Tuesday, 24 July 2012
Thursday, 19 July 2012
DAKWAH, KESADARAN UNTUK MEMERANKAN TOKOH BAIK – BAIK
Suatu hari saya menuliskan satu kalimat di salah satu jejaring sosial, dakwah, the awareness and obligation of every muslim.
Awalnya saya pikir ini adalah pemahaman yang benar, namun ternyata ada yang salah dengan pemahaman saya.
Suatu ketika beberapa pertanyaan muncul tentang dakwah. Apa itu dakwah. Seperti apakah bentuk dakwah. Apa guna dakwah. Mengapa harus berdakwah. Bagaimana cara berdakwah? Siapa saja yang patut didakwahi? Semua orang atau ada kalangan tertentu sesuai prioritas dan kebutuhan? Lalu apakah dakwah adalah tugas atau hanya kesadaran?
Dalam acara bedah buku Salim A. Fillah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, beliau menjelaskan bahwa ada empat kesadaran yang harus dimiliki oleh seorang manusia yang beruntung menjadi seorang muslim. Pertama, kesadaran identitas. Kedua, kesadaran untuk berkompetisi dengan muslim yang lain dalam hal berbuat kebaikan, juga untuk jadi yang terbaik di mata Rabb. Ketiga, kesadaran untuk bersinergi dengan muslim yang lain. Dan yang terakhir adalah kesadaran untuk menjalankan misi dakwah.
Hal pertama hingga ketiga semestinya menjadi perhatian yang lebih bagi kita di mana hari ini banyak muslim yang tidak bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Banyak yang hari ini muslim yang tidak menyadari bahwa dia sedang berada dalam kompetisi kebaikan untuk memenangkan ‘perhatian’ Allah padanya. Lebih banyak lagi muslim yang hanya berkompetisi, bersaing untuk mendapatkan perhatian dunia. Dan lebih lebih banyak lagi muslim yang tak mampu bersinergi dengan muslim lain, bekerjasama untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan dan kejayaan umat.
Poin keempat. Kesadaran seorang muslim untuk mengemban misi dakwah.
Kader dakwah. Kitakah itu? Entahlah. Saya tak bisa memastikan.
Dakwah adalah menyeru. Mengajak pada kebaikan. Mengingatkan untuk kembali pada Allah. Menasehati untuk perbaikan. Memberitahu demi pemahaman. Mengamalkan untuk pembuktian.
Anehnya, tak semua muslim menyadari ini. Mengapa? Untuk menuju kesadaran keempat, ia harus menyadarkan sisi lainnya.
Allah Maha Adil. Luar biasa karuniaNya ketika kesadaran untuk mengemban misi dakwah itu diberikan pada kita. Setiap manusia sudah terpilih untuk menjalankan perannya masing – masing. Script sudah ditangan, begitu lahir ke dunia maka peran pun dijalankan sesuai arahan Sang Sutradara. Sayangnya hanya ada dua peran yang Allah tulis dalam scenario kehidupan sejak Nabi Adam diciptakan. Manusia yang terpilih untuk memerankan tokoh kebaikan dan manusia yang terpilih untuk tokoh penguji tokoh kebaikan. Sederhana.
Nabi Adam diciptakan untuk berbuat kebaikan, menjadi khalifah, menjadi pasangan yang baik bagi Hawa. Sementara Allah ciptakan iblis untuk menguji Nabi Adam, menggoda dengan segala upaya agar Nabi Adam mau memakan buah larangan.
Muhammad SAW, seorang yatim piatu dengan gelar Al Amin di tengah masyarakat Mekah. Selalu berkata jujur, di mana suatu hari mendapat peran untuk menjalankan amanah dakwah. Berbuat kebaikan, mengajak berbuat baik. Sederhana. Namun selalu ada penguji. Abu Lahab dan Abu Jahal mendapat kehormatan untuk menjalan peran itu. Dan mereka memainkannya dengan baik. Sayang, neraka tempat berakhir kedua tokoh Quraisy tersebut.
Abad demi abad berlalu, lalu muncullah Hasan Al Banna di tengah kerusakan moral dan ekonomi negeri Mesir di bawah pemimpin yang zalim. Apa yang beliau dan teman – temannya lakukan? Hanya berbuat baik dan mengajak untuk berbuat baik. Memberikan pemahaman tentang Islam di merata tempat. Yang tidak memahami mencoba bertanya dan mengkaji hingga menjadi baik. Lalu peranan penguji tokoh kebaikan pun datang. Siksaan penjara, penangkapan tanpa alasan yang jelas hingga maut menjemput melalui peluru di pagi hari. Semua hanya untuk satu misi, menguji tokoh kebaikan dan menghentikan mereka untuk berbuat dan mengajak pada kebaikan. Berhentikah? Tidak.
Di era 80an, jilbab bukanlah tren. Kajian keislaman bagaikan hal tabu layaknya perzinahan. Di kondisi yang serba sulit, beberapa muslimah keukeuh memakai jilbab ke sekolah maupun tempat kerja. Kajian keislaman tetap berjalan tiap sepekan sekali. Semua satu tujuan. Untuk kebaikan. Di dunia dan akhirat. Kemudian muncullah pemeran penguji kebaikan. Yang berjilbab dipersulit. Tak boleh sekolah, dipaksa untuk mmbuka jilbab di tempat kerja. Alasannya lucu, budaya. Yang mengaji, diintai setiap hari. Berani mengkritisi, besoknya tak bisa ditemui lagi. Ke mana? Ditangkap polisi, begitu kata tetangga dan teman – teman. Kenapa? #angkat bahu
Ini era reformasi di mana semua menjadi bebas bahkan tanpa batas dan sulit untuk membuat batas yang sebenarnya sudah jelas. Sayang menjadi samar karena globalisasi. Mungkin ini juga pengaruh pemanasan global yang menguak lapisan langit pelindung bumi sehingga antara bumi dan matahari menjadi satu. Bukan saling mendekati, tapi yang satu mencoba menghabisi yang lainnya. Bukan salah matahari, manusia yang membuatnya demikian.
Harusnya di era seperti ini, kesadaran untuk berdakwah dalam diri setiap muslim lebih meningkat. Tak ada yang boleh melarang suatu kebaikan. Setiap muslim bisa lebih leluasa untuk menjalankan perannya sebagai tokoh baik – baik untuk menyebarkan kebaikan. Namun rupanya peran penguji tokoh baik masih ada, hanya saja berubah bentuk. Dimodifikasi sesuai dengan zaman.
(bersambung, karena bingung gimana mau mengakhiri tulisan ini, kalo mau bantu juga boleh hehehe)
Awalnya saya pikir ini adalah pemahaman yang benar, namun ternyata ada yang salah dengan pemahaman saya.
Suatu ketika beberapa pertanyaan muncul tentang dakwah. Apa itu dakwah. Seperti apakah bentuk dakwah. Apa guna dakwah. Mengapa harus berdakwah. Bagaimana cara berdakwah? Siapa saja yang patut didakwahi? Semua orang atau ada kalangan tertentu sesuai prioritas dan kebutuhan? Lalu apakah dakwah adalah tugas atau hanya kesadaran?
Dalam acara bedah buku Salim A. Fillah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, beliau menjelaskan bahwa ada empat kesadaran yang harus dimiliki oleh seorang manusia yang beruntung menjadi seorang muslim. Pertama, kesadaran identitas. Kedua, kesadaran untuk berkompetisi dengan muslim yang lain dalam hal berbuat kebaikan, juga untuk jadi yang terbaik di mata Rabb. Ketiga, kesadaran untuk bersinergi dengan muslim yang lain. Dan yang terakhir adalah kesadaran untuk menjalankan misi dakwah.
