutamakan keinginan pasar. Di mana diekspos di media massa bahwa Letnan Djaja Suparman saat peristiwa ledakan sedang berada di Bali . Ia merasakan pers tidak berupaya menghubungi untuk meminta konfirmasi atas isu tersebut. Dan tidak dengan memberikan bukti – bukti yang ada seperti tiket pesawat atau bill hotel untuk membuktikan kebaradaannya di Bali . Jadi tidak menelan mentah – mentah informasi dari sumber anonym yang mengatakan ‘ ada dua Jenderal yaitu jendral TNI Angkatan darat dan Jenderal Polisi ada di Bali dan dikaitkan mereka berada di belakang peritiwa Bom Bali ‘.
Hal ini tentu saja memojokkan Djaja Suparman dan harus menerima kenyataan mertuanya meninggal karena shock mendengar berita itu. Setelah 40 hari pemberitaan itu ayah kandungnya juga meninggal.
Keempat, objektif dalam menjelaskan kejadian, yang artinya seorang penulis berita harus mengemukakan pendapatnya berdasarkan fakta yang ada bukan kecondongan dan ambisi pribadinya. Berita yang ditulis haruslah mencakup jalannya suatu kejadian, kelanjutan dan dampak sebuah peristiwa, fakta dan data di lapangan kemudian catatan dan solusi yang konkrit lagi bermanfaat. Seorang pekerja pers tidak diperkenankan untuk memasukkan pendapat pribadi yang bertujuan untuk memenuhi ambisinya, apalagi yang jauh dari kebenaran. Tak hanya itu, berita juga ditulis dengan gaya bahasa yang tidak melecehkan maupun menjatuhkan martabat pihak yang diberitakan.
Konsep kelima ialah mematuhi aturan dan etika umum ( kode etik ). Ketika menulis berita pekerja pers diikat oleh aturan – aturan dan ketentuan – ketentuan yang berlaku di komunitasnya. Dengan adanya aturan dan ketentuan tersebut diharapkan akan tercipta kondisi yang dapat diterima masyarakat namun tidak merugikan pihak pers.
Di Indonesia ada banyak organisasi wartawan, namun yang paling besar adalah Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI ) dan Aliansi Jurnalis Independen ( AJI ). Organisasi – organisasi ini memiliki kode etik sendiri bagi para anggotanya yang bertujuan untuk mengontrol cara pemberitaan sehingga tidak mengganggu pihak – pihak yang akan diberitakan.
Sunday, 19 September 2010
OIS FISIP UI 2007
Meskipun teman saya selalu mengatakan lebih baik saya menulis hal - hal yang lebih penting, daripada sekedar menulis pengalaman pribadi, hal itu tidak akan mematikan semangat saya dalam menulis apa - apa saja yang pernah saya lewati. Walaupun saya tahu bahwa pengalamannya lebih banyak dan lebih spektakuler dari saya, saya kekeuh untuk menulis apapun yang saya inginkan. Selagi jari jemari saya masih bisa menari di atas keyboard, saya akan terus menuliskan apapun yang saya sukai.
Olimpiade Ilmu Sosial FISIP UI
Jakarta, 12 - 16 Februari 2007
Mengikuti Olimpiade Ilmu Sosial Tingkat Nasional yang diadakan oleh FISIP UI tahun 2007 lalu merupakan sebuah pengalaman luar biasa dan tak akan mungkin terlupakan. Entahlah, apakah hal itu merupakan suatu kebetulan atau memang dikarenakan oleh karya tulis yang kami buat ( lebih tepatnya teman – teman saya ) punya nilai lebih di mata panitia. Yang jelas dan hingga saat ini saya yakini bahwa tentunya hal ini sudah tertulis di catatan sang Pencipta sebagai salah satu scenario dalam hidup kami.
Saya sudah bertekad untuk menuliskannya dalam catatan harian saya begitu kami pulang dari Jakarta, namun entah kenapa hal itu tidak juga saya lakukan. Barulah hari ini ( setelah tiga tahun berlalu ) saya bisa menuliskannya agar kenangan itu tetap membekas dan memberikan dorongan semangat kepada saya, betapa masih banyak hal yang harus dipikirkan dan saya harus selalu produktif.
Berawal dari tawaran dua orang teman saya dari kelas berbeda ( kelas super, demikian saya menyebutnya ) untuk bergabung dengan mereka untuk mengikuti kegiatan ini. Kebingungan dan keheranan menerpa saya, mengapa saya yang dipilih. Padahal saat itu ada banyak teman – teman lain yang punya kompetensi lebih baik dari saya. Alasannya hanya satu, karena beberapa waktu lalu saya adalah salah satu peserta debat antar kelas ( di class meeting akhir semester ). Sebuah keberuntungan.
Mungkin menurut teman – teman penampilan saya cukup baik pada saat itu ( saya sangat menyukai debat itu sendiri ). Saya pun menyetujui untuk bergabung dan mulai bekerjasama untuk membuat karya tulis dengan tema Beyond Disaster. Kami sengaja mengambil contoh kasus Tsunami di Aceh tahun 2004 lalu. Mengupasnya semampu kami dan mencoba menawarkan solusi bagi pemerintah dalam menanggulangi keadaan di Aceh yang pada saat itu jauh dari kelayakan, di mana para korban yang masih hidup tinggal di tempat yang tidak layak.
Singkat cerita, karya tulis yang menurut saya sangat sederhana itu pun dikirim ke Jakarta. Ketika dikirim, saya cukup berharap kami masuk sebagai finalis dan berkesempatan mengikuti kegiatan selanjutnya di Jakarta. Harapan yang tipis itu segera saya tepis karena saya rasa itu adalah hal yang mustahil kami bisa lolos babak seleksi. Setelah itu saya tak lagi berharap dan juga tak berdoa akan kelulusan kami.
Beberapa waktu setelahnya, saya kurang ingat kapan pastinya, kami diberitahu bahwa karya tulis tentang Tsunami di Aceh itu lolos dan termasuk dalam 25 finalis dari seluruh Indonesia. Betapa senang dan bahagianya kami saat itu, khususnya saya. Bagaimana tidak, ini akan jadi perjalanan pertama saya keluar dari pulau Sumatera. Akan ada daerah baru lagi yang akan saya kunjungi, karena satu – satunya kota besar yang pernah saya tempati hanyalah Padang ( Sumatera Barat ) dan Pekanbaru ( Riau ). Selebihnya hanya kota atau pulau kecil. Saya begitu senang hingga terus memikirkan perjalanan itu.
Persiapan Keberangkatan
Begitu pengumuman diterima, dalam waktu cukup singkat orang tua kami dipanggil ke sekolah untuk membicarakan hal ini, yang saya ketahui akhirnya ialah masalah biaya keberangkatan kami. Sekolah ternyata tidak sanggup ( atau tidak mau ) membiayai, yang artinya kami berangkat dengan biaya kami sendiri. Hampir saya tidak percaya akan hal ini, pupus sudah harapan saya. Namun guru pembimbing kami menenangkan kami dan meyakinkan bahwa kami akan berangkat dengan cara apapun. Kami tidak perlu memikirkan biaya ataupun yang lainnya, hanya perlu focus pada persiapan untuk ke sana.
Putus asa tentunya menyerang pribadi saya sehingga tidak banyak persiapan yang saya lakukan. Saya sudah tahu kami pasti tidak akan jadi berangkat untuk mengikuti kegiatan itu.
Takdir berbicara dan kami dikabari bahwa kami akan berangkat pada hari X ( saya lupa harinya ). Bukan main senangnya kami ketika itu, perjalanan impian akan segera dimulai. Kami pulang sekolah lebih awal untuk persiapan esok hari. Tak lupa kami berpamitan pada wali kelas masing – masing yang saat itu wali kelas saya tengah mengajar (malu sekali rasanya ketika saya harus masuk kelas yang sedang diajarnya itu ).
Keberangkatan
Hari bersejarah itu pun dimulai. Kami akan mengikui kegiatan nasional selama 5 hari di ibukota Negara. Begitu pamit dengan orang tua, kami melangkah untuk keberangkatan pertama menuju Batam. Sepertinya saat itu sudah lama sekali saya tidak naik kapal laut, alat transportasi favorit saya walaupun sebagian orang tidak suka karena terombang ambing di tengah laut.
Singkat cerita, kami tiba di bandara Hang Nadim, Batam ( saya menyukai bandara ini ), kemudian masuk ruang tunggu. Berdebar – debar hati saya ketika itu karena akan naik pesawat lagi, alat transportasi yang jarang sekali saya naiki.
Sayang di pesawat saya tidak mendapatkan kursi yang dekat dengan jendela, padahal saya sangat berharap sekali. Tidak apa lah, dalam hati saya berdoa agar pulang nanti saya bisa mendapatkannya. Setidaknya dengan duduk di bagian tepi saya bisa menyaksikan lagi pramugari ‘bisu’ tampil untuk memberikan keterangan pada penumpang tentang upaya penyelamatan seandainya terjadi sesuatu.
Sebelum pesawat take off saya memperhatikan orang – orang di sekeliling saya dan hanya bisa tersenyum geli saat melihat salah satu penumpang tidak tahu bagaimana cara memasang seat belt. Mungkin ini pengalaman pertamanya naik pesawat begitu batin saya. Namun saya berpendapat, setidaknya jika dia mendengar dan memperhatikan pramugari cantik itu dia akan tahu. Huft…. Saya tidak habis piker dengan orang – orang yang kadang tidak mau peduli.
Kemudian ketika saya melongok ke seberang belakang, tempat guru pembimbing kami duduk saya kembali menahan tawa. Seorang bapak yang duduk di sebelah beliau tak hentinya komat kamit entah membaca apa. Masih terpatri di benak saya bahwa secara penampilan dia adalah orang yang punya ilmu agama yang tinggi. Saya tidak habis piker lagi, mengapa orang begitu takut akan sesuatu sebelum hal tersebut terjadi. Mengapa tidak berpikir positif saja dan meyerahkannya pada Allah. Yah, saya tahu dia hanya berdoa, tapi menurut saya berlebihan karena bibirnya tak berhenti untuk komat kamit.
Tibalah saarnya untuk take off dan saya tidak mau melewatkan momen ini karena saya suka dengan sensasi aneh yang timbul ketika pesawat take off. Tak lupa saya berdoa akan kelancaran perjalanan kam. Di detik itu pula kembali saya memperhatikan bapak yang duduk di sebelah guru pembimbing kami, dan semakin geli saya melihatnya. Bibirnya semakin bergerak cepat, dan saya idak pernah tahu apa yang dibacanya. Sementara itu salah satu penumpang menunjukkan ketegangan luar biasa, pastilah ini pertama kalinya ia naik pesawat.
Alhamdulillah the trip is so nice. Bersyukur saya bisa menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Dan pikiran yang pertama kali muncul ialah saya membayangkan bahwa di sini lah lokasi syuing Eiffel I’m in Love. Huahahaha naïf sekali ketika itu saya berpikir demikian.
Secara umum saya lebih menyukai bandara Hang Nadim karena di sana lebih bersih daripada di Jakarta. Saya heran dan sekaligus malu, karena saya sempat melihat turis mancanegara dan takut sekali akan pendapat mereka akan bandara ini ( padahal kami sama sekali tidak berkomunikasi ). Dasar, saya terlalu berlebihan!!
Kami dijemput oleh dua orang panitia di bandara dan langsung diantar ke penginapan. Dalam perjalanann saya tidak mau melepaskan mata dari kondisi jalanan yang kami lewati. Ada rasa kagum yang muncul dengan kota ini karena banyaknya gedung – gedung tinggi di kiri kanan jalan, jalan raya yang besar dengan 4 jalur ( klo ga salah ingat ) dan lain sebagainya.
Di Penginapan
Sesampainya di penginapan, saya langsung shalat ashar. Namun karena di tempat baru, saya cukup takut dantidak khusyuk sama sekali. Saya shalat di atas tempat tidur dan membayangkan hal – hal yang menakutkan di penginapan tersebut.
Ternyata kami tidak berada dalam satu kamar yang sama. Panitia mengacak agar tidak ada peserta yang berasal dari satu daerah tidur di kamar yang sama. Saya berkesempatan sekamar dengan teman dari SMAN 1 Depok dan SMAN Frater Don Bosco ( Sulawesi ). Mereka adalah teman sekamar yang cukup menarik bagi saya. Salah satunya datang dengan cukup heboh dan memang merupakan peserta terheboh.
Peserta yang hadir hanya 69 orang dari 23 daerah. Dua daerah tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut dan saya cukup kecewa dengan ketidakhadiran mereka. Meskipun begitu saya harus tetap semangat.
OIS 2007
Olimpiade Ilmu Sosial ini merupakan ajang kompetisi ilmu – ilmu sosial bagi siswa/I sekolah menengah atas atau sederajat yang telah diselenggarakan untuk kelima kalinya. Tahun 2007 ini OIS mengambil tema Beyond Disaster mengingat maraknya bencana alam yang terjadi di Indonesia pada waktu itu. Melalui acara ini diharapkan peserta OIS 2007 selain dapat menganalisis masalah juga mampu memberikan solusi dan kontribusi secara langsung terhadapa permasalahan tersebut.
Rangkaian acara Olimpiade Ilmu Sosial 2007 yang diselenggarakan oleh FISIP UI tersebut terdiri dari empat acara inti dan lima acara pendukung. Acara inti meliputi menulis review film dalam bahasa Inggris, analisis masalah, presentasi masalah dan circle of beat. Sementara itu acara pendukung terdiri dari training public speaking, kunjungan ke kantor DPR/MPR, FISIP open house, city tour dan diakhiri dengan malam keakraban.
( bersambung )
Olimpiade Ilmu Sosial FISIP UI
Jakarta, 12 - 16 Februari 2007
Mengikuti Olimpiade Ilmu Sosial Tingkat Nasional yang diadakan oleh FISIP UI tahun 2007 lalu merupakan sebuah pengalaman luar biasa dan tak akan mungkin terlupakan. Entahlah, apakah hal itu merupakan suatu kebetulan atau memang dikarenakan oleh karya tulis yang kami buat ( lebih tepatnya teman – teman saya ) punya nilai lebih di mata panitia. Yang jelas dan hingga saat ini saya yakini bahwa tentunya hal ini sudah tertulis di catatan sang Pencipta sebagai salah satu scenario dalam hidup kami.
Saya sudah bertekad untuk menuliskannya dalam catatan harian saya begitu kami pulang dari Jakarta, namun entah kenapa hal itu tidak juga saya lakukan. Barulah hari ini ( setelah tiga tahun berlalu ) saya bisa menuliskannya agar kenangan itu tetap membekas dan memberikan dorongan semangat kepada saya, betapa masih banyak hal yang harus dipikirkan dan saya harus selalu produktif.
Berawal dari tawaran dua orang teman saya dari kelas berbeda ( kelas super, demikian saya menyebutnya ) untuk bergabung dengan mereka untuk mengikuti kegiatan ini. Kebingungan dan keheranan menerpa saya, mengapa saya yang dipilih. Padahal saat itu ada banyak teman – teman lain yang punya kompetensi lebih baik dari saya. Alasannya hanya satu, karena beberapa waktu lalu saya adalah salah satu peserta debat antar kelas ( di class meeting akhir semester ). Sebuah keberuntungan.
