Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Tuesday, 12 July 2016

Belajar Mengungkapkan Perasaan

      3 comments   
Saya ga tau kapan pertama kalinya saya belajar untuk berterus terang dengan perasaan, mengungkapkannya pada orang yang bersangkutan tanpa perantara. Yang jelas saya belajar dari The Nanny 911. 



Ya, sebuah reality show dari Amerika yang kala itu ditayangkan Metro TV. Acara ini sebisa mungkin tak saya lewatkan. Meski tak banyak episode yang saya tonton karena memang jam tayangnya ada di jam saya keluar rumah. Entahlah, lupa juga

Walau terkesan banyak settingan saya tak peduli, toh ada banyak hal positif yang bisa saya ambil untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga. Seperti judulnya, ini adalah soal pengasuh. Menurut saya para Nanny yang mengikuti acara tersebut sangat keren, well terutama cara mereka berpakaian, bersikap, berjalan bahkan cara mereka melihat anak anak. Ada satu yang menjadi favorit saya, melihatnya mengingatkan saya pada Professor McGonnagal dalam film Harry Potter. 

Acaranya seru. Diawali dengan sebuah keluarga yang memiliki masalah dengan anak-anak mereka yang berusia di bawah 12 tahun. Sepertinya begitu, entah kalo ada episode lain yang saya lewatkan. Orang tua merasa kehilangan kendali atas prilaku anak-anak mereka. Untuk membantu keluarga ini mengatasi masalah tersebut didatangkanlah seorang Nanny. 

Cukup dramatis juga kadang kadang. Anak-anak yang sangat di luar kendali benar-benar menguji kesabaran orang orang di sekitarnya. 

Ada satu episode yang amat sangat berkesan bagi saya dari acara tersebut. Adegan di mana The Nanny mencoba mengatasi seorang anak. Seperti yang saya bilang mereka di luar kendali. Ada yang menyebutnya bermasalah, tapi tak ada anak yang bermasalah kecuali orang di sekitarnya yang tak tahu bagaimana menghadapi anak tersebut. 

Anak itu suka ngamuk dan membanting apa saja yang ada jika dia marah. Setelah itu dia akan menangis sekencang kencangnya sehingga membuat orang juga akan ikut histeris. Hahaha agaknya jarang juga keluarga Amerika yang punya anak lebih dari dua. Dari episode-episode yang saya tonton, kebanyakan mereka mempunyai anak lebih dari dua orang. Karena itu kali yaaa orang tua nya jadi sulit mengatasi prilaku tiap anak. 

Sikap yang ditunjukkan oleh The Nanny dalam acara tersebut tak bisa saya lupakan. Ia mendekati anak itu kemudian membuat dirinya dan si anak dalam posisi sejajar. 

"Ungkapkan yang kau rasakan. Katakan marah jika kau sedang marah, katakan sedih jika kau sedih, katakan senang jika kau senang. Sekarang bisakah kau katakan padaku apa yang sedang kau rasakan sekarang?" katanya dengan lembut namun penuh ketegasan. 

Dalam wawancaranya ia berkata bahwa anak - anak seharusnya diajarkan untuk mengenali dan mengatakan/mengungkapkan perasaan mereka. Ini akan membantu kita menghadapinya dan ia sendiri bisa lebih mengenal dirinya. Anak - anak yang sulit untuk mengatakan perasaannya cenderung akan memendam sehingga emosi mereka akan terganggu dan tidak lepas. 

Mereka bisa mengatakan pada orang dewasa apa yang mereka rasakan. Mereka marah, sedih, senang, murung dan lain sebagainya. Orang tua harus mampu membuat mereka mengenali perasaannya sendiri. 

Dari sini saya mulai belajar untuk mengenali diri sendiri dan menyampaikan apa yang saya rasakan pada orang lain. Melalui prosesnya, kini saya menyadari bahwa saya termasuk orang yang cukup mudah untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain. Apakah itu sesuatu yang saya sukai atau tidak. 

Beberapa teman dekat juga berkata bahwa saya orang yang tak bisa menyembunyikan perasaan atau pandangan saya terhadap sesuatu/orang lain. Saya katakan. Awalnya memang memalukan dan mengkahwatirkan, namun seiring berjalannya waktu hal itu teratasi dan saya menemukan sebuah kepercayaan diri yang lebih besar dari sebelumnya. 

Mungkin teman-teman sekolah menyebutkan saya anak yang pemalu. Ya memang. Saya pemalu dan tak memiliki banyak teman karena kurangnya rasa percaya diri tadi. But now, I dont care apakah saya punya teman atau tidak. Saya punya pendapat sendiri dalam memilih teman, cara bergaul dan dengan siapa saya bergaul. 

Semua berawal dari proses belajar saya mengungkapkan apa yang saya rasa. Tapi tentunya hal ini ada pengecualian, yaitu menyangkut perasaan terhadap lawan jenis. 

Untuk hal yang satu ini saya cukup tegas memberikan garis dalam kehidupan saya sebelum menikah bahwa memberi tahu tentang perasaan suka pada orang yang bersangkutan adalah hal yang sepantasnya dilakukan. Bagi saya, ketika perasaan ini telah diungkapkan, itu artinya perasaan itu sudah tak ada artinya dan harga diri sudah tercampakkan. 

Ketika saya menyukai seseorang rasa itu saya sampaikan melalui cerita dalam buku-buku harian saya. Menuliskannya merupakan jalan terbaik. Menceritakannya kepada orang lain bisa saja menjadi salah satu solusi namun resikonya tinggi. 

Setelah menikah saya merasakan bahwa mengungkapkan perasaan kepada pasangan menjadi lebih mudah. Bukan dalam artian saya mengatakan cinta setiap hari padanya hahha... 

No, percaya atau tidak, meski baru satu tahun menjalani pernikahan kata-kata 'Aku mencintaimu' belum pernah terlontarkan dari saya maupun suami. Bagi saya itu sesuatu yang menggelikan, dia pun berpikir demikian. 

Maksud saya di sini adalah saya mendapati diri lebih mudah untuk mengatakan apa yang saya rasa pada suami. Misalnya ketika saya kesal, senang, sedih, cemburu dan sebagainya. Setahun ini kami belajar berkomunikasi, hal yang penting dalam kehidupan rumah tangga, begitu menurut para ahli. 

Saat kami saling diam, saya berusaha untuk menebak apa yang terjadi. Begitu waktunya tepat semuanya saya luahkan dengan mudah. Memang... tak semua disampaikan saat perasaan itu sedang menggelayuti diri. Harus di waktu yang pas agar moment nya juga pas. 

Well, saya masih dalam proses belajar. Kadang dalam menyampaikan apa yang saya rasa tak sedikit teman-teman yang tersinggung dengan apa yang saya ucapkan. Meski bagi saya hal itu benar tapi penerimaan masing-masing orang berbeda. Lagipula kadang saya sampaikan dengan intonasi yang baginya kurang mengenakkan. Hahahaha.... 

Banyak yang merajuk, tak sedikit pula yang menjauhi ceplas ceplos saya. But I don't really care, bagi saya, mereka harus tahu dan harus ada seseorang yang menyampaikan itu pada mereka. 



3 comments:

  1. Sepeti kakak yg mengatakan menyerah, udah gatau lagi gimana ngadepin dan naujihin anggi 😂

    ReplyDelete
  2. Sepeti kakak yg mengatakan menyerah, udah gatau lagi gimana ngadepin dan naujihin anggi 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. xixiixxiiii walo kadang sabar kan yaaaaaaa :p

      Delete