Hal pertama hingga ketiga semestinya menjadi perhatian yang lebih bagi kita di mana hari ini banyak muslim yang tidak bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Banyak yang hari ini muslim yang tidak menyadari bahwa dia sedang berada dalam kompetisi kebaikan untuk memenangkan ‘perhatian’ Allah padanya. Lebih banyak lagi muslim yang hanya berkompetisi, bersaing untuk mendapatkan perhatian dunia. Dan lebih lebih banyak lagi muslim yang tak mampu bersinergi dengan muslim lain, bekerjasama untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan dan kejayaan umat.
Poin keempat. Kesadaran seorang muslim untuk mengemban misi dakwah.
Kader dakwah. Kitakah itu? Entahlah. Saya tak bisa memastikan.
Dakwah adalah menyeru. Mengajak pada kebaikan. Mengingatkan untuk kembali pada Allah. Menasehati untuk perbaikan. Memberitahu demi pemahaman. Mengamalkan untuk pembuktian.
Anehnya, tak semua muslim menyadari ini. Mengapa? Untuk menuju kesadaran keempat, ia harus menyadarkan sisi lainnya.
Allah Maha Adil. Luar biasa karuniaNya ketika kesadaran untuk mengemban misi dakwah itu diberikan pada kita. Setiap manusia sudah terpilih untuk menjalankan perannya masing – masing. Script sudah ditangan, begitu lahir ke dunia maka peran pun dijalankan sesuai arahan Sang Sutradara. Sayangnya hanya ada dua peran yang Allah tulis dalam scenario kehidupan sejak Nabi Adam diciptakan. Manusia yang terpilih untuk memerankan tokoh kebaikan dan manusia yang terpilih untuk tokoh penguji tokoh kebaikan. Sederhana.
Nabi Adam diciptakan untuk berbuat kebaikan, menjadi khalifah, menjadi pasangan yang baik bagi Hawa. Sementara Allah ciptakan iblis untuk menguji Nabi Adam, menggoda dengan segala upaya agar Nabi Adam mau memakan buah larangan.
Muhammad SAW, seorang yatim piatu dengan gelar Al Amin di tengah masyarakat Mekah. Selalu berkata jujur, di mana suatu hari mendapat peran untuk menjalankan amanah dakwah. Berbuat kebaikan, mengajak berbuat baik. Sederhana. Namun selalu ada penguji. Abu Lahab dan Abu Jahal mendapat kehormatan untuk menjalan peran itu. Dan mereka memainkannya dengan baik. Sayang, neraka tempat berakhir kedua tokoh Quraisy tersebut.
Abad demi abad berlalu, lalu muncullah Hasan Al Banna di tengah kerusakan moral dan ekonomi negeri Mesir di bawah pemimpin yang zalim. Apa yang beliau dan teman – temannya lakukan? Hanya berbuat baik dan mengajak untuk berbuat baik. Memberikan pemahaman tentang Islam di merata tempat. Yang tidak memahami mencoba bertanya dan mengkaji hingga menjadi baik. Lalu peranan penguji tokoh kebaikan pun datang. Siksaan penjara, penangkapan tanpa alasan yang jelas hingga maut menjemput melalui peluru di pagi hari. Semua hanya untuk satu misi, menguji tokoh kebaikan dan menghentikan mereka untuk berbuat dan mengajak pada kebaikan. Berhentikah? Tidak.
Di era 80an, jilbab bukanlah tren. Kajian keislaman bagaikan hal tabu layaknya perzinahan. Di kondisi yang serba sulit, beberapa muslimah keukeuh memakai jilbab ke sekolah maupun tempat kerja. Kajian keislaman tetap berjalan tiap sepekan sekali. Semua satu tujuan. Untuk kebaikan. Di dunia dan akhirat. Kemudian muncullah pemeran penguji kebaikan. Yang berjilbab dipersulit. Tak boleh sekolah, dipaksa untuk mmbuka jilbab di tempat kerja. Alasannya lucu, budaya. Yang mengaji, diintai setiap hari. Berani mengkritisi, besoknya tak bisa ditemui lagi. Ke mana? Ditangkap polisi, begitu kata tetangga dan teman – teman. Kenapa? #angkat bahu
Ini era reformasi di mana semua menjadi bebas bahkan tanpa batas dan sulit untuk membuat batas yang sebenarnya sudah jelas. Sayang menjadi samar karena globalisasi. Mungkin ini juga pengaruh pemanasan global yang menguak lapisan langit pelindung bumi sehingga antara bumi dan matahari menjadi satu. Bukan saling mendekati, tapi yang satu mencoba menghabisi yang lainnya. Bukan salah matahari, manusia yang membuatnya demikian.
Harusnya di era seperti ini, kesadaran untuk berdakwah dalam diri setiap muslim lebih meningkat. Tak ada yang boleh melarang suatu kebaikan. Setiap muslim bisa lebih leluasa untuk menjalankan perannya sebagai tokoh baik – baik untuk menyebarkan kebaikan. Namun rupanya peran penguji tokoh baik masih ada, hanya saja berubah bentuk. Dimodifikasi sesuai dengan zaman.
(bersambung, karena bingung gimana mau mengakhiri tulisan ini, kalo mau bantu juga boleh hehehe)
Wednesday, 4 July 2012
Tuesday, 3 July 2012
Power Ranger
Power ranger itu fenomenal, lebih hebat dari Ksatria Baja Hitam, Ultraman, Superman, apalagi Spiderman yang berjuang sendirian. Power ranger, dalam banyak versi terdiri dari 3 orang laki - laki dan 2 perempuan. Masing - masing mereka punya kostum dengan warna yang berbeda.Hitam, merah, biru, kuning dan merah jambu. Kadang ada putih, tapi dia lebih sering jadi penyelamat kalo kelima ranger udah KO
Gambaran kami sekarang ya begitu.
Tinggal power ranger yang mencoba menyelesaikan tugas - tugas jelang acara puncak nanti. Hmm tidak masalah, meskipun hanya berlima, tapi kesolidannya tidak diragukan (hahahaha agak lebay memang).
Dengan sisa tenaga yang harusnya bukanlah tenaga sisa sedikit demi sedikit membenahi kerja yang belum terselesaikan oleh pihak yang seharusnya menyelesaikan.
Gambaran kami sekarang ya begitu.
Tinggal power ranger yang mencoba menyelesaikan tugas - tugas jelang acara puncak nanti. Hmm tidak masalah, meskipun hanya berlima, tapi kesolidannya tidak diragukan (hahahaha agak lebay memang).
Dengan sisa tenaga yang harusnya bukanlah tenaga sisa sedikit demi sedikit membenahi kerja yang belum terselesaikan oleh pihak yang seharusnya menyelesaikan.
Monday, 25 June 2012
Semangat!!!!
Beberapa kader akan meninggalkan Tanjungpinang. Ada yang menuju kampung halaman, ada yang keluar untuk S2, ada juga yang lanjutkan S3.
Tidak boleh mengeluh apalagi menyesali kepergian mereka. Berapa pun yang masih ada di sini, maka itulah yang terbaik dan terpilih untuk melanjutkan kerja - kerja dakwah yang belum selesai
Masih banyak hal yang harus dikerjakan.
Masih banyak target yang belum terpenuhi
Jangan buang waktu hanya untuk menangisi kepergian mereka
Karena sang Imam berpesan, bahwa kewajiban masih banyak dibandingkan dengan waktu yang tersedia.
Tidak boleh mengeluh apalagi menyesali kepergian mereka. Berapa pun yang masih ada di sini, maka itulah yang terbaik dan terpilih untuk melanjutkan kerja - kerja dakwah yang belum selesai
Masih banyak hal yang harus dikerjakan.