Mungkin menurut teman – teman penampilan saya cukup baik pada saat itu ( saya sangat menyukai debat itu sendiri ). Saya pun menyetujui untuk bergabung dan mulai bekerjasama untuk membuat karya tulis dengan tema Beyond Disaster. Kami sengaja mengambil contoh kasus Tsunami di Aceh tahun 2004 lalu. Mengupasnya semampu kami dan mencoba menawarkan solusi bagi pemerintah dalam menanggulangi keadaan di Aceh yang pada saat itu jauh dari kelayakan, di mana para korban yang masih hidup tinggal di tempat yang tidak layak.
Singkat cerita, karya tulis yang menurut saya sangat sederhana itu pun dikirim ke Jakarta. Ketika dikirim, saya cukup berharap kami masuk sebagai finalis dan berkesempatan mengikuti kegiatan selanjutnya di Jakarta. Harapan yang tipis itu segera saya tepis karena saya rasa itu adalah hal yang mustahil kami bisa lolos babak seleksi. Setelah itu saya tak lagi berharap dan juga tak berdoa akan kelulusan kami.
Beberapa waktu setelahnya, saya kurang ingat kapan pastinya, kami diberitahu bahwa karya tulis tentang Tsunami di Aceh itu lolos dan termasuk dalam 25 finalis dari seluruh Indonesia. Betapa senang dan bahagianya kami saat itu, khususnya saya. Bagaimana tidak, ini akan jadi perjalanan pertama saya keluar dari pulau Sumatera. Akan ada daerah baru lagi yang akan saya kunjungi, karena satu – satunya kota besar yang pernah saya tempati hanyalah Padang ( Sumatera Barat ) dan Pekanbaru ( Riau ). Selebihnya hanya kota atau pulau kecil. Saya begitu senang hingga terus memikirkan perjalanan itu.
Persiapan Keberangkatan
Begitu pengumuman diterima, dalam waktu cukup singkat orang tua kami dipanggil ke sekolah untuk membicarakan hal ini, yang saya ketahui akhirnya ialah masalah biaya keberangkatan kami. Sekolah ternyata tidak sanggup ( atau tidak mau ) membiayai, yang artinya kami berangkat dengan biaya kami sendiri. Hampir saya tidak percaya akan hal ini, pupus sudah harapan saya. Namun guru pembimbing kami menenangkan kami dan meyakinkan bahwa kami akan berangkat dengan cara apapun. Kami tidak perlu memikirkan biaya ataupun yang lainnya, hanya perlu focus pada persiapan untuk ke sana.
Putus asa tentunya menyerang pribadi saya sehingga tidak banyak persiapan yang saya lakukan. Saya sudah tahu kami pasti tidak akan jadi berangkat untuk mengikuti kegiatan itu.
Takdir berbicara dan kami dikabari bahwa kami akan berangkat pada hari X ( saya lupa harinya ). Bukan main senangnya kami ketika itu, perjalanan impian akan segera dimulai. Kami pulang sekolah lebih awal untuk persiapan esok hari. Tak lupa kami berpamitan pada wali kelas masing – masing yang saat itu wali kelas saya tengah mengajar (malu sekali rasanya ketika saya harus masuk kelas yang sedang diajarnya itu ).
Keberangkatan
Hari bersejarah itu pun dimulai. Kami akan mengikui kegiatan nasional selama 5 hari di ibukota Negara. Begitu pamit dengan orang tua, kami melangkah untuk keberangkatan pertama menuju Batam. Sepertinya saat itu sudah lama sekali saya tidak naik kapal laut, alat transportasi favorit saya walaupun sebagian orang tidak suka karena terombang ambing di tengah laut.
Singkat cerita, kami tiba di bandara Hang Nadim, Batam ( saya menyukai bandara ini ), kemudian masuk ruang tunggu. Berdebar – debar hati saya ketika itu karena akan naik pesawat lagi, alat transportasi yang jarang sekali saya naiki.
Sayang di pesawat saya tidak mendapatkan kursi yang dekat dengan jendela, padahal saya sangat berharap sekali. Tidak apa lah, dalam hati saya berdoa agar pulang nanti saya bisa mendapatkannya. Setidaknya dengan duduk di bagian tepi saya bisa menyaksikan lagi pramugari ‘bisu’ tampil untuk memberikan keterangan pada penumpang tentang upaya penyelamatan seandainya terjadi sesuatu.
Sebelum pesawat take off saya memperhatikan orang – orang di sekeliling saya dan hanya bisa tersenyum geli saat melihat salah satu penumpang tidak tahu bagaimana cara memasang seat belt. Mungkin ini pengalaman pertamanya naik pesawat begitu batin saya. Namun saya berpendapat, setidaknya jika dia mendengar dan memperhatikan pramugari cantik itu dia akan tahu. Huft…. Saya tidak habis piker dengan orang – orang yang kadang tidak mau peduli.
Kemudian ketika saya melongok ke seberang belakang, tempat guru pembimbing kami duduk saya kembali menahan tawa. Seorang bapak yang duduk di sebelah beliau tak hentinya komat kamit entah membaca apa. Masih terpatri di benak saya bahwa secara penampilan dia adalah orang yang punya ilmu agama yang tinggi. Saya tidak habis piker lagi, mengapa orang begitu takut akan sesuatu sebelum hal tersebut terjadi. Mengapa tidak berpikir positif saja dan meyerahkannya pada Allah. Yah, saya tahu dia hanya berdoa, tapi menurut saya berlebihan karena bibirnya tak berhenti untuk komat kamit.
Tibalah saarnya untuk take off dan saya tidak mau melewatkan momen ini karena saya suka dengan sensasi aneh yang timbul ketika pesawat take off. Tak lupa saya berdoa akan kelancaran perjalanan kam. Di detik itu pula kembali saya memperhatikan bapak yang duduk di sebelah guru pembimbing kami, dan semakin geli saya melihatnya. Bibirnya semakin bergerak cepat, dan saya idak pernah tahu apa yang dibacanya. Sementara itu salah satu penumpang menunjukkan ketegangan luar biasa, pastilah ini pertama kalinya ia naik pesawat.
Alhamdulillah the trip is so nice. Bersyukur saya bisa menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Dan pikiran yang pertama kali muncul ialah saya membayangkan bahwa di sini lah lokasi syuing Eiffel I’m in Love. Huahahaha naïf sekali ketika itu saya berpikir demikian.
Secara umum saya lebih menyukai bandara Hang Nadim karena di sana lebih bersih daripada di Jakarta. Saya heran dan sekaligus malu, karena saya sempat melihat turis mancanegara dan takut sekali akan pendapat mereka akan bandara ini ( padahal kami sama sekali tidak berkomunikasi ). Dasar, saya terlalu berlebihan!!
Kami dijemput oleh dua orang panitia di bandara dan langsung diantar ke penginapan. Dalam perjalanann saya tidak mau melepaskan mata dari kondisi jalanan yang kami lewati. Ada rasa kagum yang muncul dengan kota ini karena banyaknya gedung – gedung tinggi di kiri kanan jalan, jalan raya yang besar dengan 4 jalur ( klo ga salah ingat ) dan lain sebagainya.
Di Penginapan
Sesampainya di penginapan, saya langsung shalat ashar. Namun karena di tempat baru, saya cukup takut dantidak khusyuk sama sekali. Saya shalat di atas tempat tidur dan membayangkan hal – hal yang menakutkan di penginapan tersebut.
Ternyata kami tidak berada dalam satu kamar yang sama. Panitia mengacak agar tidak ada peserta yang berasal dari satu daerah tidur di kamar yang sama. Saya berkesempatan sekamar dengan teman dari SMAN 1 Depok dan SMAN Frater Don Bosco ( Sulawesi ). Mereka adalah teman sekamar yang cukup menarik bagi saya. Salah satunya datang dengan cukup heboh dan memang merupakan peserta terheboh.
Peserta yang hadir hanya 69 orang dari 23 daerah. Dua daerah tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut dan saya cukup kecewa dengan ketidakhadiran mereka. Meskipun begitu saya harus tetap semangat.
OIS 2007
Olimpiade Ilmu Sosial ini merupakan ajang kompetisi ilmu – ilmu sosial bagi siswa/I sekolah menengah atas atau sederajat yang telah diselenggarakan untuk kelima kalinya. Tahun 2007 ini OIS mengambil tema Beyond Disaster mengingat maraknya bencana alam yang terjadi di Indonesia pada waktu itu. Melalui acara ini diharapkan peserta OIS 2007 selain dapat menganalisis masalah juga mampu memberikan solusi dan kontribusi secara langsung terhadapa permasalahan tersebut.
Rangkaian acara Olimpiade Ilmu Sosial 2007 yang diselenggarakan oleh FISIP UI tersebut terdiri dari empat acara inti dan lima acara pendukung. Acara inti meliputi menulis review film dalam bahasa Inggris, analisis masalah, presentasi masalah dan circle of beat. Sementara itu acara pendukung terdiri dari training public speaking, kunjungan ke kantor DPR/MPR, FISIP open house, city tour dan diakhiri dengan malam keakraban.
( bersambung )
Surat Cinta yang Kucintai : Serpihan Hati Seorang Pejuang (Akhwat)
sungguh..
hati ini telah terpaut..
dalam rasa yang membuat diri ini enggan..
enggan untuk berpisah..
enggan untuk tak bersapa..
enggan untuk tak bersua..
cinta ini..
membuat diri ini begitu merasa spesial..
sungguh.
aku mencintaimu..
demi Allah..
aku mencintaimu karena cintanya engkau pada-Nya..
tapi,
maaf…
aku berkhianat padamu..
khianat..
karena aku mempunyai cinta-cinta yang lain..
dan, aku lebih mencintai lebih jauh..
lebih dalam..
pada cintaku yang lain itu..
aku lebih mencintai umat ini..
aku lebih mencintai jalan suci ini..
aku lebih mencintai Allah Sang Khalik…
sehingga.
aku enggan..
aku malu..
untuk membuat-Nya murka..
untuk membuat-Nya tidak lagi memberkahi jalan sulit yang saat ini sedang ku tempuh..
aku malu..
aku takut…
ketika kepahamanku dipertanggungjawabkan kelak..
sebagai seorang aktivis dakwah..
sebagai seorang dai..
sebagai seorang guru..
sebagai seorang teladan..
bagaimana bisa…
bagaimana bisa..
ada sebuah kontradiksi dalam aktivitas-aktivitas kita..
ya akhi..
bisa jadi karena maksiat-maksiat yang kita lakukan..
Allah menutup hati mereka,mereka yang belum terwarnai oleh Islam..
karena Allah begitu menjaga jalan dakwah ini..
karena Allah enggan ada orang-orang yang munafik berada di jalan ini..
sungguh,
demi Allah..
sebesar apapun cintaku padamu..
sebesar apapun cintamu padaku..
Allah tidak akan pernah ridho..
jika semua tidak dibalut dengan syariat..
ya akhi..
biarkan aku sendiri..
biarkan..
mungkin akan perih untuk kita berdua..
mungkin akan sakit untuk hati-hati yang telah diselimuti syaithan..
namun,
biarkan rasa sakit ini yang menjadi saksi..
bahwa kita adalah aktivis dakwah sejati..
sejati dengan kepahaman kita..
sejati dengan keilmuan kita..
sejati dengan jalan yang kita jalani..
tersenyumlah akhi..
sekalipun perih terasa menyayat..
karena senyum itu..
pertanda kau telah mampu..
mampu untuk melupakan cinta yang tidak halal ini..
dan sungguh,
karena mencintai adalah memiliki..
sehingga Sang Pemilik diri enggan,
enggan bila kita membagi cinta kita kepada yang lain..
terlebih cinta itu bukanlah vinta yang halal..
-untuk dia yang pernah tersakiti-
ikhwahfillah..
cinta merupakan suatu hal yang fitrah..
fitrah bagi kita seorang manusia..
sekalipun kita adalah aktivis dakwah..
namun,
cinta itu menjadi tidak fitrah..
manakala kita..
kita,yang terlibat dalam manuver-manuver dakwah..
ternyata menyimpan rasa-rasa yang bisa jadi itu bukanlah rasa yang Allah berikan..
Cinta..
ada untuk dinikmati..
dengan cara-Nya…
ikhwahfillah..
dalam suatu lingkaran pernah dikatakan,
bahwa cinta sebelum pernikahan adalah suatu yang haram..
lalu, bagaimana bisa aktivis dakwah yang notabenenya adalah seseorang yang telah ter-tarbiyah mengalami hal ini?
astagfirullah..
mari,
melihat diri-diri kita kembali..
bisa jadi sulitnya jalan dakwah yanng kita lalui..
adalah karena maksiat-maksiat di hati kita..
maksiat akibat rasa-rasa ‘nakal’ kita..
cintailah Allah..
maka Allah akan mencintaimu..
cintailah Allah..
maka Allah akan berada senantiasa di dekatmu..
-teruntuk yang spesial diri sendiri, dan semua aktivis dakwah di semua lembaga-
notes ini adalah ungkapan kebingungan atas semua yang terjadi..
copas from www.akarsejarah.wordpress.com
hati ini telah terpaut..
dalam rasa yang membuat diri ini enggan..
enggan untuk berpisah..
enggan untuk tak bersapa..
enggan untuk tak bersua..
cinta ini..
membuat diri ini begitu merasa spesial..
sungguh.
aku mencintaimu..
demi Allah..
aku mencintaimu karena cintanya engkau pada-Nya..
tapi,
maaf…
aku berkhianat padamu..
khianat..
karena aku mempunyai cinta-cinta yang lain..
dan, aku lebih mencintai lebih jauh..
lebih dalam..
pada cintaku yang lain itu..
aku lebih mencintai umat ini..
aku lebih mencintai jalan suci ini..
aku lebih mencintai Allah Sang Khalik…
sehingga.
aku enggan..
aku malu..
untuk membuat-Nya murka..
untuk membuat-Nya tidak lagi memberkahi jalan sulit yang saat ini sedang ku tempuh..
aku malu..
aku takut…
ketika kepahamanku dipertanggungjawabkan kelak..
sebagai seorang aktivis dakwah..
sebagai seorang dai..
sebagai seorang guru..
sebagai seorang teladan..
bagaimana bisa…
bagaimana bisa..
ada sebuah kontradiksi dalam aktivitas-aktivitas kita..
ya akhi..
bisa jadi karena maksiat-maksiat yang kita lakukan..
Allah menutup hati mereka,mereka yang belum terwarnai oleh Islam..
karena Allah begitu menjaga jalan dakwah ini..
karena Allah enggan ada orang-orang yang munafik berada di jalan ini..
sungguh,
demi Allah..
sebesar apapun cintaku padamu..
sebesar apapun cintamu padaku..
