Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Wednesday, 14 July 2010

Tulisan Tanpa Judul

 ,      No comments   
Kepada mujahid benteng kebenaran
Slalu rindu akan lahir kajayaan
Kepada pewaris tahta nan gemilang
Menapak tegak menyongsong masa depan

Lirik lagu Senandung Benteng Kebenaran di atas sejatinya mampu membangkitkan semangat sesiapa saja pendengarnya terutama orang – orang yang sudah menceburkan diri ke dalam kegiatan dakwah. Dakwah. Apa itu dakwah? Apa yang kita ketahui tentang dakwah? Dakwah seperti apa yang kita lakukan? Atau benarkah kita saat ini sedang berdakwah?

Well, penulis tidak akan berpanjang lebar tentang dakwah. Dakwah hanya akan dipahami oleh orang – orang yang benar - benar terjun dan konsisten dengan apa yang dilakukannya dari awal hingga akhir tanpa mengenal kata lelah untuk membela kepentingan agama Allah.

Pernah mendengar kisah perang Tabuk? Penulis juga bukan ingin mengupas perang Tabuk, namun cerita dibalik perang tersebut. Ketika Rasulullah dan pra sahabat berangkat untuk berperang, ada tiga orang yang tidak mengikuti mereka. Mereka bukanlah orang – orang munafik. Tidak ada uzur pula yang memberikan mereka keringanan untuk tidak ikut perang.

Setelah Rasulullah pulang dari peperangan, beliau memerintahkan para sahabat untuk tidak berbicara kepaa ketiga orang tersebut. Salah satu dari mereka ialah Ka’ab bin Malik. Ia tidak ikut peperangan adalah karena ia menunda kebarangkatannya bersama Rasulullah padahal ia memiliki kendaraan. Betapa sedihnya ia ketika tak seorang pun yang mau berbicara padanya. Bahkan tak lama kemudian keluar lagi perintah Rasulullah agar ia menjauhi istrinya. Semakin perih hatinya. Ia merasakan benar bagaimana bumi yang ia pijak menjadi sangat sempit. Selama berpuluh – puluh hari ia seperti hidup di sebuah negeri asing, karena tak seorang pun yang mau berbicara padanya. Bahkan sepupu yang sangat dicintainya pun, Abu Qatadah juga tidak bicara pada Ka’ab bin Malik.

Setelah lima puluh hari, ketika Ka’ab bin Malik selesai sholat Subuh sendirian di atas bukit, ia mendengar seseorang berteriak kepadanya. Betapa gembira Ka’ab bin Malik seketika itu juga. Rasulullah telah mencabut hukuman baginya dan Allah pun telah menerima taubat ia dan kedua orang tidak ikut perang Tabuk beberapa waktu lalu. Rasa syukur itu pun ia buktikan melalui shadaqoh seluruh hartanya untuk agama Allah, tapi Rasulullah memintanya untuk menahan hartanya. Ka’ab bin Malik tetap mengeluarkan shodaqoh seluruh hartanya dengan meninggalkan hartanya yang di Khaibar.

“ Sesunggunya Allah telah menerima taubat Nabi, orang – orang muhajirin dan orang – orang anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hamper berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat)mereka hingga apabila bumi menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat merka agar mereka tetap dlam taubatnya. Seusngguhnya Allah lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang – orang yang benar.”
( QS. At Taubah 9 : 117 – 119 )
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Demikianlah sekelumit cerita mengenai Ka’ab bin Malik yang dikucilkan oleh kaum Muslimin disebabkan oleh ketidakikutsertaannya dalam perang Tabuk. Begitu berat hukuman yang diterima oleh mereka yang tidak ikut serta dalam kegiatan Rasulullah dalam rangka membela dan menegakkan agama Islam.

Ini adalah salah satu fenomena yang berjatuhan pada masa kenabian. Nah bagaimana dengan kita saat ini? Pelaku di dakwah kontemporer saat ini sebagian besar tidak mau kedudukannya tidak mau disamakan dengan kedudukan para sahabat dulunya di mana para sahabat memiliki ksempatan untuk bertemu dan menyerukan Islam bersama Rasulullah.

Di masa Rasulullah keluar dari barisan jamaah berarti keluar dari Islam. Ketika itu hanya ada dua pilihan bagi umat muslim, tetap bersama Rasulullah atau kembali jahiliyah. Oleh karena itu mereka yang keluar dari barisan muslimin akan dianggap sebagai kafir.

Nah, untuk pergerakan saat ini, kaum muslimin tidak lagi dihadapkan pada pilihan seperti di masa Rasulullah. Selagi pergerakan tersebut tidak menganggap dirinya sebagai jama’atul muslimin (nama lain dari khilafah islamiyah), di mana orang yang keluar dari barisan ini dianggap murtad, maka kaum muslimin saat ini ketika keluar dari barisan tidak dikategorikan kafir.

Sepertinya di sinilah letak kelemahan kaum muslimin saat ini. Ketika ia memutuskan untuk keluar dan meninggalkan jamaah, logikanya tidak ada beban dan hukuman yang akan ia terima dari pemimpin jamaah. Karena itulah banyak yang meninggalkan jamaah tanpa rasa bersalah, padahal saat itu tidak ada uzur baginya. Ka’ab bin Malik berada dalam keadaan yang muda dan bersemangat saat perang Tabuk, namun ia tergoda oleh banyak hal sehingga menjadikannya tidak ikut serta dalam peperangan.
Seandainya di zaman modern ini kaum muslimin yang memutuskan untuk keluar atau tidak ikut serta dalam menegakkan agama Islam juga dihukum sebagaimana Rasulullah menghukum ketiga orang yang tidak ikut perang Tabuk, betapa kuat dan kokoh barisan Islam saat ini.

Penulis menyadari bahwa sangat mustahil hal ini terjadi di pergerakan Islam kontemporer hari ini. Tidak akan ada yang mau dihukum hanya karena tidak hadir dalam satu kegiatan atau rapat. Hanya satu yang masuk akal untuk dilakukan kini yaitu berusaha untuk terus bersabar dalam menghadapi permasalahan di jalan yang panjang yang ujungnya masih tak terlihat.

Lagipula kata Allah “ Tidak ada paksaan dalam agama “. Entahlah, apakah ini sebuah keringanan bagi kita atau sindiran Allah kepada hambaNya untuk menegakkan agamaNya. Wallahu’alam

“ Sesungguhnya istirahatnya kaum muslimin ialah ketika kakinya menginjakkan surga”
( Ustadz Rahmat Abdullah )


Tanjungpinang, 13 Juli 2010
In improving myself to be better and keep standing on the right way

0 comments:

Post a Comment