Masih banyak target yang belum terpenuhi
Jangan buang waktu hanya untuk menangisi kepergian mereka
Karena sang Imam berpesan, bahwa kewajiban masih banyak dibandingkan dengan waktu yang tersedia.
SEMANGAT!!!!!
Saturday, 2 June 2012
Ketakutan Tak Normal
Takut. Semua orang punya rasa itu. Dan rasa takut itu adalah ciptaan Allah. Hanya saja, perintah takut untuk manusia adalah takut kepadaNya, bukan kepada makhlukNya. Lalu, jika takut terhadap ciptaanNya masih mendominasi, ada apa sebenarnya? Hanya satu jawaban, saat itu keimanan tidak berada di tempat yang semestinya. Iman sedang turun, bahkan mungkin sedang ambruk.
Sudah hampir satu bulan kami menjalani hidup di Kampung Bintan Buyu sebagai mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diambil untuk meraih gelar sarjana. Kelompok saya terdiri dari 15 orang anggota dengan rincian 4 laki – laki dan 11 perempuan. Di antara kami ada 5 orang dari jurusan pendidikan bahasa inggris, 4 orang dari jurusan pendidikan agama islam kelas extension dan 6 orang dari jurusan yang sama namun kelas regular. Keberagaman ini membuat kami belajar untuk memahami satu sama lain, apalagi ada beberapa di antaranya yang baru bertemu meskipun sudah hampir 4 tahun kuliah di kampus yang sama.
Kampung Bintan Buyu terletak di Kabupaten Bintan, tepatnya di Kecamatan Teluk Bintan, Desa Bintan Buyu. Ketika menghadap kepala desa, kami diberikan kesempatan untuk memilih sendiri lokasi KKN di mana desa ini terdiri dari 4 kampung yaitu, Kampung Bintan Buyu, Kampung Sidodadi, Kampung Bukit Batu dan Kampung 46 (begitulah mereka menyebutnya). Kami memilih Kampung Bintan Buyu karena melihat lokasinya yang tidak jauh dari jalan besar dan juga balai pertemuan yang kami gunakan sebagai tempat tinggal sementara tidak jauh dari rumah masyarakat sehingga memudahkan kami untuk bersosialisasi.
Awal KKN, ada hal yang tidak nyaman yang saya rasakan. Mulai dari posko yang terkesan angker, kebingungan untuk memulai komunikasi dengan warga, listrik yang tidak 24 jam, jauhnya saya dari teman – teman seperjuangan, banyaknya waktu kosong hingga kenyataan bahwa saya tinggal satu rumah bahkan tidur di ruangan yang sama dengan lawan jenis.
Posko yang kami tinggali kabarnya adalah bekas kuburan seorang anak kecil yang sudah dipindahkan bertahun – tahun yang lalu. Dulunya ada sebuah keluarga yang tinggal di posko tersebut (posko itu sebenarnya adalah bekas rumah warga) namun entah mengapa selalu saja sakit – sakitan hingga mereka menjual rumah tersebut pada warga. Tahun lalu, dari berita yang kami dengan dari masyarakat, mahasiswa yang sedang KKN di sana melihat penampakan yang tidak seharusnya.
Pada mulanya saya sama sekali tidak takut akan hal tersebut sehingga merasa biasa saja. Namun sayang kondisi keimanan yang fluktuatif membuat saya menyerah pada keadaan dan berada dalam ketakutan tidak normal selama seminggu lebih berada di tempat itu. Setiap malam saya tak bisa tidur lelap bahkan tak bisa tidur sama sekali hingga subuh. Gejala tak normal lainnya muncul bersamaan dengan ketakutan itu. Tiap malam saya harus buang air kecil dan terpaksa membangunkan teman seposko untuk menemani ke belakang. Saya selalu bangun sebelum jam 2 dini hari dan sangat sulit untuk tidur kembali. Padahal suasananya sangat membuat tidak nyaman. Listrik desa yang sudah mati pukul 11 malam makin membuat saya takut bahkan untuk bergerak.
Memalukan memang. Selama dua malam saya hanya bisa menangis karena ketidaknyamanan tersebut sementara teman – teman lain tertidur pulas. Tak ingin berlama – lama dengan keadaaan seperti itu saya putuskan untuk pulang mencari obat setelah permintaan saya untuk pindah posko ditolak oleh teman – teman. Mungkin menurut mereka alasan saya tidak masuk akal dan pindah posko artinya penambahan biaya. Barulah setelah melakukan hal – hal yang disarankan oleh teman – teman yang menurut saya keimanan mereka jauh di atas saya, di akhir minggu kedua saya baru bisa mulai merasa nyaman tidur di posko. Bahkan keimanan mulai berangsur membaik dari sebelumnya.
Dari malam – malam yang saya lewati di sana dengan ketidaknyamanan dan ketakutan tak normal tersebut, ada hikmah yang saya coba cerna. Allah azza wa jalla sedang memberikan tegurannya pada saya. Oh mungkin tidak hanya teguran, tapi ini merupakan hukuman bagi saya karena kelalaian – kelalaian yang selama ini saya lakukan.
Untuk menaikkan keimanan yang sudah jatuh di jurang yang paling dalam saya memperbanyak shalat berjamaah karena kebetulan mesjid tak jauh dari posko. Shalat sunnah pun harus saya paksakan setiap selesai shalat wajib. Tilawah yang dulunya tidak pernah mencapai target mau tidak mau saya paksakan hingga suara serak, kadang beberapa teman menggoda bahwa saya sedang meruqyah mereka. Hahahaha tidak apa lah.
Di satu waktu saya mencoba mengajak beberapa orang untuk membaca surah Al Baqarah bersama – sama untuk mengusir jin yang mungkin ada di rumah itu. Tentu saja ada karena rumah itu sudah lama sekali kosong. Setelah maghrib rupanya listrik desa tak kunjung menyala hingga kami hanya menggunakan penerangan seadanya. Hati saya mulai cemas tak normal dan berprasangka bahwa mungkin saja jin di rumah tersebut tidak mau kami membaca surah itu hingga ia membuat listrik tidak menyala. Geli jika mengingat pikiran saya ketika itu.
Dengan berbekal senter HP, setelah maghrib saya tetap membaca surah Al Baqarah dari ayat pertama dan bertekad menyelesaikannya malam itu juga. Ketika memasuki rumah baru disunnahkan untuk membaca surah Al Baqarah agar jin tidak memasuki rumah tersebut. Inilah yang saya lupakan di awal KKN sehingga menjadi tak normal. Jelang pukul 10 malam saya merasa penuh oleh bongkahan keimanan yang bergelayut dalam dada sehingga meskipun saat itu teman – teman sudah terlelap, saya merasa tidak lagi takut seperti malam – malam sebelumnya. Namun tinggal 4 lembar lagi yang harus say abaca, tiba – tiba ada reaksi aneh yang saya rasakan. Huekk! Berasa ingin muntah saat itu juga. Wusss…… seketika itu saya terhenti membaca.
Membaca surah Al Baqarah dari awal hingga akhir merupakan salah saru langkah untuk meruqyah diri sendiri. Jika ada reaksi pusing, berasa ingin muntah artinya ada jin yang memang selalu mengikuti dan mengganggu setiap kali kita ingin beribadah. Itu yang pernah saya dengar dalam sebuah majelis ilmu.
Rasanya seperti dihempaskan ke bebatuan mengetahui kenyataan demikian. Saya berkesimpulan bahwasanya selama ini di diri saya lah jin itu bertengger dan membisikkan ketakutan – ketakutan dalam dada saya. “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” (QS. An Naas : 5). Astaghfirullah…… pantaslah selama ini saya menjadi tidak normal.