Allah tidak akan pernah ridho..
jika semua tidak dibalut dengan syariat..
ya akhi..
biarkan aku sendiri..
biarkan..
mungkin akan perih untuk kita berdua..
mungkin akan sakit untuk hati-hati yang telah diselimuti syaithan..
namun,
biarkan rasa sakit ini yang menjadi saksi..
bahwa kita adalah aktivis dakwah sejati..
sejati dengan kepahaman kita..
sejati dengan keilmuan kita..
sejati dengan jalan yang kita jalani..
tersenyumlah akhi..
sekalipun perih terasa menyayat..
karena senyum itu..
pertanda kau telah mampu..
mampu untuk melupakan cinta yang tidak halal ini..
dan sungguh,
karena mencintai adalah memiliki..
sehingga Sang Pemilik diri enggan,
enggan bila kita membagi cinta kita kepada yang lain..
terlebih cinta itu bukanlah vinta yang halal..
-untuk dia yang pernah tersakiti-
ikhwahfillah..
cinta merupakan suatu hal yang fitrah..
fitrah bagi kita seorang manusia..
sekalipun kita adalah aktivis dakwah..
namun,
cinta itu menjadi tidak fitrah..
manakala kita..
kita,yang terlibat dalam manuver-manuver dakwah..
ternyata menyimpan rasa-rasa yang bisa jadi itu bukanlah rasa yang Allah berikan..
Cinta..
ada untuk dinikmati..
dengan cara-Nya…
ikhwahfillah..
dalam suatu lingkaran pernah dikatakan,
bahwa cinta sebelum pernikahan adalah suatu yang haram..
lalu, bagaimana bisa aktivis dakwah yang notabenenya adalah seseorang yang telah ter-tarbiyah mengalami hal ini?
astagfirullah..
mari,
melihat diri-diri kita kembali..
bisa jadi sulitnya jalan dakwah yanng kita lalui..
adalah karena maksiat-maksiat di hati kita..
maksiat akibat rasa-rasa ‘nakal’ kita..
cintailah Allah..
maka Allah akan mencintaimu..
cintailah Allah..
maka Allah akan berada senantiasa di dekatmu..
-teruntuk yang spesial diri sendiri, dan semua aktivis dakwah di semua lembaga-
notes ini adalah ungkapan kebingungan atas semua yang terjadi..
copas from www.akarsejarah.wordpress.com
Friday, 10 September 2010
Obsesi Menjadi Dia
Oke lah kalo begitu. Aku tahu aku terobsesi. Atau lebih tepatnya terbayang-bayangi.
Seharusnya aq bebas berekspresi dengan gaya tulisanku sendiri. Hmm mungkin ini diakibat terlalu banyak ( oh ya! ) membaca tulisan orang lain.
Well, biar kuuraikan masalah ini.
Katanya, agar bisa menulis dengan baik, maka kau dianjurkan untuk lebih banyak membaca karya atau tulisan orang lain. Mengapa? Dari sini kau bisa belajar secara otodidak bagaimana menulis yang baik dan benar. Ya tergantung juga. Seperti mata pisau, jika kau menggunakan bagian yang tajam untuk memotong daging, pastilah pekerjaan potong memotong terlaksana dengan sukses. Sebaliknya ketika bagian yang tumpul digunakan, percayalah hanya kekesalan yang kau dapatkan karena daging tak kunjung terpotong sementara kau harus segera memasaknya ( hh resiko kalo yang nulis cewek, gak jauh dari masakan, padahal gak bisa masak ).
Demikian jugalah yang terjadi saat kau terlalu banyak membaca karya orang lain.
Oke kembali ke topik awal, kusadari bahwa kita sudah melenceng terlalu jauh.
Masalahku dengan tulisan ialah bahwa setiap kali akan menulis sesuatu, aku selalu dibayang-bayangi oleh seseorang yang merupakan guru pembimbingku dalam menulis. Ya, dia juga bukan segalanya, maksudku, tidak semua pelajaran menulisku kudapatkan darinya. Dia adalah seorang motivator jutek bagiku. No problem, selagi bisa membuatku mau menulis.
Aku terobsesi untuk bisa menulis seperti dia. Maksudku, tulisannya yang berkisar masalah politik kedaerahan bagiku cukup berat, namun aku tetap ingin mencoba. Setiap kali ingin menulis masalah kedaerahan kupaksakan seperti tulisannya. Hasilnya dapat kau bayangkan, benar-benar tidak memuaskan.
Aku tahu dan sangat sadar aku tidak boleh begitu. Setelah kupikir-pikir pemikiran dan gaya tulisan setiap orang tidak sama. Boleh saja kau memiliki ide yang sama, namun begitu tertuang dalam bentuk tulisan, hasilnya akan berbeda.
Seharusnya aku memang tidak boleh terlalu terobsesi dengan tulisan-tulisannya. Juga tidak berusaha untuk jadi seperti dia karena kami tidak sama ( ya iya laaah ).
Seharusnya aq bebas berekspresi dengan gaya tulisanku sendiri. Hmm mungkin ini diakibat terlalu banyak ( oh ya! ) membaca tulisan orang lain.
Well, biar kuuraikan masalah ini.
Katanya, agar bisa menulis dengan baik, maka kau dianjurkan untuk lebih banyak membaca karya atau tulisan orang lain. Mengapa? Dari sini kau bisa belajar secara otodidak bagaimana menulis yang baik dan benar. Ya tergantung juga. Seperti mata pisau, jika kau menggunakan bagian yang tajam untuk memotong daging, pastilah pekerjaan potong memotong terlaksana dengan sukses. Sebaliknya ketika bagian yang tumpul digunakan, percayalah hanya kekesalan yang kau dapatkan karena daging tak kunjung terpotong sementara kau harus segera memasaknya ( hh resiko kalo yang nulis cewek, gak jauh dari masakan, padahal gak bisa masak ).
Demikian jugalah yang terjadi saat kau terlalu banyak membaca karya orang lain.
Oke kembali ke topik awal, kusadari bahwa kita sudah melenceng terlalu jauh.
Masalahku dengan tulisan ialah bahwa setiap kali akan menulis sesuatu, aku selalu dibayang-bayangi oleh seseorang yang merupakan guru pembimbingku dalam menulis. Ya, dia juga bukan segalanya, maksudku, tidak semua pelajaran menulisku kudapatkan darinya. Dia adalah seorang motivator jutek bagiku. No problem, selagi bisa membuatku mau menulis.
Aku terobsesi untuk bisa menulis seperti dia. Maksudku, tulisannya yang berkisar masalah politik kedaerahan bagiku cukup berat, namun aku tetap ingin mencoba. Setiap kali ingin menulis masalah kedaerahan kupaksakan seperti tulisannya. Hasilnya dapat kau bayangkan, benar-benar tidak memuaskan.
Aku tahu dan sangat sadar aku tidak boleh begitu. Setelah kupikir-pikir pemikiran dan gaya tulisan setiap orang tidak sama. Boleh saja kau memiliki ide yang sama, namun begitu tertuang dalam bentuk tulisan, hasilnya akan berbeda.
Seharusnya aku memang tidak boleh terlalu terobsesi dengan tulisan-tulisannya. Juga tidak berusaha untuk jadi seperti dia karena kami tidak sama ( ya iya laaah ).
Thursday, 9 September 2010
Hey!
Well, apa sih yang akan kau lakukan kalau kau terus menerus merasa didesak untuk melakukan ini itu sesuai keinginannya? Sementara di saat yang sama kau kebingungan dengan tugas-tugas yang menurutmu sangat banyak dan luar biasa.
Okey, mungkin aku terlalu banyak mengeluh. Hey, come on, salah ya kalau aku mengeluh? Yah aku tahu, ngeluh itu gak boleh, tapi di keadaan yang seperti ini?
Mari berpikir positif (sekalipun itu sulit). Bayangkan jika semua tugas yang dia berikan itu aku selesaikan dengan baik. Well, akan sangat bermanfaat untukku. Tidak semua orang kan yang punya kesempatan seperti ini??
So, apa mesti ngeluh lagi?
Huft, tapi kenapa sih kok kayaknya hanya aku yang digodok. Dilatih seperti ini memang menyenangkan. Tapi, hey, kau tidak ingin kan berlatih sendirian?
Oke, anggap saja angin lalu.
Okey, mungkin aku terlalu banyak mengeluh. Hey, come on, salah ya kalau aku mengeluh? Yah aku tahu, ngeluh itu gak boleh, tapi di keadaan yang seperti ini?
Mari berpikir positif (sekalipun itu sulit). Bayangkan jika semua tugas yang dia berikan itu aku selesaikan dengan baik. Well, akan sangat bermanfaat untukku. Tidak semua orang kan yang punya kesempatan seperti ini??
So, apa mesti ngeluh lagi?
Huft, tapi kenapa sih kok kayaknya hanya aku yang digodok. Dilatih seperti ini memang menyenangkan. Tapi, hey, kau tidak ingin kan berlatih sendirian?
Oke, anggap saja angin lalu.
Thursday, 2 September 2010
Presiden Dinilai Tidak Tegas Menghadapi Malaysia
Kekecewaan jelas tergambar di wajah seluruh rakyat Indonesia yang menantikan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait masalah Indonesia – Malaysia. Pidato ini diawali oleh presiden dengan memaparkan kembali apa yang telah terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Ditangkapnya tiga orang petugas KKP oleh Malaysia akhir Juli lalu memanaskan kembali hubungan kedua Negara ini.
Meskipun ketiga petugas tersebut dibebaskan oleh pemerintah Malaysia dengan upaya dari pemerintah Indonesia juga tentunya, belakangan timbul pernyataan akan perlakuan tidak pantas yang telah diterima oleh tiga orang petugas KKP itu. Indonesia pun berusaha mengklarifikasi kebenaran hal tersebut.
Sementara itu, rakyat Indonesia mulai menunjukkan kemarahannya atas sikap angkuh Malaysia yang dinilai banyak pihak amat menghina dan merendahkan martabat bangsa Indonesia. Kedaulatan Negara pun dipertanyakan oleh rakyat? Hanya langkah diplomasikah yang dapat diambil oleh Indonesia setelah diperlakukan demikian? Seberapa tegas pemerintah menyikapi hal ini?
Di dalam pidatonya, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menjelaskan kepada rakyat Indonesia demi kepentingan nasional, jalan perang bukanlah langkah yang patut diambil. Ada 2 juta warga Negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Malaysia. Tak dapat dipungkiri mereka punya andil besar dalam menambah devisa Negara. Bagi Malaysia sendiri, keberadaan pekerja Indonesia di negaranya juga tidak kalah penting dalam hal pembangunan di sana. Selain itu, banyak juga mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu dan mengadakan penelitian di Malaysia, dan mereka merupakan aset Negara yang ternilai harganya.
Presiden menyadari, semakin dekat hubungan dua Negara maka akan semakin besar pula masalah yang akan timbul di antara keduanya. Oleh karena itu, Indonesia berupaya untuk menyelesaikan permasalahan – permasalahan tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebagai contoh, upaya pemerintah Indonesia memperjuangkan hak – hak pekerja Indonesia di negeri Jiran tersebut, seperti masalah gaji dan hari libur mereka.
Di sisi lain, kedaulatan Negara juga tidak dapat dimain – mainkan oleh Negara lain. Pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin melalui jalan diplomasi yang telah dilakukan dari awal. Pengiriman surat ke Malaysia pun telah dilaksanakan. Semua upaya yang dilakukan oleh pemerintah telah sesuai dengan system yang berlaku.
Sekali lagi Indonesia menunjukkan kelembutannya dalam menghadapi konflik dengan Malaysia yang sudah terjadi untuk ke sekian kalinya. Tidak ada instruksi militer dalam pidato tersebut yang mengindikasikan peperangan seperti yang dikehendaki sebagian rakyat Indonesia melalui aksi – aksi demonstrasi belakangan ini. Tak hanya itu, sikap tegas yang diharapkan pun tidak muncul. Presiden hanya menginstruksikan agar perundingan perbatasan wilayah lebih dipercepat.
Bagaimana pun juga, hubungan baik kedua negara harus negara harus tetap dipertahankan demi kepentingan nasional juga ASEAN secara keseluruhan. Hal ini disebabkan Indonesia dan Malaysia merupakan pondasi dari negara – negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.
KAMMI Daerah Kepulauan Riau Sepakat dengan Sikap yang Diambil Presiden RI
Ketua Departemen Kajian Strategis dan Humas KAMMI Daerah Kepulauan Riau, Jamhur Ar Rahman, ketika dikonfirmasi mengenai hal ini menyatakan kesepakatannya terhadap langkah – langkah serta sikap yang telah diambil oleh Presiden SBY terkait konflik dua negara tetangga ini.
“ Sikap yang diambil oleh Presiden sudah cukup tepat, karena adanya kekhawatiran dua negara ini tengah diprovokasi oleh antek – antek Yahudi, mengingat Indonesia dan Malaysia merupakan basis Islam terbesar di kawasan Asia Tenggara, “ ungkap Jamhur Ar Rahman.
Jika permasalahan kedua negara ini masih bisa diselesaikan melalui jalan diplomasi, perang bukanlah langkah yang patut diambil karena akan menimbulkan kerugian yang sangat besar di kedua belah pihak. Lagipula, rakyat Indonesia yang berdomisili di daerah perbatasan seperti Kalimantan dan Kepulauan Riau pastinya akan merasakan penderitaan sebagai korban perang.
Selain itu, kesiapan Indonesia untuk berperang dengan Malaysia juga masih dipertanyakan. Kendati memiliki kuantitas tentara lebih banyak dibandingkan Malaysia, kualitas peralatan dan fasilitas perang Indonesia tidak dapat dipastikan. Di samping itu, jika pilihan perang yang diambil pemerintah, maka setiap bulannya pemerintah harus menyediakan dana perang sekitar 6 triliun rupiah. Pertanyaannya, sanggupkah Indonesia?
Sementara itu, Muhammad Sani selaku Gubernur Provinsi Kepualauan Riau pun menyatakan ketidaksetujuannya akan jalan perang. Menurutnya, masalah antara negara Republik Indonesia dan Malaysia tidak mesti diselesaikan dengan perang. Sebaiknya hal ini sudah sepantasnya dibicarakan dalam suasana damai.
Tambahnya lagi pemerintah Provinsi Kepri, sebagai daerah yang berhadapan langsung dengan negara asing, akan memberikan masukan jika diminta oleh pemerintah pusat dalam hal perundingan perbatasan wilayah maritim.
Gubernur juga mencanangkan untuk membentuk tim terpadu pengawasan daerah perbatasan tersebut yang akan melibatkan semua instansi yang terkait terkait. Namun sebelumnya penjelasan mengenai batas wilayah dari pemerintah pusat sangat diharapkan.
Meskipun ketiga petugas tersebut dibebaskan oleh pemerintah Malaysia dengan upaya dari pemerintah Indonesia juga tentunya, belakangan timbul pernyataan akan perlakuan tidak pantas yang telah diterima oleh tiga orang petugas KKP itu. Indonesia pun berusaha mengklarifikasi kebenaran hal tersebut.
Sementara itu, rakyat Indonesia mulai menunjukkan kemarahannya atas sikap angkuh Malaysia yang dinilai banyak pihak amat menghina dan merendahkan martabat bangsa Indonesia. Kedaulatan Negara pun dipertanyakan oleh rakyat? Hanya langkah diplomasikah yang dapat diambil oleh Indonesia setelah diperlakukan demikian? Seberapa tegas pemerintah menyikapi hal ini?
Di dalam pidatonya, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menjelaskan kepada rakyat Indonesia demi kepentingan nasional, jalan perang bukanlah langkah yang patut diambil. Ada 2 juta warga Negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Malaysia. Tak dapat dipungkiri mereka punya andil besar dalam menambah devisa Negara. Bagi Malaysia sendiri, keberadaan pekerja Indonesia di negaranya juga tidak kalah penting dalam hal pembangunan di sana. Selain itu, banyak juga mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu dan mengadakan penelitian di Malaysia, dan mereka merupakan aset Negara yang ternilai harganya.
Presiden menyadari, semakin dekat hubungan dua Negara maka akan semakin besar pula masalah yang akan timbul di antara keduanya. Oleh karena itu, Indonesia berupaya untuk menyelesaikan permasalahan – permasalahan tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebagai contoh, upaya pemerintah Indonesia memperjuangkan hak – hak pekerja Indonesia di negeri Jiran tersebut, seperti masalah gaji dan hari libur mereka.
Di sisi lain, kedaulatan Negara juga tidak dapat dimain – mainkan oleh Negara lain. Pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin melalui jalan diplomasi yang telah dilakukan dari awal. Pengiriman surat ke Malaysia pun telah dilaksanakan. Semua upaya yang dilakukan oleh pemerintah telah sesuai dengan system yang berlaku.
Sekali lagi Indonesia menunjukkan kelembutannya dalam menghadapi konflik dengan Malaysia yang sudah terjadi untuk ke sekian kalinya. Tidak ada instruksi militer dalam pidato tersebut yang mengindikasikan peperangan seperti yang dikehendaki sebagian rakyat Indonesia melalui aksi – aksi demonstrasi belakangan ini. Tak hanya itu, sikap tegas yang diharapkan pun tidak muncul. Presiden hanya menginstruksikan agar perundingan perbatasan wilayah lebih dipercepat.
Bagaimana pun juga, hubungan baik kedua negara harus negara harus tetap dipertahankan demi kepentingan nasional juga ASEAN secara keseluruhan. Hal ini disebabkan Indonesia dan Malaysia merupakan pondasi dari negara – negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.
KAMMI Daerah Kepulauan Riau Sepakat dengan Sikap yang Diambil Presiden RI
Ketua Departemen Kajian Strategis dan Humas KAMMI Daerah Kepulauan Riau, Jamhur Ar Rahman, ketika dikonfirmasi mengenai hal ini menyatakan kesepakatannya terhadap langkah – langkah serta sikap yang telah diambil oleh Presiden SBY terkait konflik dua negara tetangga ini.
“ Sikap yang diambil oleh Presiden sudah cukup tepat, karena adanya kekhawatiran dua negara ini tengah diprovokasi oleh antek – antek Yahudi, mengingat Indonesia dan Malaysia merupakan basis Islam terbesar di kawasan Asia Tenggara, “ ungkap Jamhur Ar Rahman.
Jika permasalahan kedua negara ini masih bisa diselesaikan melalui jalan diplomasi, perang bukanlah langkah yang patut diambil karena akan menimbulkan kerugian yang sangat besar di kedua belah pihak. Lagipula, rakyat Indonesia yang berdomisili di daerah perbatasan seperti Kalimantan dan Kepulauan Riau pastinya akan merasakan penderitaan sebagai korban perang.
Selain itu, kesiapan Indonesia untuk berperang dengan Malaysia juga masih dipertanyakan. Kendati memiliki kuantitas tentara lebih banyak dibandingkan Malaysia, kualitas peralatan dan fasilitas perang Indonesia tidak dapat dipastikan. Di samping itu, jika pilihan perang yang diambil pemerintah, maka setiap bulannya pemerintah harus menyediakan dana perang sekitar 6 triliun rupiah. Pertanyaannya, sanggupkah Indonesia?
Sementara itu, Muhammad Sani selaku Gubernur Provinsi Kepualauan Riau pun menyatakan ketidaksetujuannya akan jalan perang. Menurutnya, masalah antara negara Republik Indonesia dan Malaysia tidak mesti diselesaikan dengan perang. Sebaiknya hal ini sudah sepantasnya dibicarakan dalam suasana damai.
Tambahnya lagi pemerintah Provinsi Kepri, sebagai daerah yang berhadapan langsung dengan negara asing, akan memberikan masukan jika diminta oleh pemerintah pusat dalam hal perundingan perbatasan wilayah maritim.
Gubernur juga mencanangkan untuk membentuk tim terpadu pengawasan daerah perbatasan tersebut yang akan melibatkan semua instansi yang terkait terkait. Namun sebelumnya penjelasan mengenai batas wilayah dari pemerintah pusat sangat diharapkan.
Wednesday, 1 September 2010
Lelucon Tanpa Batas
Sebagai anggota dewan, saya merasa risih dengan pemberitaan –pemberitaan yang ada di media tentang kinerja kami dalam mengurus rakyat Indonesia yang sangat banyak ini.
Di televisi banyak beredar gambar yang menyorot beberapa teman saya yang ngantuk dan bahkan ada yang tidur ketika rapat ataupun sidang sedang berlangsung. Akibatnya, banyak pihak yang mencemooh kami dan menilai kinerja kami sangat buruk. Rakyat bilang kami hanya makan gaji buta tanpa melakukan apa – apa untuk mereka. Hhh… seandainya saja mereka tahu apa yang kami bicarakan di dalam sini.
Ou, baiklah tentu saja mereka tidak tahu apa – apa saja yang kami bicarakan. Tidak ada siaran televisi yang khusus menyiarkan kegiatan – kegiatan yang ada di gedung MPR / DPR. Apa yang kami bahas di ruang rapat hanya disaksikan sebagian rakyat Indonesia. Dan tentu saja oleh mereka yang punya akses untuk masuk ruangan. Merekalah yang menyaksikan seperti apa kami di ruangan.
Kunjungan – kunjungan kerja kami juga sepertinya jarang jadi pemberitaan di media massa. Hahahha sebagai anggota dewan bukannya saya mau diikuti terus menerus oleh wartawan atau dikejar – kejar seperti Britney Spears dan artis Hollywood lainya. Kalau dipikir – pikir pamor kami sebagai anggota dewan kalah saing dengan artis ( ya kecuali artis yang jadi anggota dewan ). Gak ada tuh paparazzi yang ngejar saya dan teman- teman ketika melakukan kunjungan, sekedar mendapatkan foto kami. Kalo pun ada, hanya segelintir, itupun entah diterbitkan atau tidak.
Selama ini yang mengawasi kami sepertinya hanya segelintir orang. Mahasiswa yang paling kami takutkan. Tapi itu sih dulu, sekarang kayaknya gak lagi. Mahasiswa sekarang sudah banyak yang tidak bergerak, kalaupun ada jumlahnya sedikit sekali. Sebagian besar tidak peduli pada apa yang kami lakukan, tapi kalo sudah dengar berita kecil tentang kinerja kami ( yang sebenarnya gak penting untuk dibesar – besarkan ) hebohnya minta ampun. Demo sana sini, ngerusak pagar dan fasilitas lainnya. Haduh apa sih yang mereka pikirkan ketika berdemonstrasi?
Ya sudahlah, itu kata Bondan Prakoso. Sekarang saya mau membuat pembelaan sedikit nih masalah anggota dewan yang suka ngantuk dan tidur ketika rapat. Pernahkan lihat gambarnya di tivi? Terus terang saya malu juga dengan sorotan media seperti itu. Tahukah anda mengapa kami sering ngantuk?
Ruangan. Salah satu alasannya adalah ini. Kami selalu membicarakan permasalahan undang – undang di ruangan yang sangat nyaman. Ruangan yang besar dengan langit – langit yang tinggi dengan AC setiap saat. Benar – benar membuat kami kadang terlena. Lantainya tertutup oleh karpet tebal, dan ketika anda berjalan di atasnya, suara langkah kaki anda tidak akan terdengar. Sunyi ( kecuali ketika ada yang berbicara ). Lalu kami pun disediakan kursi yang sangat empuk. Enak sekali ketika duduk di kursi ini, saya pernah ingin membawanya pulang. Tapi tentu saja tidak boleh, ini kan punya rakyat (lho, saya rakyat juga kan?). Jadi bayangkanlah ruangan ini, nyaman sekali berada di dalamnya. Seharusnya anda juga ada di sana dan merasakan hal yang sama seperti saya.
Pernah saya berpikir, mungkin para mahasiswa di luar sana yang sering menyuarakan aspirasinya dari luar pagar harusnya merasakan kenyamanan yang kami rasakan. Mereka, mahasiswa itu selalu saja merasa tidak puas dengan apa yang kami kerjakan. Anggota dewan suka tidurlah, suka ngobrol lah, suka on line lah, suka smsan lah klo lagi rapat, suka bertinjulah dan suka suka suka lainnya. Pusing juga dengarnya. Padahal, coba saja mereka ada di ruangan ini.
Aha!!
Saya punya usulan. Bukankah di gedung ini ruang rapat banyak sekali? Bagaimana jika saya mengusulkan pada ketua untuk meminjamkan salah satunya pada mahasiswa dan pelajar untuk dijadikan sebagai tempat mereka kuliah umum? Dengan demikian, mereka juga akan merasakan fasilitas di gedung ini. Bukankah mereka juga berhak? Saya ingin melihat reaksi mereka akan kenyamanan ruangan ini. Lagipula saya ingin agar mereka tak lagi mencaci kami, akan kami yang suka ngantuk dan bahkan tidur, tidak datang rapat dan sebagainya.
Masalah di atas benar – benar tidak penting untuk dibahas, bahkan dijadikan berita utama. Caci dan makilah saya beserta teman- teman anggota dewan lain ketika kami tidak berhasil mencapai target kerja, atau ketika kami melakukan tindakan asusila, korupsi dan hal lainnya yang melanggar undang – undang.
Nah, sekarang saya sudah kembali menjadi mahasiswa muda berusia 20 tahun di 2010. Terima kasih sudah melakukan perjalanan penuh lelucon sebagai anggota dewan yang terhormat. Pikiran ini terbentuk berdasarkan ingatan dan pengalaman ketika berada di ruangan Nusantara ( entah nomor berapa, agak lupa ) MPR/DPR yang benar – benar nyaman.
1 September 2010
Ketika berpura – pura menjadi anggota dewan
An Embarassing Presentation
This is a picture in Syntax class a few times ago. It was an embarrassing presentation all my life (certainly I had one, when I had to talk in front of the great committee in a social competition a few years ago ).
Let me introducethe member of the group. The girl used white scarf was Asnani and the brown one was Juminisari. Certainly, I was the girl in the middle. They were good partners for me, helping each other.
Well, that day, our group had to explain to the class what was syntax and the system on that subject.
I recognized that I didn’t do my best in finishing the paper, whereas we had no more preparation fot it. I tried to find the articles on internet, read it and I found that it was too difficult to understand.
I knew I was wrong for not asking the lecturer about it, then it was a very big mistake in my academic life. A day before presentation, I was not too serious on the subject and not reading it carefully. Actually, I had difficulty in understanding the words.
And it’s time to sit in front of the class. I was not too nervous to speak, but on what I had to talk about. No idea at all. So I explained something that I, myself, understand nothing of it. I talked nonsense. What a bad performance!
When my classmates gave us some questions, I and the other two said nothing. Finally, I asked the lecturer to explain it again and we apologized for the bad performance.
Now, I can imagine the result of my syntax subject. I will not get A….!!
Ou em jiii, it’s digusting! I’m angry to my self.
Let me introducethe member of the group. The girl used white scarf was Asnani and the brown one was Juminisari. Certainly, I was the girl in the middle. They were good partners for me, helping each other.
Well, that day, our group had to explain to the class what was syntax and the system on that subject.
I recognized that I didn’t do my best in finishing the paper, whereas we had no more preparation fot it. I tried to find the articles on internet, read it and I found that it was too difficult to understand.
I knew I was wrong for not asking the lecturer about it, then it was a very big mistake in my academic life. A day before presentation, I was not too serious on the subject and not reading it carefully. Actually, I had difficulty in understanding the words.
And it’s time to sit in front of the class. I was not too nervous to speak, but on what I had to talk about. No idea at all. So I explained something that I, myself, understand nothing of it. I talked nonsense. What a bad performance!
When my classmates gave us some questions, I and the other two said nothing. Finally, I asked the lecturer to explain it again and we apologized for the bad performance.
Now, I can imagine the result of my syntax subject. I will not get A….!!
Ou em jiii, it’s digusting! I’m angry to my self.
Friday, 27 August 2010
Mengapa Harus Mentoring?
Belakangan ini istilah mentoring sering didengungkan. Sebenarnya apakah mentoring itu? Bagaimana mentoring sebenarnya? Kapan dilakukan mentoring dan mengapa kita harus mentoring?
Mentoring ialah suatu proses pembinaan yang dilakukan seseorang terhadap sebuah kelompok yang terdiri dari 7 hingga 12 orang secara intensif seminggu sekali. Yang membina suatu kelompok mentoring disebut sebagai mentor. Di sini mentor berfungsi sebagai guru, teman, kakak, dan bahkan orang tua kedua bagi para binaannya ( disebut mentee – dibaca menti ).
Proses mentoring saat ini banyak digunakan oleh anggota – anggota rohis ( rohani islam sekolah ). Mereka terbagi ke dalam kelompok – kelompok kecil dengan satu orang mentor setiap kelompoknya. Mentoring juga merupakan salah satu sarana yang dipakai dalam penyampaian risalah nabi kepada remaja.
Mentoring merupakan metode yang efektif dalam sebuah pembelajaran karena ianya merupakan kelompok kecil di mana pengawasan terhadap satu anggota akan lebih mudah digunakan. Mentoring bertujuan untuk membina keislaman, keimanan dan ketakwaan para anggotanya. Lalu mengapa mentoring begitu penting dan perlu untuk diterapkan di setiap sekolah yang diikuti oleh setiap siswa tanpa terkecuali?
Lalu Mengapa Kita Harus Ikut Mentoring?
Pertama, metode mentoring muncul disebabkan kurangnya pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah – sekolah umum. Dalam seminggu, peserta didik hanya disediakan waktu 90 menit untuk mendapatkan pengetahuan agama yang seharusnya menjadi pondasi kehidupan mereka. Waktu yang sangat singkat itu pun kadang hanya diisi dengan teori – teori tanpa tindakan untuk membentuk karakter peserta didik yang menjadikan agama sebagai hal nomor satu dalam kehidupan mereka.
Padahal dalam proses pendidikan, hal paling penting ialah bagaimana agar peserta didik mampu bersikap dengan baik. Tentunya waktu 90 menit tidak cukup untuk itu. Dengan kata lain, mentoring juga merupakan kegiatan untuk menambah pengetahuan keagamaan yang disampaikan dengan cara – cara yang menarik ( tidak melulu ceramah ).
Kedua, Rasulullah juga pernah melakukan mentoring terhadap sahabat – sahabatnya. So sebagai umat Islam yang senantiasa meneladani beliau, sudah seharusnya kita juga mengikuti apa yang pernah beliau contohkan.