Puji syukur bagi Allah, Tuhan semesta alam yang sudah memberikan saya pelajaran, teguran dan hukuman. BagiNya segala pujian
Setelah malam itu, ketidaknormalan saya berangsur pulih dan bisa lebih fokus pada program yang telah kami canangkan. Tak hanya itu, ada banyak hal yang bisa saya lakukan, lihat, dengar dan rasakan di sana. Ketidakberuntungan, ketidakpahaman, kemiskinan, kebodohan, dan kesedihan di masyarakat. Mohon doanya agar KKN ini tak hanya sekedar menghabiskan waktu di kampung orang tanpa sedikit pun memberikan kontribusi nyata bagi mereka, baik secara fisik apalagi non fisik.
Saturday, 19 May 2012
Ahdafut Tarbiyah
Sedikit tidak konsentrasi dengan kajian pagi ini. Selain disibukkan mencari dalil dan gambar tentang shalat berjamaah untuk program di posko KKN, juga ditambah pencarian murottal surah Al Baqarah untuk di posko juga. Meski demikian ada beberapa poin yang saya catat dengan rapi tentang beberapa hal yang menjadi alasan, mengapa kita harus tarbiyah.
Ahdafut tarbiyah itu artinya tujuan tarbiyah. Ada enam hal yang menjadi tujuan dari tarbiyah, semoga bisa menjadid gambaran agar kaki ini lebih mantap lagi untuk bergerak dengan tarbiyah islamiyah al harakiyah
Pertama, untuk mendapatkan persepsi yang benar tentang Islam. Kedua agar bisa berinteraksi dengan Islam. Ketiga, dalam konteks harakah, orang yang sudah tertarbiyah maka wajib untuk bergerak, dalam artian menyebarkan kembali ISlam di masyarakat dengan metode yyang sudah ada. Keempat, agar mendapatkan pengalaman baik dalam pergerakan maupun yang lainnya. Kelima, untuk mengemban amanah kepemimpinan yang jika diserahkan pada orang lain yang tidak mumpuni, maka bisa terjadi kerusakan. Keenam, untuk meningkatkan kemampuan (kafaah) fikriyah (pemikiran).
Karena dengan ustadz baru, maka cara penyampaiannya juga baru. Mudah - mudahan bermanfaat.
Ahdafut tarbiyah itu artinya tujuan tarbiyah. Ada enam hal yang menjadi tujuan dari tarbiyah, semoga bisa menjadid gambaran agar kaki ini lebih mantap lagi untuk bergerak dengan tarbiyah islamiyah al harakiyah
Pertama, untuk mendapatkan persepsi yang benar tentang Islam. Kedua agar bisa berinteraksi dengan Islam. Ketiga, dalam konteks harakah, orang yang sudah tertarbiyah maka wajib untuk bergerak, dalam artian menyebarkan kembali ISlam di masyarakat dengan metode yyang sudah ada. Keempat, agar mendapatkan pengalaman baik dalam pergerakan maupun yang lainnya. Kelima, untuk mengemban amanah kepemimpinan yang jika diserahkan pada orang lain yang tidak mumpuni, maka bisa terjadi kerusakan. Keenam, untuk meningkatkan kemampuan (kafaah) fikriyah (pemikiran).
Karena dengan ustadz baru, maka cara penyampaiannya juga baru. Mudah - mudahan bermanfaat.
Wednesday, 9 May 2012
Road to KKN (BIntan Buyu)
Kembali di bulan Mei
Tahun lalu, akhir Mei adalah masa - masa karantina di Hotel X sebelum mengikuti Jambore Pemuda Indonesia di Malang dan Bakti Pemuda ANtar Provinsi di Jakarta. Tahun ini pertengahan Mei adalah waktu untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata di Kabupaten Bintan tepatnya di Bintan Buyu.
Dua tahun berturut - turut meninggalkan KAMMI untuk berada di daerah lain. Meskipun kali ini tidak begitu total (karena masih bisa pulang karena satu daratan) tapi rasanya tetap sama.
Di Jakarta mungkin penempatannya di tengah kota, dengan berbagai macam fasilitas dan tempat wisata yang kami kunjungi. Lebih banyak jalan - jalan ketimbang gabung di masyarakat. Tahun ini sepertinya harus lebih sabar karena di Bintan Buyu kabarnya listrik hanya empat jam sehari terhitung dari jam 6 sore hingga 11 malam. Kemudian tempatnya yang sangat jauh dari kota cukup menyulitkan untuk berkomunikasi via telpon apalagi internet.
Setelah ini intensitas untuk berinternet ria akan berkurang hingga bulan Juli mendatang. Bisa gak ya?
Lalu apa yang harus kami lakukan di sana? Jika proposal yang kami buat tidak tembus satu pun, maka sudah barang tentu kegiatan yang kami buat sesuai dengan biaya yang kami punyai. Artinya tidak akan membuat kegiatan yang besar. Mungkin yang bisa kami lakukan dan bermanfaat adalah membuat database tentang tingkat sadar pendidikan, buta aksara, baca Al Quran masyarakat di lokasi KKN. Ini untuk membantu pemerintah kabupaten dan provinsi khususnya, semoga bisa membuat program yang lebih mengena ke masyarakat untuk mengurangi angkat tersebut (yakin banget angka sadar itu rendah).
Selamat berjuang ya Nurul!!!
Harus berhasil kembali hidup - hidup dari lokasi KKN!!!!
Tahun lalu, akhir Mei adalah masa - masa karantina di Hotel X sebelum mengikuti Jambore Pemuda Indonesia di Malang dan Bakti Pemuda ANtar Provinsi di Jakarta. Tahun ini pertengahan Mei adalah waktu untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata di Kabupaten Bintan tepatnya di Bintan Buyu.
Dua tahun berturut - turut meninggalkan KAMMI untuk berada di daerah lain. Meskipun kali ini tidak begitu total (karena masih bisa pulang karena satu daratan) tapi rasanya tetap sama.
Di Jakarta mungkin penempatannya di tengah kota, dengan berbagai macam fasilitas dan tempat wisata yang kami kunjungi. Lebih banyak jalan - jalan ketimbang gabung di masyarakat. Tahun ini sepertinya harus lebih sabar karena di Bintan Buyu kabarnya listrik hanya empat jam sehari terhitung dari jam 6 sore hingga 11 malam. Kemudian tempatnya yang sangat jauh dari kota cukup menyulitkan untuk berkomunikasi via telpon apalagi internet.
Setelah ini intensitas untuk berinternet ria akan berkurang hingga bulan Juli mendatang. Bisa gak ya?
Lalu apa yang harus kami lakukan di sana? Jika proposal yang kami buat tidak tembus satu pun, maka sudah barang tentu kegiatan yang kami buat sesuai dengan biaya yang kami punyai. Artinya tidak akan membuat kegiatan yang besar. Mungkin yang bisa kami lakukan dan bermanfaat adalah membuat database tentang tingkat sadar pendidikan, buta aksara, baca Al Quran masyarakat di lokasi KKN. Ini untuk membantu pemerintah kabupaten dan provinsi khususnya, semoga bisa membuat program yang lebih mengena ke masyarakat untuk mengurangi angkat tersebut (yakin banget angka sadar itu rendah).
Selamat berjuang ya Nurul!!!
Harus berhasil kembali hidup - hidup dari lokasi KKN!!!!
Wednesday, 2 May 2012
Revisi Permendagri demi Kesejahteraan Buruh
Di masa orde baru, May Day atau Hari Buruh tidak boleh dirayakan ataupun diperingati seperti yang terjadi di dunia internasional. Hari Buruh yang jatuh tepat pada tanggal 1 Mei merupakan momentum yang selalu dimanfaatkan oleh buruh untuk menyampaikan aspirasi mereka, terutama mengenai masalah kesejahteraan buruh. Hari Buruh yang diperingati tiap tahunnya berawal dari tuntutan para pekerja di Amerika Serikat, yang merebak hingga dunia internasional, agar jam kerja buruh dikurangi hingga hanya delapan jam saja per hari. Oleh karena itu hari buruh identik dengan perjuangan para buruh mendapatkan hak – haknya.Sejak awal reformasi, hari buruh kembali diperingati oleh buruh di Indonesia di mana pemerintah sebelumnya mengkonotasikan gerakan buruh sebagai gerakan berideologi komunis. Beberapa tahun belakangan hari buruh diperingati melalui aksi buruh di berbagai kota di Indonesia seraya menyuarakan kepada pemerintah untuk membantu dan melindungi mereka dari jeratan kemiskinan dan kebodohan.
Lalu, apa yang setiap tahunnya (mulai dari tahun 2006) selalu diperjuangkan oleh para buruh yang hingga kini masih belum mencapai puncaknya?
Sedikit berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, tahun 2012 merupakan momentum yang pas bagi buruh untuk menuntut kepada pemerintah sebagai pelindung mereka sesuai dengan amanat Undang – Undang 1945. Pertama, kesejahteraan para buruh yang dilihat dari upah minimum yang mereka terima. Kedua, menegaskan kepada pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM yang ditunda akhir Maret lalu.
Berbicara tentang kesejahteraan buruh, ada sebuah ketimpangan yang diciptakan pemerintah selaku pembuat kebijakan demi melindungi hak – hak rakyat. Undang – Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan pertimbangan perlindungan terhadap tenaga kerja yang dimaksudkan untuk menjamin hak hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha. Undang – undang ini memberikan jaminan kesejahteraan bagi para buruh dan keluarganya
Sementara itu dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 17 Tahun 2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak pasal 1 ayat (1) disebutkan yang dimaksud dengan Kebutuhan Hidup Layak yang selanjutnya disingkat KHL adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak baik secara fisik, non fisik dan sosial, untuk kebutuhan 1 (satu) bulan.

Dari kedua peraturan ini dapat kita simpulkan bahwasanya pemerintah telah bersikap tidak adil terhadap kehidupan para buruh yang sudah berkeluarga karena mereka tidak diatur dalam undang – undang ataupun peraturan menteri. Inilah yang mengakibatkan hingga hari ini kehidupan para buruh masih jauh dari sejahtera. Terbukti dengan masih maraknya demonstrasi yang terjadi di kota – kota besar Indonesia di mana para buruh meminta hak mereka untuk mendapatkan perlindungan Negara agar bisa hidup sejahtera.
Sebenarnya hal yang diinginkan oleh buruh merupakan masalah sederhana yang mampu diselesaikan oleh pemerintah dengan bekerjasama dengan pengusaha ataupun pemilik modal. Buruh yang mendapatkan upah besar secara otomatis akan meningkatkan produktivitasnya dalam menghasilkan barang produksi yang disertai dengan rasa senang dan tenang dalam melakukan pekerjaan. Sementara itu, bagi para pengusaha untuk mendapatkan keuntungan yang besar tidak harus mengurangi hak – hak para pekerja. Hal inilah yang menjadikan hubungan antara buruh dan pengusaha menjadi tegang padahal keduanya adalah pihak yang saling membutuhkan. Pengusaha membutuhkan buruh untuk berproduksi, sementara buruh membutuhkan pengusaha untuk bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan hidup. Oleh sebab itu dibutuhkan peran kuat pemerintah di sini.
Sayang dalam kenyataannya, justru pemerintah lah yang semakin mempersulit dan memperburuk hubungan kedua pihak ini. Pertama, ketidakjelasan upah minimum pekerja yang belum mencapai kesepakan akibat peraturan yang saling bertolak belakang. Ditambah lagi tidak adanya tranparansi hasil survey KHL dan mekanisme penentuan upah. Tentu ini semakin membingungkan para buruh sehingga mudah dipermainkan oleh pengusaha yang menentukan upah minimum seenaknya.
Kedua, proses birokrasi yang rumit dan memakan waktu yang lama menimbulkan keengganan investor untuk membuka usaha di daerah tersebut. Pelayanan perizinan yang tidak memuaskan juga membuat para pengusaha lari begitu saja hingga lapangan pekerjaan tidak jadi tercipta. Ketiga, maraknya pungli yang beredar di kalangan pemerintah yang merugikan pengusaha akibat accidental cost yang kemudia berimplikasi pada biaya produksi. Ujung – ujungnya pengusaha mengurangi upah buruh untuk menutupi biaya produksi demi meraup keuntungan.
Hal – hal inilah yang menyebabkan buruh tidak pernah mencapai kesejahteraan seperti yang diamanatkan dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945. Apalagi menjelang kenaikan BBM yang direncanakan pemerintah benar – benar mengancam kehidupan para buruh.
Untuk menyelesaikan persoalan – persoalan yang sederhana (namun dipersulit oleh pembuat kebijakan), penulis menawarkan beberapa solusi yang tidak merugikan pihak manapun, baik pengusaha, buruh, maupun pemerintah. Pertama, pemerintah harus merevisi Permendagri No. 17 tahun 2005 yang mengatur standar kebutuhan hidup layak. Pasal yang perlu diubah sudah tentu adalah pasal pertama di mana KHL harus mengacu pada kehidupan buruh/pekerja yang sudah berkeluarga yang disesuaikan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi di daerah masing - masing. Keluarga yang dimaksud terdiri dari orang tua dan dua orang anak sesuai dengan standar pemerintah melalui program keluarga berencana. Dengan demikian, jaminan pendidikan bagi anak – anak juga terjamin.
Kedua, memberantas pungutan liar yang dilakukan oleh oknum – oknum tidak bertanggung jawab kepada para pengusaha. Hal ini untuk mengurangi pengeluaran perusahaan terhadap biaya – biaya tak terduga yang harus dikeluarkan perusahaan. Ketiga, menyederhanakan proses birokrasi yang berbelit – belit dan mempersingkat waktu pengurusan perizinan usaha agar investor tidak jengah membuka usaha di daerah tersebut sehingga kesempatan untuk menciptakan lapangan pekerjaan lebih terbuka lebar.
Keempat, tidak menaikkan harga BBM sebagaimana yang telah disepakati dalam sidang paripurna akhir Maret 2012 lalu. Apa pun alasannya, menaikkan harga BBM tidak akan menyelesaikan permasalahan buruh, malah akan menambah masalah baru. Harga barang yang melonjak pasti akan mempengaruhi biaya produksi perusahaan sehingga satu – satu jalan bagi perusahaan untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan ialah menurunkan upah buruh atau melakukan pemutusan hubungan kerja. Sekali lagi, yang menjadi korban adalah buruh.
Penulis berharap pemerintah mampu mengambil keputusan yang bijak dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan para buruh juga pengusaha. Dengan demikian tak ada lagi gejolak yang tercermin dalam aksi anarkis para buruh sebagai pelampiasan emosi pada pemerintah yang tak mampu memberikan perlindungan dan menjamin kesejahteraan bagi rakyat. Selamat menyambut hari buruh.
Saturday, 28 April 2012
Tarbiyah Dzatiyah
Kajian pagi ini berbicara tentang tarbiyah dzatiyah yang harus dilakukan oleh seorang kader, di mana pun dan kapan pun juga dalam kondisi apa pun.
Ada beberapa catatan nih yang menusuk banget. Salah satu output dari tarbiyah dzatiyah adalah agar kader dijauhkan dari sifat futur. Nah futur itu ketika kajian diartikan tidak lari dari komunitas dakwah, tapi ketika kita sudah meninggalkan kebiasaan - kebiasaan dakwah yang selama ini kita lakukan. Biasanya liqo, gak liqo lagi. Dulunya rajin qiyamul lail, mulai berangsur tidak.