Ketiga, melalui mentoring kita mendapat pengetahuan Islam yang kadang tidak kita dapatkan dari sekolah melalui proses belajar mengajar biasa. Sebagai sarana penyampaian ajaran Islam, tentunya hal – hal yang lebih banyak dibahas atau didiskusikan ialah masalah – masalah keislaman.
Keempat, materi – materi mentoring disampaikan dengan cara – cara yang menarik dan tidak membosankan karena diselingi dengan permainan – permainan yang sarat makna. Tak hanya itu, mentoring juga bersifat fleksibel karena ia dapat dilakukan di mana saja, tidak harus di dalam mesjid. Mentoring dapat dilakukan di bawah pohon yang rindang, di kantin, di tepi pantai, dan tempat – tempat mengasyikkan lainnya. Semua itu tergantung pada kesepakatan anggota mentoring.
Dengan demikian, mentoring merupakan salah satu cara yang dilakukan dalam rangka memperbaiki moral dan perilaku yang menyimpang di kalangan remaja dengan mengembalikan dan mengenalkan mereka pada agama yang disampaikan secara tidak monoton. Karena itu ajaklah teman, saudara, adik, kakak untuk mengikuti kegiatan mentoring di sekolah. Jika belum ada, cobalah ajukan pada pihak sekolah. Selamat mentoring.
Mentoring ialah suatu proses pembinaan yang dilakukan seseorang terhadap sebuah kelompok yang terdiri dari 7 hingga 12 orang secara intensif seminggu sekali. Yang membina suatu kelompok mentoring disebut sebagai mentor. Di sini mentor berfungsi sebagai guru, teman, kakak, dan bahkan orang tua kedua bagi para binaannya ( disebut mentee – dibaca menti ).
Proses mentoring saat ini banyak digunakan oleh anggota – anggota rohis ( rohani islam sekolah ). Mereka terbagi ke dalam kelompok – kelompok kecil dengan satu orang mentor setiap kelompoknya. Mentoring juga merupakan salah satu sarana yang dipakai dalam penyampaian risalah nabi kepada remaja.
Mentoring merupakan metode yang efektif dalam sebuah pembelajaran karena ianya merupakan kelompok kecil di mana pengawasan terhadap satu anggota akan lebih mudah digunakan. Mentoring bertujuan untuk membina keislaman, keimanan dan ketakwaan para anggotanya. Lalu mengapa mentoring begitu penting dan perlu untuk diterapkan di setiap sekolah yang diikuti oleh setiap siswa tanpa terkecuali?
Lalu Mengapa Kita Harus Ikut Mentoring?
Pertama, metode mentoring muncul disebabkan kurangnya pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah – sekolah umum. Dalam seminggu, peserta didik hanya disediakan waktu 90 menit untuk mendapatkan pengetahuan agama yang seharusnya menjadi pondasi kehidupan mereka. Waktu yang sangat singkat itu pun kadang hanya diisi dengan teori – teori tanpa tindakan untuk membentuk karakter peserta didik yang menjadikan agama sebagai hal nomor satu dalam kehidupan mereka.
Padahal dalam proses pendidikan, hal paling penting ialah bagaimana agar peserta didik mampu bersikap dengan baik. Tentunya waktu 90 menit tidak cukup untuk itu. Dengan kata lain, mentoring juga merupakan kegiatan untuk menambah pengetahuan keagamaan yang disampaikan dengan cara – cara yang menarik ( tidak melulu ceramah ).
Kedua, Rasulullah juga pernah melakukan mentoring terhadap sahabat – sahabatnya. So sebagai umat Islam yang senantiasa meneladani beliau, sudah seharusnya kita juga mengikuti apa yang pernah beliau contohkan.
Ketiga, melalui mentoring kita mendapat pengetahuan Islam yang kadang tidak kita dapatkan dari sekolah melalui proses belajar mengajar biasa. Sebagai sarana penyampaian ajaran Islam, tentunya hal – hal yang lebih banyak dibahas atau didiskusikan ialah masalah – masalah keislaman.
Keempat, materi – materi mentoring disampaikan dengan cara – cara yang menarik dan tidak membosankan karena diselingi dengan permainan – permainan yang sarat makna. Tak hanya itu, mentoring juga bersifat fleksibel karena ia dapat dilakukan di mana saja, tidak harus di dalam mesjid. Mentoring dapat dilakukan di bawah pohon yang rindang, di kantin, di tepi pantai, dan tempat – tempat mengasyikkan lainnya. Semua itu tergantung pada kesepakatan anggota mentoring.
Dengan demikian, mentoring merupakan salah satu cara yang dilakukan dalam rangka memperbaiki moral dan perilaku yang menyimpang di kalangan remaja dengan mengembalikan dan mengenalkan mereka pada agama yang disampaikan secara tidak monoton. Karena itu ajaklah teman, saudara, adik, kakak untuk mengikuti kegiatan mentoring di sekolah. Jika belum ada, cobalah ajukan pada pihak sekolah. Selamat mentoring.
Thursday, 26 August 2010
TBM Basmalah bagi Anak Putus Sekolah
Hobi baca? Senang membaca di tepi laut dengan hembusan angin laut yang menyejukkan?
Di sinilah tempatnya, Taman Bacaan Masyarakat ( TBM ) Basmalah yang diresmikan pada bulan Juli 2010. Beralamat di Jl. Usman Harun No. 30 Tanjungpinang, Kepulauan Riau tepat di sebelah Restoran Sei Nam kawasan Teluk Keriting.
TBM yang juga bekerjasama dengan perpustakaan daerah Kepulauan Riau ini menyediakan koleksi berbagai jenis buku, mulai dari novel, komik, majalah, tabloid, politik, agama Islam hingga buku - buku sejarah. Semua buku ditata dengan rapi di ruangan mungil yang menjorok ke laut. Suasana yang diciptakan dalam ruangan ini pun sangat menyenangkan untuk membaca karena hembusan angin laut masuk melalui jendela dan kondisi ruangan pun sangat terang. Tak hanya itu, pengunjung pun dapat duduk di bawah pohon dengan tempat duduk terbuat dari kayu. Sungguh suasana yang sangat menyenangkan.
Cici, pengelola TBM ini mengungkapkan, pada awalnya taman bacaan ini didirikan dalam rangka partisipasinya di dunia pendidikan. Di lokasi TBM tersebut banyak sekali anak - anak yang putus sekolah. kebanyakan dari mereka tidak lulus Sekolah Dasar dan hanya bekerja membantu orang tuanya melaut mencari ikan.
" Prihatin sekali melihat anak - anak ini putus sekolah, padahal mereka tinggal di daerah perkotaan namun termarjinalkan oleh keadaan " ungkap Cici.
Harapannya dengan keberadaan TBM Basmalah anak - anak tersebut masih bisa menikmati dunia membaca dan tidak tertinggal informasi seperti teman - teman lainnya yang bersekolah.
Jika ada yang ingin menyumbangkan koleksi buku - bukunya kepada TBM ini dapat langsung mengunjungi lokasi di alamat yang telah tertera di atas.
Di sinilah tempatnya, Taman Bacaan Masyarakat ( TBM ) Basmalah yang diresmikan pada bulan Juli 2010. Beralamat di Jl. Usman Harun No. 30 Tanjungpinang, Kepulauan Riau tepat di sebelah Restoran Sei Nam kawasan Teluk Keriting.
TBM yang juga bekerjasama dengan perpustakaan daerah Kepulauan Riau ini menyediakan koleksi berbagai jenis buku, mulai dari novel, komik, majalah, tabloid, politik, agama Islam hingga buku - buku sejarah. Semua buku ditata dengan rapi di ruangan mungil yang menjorok ke laut. Suasana yang diciptakan dalam ruangan ini pun sangat menyenangkan untuk membaca karena hembusan angin laut masuk melalui jendela dan kondisi ruangan pun sangat terang. Tak hanya itu, pengunjung pun dapat duduk di bawah pohon dengan tempat duduk terbuat dari kayu. Sungguh suasana yang sangat menyenangkan.
Cici, pengelola TBM ini mengungkapkan, pada awalnya taman bacaan ini didirikan dalam rangka partisipasinya di dunia pendidikan. Di lokasi TBM tersebut banyak sekali anak - anak yang putus sekolah. kebanyakan dari mereka tidak lulus Sekolah Dasar dan hanya bekerja membantu orang tuanya melaut mencari ikan.
" Prihatin sekali melihat anak - anak ini putus sekolah, padahal mereka tinggal di daerah perkotaan namun termarjinalkan oleh keadaan " ungkap Cici.
Harapannya dengan keberadaan TBM Basmalah anak - anak tersebut masih bisa menikmati dunia membaca dan tidak tertinggal informasi seperti teman - teman lainnya yang bersekolah.
Jika ada yang ingin menyumbangkan koleksi buku - bukunya kepada TBM ini dapat langsung mengunjungi lokasi di alamat yang telah tertera di atas.
Mentoring Kepenulisan KAMMI
Menyadari pentingnya arti sebuah tulisan dalama membangun pencitraan organisasi, KAMMI Daerah Kepualauan Riau berinisiatif untuk mengadakan Mentoring Kepenulisan Selasa ( 24/8 ) di Mesjid Kampus STISIPOL Raja Ali Haji. Mentoring yang diikuti oleh humas kamda dan komisariat ini merupakan kegiatan rutin setiap pekannya.
Setiap kader yang berminat dalam bidang tulis menulis sangat dianjurkan untuk mengikuti agenda ini hingga akhir.
Raja Dachroni, Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Kepulauan Riau mengungkapkan betapa pentingnya sebuah tulisan dalam membentuk opini masyarakat tentang sebuah organisasi. Tak hanya itu dengan menulis kader akan terbantu dalam mengerjakan tugas - tugas kuliah sehingga budaya copy paste dapat ditinggalkan.
" Kami ingin agar kader - kader KAMMI mulai piawai menulis sehingga tak hanya beraksi di lapangan namun juga melalui tulisan " demikian ungkapnya.
Materi yang ditekankan dalam mentoring ini terdiri dari tiga materi antara lain resensi buku, mengulas kegiatan dalam bentuk tulisan dan menulis artikel. Dengan meresensi buku - buku yang telah dibaca diharapkan kader tak hanya sekedar membaca namun juga mampu menuliskan kembali apa yang telah dibacanya sehingga menguatkan daya ingat kader akan buku tersebut. Kemudian materi kedua dianggap sangat penting agar kader terbiasa menuliskan setiap kegiatan yang diadakan oleh KAMMI dan menyebarkannya kepada masyarakat. Lalu kader akan dibiasakan untuk menulis artikel sehingga mampu menuliskan buah pikirannya akan sebuah permasalahan.
Agenda yang terbuka untuk seluruh kader KAMMI Daerah Kepualauan Riau ini akan dilaksanakan kembali pada Selasa ( 31/8 ). Tak ada persyaratan khusus yang ditetapkan kecuali komitmen peserta mentoring untuk terus mengikutinya dan menjadikan menulis sebagai suatu kebutuhan dalam rangka membangun budaya menulis.
Setiap kader yang berminat dalam bidang tulis menulis sangat dianjurkan untuk mengikuti agenda ini hingga akhir.
Raja Dachroni, Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Kepulauan Riau mengungkapkan betapa pentingnya sebuah tulisan dalam membentuk opini masyarakat tentang sebuah organisasi. Tak hanya itu dengan menulis kader akan terbantu dalam mengerjakan tugas - tugas kuliah sehingga budaya copy paste dapat ditinggalkan.
" Kami ingin agar kader - kader KAMMI mulai piawai menulis sehingga tak hanya beraksi di lapangan namun juga melalui tulisan " demikian ungkapnya.
Materi yang ditekankan dalam mentoring ini terdiri dari tiga materi antara lain resensi buku, mengulas kegiatan dalam bentuk tulisan dan menulis artikel. Dengan meresensi buku - buku yang telah dibaca diharapkan kader tak hanya sekedar membaca namun juga mampu menuliskan kembali apa yang telah dibacanya sehingga menguatkan daya ingat kader akan buku tersebut. Kemudian materi kedua dianggap sangat penting agar kader terbiasa menuliskan setiap kegiatan yang diadakan oleh KAMMI dan menyebarkannya kepada masyarakat. Lalu kader akan dibiasakan untuk menulis artikel sehingga mampu menuliskan buah pikirannya akan sebuah permasalahan.
Agenda yang terbuka untuk seluruh kader KAMMI Daerah Kepualauan Riau ini akan dilaksanakan kembali pada Selasa ( 31/8 ). Tak ada persyaratan khusus yang ditetapkan kecuali komitmen peserta mentoring untuk terus mengikutinya dan menjadikan menulis sebagai suatu kebutuhan dalam rangka membangun budaya menulis.
Tuesday, 24 August 2010
Salah Orang
Mari dengarkan saya punya cerita. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah sms lagi dari nomor yang tidak dikenal. Isinya hampir sama seperti yang lainnya, mohon maaf lahir dan batin. Tentunya naluri saya langsung bertanya ( ehem! ) itu nomor siapa.
Saya : Maaf ini boleh tau ini dengan sapa?
Orang itu : Bu, boleh minta nomor peserta training advokasi kemarin yang dari Berakit? Ana lupa namanya.
Saya : Ooooo ini pak Guns Patter ya?
Orang itu : Hah? Siapa itu pak Guns Patter? Ini S******
Saya : Astaghfirullah... maaf pak, kirain teman saya tadi
Haduuuuh malunya. Saya kira itu adalah teman saya, salah satu peserta training advokasi yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Ternyata dia adalah Pak S******. Entahlah apa yang dipikirkan oleh bapak itu tentang saya. Ah sudahlah, yang penting saya sudah memberikan nama dan nomor peserta yang dia minta.
( Btw, saya serasa jadi bagian informasi )
Saya : Maaf ini boleh tau ini dengan sapa?
Orang itu : Bu, boleh minta nomor peserta training advokasi kemarin yang dari Berakit? Ana lupa namanya.
Saya : Ooooo ini pak Guns Patter ya?
Orang itu : Hah? Siapa itu pak Guns Patter? Ini S******
Saya : Astaghfirullah... maaf pak, kirain teman saya tadi
Haduuuuh malunya. Saya kira itu adalah teman saya, salah satu peserta training advokasi yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Ternyata dia adalah Pak S******. Entahlah apa yang dipikirkan oleh bapak itu tentang saya. Ah sudahlah, yang penting saya sudah memberikan nama dan nomor peserta yang dia minta.
( Btw, saya serasa jadi bagian informasi )
Sunday, 22 August 2010
Terlalu Bersemangat?
Ada sebuah percakapan yang mungkin harus saya catat dan harus pula saya ingat kapan pun dan di mana pun saya berada. Suatu hari saya terjebak di antara dua teman luar biasa yang saya temui di organisasi. Ketika itu kami sedang menunggu teman – teman lain untuk rapat membahas masalah yang tidak perlu saya sebutkan.
Dari obrolan ngelantur yang membuat saya sakit perut, terucap dari salah satu teman saya yang mempertanyakan mengapa hingga jam segitu belum ada juga anggota lainnya yang datang. Memang pada hari itu hujan turun dengan cukup lebat dan saya pesimis sekali mereka akan datang.
Sambil nyengir dia berkata mengapa belum juga ada yang datang. Apa yang lain sudah tidak bersemangat lagi? Atau jangan – jangan kami yang terlalu bersemangat. Deg!
Kalau dipikir – pikir sepertinya kami memang terlalu bersemangat. Sementara teman – teman mahasiswa saya yang lain sedang asyik dengan kehidupan pribadi mereka, terkadang saya disibukkan dengan hal – hal yang lain, yang menurut mereka tidak penting dan hanya buang – buang waktu tenaga dan pikiran. Benarkah demikian?
Friday, 20 August 2010
BKM Harapkan Kualitas Kader Meningkat melalui Dauroh Mar’ah
-->
Badan Kemuslimahan ( BKM ) KAMMI Daerah Kepulauan Riau melaksanakan Dauroh Mar’ah pada hari Minggu (8/8) di taman samping Hotel Sadap Tanjungpinang. Agenda perdana ini khusus diadakan untuk kader – kader akhwat KAMMI yang bertujuan untuk meningkatkan kepahaman mereka terhadap masalah perempuan.
Ketika ditemui, Juliana, Ketua BKM KAMMI daerah Kepulauan Riau menyebutkan bahwa kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin. Materi – materi yang diberikan pun memiliki keterkaitan satu sama lain.
“ Untuk itu kami berharap agar seluruh kader akhwat KAMMI dapat menghadiri kegiatan ini setiap pekannya. “ tambahnya.
Menyadari kurang pro aktifnya akhwat baik dalam kehidupannya sehari – hari maupun dalam pergerakan KAMMI, maka BKM berinisiatif untuk mengadakan agenda ini. Menjadi kader yang berkualitas sudah merupakan sebuah kewajiban bagi seluruh kader KAMMI, terutama akhwat. Mereka tidak hanya disiapkan untuk bergerak dalam organisasi namun juga untuk menjadi seorang ibu yang memiliki peranan yang sangat besar dalam melahirkan generasi penerus bangsa.
“ Salah satu usaha kami untuk meningkatkan kualitas kader akhwat ialah melalui agenda dauroh ini. “ tutup mahasiswi STAI Miftahul Ulum semester 8 itu.
Catatan Kecil Mentoring Kepenulisan : Mengorganisasikan Kata dalam Tulisan
Mengikuti mentoring kepenulisan berarti memaksimalkan diri untuk menulis lebih banyak dari yang pernah dilakukan orang lain. Menulis lebih sering daripada biasanya. Menulis menurut pakarnya adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, mudah, murah meriah namun menghasilkan.
Menyenangkan artinya kita bebasa berekspresi dengan apa yang kita pikirkan, menuangkan buah pikiran dalam bentuk kata – kata yang akan dibaca oleh orang lain dan ketika tulisan itu bagus, tentunya apresiasi akan diberikan kepada si penulis.
Seorang teman penulis ketika ia minta diajari menulis kepada seorang temannya, maka temannya itu pun berkata, “ Menulis itu mudah. Ambil pena, ambil kertas, letakkan di depan dan mulailah menulis. Atau duduklah di depan laptop atau komputer kemudian buka ms. Word dan mulailah mengetik “.
Sekilas itu adalah lelucon, namun ia adalah kebenaran. Menulis sangatlah mudah ketika kita tahu apa yang akan kita tulis, tujuan dari tulisan tesebut dan siapa sasaran pembaca kita.
Menulis juga tidak memerlukan modal yang besar karena tulisan hanyalah rankaian kata – kata yang berasal dari pikiran kita. Tidak ada biaya yang perlu dikeluarkan untuk menulis. Kemudian menulis itu menghasilkan. Helvy Tiana Rossa dalam bukunya Menulis Bisa Bikin Kaya menerangkan bahwa arti kaya di sini sangatlah luas. Kaya tidak hanya diartikan sebagai berlimpah materinya yang kita dapatkan dari menulis, namun lebih daripada itu. Mulailah menulis dengan niat yang lurus bahwa apa yang ditulis merupakan sesuatu yang dianggap benar dan perlu disampaikan kepada semua orang. Dari sinilah keberkahan menulis akan menghampiri. Dengan begitu kaya yang dimaksudkan tak hanya sebatas kaya secara materi.
Seseorang yang berhasil menulis dengan baik dan benar, artinya ia telah mampu untuk mengorganisasikan buah pikirannya dalam bentuk kata – kata. Orang yang gemar menulis dapat dipastikan bahwa ia adalah orang yang cerdas. Timbullah pertanyaan, jika demikian bagaimana agar kita mudah untuk menyusun kata – kata agar ia membentuk sebuah tulisan yang apik?
Dalam mentoring kepenulisan ini dijelaskan beberapa cara agar kata – kata yang kita punya dapat diolah yang selanjutnya menjadi sebuah tulisan yang bagus. Pertama, hobi membaca buku. Dari manakah kita mendapatkan kata – kata? Tentunya buku adalah salah satu sumber yang paling besar. Kita tak hanya mengandalkan pendengaran kita untuk mendapatkan kata – kata baru. Dengan membaca buku kita juga belajar bagaimana struktur kalimat – kalimat yang terdapat dalam buku tersebut sehingga dapat menjadi bahan referensi bagi tulisan kita. Membaca buku juga akan menambah luasnya wawasan kita sehingga tulisan yang kita hasilkan juga bermutu dan sarat dengan nilai ilmu pengetahuan.
Kedua, membaca alam. Belajar tak hanya melalui buku, alam juga dapat dijadikan guru. Bahkan banyak orang – orang terdahulu yang hanya belajar melalui alam. Dengan membaca alam seseorang akan lebih mampu memaknai apa yang ia tulis.
Ketiga suka berkorespondensi. Korespondensi sering diartikan sebagai kegiatan surat menyurat yang sering penulis lakukan ketika masih duduk di bangku SMP. Membalas surat dari sahabat pena akan menuntut kita untuk bisa menuliskan apa yang akan kita sampaikan kepadanya. Meskipun isi surat pada awalnya hanyalah berupa cerita, tetapi ini sangat membantu dalam penyusunan dan pemilihan kata. Di era digital saat ini, surat menyurat dapat dilakukan melalui email (electronic mail ). Cara ini hamper sama bahkan lebih mudah karena tidak perlu menunggu dalam waktu yang cukup lama agar apa yang kita tulis sampai pada orang yang dituju.
Keempat, memiliki buku harian. Banyak penulis terkenal mulai menulis di buku hariannya. Kebebasan berekspresi dapat dituangkan dalam buku harian tanpa mempedulikan kaedah – kaedah bahasa. Yang penting adalah bagaimana kita menuliskan perasaan kita ke dalam tulisan, di mana ianya mebutuhkan proses. Ketika telah terlatih menulis di buku harian maka aka nada peubahan – perubahan dalam gaya menulis, baik secara bahasa maupun yang lainnya. Tentu kea rah yang lebih baik.
Kelima, suka berdiskusi. Berdiskusi artinya membahas suatu permasalahan secara bersama – sama di mana di dalamnya terjadi interaksi antar peserta. Menulis akan menjadi mudah ketika seseorang senang berdiskusi karena dengan demikian pemahamannya akan sesuatu akan lebih dalam dan membantunya dalam menyusun kata – kata.
Cobalah beberapa cara di atas agar penyusunan kata – kata kita lebih baik daripada sebelumnya. Menyusun kata – kata memang bukan hal yang mudah, namun berlatih agar kata – kata tersusun dengan baik perlu untuk dicoba.
Menyenangkan artinya kita bebasa berekspresi dengan apa yang kita pikirkan, menuangkan buah pikiran dalam bentuk kata – kata yang akan dibaca oleh orang lain dan ketika tulisan itu bagus, tentunya apresiasi akan diberikan kepada si penulis.
Seorang teman penulis ketika ia minta diajari menulis kepada seorang temannya, maka temannya itu pun berkata, “ Menulis itu mudah. Ambil pena, ambil kertas, letakkan di depan dan mulailah menulis. Atau duduklah di depan laptop atau komputer kemudian buka ms. Word dan mulailah mengetik “.
Sekilas itu adalah lelucon, namun ia adalah kebenaran. Menulis sangatlah mudah ketika kita tahu apa yang akan kita tulis, tujuan dari tulisan tesebut dan siapa sasaran pembaca kita.
Menulis juga tidak memerlukan modal yang besar karena tulisan hanyalah rankaian kata – kata yang berasal dari pikiran kita. Tidak ada biaya yang perlu dikeluarkan untuk menulis. Kemudian menulis itu menghasilkan. Helvy Tiana Rossa dalam bukunya Menulis Bisa Bikin Kaya menerangkan bahwa arti kaya di sini sangatlah luas. Kaya tidak hanya diartikan sebagai berlimpah materinya yang kita dapatkan dari menulis, namun lebih daripada itu. Mulailah menulis dengan niat yang lurus bahwa apa yang ditulis merupakan sesuatu yang dianggap benar dan perlu disampaikan kepada semua orang. Dari sinilah keberkahan menulis akan menghampiri. Dengan begitu kaya yang dimaksudkan tak hanya sebatas kaya secara materi.
Seseorang yang berhasil menulis dengan baik dan benar, artinya ia telah mampu untuk mengorganisasikan buah pikirannya dalam bentuk kata – kata. Orang yang gemar menulis dapat dipastikan bahwa ia adalah orang yang cerdas. Timbullah pertanyaan, jika demikian bagaimana agar kita mudah untuk menyusun kata – kata agar ia membentuk sebuah tulisan yang apik?
Dalam mentoring kepenulisan ini dijelaskan beberapa cara agar kata – kata yang kita punya dapat diolah yang selanjutnya menjadi sebuah tulisan yang bagus. Pertama, hobi membaca buku. Dari manakah kita mendapatkan kata – kata? Tentunya buku adalah salah satu sumber yang paling besar. Kita tak hanya mengandalkan pendengaran kita untuk mendapatkan kata – kata baru. Dengan membaca buku kita juga belajar bagaimana struktur kalimat – kalimat yang terdapat dalam buku tersebut sehingga dapat menjadi bahan referensi bagi tulisan kita. Membaca buku juga akan menambah luasnya wawasan kita sehingga tulisan yang kita hasilkan juga bermutu dan sarat dengan nilai ilmu pengetahuan.
Kedua, membaca alam. Belajar tak hanya melalui buku, alam juga dapat dijadikan guru. Bahkan banyak orang – orang terdahulu yang hanya belajar melalui alam. Dengan membaca alam seseorang akan lebih mampu memaknai apa yang ia tulis.
Ketiga suka berkorespondensi. Korespondensi sering diartikan sebagai kegiatan surat menyurat yang sering penulis lakukan ketika masih duduk di bangku SMP. Membalas surat dari sahabat pena akan menuntut kita untuk bisa menuliskan apa yang akan kita sampaikan kepadanya. Meskipun isi surat pada awalnya hanyalah berupa cerita, tetapi ini sangat membantu dalam penyusunan dan pemilihan kata. Di era digital saat ini, surat menyurat dapat dilakukan melalui email (electronic mail ). Cara ini hamper sama bahkan lebih mudah karena tidak perlu menunggu dalam waktu yang cukup lama agar apa yang kita tulis sampai pada orang yang dituju.
Keempat, memiliki buku harian. Banyak penulis terkenal mulai menulis di buku hariannya. Kebebasan berekspresi dapat dituangkan dalam buku harian tanpa mempedulikan kaedah – kaedah bahasa. Yang penting adalah bagaimana kita menuliskan perasaan kita ke dalam tulisan, di mana ianya mebutuhkan proses. Ketika telah terlatih menulis di buku harian maka aka nada peubahan – perubahan dalam gaya menulis, baik secara bahasa maupun yang lainnya. Tentu kea rah yang lebih baik.
Kelima, suka berdiskusi. Berdiskusi artinya membahas suatu permasalahan secara bersama – sama di mana di dalamnya terjadi interaksi antar peserta. Menulis akan menjadi mudah ketika seseorang senang berdiskusi karena dengan demikian pemahamannya akan sesuatu akan lebih dalam dan membantunya dalam menyusun kata – kata.
Cobalah beberapa cara di atas agar penyusunan kata – kata kita lebih baik daripada sebelumnya. Menyusun kata – kata memang bukan hal yang mudah, namun berlatih agar kata – kata tersusun dengan baik perlu untuk dicoba.
Teman – teman, Saya Risau ketika Shalat Berjamaah ( Tolong Berikan Pemahaman )
Kerisauan selalu mengelayuti hatiketika saya shalat berjamaah di masjid, terutama di bulan Ramadhan ini. Sayatahu dan mengerti bahwa shalat berjamaah lebih utama karena pahala yangdijanjikan lebih besar . namun dibalik itu saya kadang merasa tidak nyaman dankurang bisa mengkhusyukkan diri. Dan hal ini selalu saya rasakan di masjid manapun.
Shalat berjamaah yang saya pahamiadalah gerakannya mengikuti imam. Tidak ada yang salah dengan ini. Masjid manapun yang saya masuki, seluruh makmum grakannya sama dengan imam ( kecuali anak– anak yang masih mencoel – coel teman di sebelahnya, imam kan gak mencontohkanbegitu ).
Saya tidak punya masalah samasekali dengan imamnya. Mau bacanya cepat atau pun lambat, saya akan ikuti dengan senang hati. Namanya juga berjamaah(dan saya lebih sering jadi masbuk).
Jadi masalahnya apa dong? Pertama,mengenai kerapatan barisan antara makmum yang satu dengan yang lainnya. Ini diamasalah utama saya, soalnya saya dengan jelas mendengar ( sangat jelas ) imam berkata sebelum sholatdimulai " shaf lurus dan rapat ".
Lurus artinya sejajar (gak kayakular) dan rapat berarti bahu antara satu makmum dengan makmum yang lain salingmenyentuh. Bahkan kata ustadz saya, diMekkah itu gak hanya bahu, tapi juga kaki yang dirapatkan ( jari kelingkingkaki saling berdekatan ). Di sinilah letak keutamaan shalat berjamaah itu. Gakakan ada lagi yang memikirkan itu bahu siapa, kaki siapa. Yang penting ialahbagaimana shalat mereka sah dan diterima oleh Allah swt. Tampaklah persatuanumat muslim dari cara shalatnya.
Selain itu rapatnya barisanmenghilangkan perbedaan strata yang biasanya diciptakan oleh sesama manusia.Siapa pun dia akan sama di mata Allah kecuali yang bertakwa. Lagipula, denganmerapatkan barisan setan tidak akan mudah mengganggu. Dan barisan yang rapatakan tampak lebih kokoh dan kuat. Bukankah Allah menyukai hal itu.
" Sesungguhnya Allah mencintaiorang – orang yang berperang di jalanNya dlam barisan yang teratur, merekaseakan – akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh " ( QS. As Saff 61 : 4)
Temuan saya di lapangan ketikashalat berjamah, jarang sekali saya bisa merapatkan diri dengan makmum disebelah saya. Ketika saya bergeser, ia pun ikut bergeser. Begitu lengan sayamenyentuh lengannya, dengan segera ia menjauh. Saya tidak tahu, apa hal inidisebabkan karena ia merasa geli atau memang tidak paham sama sekali dengankeutamaan merapatkan barisan shalat.