Intinya tarbiyah dzatiyah adalah bagaimana seorang kader itu tetap berada dalam kondisi yang prima baik secara ruhiyah, fikriyah, harta, mahdaniyah, dan harakiyah di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi seperti apa pun.
Tarbiyah dzatiyah bertujuan untuk menyelesaikan tuntutan manhaj, salah satunya memenuhi 10 muwashaffat. Jika hanya mengandalkan halaqoh mingguan, tujuan tarbiyah akan tercapai secara lambat. Kemudian, dengan melakukan tarbiyah dzatiyah diharapkan kader bisa meningkatkan potensi dirinya.
Semoga bermanfaat dan kita termasuk orang - orang yang slalu mengamalkan tarbiyah dzatiyah sehingga mampu melakukan percepatan agenda dakwah tanpa harus selalu disibukkan dengan agenda internal yang kadang gak penting.
SEMANGAT!!!!
Ada beberapa catatan nih yang menusuk banget. Salah satu output dari tarbiyah dzatiyah adalah agar kader dijauhkan dari sifat futur. Nah futur itu ketika kajian diartikan tidak lari dari komunitas dakwah, tapi ketika kita sudah meninggalkan kebiasaan - kebiasaan dakwah yang selama ini kita lakukan. Biasanya liqo, gak liqo lagi. Dulunya rajin qiyamul lail, mulai berangsur tidak.
Intinya tarbiyah dzatiyah adalah bagaimana seorang kader itu tetap berada dalam kondisi yang prima baik secara ruhiyah, fikriyah, harta, mahdaniyah, dan harakiyah di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi seperti apa pun.
Tarbiyah dzatiyah bertujuan untuk menyelesaikan tuntutan manhaj, salah satunya memenuhi 10 muwashaffat. Jika hanya mengandalkan halaqoh mingguan, tujuan tarbiyah akan tercapai secara lambat. Kemudian, dengan melakukan tarbiyah dzatiyah diharapkan kader bisa meningkatkan potensi dirinya.
Semoga bermanfaat dan kita termasuk orang - orang yang slalu mengamalkan tarbiyah dzatiyah sehingga mampu melakukan percepatan agenda dakwah tanpa harus selalu disibukkan dengan agenda internal yang kadang gak penting.
SEMANGAT!!!!
Wednesday, 25 April 2012
Membangun Gerakan yang Beretika
Mahasiswa
merupakan bagian dari pemuda yang berfungsi sebagai agen perubahan. Dalam
kedudukannya dengan pemerintah, mahasiswa bisa diposisikan sama rata namun
berbeda dalam peran. Jika peran pemerintah adalah melaksanakan pembangunan demi
mewujudkan kesejahteraan masyarakat, maka mahasiswa harus mengambil peran
sebagai kekuatan penyeimbang yang mengawasi kinerja pemerintah. Mengawal kebijakan
pemerintah yang tidak pro rakyat harus menjadi agenda besar mahasiswa sebagai
agen perubahan.
Beberapa
waktu lalu, masyarakat mungkin merasa resah atas aksi yang dilakukan oleh
mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM se Kepri. Aksi ini dilakukan dengan
tujuan untuk memboikot kegiatan Temu BEM Nusantara ke V yang diselenggarakan di
Asrama Haji. Penulis meyakini akan opini yang terbentuk di benak masyarakat
terkait aksi tersebut. Seharusnya mahasiswa bersatu untuk membela kepentingan
rakyat, menyuarakan kepada pemerintah untuk mendahulukan kepentingan rakyat di
atas kepentingan kelompok. Bukannya terlibat dalam aksi yang mengakibatkan terbentuknya
dua kubu mahasiswa. Jika sudah begini, maka kepentingan masyarakat menjadi
terabaikan.
Lalu
sebenarnya apa yang terjadi ketika itu? Apa yang menyebabkan adanya dua kubu
kekuatan mahasiswa di mana yang satu berusaha untuk menyelenggarakan pertemuan
BEM se Indonesia, dan yang lainnya menyatakan penolakan atas kegiatan tersebut.
Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan kepada masyarakat beberapa
alasan terkait dengan pemberitaan di media mengenai pertemuan BEM Nusantara ke
V beberapa waktu lalu.
Pertama,
legalitas kegiatan tersebut. Kedua,
tidak adanya koordinasi antara pencetus kegiatan dengan BEM se Kepri selaku
tuan rumah. Ketiga, sebagian besar
pihak penyelenggara yang bukan anggota
BEM, bahkan ada yang bukan mahasiswa. Keempat, adanya indikasi kepentingan politik di dalamnya. Dan
kelima, jumlah anggaran yang digunakan yang sangat besar.
Kegiatan
tersebut dinilai tidak sah secara hukum karena sebelum pertemuan diadakan,
pihak penyelenggara kegiatan menggunakan tanda tangan beberapa ketua Badan
Eksekutif Mahasiswa yang ada di Universitas Maritim Raja Ali Haji tanpa izin
terlebih dahulu. Artinya, yang bersangkutan tidak mengetahui hal tersebut. Hal ini
sudah menjadi pelanggaran berupa pemalsuan tanda tangan seseorang. Ditambah
lagi, dari pihak penyelenggara tidak berkoordinasi dengan BEM se Kepri bahwa
akan diadakan pertemuan BEM se Nusantara. Dalam hal ini BEM hanya diberitahu
beberapa hari sebelum kegiatan diadakan.
Ketika
aksi dilakukan, pihak penyelenggara menjelaskan di hadapan peserta dan peserta
aksi bagaimana mereka bolak balik ke Jakarta untuk mensukseskan acara ini.
Namun ternyata mereka mengatasnamakan diri di Jakarta sebagai utusan dari BEM
Universitas Maritim Raja Ali Haji. Padahal seperti yang kita ketahui, di UMRAH
belum terbentuk BEM Universitas, yang ada hanya BEM Fakultas. Dari awal panitia
sudah menggunakan cara – cara tidak benar untuk melaksanakan kegiatan ini. Lalu
pertanyaannya mengapa?
Adanya
indikasi kepentingan politik tertentu mewarnai pertemuan ini. Dikabarkan bahwa
salah satu anggota Dewan Perwakilan Daerah menjadi pendukung dana untuk
menyelenggarakan kegiatan ini. Ada pula isu yang berkembang bahwa ini adalah
salah satu langkah untuk mengumpulkan mahasiswa se nusantara dalam rangka
mendukung salah satu calon yang akan maju pada pemilihan presiden 2014
mendatang. Tentu saja ini tidak boleh terjadi karena mahasiswa bukanlah alat
yang bisa digunakan untuk mewujudkan keinginan politik seseorang untuk
mendapatkan jabatan tertentu.
Terkait
masalah dana, kegiatan ini menghabiskan anggaran yang berasal dari APBN dan
APBD yang dikisar berjumlah hingga 4 miliar rupiah. Angka yang dahsyat dengan
kondisi masyarakat hari ini. Miris jika melihat mahasiswa menghabiskan anggaran
dengan jumlah besar hanya untuk kegiatan yang tidak jelas tujuannya. Sementara
dana sebesar itu bisa digunakan untuk pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Meskipun
pihak penyelenggara mengakui menggunakan dana senilai 60 juta rupiah dari
Dikti, tetap saja ini merupakan penyimpangan penggunaan anggaran.
Pertemuan
ini bertujuan untuk mempertemukan seluruh Badan Eksekutif Mahasiswa yang ada di
Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan bangsa melalui rumusan masalah dan
rekomendasi yang berasal dari peserta. Lalu, sejauh manakah permasalahan bangsa
akan terselesaikan melalui pertemuan ini? Penulis berkeyakinan bahwa untuk
menyelesaikan permasalahan bangsa yang sangat rumit ini, tidak perlu diadakan
pertemuan yang menghabiskan begitu banyak dana untuk hasil yang tidak pasti dan
tidak jelas.