Ini jugalah yang menyebabkan saya lebih suka masbuk ( walau sebenarnya ini tidak baik ). Dengan begitu saya bisashalat di bagian paling ujung dan merapatkan diri. Jika jamaah tersebutbergeser, saya ikut bergeser agar tetap lurus dan rapat. Saya tidak inginterputus.
Terkadang saya mencobaberkomunikasi dengan jamaah sebelum shalat dimulai. Memintanya dengan baik –baik untuk merapatkan barisan. Yang saya terima sejauh ini bermacam – macamresponnya. Ada yang menurut saja begitu saya tarik lengannya, namun ada pulayang memandang saya dengan tidak senang ( anak kecil sok ngatur ). Yah, namanyajuga usaha.
Saya berharap di bulan Ramadhanini, para dai tidak hanya menyampaikan keutamaan bulan Ramadhan, tapi jugamenyebarkan hal yangmembuat saya risau ini. Memang kelihatannya sepele danteknis sekali sifatnya, tapi ini benar – benar mempengaruhi saya.
Bagi teman – teman yang membacatulisan ini, jika ada hadits atau apa pun lah yang dapat menguatkan argumentsaya tentang ini, mohon dibagikan. Ataupun jika ada pemahaman saya yang salah mengenai hal ini, harapdiluruskan. Terima kasih.
Ditengah kerisauan ketika shalat berjamaah
Shalat berjamaah yang saya pahamiadalah gerakannya mengikuti imam. Tidak ada yang salah dengan ini. Masjid manapun yang saya masuki, seluruh makmum grakannya sama dengan imam ( kecuali anak– anak yang masih mencoel – coel teman di sebelahnya, imam kan gak mencontohkanbegitu ).
Saya tidak punya masalah samasekali dengan imamnya. Mau bacanya cepat atau pun lambat, saya akan ikuti dengan senang hati. Namanya juga berjamaah(dan saya lebih sering jadi masbuk).
Jadi masalahnya apa dong? Pertama,mengenai kerapatan barisan antara makmum yang satu dengan yang lainnya. Ini diamasalah utama saya, soalnya saya dengan jelas mendengar ( sangat jelas ) imam berkata sebelum sholatdimulai " shaf lurus dan rapat ".
Lurus artinya sejajar (gak kayakular) dan rapat berarti bahu antara satu makmum dengan makmum yang lain salingmenyentuh. Bahkan kata ustadz saya, diMekkah itu gak hanya bahu, tapi juga kaki yang dirapatkan ( jari kelingkingkaki saling berdekatan ). Di sinilah letak keutamaan shalat berjamaah itu. Gakakan ada lagi yang memikirkan itu bahu siapa, kaki siapa. Yang penting ialahbagaimana shalat mereka sah dan diterima oleh Allah swt. Tampaklah persatuanumat muslim dari cara shalatnya.
Selain itu rapatnya barisanmenghilangkan perbedaan strata yang biasanya diciptakan oleh sesama manusia.Siapa pun dia akan sama di mata Allah kecuali yang bertakwa. Lagipula, denganmerapatkan barisan setan tidak akan mudah mengganggu. Dan barisan yang rapatakan tampak lebih kokoh dan kuat. Bukankah Allah menyukai hal itu.
" Sesungguhnya Allah mencintaiorang – orang yang berperang di jalanNya dlam barisan yang teratur, merekaseakan – akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh " ( QS. As Saff 61 : 4)
Temuan saya di lapangan ketikashalat berjamah, jarang sekali saya bisa merapatkan diri dengan makmum disebelah saya. Ketika saya bergeser, ia pun ikut bergeser. Begitu lengan sayamenyentuh lengannya, dengan segera ia menjauh. Saya tidak tahu, apa hal inidisebabkan karena ia merasa geli atau memang tidak paham sama sekali dengankeutamaan merapatkan barisan shalat.
Ini jugalah yang menyebabkan saya lebih suka masbuk ( walau sebenarnya ini tidak baik ). Dengan begitu saya bisashalat di bagian paling ujung dan merapatkan diri. Jika jamaah tersebutbergeser, saya ikut bergeser agar tetap lurus dan rapat. Saya tidak inginterputus.
Terkadang saya mencobaberkomunikasi dengan jamaah sebelum shalat dimulai. Memintanya dengan baik –baik untuk merapatkan barisan. Yang saya terima sejauh ini bermacam – macamresponnya. Ada yang menurut saja begitu saya tarik lengannya, namun ada pulayang memandang saya dengan tidak senang ( anak kecil sok ngatur ). Yah, namanyajuga usaha.
Saya berharap di bulan Ramadhanini, para dai tidak hanya menyampaikan keutamaan bulan Ramadhan, tapi jugamenyebarkan hal yangmembuat saya risau ini. Memang kelihatannya sepele danteknis sekali sifatnya, tapi ini benar – benar mempengaruhi saya.
Bagi teman – teman yang membacatulisan ini, jika ada hadits atau apa pun lah yang dapat menguatkan argumentsaya tentang ini, mohon dibagikan. Ataupun jika ada pemahaman saya yang salah mengenai hal ini, harapdiluruskan. Terima kasih.
Ditengah kerisauan ketika shalat berjamaah
Thursday, 12 August 2010
Kegiatan Juli - Agustus
Sebuah Evaluasi bagi Diri Sendiri
Begitu lama tidak menggerakkan jari di atas keyboard. Blog selalu dibuka dan diperiksa, tapi tidak ada niatan sedikit pun untuk menuliskan sesuatu yang bisa dijadikan manfaat ketika orang membacanya.
Tidak mau mencari kambing hitam atas vakumnya blog ini selama sebulan lebih. Semua adalah disebabkan kesalahan saya sendiri yang tidak mau meluangkan waktu untuk menulis.
Untuk menebusnya, lebih baik saya menuliskan beberapa agenda yang sudah saya ikuti sebulan terakhir ini yang membuat saya kembali bersemangat setelah beberapa waktu diliputi kesedihan dan rasa putus asa disebabkan kurangnya jumlah personil di kota Gurindam (pada pulang kampung)
1. Islamic Youth Training Camp ( IYTC ) III (16 - 18 Juli 2010)
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Gurindam Edukasi ( YGE ) merupakan program tahunan yang sudah terlaksana selama tiga kali terhitung dari tahun 2007.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan anggota Rohis dari 6 SMAN di Kota Tanjungpinang dengan jumlah peserta 60 orang. Bertempat di Nostalgia Yasin daerah Pantai Trikora.
Menginap bersama selama tiga hari sepertinya cukup memberikan kesan yang mendalam dalam diri masing - masing peserta, hingga ada yang mengusulkan untuk membentuk Komunitas Alumni IYTC sebagai lanjutan dari kegiatan ini. Komunitas ini diusulkan dengan tujuan agar para alumni IYTC tetap terjalin komunikasinya dengan baik dan mampu menggerakkan dakwah di sekolahnya masing - masing.
2. Pelatihan Kecakapan Hidup Bidang Desain Grafis ( 8 Juli - 8 Agustus )
Ini merupakan salah satu program pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama masyarakat muda yang perlu dibekali dengan keterampilan kecakapan hidup.
Di pelatihan ini akhirnya saya diajari juga cara untuk menggunakan corel draw dan adobe photoshop setelah sekian lama penasaran dengan dua makhluk itu. Sebelumnya saya hanya bisa merenungi dua program ini ketika berhadapan dengan komputer tanpa tau apa dan bagaimana menggunakannya. Fungsi masing - masing icon di toolbar pun saya tidak tahu.
Di dalam pelatihan ini, penyelenggara tidak hanya membekali kami dengan keahlian desain grafis, namun kami juga dibekali dengan keterampilan pemasaran dan cara membuat laporan keuangan sederhana.
Harapan lembaga ini adalah timbulnya jiwa kewirausahaan dalam diri setiap peserta pelatihan.
3. Training Advokasi ( 7 Agustus 2010 )
Setelah sekian lama akhirnya KAMMI Daerah Kepulauan Riau Departemen Kajian Strategis dan Humas berhasil juga melaksanakan kegiatan ini. Agenda ini bertujuan untuk membekali kader kemampuan advokasi sehingga dpat bergerak leluasa dan kritis dalam menghadapi permasalahan di masyarakat.
Agenda Training Advokasi ini akan dilaksanakan kembali pada bulan September setelah hari raya Idul Fitri.
Panitia berharap peserta yang mayoritas berasal dari pengurus Departemen Kastrat Komsat mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diberikan oleh fasilitator dan ke depan merupakan kader - kader penggerak yang peka akan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.
4. Dauroh Quran ( 31 Juli - 1 Agustus 2010 )
Untuk pertama kalinya KAMMI Komisariat Batam mengadakan dauroh dengan mengundang peserta dari Komisariat Bintan dan Komisariat Tanjungpinang. Meskipun hampir seluruh peserta adalah akhwat, namun ini tidak melemahkan semangat peserta. Minimnya peserta ikhwan bukan pula halangan bagi panitia untuk tidak meneruskan jalannya dauroh.
Dauroh diisi oleh pemateri - pemateri yang luar biasa. Antusias peserta dalam mengikuti acara ini begitu besar. Jurus menghapal Quran harapannya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari dalam rangka menuju generasi muda, generasi qurani.
5. Pra DM1 KAMMI Komisariat Bintan ( 8 Agustus 2010 )
Jadilah mahasiswa luar biasa!!!
Demikian himbauan panitia kepada mahasiswa baru agar mereka terprovokasi untuk berorganisasi, khususnya bergabung bersama KAMMI.
Kegiatan ini dilaksanakan di samping Hotel Sadap Tanjungpinang pukul 9 pagi. Berdiskusi di bawah pohon - pohon rindang merupakan suasana yang sangat menyenangkan sekali bagi peserta maupun panitia.
6. Dauroh Mar'ah BKM KAMMI Daerah Kepulauan Riau ( 8 Agustus 2010 )
Setelah kegitan di atas, maka para akhwat tidak dibenarkan untuk meninggalkan tempat. Agenda Dauroh Mar'ah ini merupakan program Badan Kemuslimahan KAMMI Kepulauan Riau yang akan dilaksanakan secara rutin terutama setelah ramadhan nantinya.
Pada kesempatan kali ini, topik yang diangkat oleh panitia ialah Urgensi Tarbiyah yang disampaikan dengan semangat oleh Dwi Afriliyana, S. PdI, seorang tokoh luar biasa dalam pergerakan dakwah KAMMI di Tanjungpinang.
7. Kuliah Peradaban bersama KAMMI Komisariat Bintan ( 10 - 11 Agustus 2010 )
Acara ini merupakan kegiatan lanjutan dari Pra DM hari MInggu lalu dengan tujuan untuk menguatkan peserta sebelum mengikuti Dauroh Marhalah 1 pada Jumat - Sabtu, 13 - 15 Agustus 2010 nanti.
Diisi oleh pemateri - pemateri luar biasa dari KAMMI Daerah Kepulauan Riau. Ketua Departemen Kajian Strategis dan Humas Jamhur Ar Rahman kebagian untuk meluruskan niat para peserta dan dilanjutkan dengan materi Tawazun oleh Raja Dachroni, S. Sos, Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Kepulauan Riau.
Di hari kedua, peserta kembali mendapatkan materi mengenai Ideologi KAMMI dari Redha Helmi Sekretaris Umum KAMMI Daerah Kepulauan Riau. Sementara itu orang nomor satu KAMMI Daerah Kepulauan Riau, Ahmad Azroi memberikan pemahaman kepada peserta tentang Urgensi Tarbiyah.
Peserta sangat antusias dengan keempat pemateri yang dibuktikan dengan hidupnya forum melalui diskusi dan tanya jawab antara peserta dan pemateri.
8. Dauroh Marhalah 1 KAMMI Komisariat Kepulauan Riau
Jumat - Sabtu, 13 - 15 Agustus 2010
Bertempat di Desa Siantan, Kabupaten Kepualaun Riau.
Demikian tulisan saya kali ini, semoga memberikan inspirasi bagi para pembaca dan saya sendiri untuk terus bergerak dan menciptakan perubahan sebelum perubahan mampu mengubah diri saya.
KAMMI, Menuju Muslim Negarawan
Begitu lama tidak menggerakkan jari di atas keyboard. Blog selalu dibuka dan diperiksa, tapi tidak ada niatan sedikit pun untuk menuliskan sesuatu yang bisa dijadikan manfaat ketika orang membacanya.
Tidak mau mencari kambing hitam atas vakumnya blog ini selama sebulan lebih. Semua adalah disebabkan kesalahan saya sendiri yang tidak mau meluangkan waktu untuk menulis.
Untuk menebusnya, lebih baik saya menuliskan beberapa agenda yang sudah saya ikuti sebulan terakhir ini yang membuat saya kembali bersemangat setelah beberapa waktu diliputi kesedihan dan rasa putus asa disebabkan kurangnya jumlah personil di kota Gurindam (pada pulang kampung)
1. Islamic Youth Training Camp ( IYTC ) III (16 - 18 Juli 2010)
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Gurindam Edukasi ( YGE ) merupakan program tahunan yang sudah terlaksana selama tiga kali terhitung dari tahun 2007.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan anggota Rohis dari 6 SMAN di Kota Tanjungpinang dengan jumlah peserta 60 orang. Bertempat di Nostalgia Yasin daerah Pantai Trikora.
Menginap bersama selama tiga hari sepertinya cukup memberikan kesan yang mendalam dalam diri masing - masing peserta, hingga ada yang mengusulkan untuk membentuk Komunitas Alumni IYTC sebagai lanjutan dari kegiatan ini. Komunitas ini diusulkan dengan tujuan agar para alumni IYTC tetap terjalin komunikasinya dengan baik dan mampu menggerakkan dakwah di sekolahnya masing - masing.
2. Pelatihan Kecakapan Hidup Bidang Desain Grafis ( 8 Juli - 8 Agustus )
Ini merupakan salah satu program pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama masyarakat muda yang perlu dibekali dengan keterampilan kecakapan hidup.
Di pelatihan ini akhirnya saya diajari juga cara untuk menggunakan corel draw dan adobe photoshop setelah sekian lama penasaran dengan dua makhluk itu. Sebelumnya saya hanya bisa merenungi dua program ini ketika berhadapan dengan komputer tanpa tau apa dan bagaimana menggunakannya. Fungsi masing - masing icon di toolbar pun saya tidak tahu.
Di dalam pelatihan ini, penyelenggara tidak hanya membekali kami dengan keahlian desain grafis, namun kami juga dibekali dengan keterampilan pemasaran dan cara membuat laporan keuangan sederhana.
Harapan lembaga ini adalah timbulnya jiwa kewirausahaan dalam diri setiap peserta pelatihan.
3. Training Advokasi ( 7 Agustus 2010 )
Setelah sekian lama akhirnya KAMMI Daerah Kepulauan Riau Departemen Kajian Strategis dan Humas berhasil juga melaksanakan kegiatan ini. Agenda ini bertujuan untuk membekali kader kemampuan advokasi sehingga dpat bergerak leluasa dan kritis dalam menghadapi permasalahan di masyarakat.
Agenda Training Advokasi ini akan dilaksanakan kembali pada bulan September setelah hari raya Idul Fitri.
Panitia berharap peserta yang mayoritas berasal dari pengurus Departemen Kastrat Komsat mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diberikan oleh fasilitator dan ke depan merupakan kader - kader penggerak yang peka akan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.
4. Dauroh Quran ( 31 Juli - 1 Agustus 2010 )
Untuk pertama kalinya KAMMI Komisariat Batam mengadakan dauroh dengan mengundang peserta dari Komisariat Bintan dan Komisariat Tanjungpinang. Meskipun hampir seluruh peserta adalah akhwat, namun ini tidak melemahkan semangat peserta. Minimnya peserta ikhwan bukan pula halangan bagi panitia untuk tidak meneruskan jalannya dauroh.
Dauroh diisi oleh pemateri - pemateri yang luar biasa. Antusias peserta dalam mengikuti acara ini begitu besar. Jurus menghapal Quran harapannya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari dalam rangka menuju generasi muda, generasi qurani.
5. Pra DM1 KAMMI Komisariat Bintan ( 8 Agustus 2010 )
Jadilah mahasiswa luar biasa!!!
Demikian himbauan panitia kepada mahasiswa baru agar mereka terprovokasi untuk berorganisasi, khususnya bergabung bersama KAMMI.
Kegiatan ini dilaksanakan di samping Hotel Sadap Tanjungpinang pukul 9 pagi. Berdiskusi di bawah pohon - pohon rindang merupakan suasana yang sangat menyenangkan sekali bagi peserta maupun panitia.
6. Dauroh Mar'ah BKM KAMMI Daerah Kepulauan Riau ( 8 Agustus 2010 )
Setelah kegitan di atas, maka para akhwat tidak dibenarkan untuk meninggalkan tempat. Agenda Dauroh Mar'ah ini merupakan program Badan Kemuslimahan KAMMI Kepulauan Riau yang akan dilaksanakan secara rutin terutama setelah ramadhan nantinya.
Pada kesempatan kali ini, topik yang diangkat oleh panitia ialah Urgensi Tarbiyah yang disampaikan dengan semangat oleh Dwi Afriliyana, S. PdI, seorang tokoh luar biasa dalam pergerakan dakwah KAMMI di Tanjungpinang.
7. Kuliah Peradaban bersama KAMMI Komisariat Bintan ( 10 - 11 Agustus 2010 )
Acara ini merupakan kegiatan lanjutan dari Pra DM hari MInggu lalu dengan tujuan untuk menguatkan peserta sebelum mengikuti Dauroh Marhalah 1 pada Jumat - Sabtu, 13 - 15 Agustus 2010 nanti.
Diisi oleh pemateri - pemateri luar biasa dari KAMMI Daerah Kepulauan Riau. Ketua Departemen Kajian Strategis dan Humas Jamhur Ar Rahman kebagian untuk meluruskan niat para peserta dan dilanjutkan dengan materi Tawazun oleh Raja Dachroni, S. Sos, Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Kepulauan Riau.
Di hari kedua, peserta kembali mendapatkan materi mengenai Ideologi KAMMI dari Redha Helmi Sekretaris Umum KAMMI Daerah Kepulauan Riau. Sementara itu orang nomor satu KAMMI Daerah Kepulauan Riau, Ahmad Azroi memberikan pemahaman kepada peserta tentang Urgensi Tarbiyah.
Peserta sangat antusias dengan keempat pemateri yang dibuktikan dengan hidupnya forum melalui diskusi dan tanya jawab antara peserta dan pemateri.
8. Dauroh Marhalah 1 KAMMI Komisariat Kepulauan Riau
Jumat - Sabtu, 13 - 15 Agustus 2010
Bertempat di Desa Siantan, Kabupaten Kepualaun Riau.
Demikian tulisan saya kali ini, semoga memberikan inspirasi bagi para pembaca dan saya sendiri untuk terus bergerak dan menciptakan perubahan sebelum perubahan mampu mengubah diri saya.
KAMMI, Menuju Muslim Negarawan
Semoga semangat tak hanya sampai di sini
Selalu dalam rangka perbaikan diri
Wednesday, 21 July 2010
Learning English by Music
-->
Learning english by music,why not???
Yap, inilah yang seharusnya dilakukan oleh pelajar – pelajar untuk mempermudah mereka dalam belajar bahasa Ingrris. Belajar bahasa inggris di sekolah saja tidaklah cukup. Kadang kita membutuhkan kursus tambahan agar kemampuan lebih berkembang dan biasanya di tempat kursus akan lebih mudah mempelajarinya. Namun bagaimana dengan kita yang tidak mempunyai cukup biaya ataupun waktu untuk kursus? Tentunya adalah pilihan yang sulit. Dan terkadang ini yang menghambat seseorang untuk memperdalam bahasa inggris.
Beberapa cara yang dulunya pernah penulis lakukan adalah dengan sering mendengarkan lagu – lagu dalam bahasa inggris. Melalui lagu, kita bisa menguasai beberapa skill dalam bahasa inggris di antaranya adalah listening, speaking, reading. Ketiga skill ini sebenarnya saling berhubungan, tapi penulis akan mencoba memberikan penjelasan singkat.
Dengan seringnya kita mendengar lagu tersebut, berarti kita akan terbiasa dengan kata – kata dalam bahasa inggris. Kita akan menghilangkan rasa canggung dengan kata – kata yang sebagian besar orang berkata bahwa itu adalah kata – kata asing yang tidak jelas juntrungannya. But remember, alah bisa karena biasa.
Selanjutnya ketika sudah sering listening, akan muncul gerakan speaking. Kita akan mulai mengucapkan kata- kata tersebut saat lagu dimainkan. Bukankah ini akan memunculkan kebiasaan mengucapkan kata – kata dalam bahasa inggris? Speaking menurut penulis tidak hanya menguasai percakapan resmi seperti yang ada di buku – buku panduan berbahasa inggris, tapi lebih pada seberapa berani kita mengucapkan kata – kata tersebut. Nah melalui music, kita sudah berusaha untuk mengucapkannya walaupun masih terdapat kesalahan.
Meskipun pada awal pengucapan kata- kata yang diucapkan tidak sama dengan yang sebenarnya, namun ini adalah awal latihan kita.
Kemudian dari listening dan speaking keinginan selanjutnya yang akan muncul ialah rasa ingin tahu kita akan lirik lagu tersebut. Usaha untuk mencari lirik pastinya akan timbul. Dan di sinilah reading akan berbicara. Kesalahan- kesalahan dalam pengucapan akan diperbaiki dengan sendirinya.
Jika kita sudah melewati ketiga tahapan di atas otomatis kemampuan kita yang lain juga akan bertambah. Sekarang kita sudah mendapatkan kosakata baru dan cara membaca yang benar. Kita tak perlu lagi membuka kamus Oxford untuk mengetahui cara baca kata tersebut karena kita telah mendengarnya secara langsung. Pelajaran pronunciation sudah kita dapatkan sendiri. Dan kita tidak akan kesulitan lagi saat menemukan kata – kata baru yang belum pernah kita ucapkan sebelumnya karena kita sudah mengetahui teknik pronunciation melalui music.
Seterusnya, ketika kita diminta untuk menuliskan kata – kata yang didengar kata sulit tidak akan pernah lagi keluar dari bibir kita, hal tersebut tak lagi jadi momok. Mendengarkan, mengucapkan, membaca, kemudian menuliskannya kembali akan menjadi lebih mudah. Karena itulah music adalah salah satu cara paling efektif dalam mempelajari bahasa khususnya bahasa inggris. If you are good at learning music, you wil be good at learning languages.
Terakhir, orang – orang sering mengatakan bahwa practice makes perfect yang artinya semakin sering anda berlatih maka akan semakin mahir anda dalam melakukan sesuatu. Tidak demikian bagi penulis. Bagi penulis, practice makes you brave. Ketika kita semiakin sering melakukan sesuatu, khususnya dalam bahasa inggris, maka akan semakin berani kita dalam menggunakannya. So, menjadi mahir melakukan sesuatu berawal dari keberanian kita melakukan sesuatu tersebut. Selamat mencoba!
Tanjungpinang, 21 Juli 2010
In Improving My English
Berikut rekomendasi penulis untuk lagu-lagu yang bisa didengar pembaca untuk improve kemampuannya :
- Lagu – lagu yang dinyanyikan oleh boyband ( westlife, backstreetboys, A1, O-town, Boyzone, dan lain – lain )
- Music yang tidak terlalu keras seperti yang sering dimainkan oleh Linkin Park, Limp Bizkit, dan grup band aliran rock alternative lainnya.
- Meski anda menyukai music rock, cobalah belajar dari lagu – lagu mellow karena biasanya kata – katanya diucapkan dengan jelas.
Wednesday, 14 July 2010
Tulisan Tanpa Judul
Kepada mujahid benteng kebenaran
Slalu rindu akan lahir kajayaan
Kepada pewaris tahta nan gemilang
Menapak tegak menyongsong masa depan
Lirik lagu Senandung Benteng Kebenaran di atas sejatinya mampu membangkitkan semangat sesiapa saja pendengarnya terutama orang – orang yang sudah menceburkan diri ke dalam kegiatan dakwah. Dakwah. Apa itu dakwah? Apa yang kita ketahui tentang dakwah? Dakwah seperti apa yang kita lakukan? Atau benarkah kita saat ini sedang berdakwah?
Well, penulis tidak akan berpanjang lebar tentang dakwah. Dakwah hanya akan dipahami oleh orang – orang yang benar - benar terjun dan konsisten dengan apa yang dilakukannya dari awal hingga akhir tanpa mengenal kata lelah untuk membela kepentingan agama Allah.
Pernah mendengar kisah perang Tabuk? Penulis juga bukan ingin mengupas perang Tabuk, namun cerita dibalik perang tersebut. Ketika Rasulullah dan pra sahabat berangkat untuk berperang, ada tiga orang yang tidak mengikuti mereka. Mereka bukanlah orang – orang munafik. Tidak ada uzur pula yang memberikan mereka keringanan untuk tidak ikut perang.
Setelah Rasulullah pulang dari peperangan, beliau memerintahkan para sahabat untuk tidak berbicara kepaa ketiga orang tersebut. Salah satu dari mereka ialah Ka’ab bin Malik. Ia tidak ikut peperangan adalah karena ia menunda kebarangkatannya bersama Rasulullah padahal ia memiliki kendaraan. Betapa sedihnya ia ketika tak seorang pun yang mau berbicara padanya. Bahkan tak lama kemudian keluar lagi perintah Rasulullah agar ia menjauhi istrinya. Semakin perih hatinya. Ia merasakan benar bagaimana bumi yang ia pijak menjadi sangat sempit. Selama berpuluh – puluh hari ia seperti hidup di sebuah negeri asing, karena tak seorang pun yang mau berbicara padanya. Bahkan sepupu yang sangat dicintainya pun, Abu Qatadah juga tidak bicara pada Ka’ab bin Malik.
Setelah lima puluh hari, ketika Ka’ab bin Malik selesai sholat Subuh sendirian di atas bukit, ia mendengar seseorang berteriak kepadanya. Betapa gembira Ka’ab bin Malik seketika itu juga. Rasulullah telah mencabut hukuman baginya dan Allah pun telah menerima taubat ia dan kedua orang tidak ikut perang Tabuk beberapa waktu lalu. Rasa syukur itu pun ia buktikan melalui shadaqoh seluruh hartanya untuk agama Allah, tapi Rasulullah memintanya untuk menahan hartanya. Ka’ab bin Malik tetap mengeluarkan shodaqoh seluruh hartanya dengan meninggalkan hartanya yang di Khaibar.
“ Sesunggunya Allah telah menerima taubat Nabi, orang – orang muhajirin dan orang – orang anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hamper berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat)mereka hingga apabila bumi menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat merka agar mereka tetap dlam taubatnya. Seusngguhnya Allah lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang – orang yang benar.”
( QS. At Taubah 9 : 117 – 119 )
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Demikianlah sekelumit cerita mengenai Ka’ab bin Malik yang dikucilkan oleh kaum Muslimin disebabkan oleh ketidakikutsertaannya dalam perang Tabuk. Begitu berat hukuman yang diterima oleh mereka yang tidak ikut serta dalam kegiatan Rasulullah dalam rangka membela dan menegakkan agama Islam.
Ini adalah salah satu fenomena yang berjatuhan pada masa kenabian. Nah bagaimana dengan kita saat ini? Pelaku di dakwah kontemporer saat ini sebagian besar tidak mau kedudukannya tidak mau disamakan dengan kedudukan para sahabat dulunya di mana para sahabat memiliki ksempatan untuk bertemu dan menyerukan Islam bersama Rasulullah.
Di masa Rasulullah keluar dari barisan jamaah berarti keluar dari Islam. Ketika itu hanya ada dua pilihan bagi umat muslim, tetap bersama Rasulullah atau kembali jahiliyah. Oleh karena itu mereka yang keluar dari barisan muslimin akan dianggap sebagai kafir.
Nah, untuk pergerakan saat ini, kaum muslimin tidak lagi dihadapkan pada pilihan seperti di masa Rasulullah. Selagi pergerakan tersebut tidak menganggap dirinya sebagai jama’atul muslimin (nama lain dari khilafah islamiyah), di mana orang yang keluar dari barisan ini dianggap murtad, maka kaum muslimin saat ini ketika keluar dari barisan tidak dikategorikan kafir.
Sepertinya di sinilah letak kelemahan kaum muslimin saat ini. Ketika ia memutuskan untuk keluar dan meninggalkan jamaah, logikanya tidak ada beban dan hukuman yang akan ia terima dari pemimpin jamaah. Karena itulah banyak yang meninggalkan jamaah tanpa rasa bersalah, padahal saat itu tidak ada uzur baginya. Ka’ab bin Malik berada dalam keadaan yang muda dan bersemangat saat perang Tabuk, namun ia tergoda oleh banyak hal sehingga menjadikannya tidak ikut serta dalam peperangan.
Seandainya di zaman modern ini kaum muslimin yang memutuskan untuk keluar atau tidak ikut serta dalam menegakkan agama Islam juga dihukum sebagaimana Rasulullah menghukum ketiga orang yang tidak ikut perang Tabuk, betapa kuat dan kokoh barisan Islam saat ini.
Penulis menyadari bahwa sangat mustahil hal ini terjadi di pergerakan Islam kontemporer hari ini. Tidak akan ada yang mau dihukum hanya karena tidak hadir dalam satu kegiatan atau rapat. Hanya satu yang masuk akal untuk dilakukan kini yaitu berusaha untuk terus bersabar dalam menghadapi permasalahan di jalan yang panjang yang ujungnya masih tak terlihat.
Lagipula kata Allah “ Tidak ada paksaan dalam agama “. Entahlah, apakah ini sebuah keringanan bagi kita atau sindiran Allah kepada hambaNya untuk menegakkan agamaNya. Wallahu’alam
“ Sesungguhnya istirahatnya kaum muslimin ialah ketika kakinya menginjakkan surga”
( Ustadz Rahmat Abdullah )
Tanjungpinang, 13 Juli 2010
In improving myself to be better and keep standing on the right way
Subscribe to:
Posts (Atom)