Mahasiswa seharusnya bertindak dan mengawal
pemerintahan yang ada di daerahnya masing – masing. Perubahan nasional hanya
bisa terealisasi jika mahasiswa masing – masing daerah bergerak serentak untuk
mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Dan gerakan yang akan
menghasilkan efek domino ini akan mampu membawa perubahan secara nasional.
Namun
demikian, pertemuan ini hanyalah kegiatan seremonial yang dilakukan mahasiswa.
Tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah. Dari pertemuan ini,
hal yang paling banyak dibahas adalah penentuan tuan rumah Temu BEM Nusantara
berikutnya. Sudah barang tentu ini amat melukai hati masyarakat. Bagaimana
tidak, anggaran sebesar itu digunakan hanya untuk membahas pertemuan berikutnya
tanpa sedikit pun membicarakan kepentingan rakyat.
Untuk
itulah, penulis berharap ke depannya pertemuan seperti ini tidak lagi diadakan
karena sangat lebih banyak mudharat yang ditimbulkan dibandingkan manfaatnya.
Oknum – oknum yang mengatasnamakan dirinya sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa juga
harus ditindaklanjuti dan dimintai pertanggungjawabannya terkait dengan penyelenggaraan
pertemuan tersebut, khususnya terhadap penipuan yang telah dilakukan.
Marilah
kita mengambil hikmah dari kepengelolaan kegiatan yang kurang professional ini
untuk bersama bergerak satu tujuan dan kita harus bersama-sama membangun
gerakan yang beretika dan mengedepankan azas kebersamaan serta saling curiga. Semoga
mahasiswa yang ada di Indonesia, khususnya Kepulauan Riau dapat bergerak
bersama dalam kebaikan masyarakat secara utuh.
Saturday, 14 April 2012
Penulis, BEM, dan Kita Semua (Sebuah Pernyataan Sikap)
Ditulis oleh Nurul Azizah, Ketua BEM STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang
Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan mahasiswa terhadap kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa Stai Miftahul Ulum Tanjungpinang periode 2011-2012 yang disampaikan saat kegiatan debat kandidat calon presiden BEM periode 2012-2013. Sebagai seorang mahasiswa penulis menggunakan tulisan sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan aspirasi terutama apa yang penulis pikirkan dan rasakan. Penulis sangat yakin tidak banyak yang masih mengingat apa saja yang disampaikan oleh teman – teman mahasiswa yang memberikan pernyataan miring mengenai kinerja bem setahun ini. Mengapa? Karena mereka hanya sekedar berbicara. Dan tulisan ini, tidak akan ada seorang pun yang akan melupakannya karena ia disampaikan secara tertulis dan dapat dibaca berulang kali.
Terkait dengan komentar tentang kinerja BEM maka penulis akan memetakan kondisi internal bem agar seluruh mahasiswa mengetahui dan dilibatkan dalam kondisi tersebut. Kepengurusan yang penulis bangun setahun yang lalu bukanlah terdiri dari orang – orang yang biasa. Para pengurus bem penulis pilih dari berbagai latar belakang yang berbeda, mulai dari jurusan, semester hingga organisasi eksternal yang mereka naungi. Tentunya dengan melihat kinerja mereka di organisasi kampus. Mereka bukanlah orang – orang yang penulis pilih hanya karena keaktifannya di kampus, tapi lebih kepada keaktifan mereka di organisasi kampus. Bukan orang yang hanya dikirim kampus untuk mengharumkan nama kampus atau untuk membuat kampus senang, tapi lebih kepada pengalaman organisasi mereka. Karena BEM tidak butuh orang yang hanya mengharumkan nama kampus tapi nonsense di organisasi.
Kepengurusan yang penulis bangun dengan harapan dapat membantu untuk melaksanakan fungsi bem yang sesungguhnya, ternyata tersendat di tengah jalan. Berbagai alasan disampaikan oleh pengurus. Kerja, kuliah, menikah, lebih aktif di organisasi luar dan lain sebagainya, bahkan ada yang mengundurkan diri sebelum dilantik dengan alasan pekerjaan. Inilah dilemma yang harus penulis hadapi selaku seorang pemimpin. Lalu apa yang penulis dapat lakukan? Banyak yang menyarankan untuk mereshuffle kepengurusan, tapi itu bukan hal mudah. Penulis masih ingin memberikan kesempatan untuk mengembalikan komitmen sebagai pengurus.
Selain itu, penulis juga harus menghadapi kenyataan betapa lemahnya keinginan mahasiswa STAI untuk berkecimpung dalam organisasi. Mahasiswa memilih untuk menjadi penonton jika ada kegiatan. Saran untuk membuat kegiatan itu banyak. Hanya saja setiap panulis tawarkan untuk membantu di kepanitiaan, kebanyakan mahasiswa menolak dengan alasan sibuk kerja dan kuliah. Saking rendahnya semangat mahasiswa untuk ikut serta dalam kegiatan kampus terutama organisasi kampus, bahkan untuk menjadi peserta dalam kegiatan pun sulitnya luar biasa. Dengan alasan ini pula lah penulis tidak melakukan reshuffle kepengurusan dan lebih memilih untuk berjalan dengan sisa kekuatan yang ada.
Kemudian selama waktu yang tersisa, bem bergerak perlahan dengan hanya menyisakan beberapa orang pengurus aktif. Demikian pula halnya dengan kegiatan, perlahan bem mencoba untuk terus melaksanakan program hingga membuka kesempatan luas bagi mahasiswa baru untuk ikut terlibat dalam kepanitiaan.
Toh hasil yang bem dapatkan hari ini hanya cercaan, kritikan, dan komentar sepihak dari orang – orang yang bahkan ia sendiri tidak mengerti dengan keadaan BEM. Bersuara keras mengeluarkan kata – kata bahwa bem periode 2011-2012 tidak berfungsi sama sekali. BEM tidur. BEM tidak punya program yang jelas. Ketua BEM hanya disibukkan dengan kegiatan di luar kampus dan lain sebagainya. Satu yang penulis tangkap, ketidakpuasan itu hanya tertuju pada satu pihak dalam hal ini adalah ketua.
Seharusnya sebagai orang yang bijak dan memahami alur organisasi (benarkah mereka paham?), sebelum menilai sesuatu harus diadakan kajian terlebih dahulu dengan melampirkan data dan fakta yang ada di lapangan. Jika memang BEM tidak bekerja, apa buktinya? Data dan fakta apa yang mendukung hal tersebut? Sampaikan secara tertulis, tidak hanya sekedar berbicara di dalam forum. Berbicara secara sepihak tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Maka dari itu penulis sebenarnya berharap teman – teman mahasiswa memiliki inisiatif untuk membuka dialog untuk mempertanyakan kinerja BEM. Dan bukan disampaikan hanya dari mulut ke mulut tanpa pernah langsung ke organisasi BEM dalam forum yang legal.
Satu hal yang membuat penulis sangat kecewa adalah pernyataan miring bahwa BEM sama sekali tidak berfungsi, keluar dari pihak – pihak yang sebenarnya ada dalam tubuh bem, menjadi bagian dari BEM. Baik itu disampaikan di dalam forum ataupun hanya sebatas diskusi kosong dengan teman mahasiswa yang lain. Pihak – pihak yang sebenarnya adalah pengurus BEM (atau orang yang pernah penulis ajak untuk membangun BEM). Sungguh fenomena yang menggelitik. Jika mereka mengatakan BEM tidak berfungsi itu artinya mereka juga ikut bertanggungjawab untuk ketidakberfungsian BEM tersebut. Seharusnya orang seperti ini dipertanyakan, dan penulis menilai bahwa mereka bisa dicap sebagai pengkhianat organisasi.
Bukan berarti BEM anti kritik. Malah BEM sangat membutuhkan kritikan dari mahasiswa, karena itulah bem menyediakan kotak saran. Yang sangat penulis sesalkan ialah kritikan itu datang tanpa disertai dengan adanya solusi dan kontibusi nyata dari para pengkritik. Kritikan itu disampaikan hanya untuk menjatuhkan satu orang tanpa melihat secara objektif dalam kacamata organisasi.
Berbicara itu mudah, namun pembuktiannya sulit. Memberikan masukan itu mudah, tapi untuk menjadi bagian dari perbaikan tidak semua orang bersedia. Ada orang – orang yang hanya mau berkomentar tanpa mau menyatakan kesediaan untuk membantu BEM secara total. BEM tidak butuh bantuan dari belakang seperti yang selalu dikatakan para komentator. BEM membutuhkan orang – orang yang memiliki komitmen tinggi dan rasa kepemilikan terhadap BEM. Adakah kalian di antaranya?
Jika yang menghalangi mahasiswa selama ini untuk bekerja di BEM Adalah karena sosok ketua, maka penulis amat sesalkan hal tersebut. Jika tidak menyukai sosok ketua harusnya mahasiswa berani untuk melengserkannya lebih awal. Tidak di saat terakhir masa kepengurusan dengan menghujaninya dengan komentar tak bertanggungjawab. Artinya apa? Bahkan untuk mengganti seorang pemimpin perempuan pun mahasiswa tidak berani dan tidak memiliki inisiatif untuk itu. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berbicara dan mengabaikan segala hal yang diarahkan. Mereka lebih memilih untuk tidak mendengarkan instruksi ketua untuk menjalankan program kerja ketimbang menggantinya dengan ketua yang lebih baik.
Wahai mahasiswa, hari ini, penulis mendengar begitu banyak keluhan tentang kinerja BEM, maka hari ini semua yang ikut serta dalam membaca tulisan ini terutama yang hadir dalam debat kandidat juga bertanggungjawab terhadap permasalahan yang ada. Jangan hanya mengkritisi, juga jangan hanya berkomentar. Pernahkah anda berpikir dan berkontribusi untuk kemajuan BEM dan kampus kita? Kita semua sudah dewasa, ini saatnya untuk berkarya. Penulis selaku ketua BEM periode sebelumnya hanya bisa melakukan apa yang bisa penulis lakukan dengan keterbatasan yang penulis dan teman – teman pengurus miliki.
Terakhir, tulisan ini penulis buat sebagai bagian dari instropeksi diri sendiri dan bagi kita yang menginginkan perubahan juga perbaikan BEM dan kampus yang kita cintai ini. Mohon maaf atas segala kekurangan penulis selama menjabat di BEM. Akhirul kalam wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Jalan Juang
Sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita
Jalan yang kau tempuh sangat panjang
Tak sekedar bongkah batu karang
Yakinlah wahai saudaraku, kemenangan kan menjelang
Walau tak kita hadapi masanya
Tetap lah al haq pasti menang
Tanam di hati benih iman sejati
Berpadu dengan jiwa rabbani
Tempa jasadmu jadi pahlawan sejati
Tuk tegakkan kalimah ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh
Pastikan asa mu semakin meninggi
Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi
Tapi janji Allah yang akan pasti
Saturday, 7 April 2012
Life Goes On
Curhat pagi - pagi.
Beberapa hari ini, tepatnya sudah hampir dua minggu aku tidak pergi ke kos teman yang biasanya kudatangi hampir setiap hari. Alasan awalnya sangat konyol, hanya karena tidak ada seorang pun dari mereka yang datang ketika aksi tolak BBM. Oleh karena mereka dan cewek - cewek lain tidak datang, maka peserta aksi resmi aku sendiri yang cewek (meski tak lama ada cewek dari organisasi lain datang, tapi rasanya gak sama).
Saat mereka wisuda aku juga lebih suka menghindar karena beberapa hal. Pertama karena aku masih kesal karena mereka gak hadir ketika aksi. Meskipun ada beberapa alasan yang emang syar'i dan masuk akal.
Kedua, aku udah harus mulai membiasakan diri tanpa kehadiran mereka. Biasanya setelah wisuda, maka rombongan pulang kampung akan segera mengosongkan aktivis di Tanjungpinang. Hhhh.....
Sedih? Iya
Tapi gak boleh kelamaan sedih, life goes on
Biarlah mereka pulang kampung dan aku di sini meneruskan kehidupan juga amanah yang masih tersisa. Lagipula aku masih punya banyak teman di sini. Tak ada teman, sendiri pun tidak masalah ;)
Beberapa hari ini, tepatnya sudah hampir dua minggu aku tidak pergi ke kos teman yang biasanya kudatangi hampir setiap hari. Alasan awalnya sangat konyol, hanya karena tidak ada seorang pun dari mereka yang datang ketika aksi tolak BBM. Oleh karena mereka dan cewek - cewek lain tidak datang, maka peserta aksi resmi aku sendiri yang cewek (meski tak lama ada cewek dari organisasi lain datang, tapi rasanya gak sama).
Saat mereka wisuda aku juga lebih suka menghindar karena beberapa hal. Pertama karena aku masih kesal karena mereka gak hadir ketika aksi. Meskipun ada beberapa alasan yang emang syar'i dan masuk akal.
Kedua, aku udah harus mulai membiasakan diri tanpa kehadiran mereka. Biasanya setelah wisuda, maka rombongan pulang kampung akan segera mengosongkan aktivis di Tanjungpinang. Hhhh.....
Sedih? Iya
Tapi gak boleh kelamaan sedih, life goes on
Biarlah mereka pulang kampung dan aku di sini meneruskan kehidupan juga amanah yang masih tersisa. Lagipula aku masih punya banyak teman di sini. Tak ada teman, sendiri pun tidak masalah ;)
SEMANGAT NURUL!!!!!!!
Monday, 12 March 2012
Sidang Munaqasyah
Liat deretan blog teman - teman listnya udah pada naik. Menandakan udah pada update tulisan.
Kalo gitu eke update tulsanya juga deh. Meskipun gak banyak, tapi cukuplah.
Sekarang lagi menyaksikan sidang munaqasyah, benar - benar hancur. Dibantai semua. Entah itu dari judulnya, teorinya sampe instrumennya. Kebanyakan gak nyambung. Judulnya apa, instrumennya apa. Ada yang terlalu mudah, ada juga yang gak menjawab pertanyaan penelitian.
Okeh cukup sekian.
Mohon doanya yaw supaya saya bisa bikin tugas akhir dengan baik dan benar tahun depan. Menuju 2013
Trus dmudahin juga waktu menjawab pertanyaan dari dosen - dosen penguji yang baik hati tu hehehehe
Kalo gitu eke update tulsanya juga deh. Meskipun gak banyak, tapi cukuplah.
Sekarang lagi menyaksikan sidang munaqasyah, benar - benar hancur. Dibantai semua. Entah itu dari judulnya, teorinya sampe instrumennya. Kebanyakan gak nyambung. Judulnya apa, instrumennya apa. Ada yang terlalu mudah, ada juga yang gak menjawab pertanyaan penelitian.
Okeh cukup sekian.
Mohon doanya yaw supaya saya bisa bikin tugas akhir dengan baik dan benar tahun depan. Menuju 2013
Trus dmudahin juga waktu menjawab pertanyaan dari dosen - dosen penguji yang baik hati tu hehehehe
Subscribe to:
Posts (Atom)
