Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Sunday, 16 November 2014

Dokter Misionaris?

Beberapa hari belakangan ini media sosial cukup dihebohkan dengan video mengenai aksi terselubung para misionaris di car free day jakarta. Dalam video yang berdurasi hampir 24 menit tersebut diperlihatkan ada sekumpulan orang yang membagi-bagikan suvenir ke warga Jakarta yang lewat di jalan tersebut. 

Yang paling jelas mengenai kristenisasi di video tersebut adalah ketika salah seorang anggota komunitas berpakaian hitam berlambangkan burung merpati mencoba untuk membuat seorang nenek untuk mempercayai Yesus. Ajakan yang disampaikan secara terang - terangan. 

Melihat ini aku teringat pada satu pengalaman yang belum lama ini kualami. Ketika itu Khalisa, anak dari sepupuku demam tinggi dan harus dibawa ke dokter. Setelah sholat Isya kami pun pergi ke salah satu dokter yang ada di kota kami. 

Dalam perjalanan, Onang (panggilan untuk anak pertama dalam masyarakat Minang) berkata, "Iza sampe sana jangan kaget ya". 

"Kenapa, nang?"

"Soalnya begitu kita masuk tempatnya Iza bakalan tengok gambar - gambar Yesus gitulah" jawab Onang. 

Selama sisa perjalanan aku mulai berpikir keras, benarkah perjalanan kami ini jika kondisinya memang demikian. Apakah kami harus pergi ke dokter yang tempatnya dipenuhi gambar demikian? 

Kami sampai di klinik tersebut.. Pada awalnya kami sudah mencari beberapa alternatif, namun berhubung hari minggu, maka tak banyak tempat klinik yang kira - kira bisa kami datangi. Ya sudahlah, aku pun masuk ke klinik itu. 

Terus terang ada rasa enggan untuk masuk. Awalnya kupikir apa yang akan orang katakan saat melihat ada orang sepertiku berobat di tempat yang dipenuhi gambar Yesus? Lalu aku berpikir lagi bukankah kami hanya ingin berobat? Apakah salah? Lalu aku membayangkan bukankah tidak semua dokter adalah muslim? Apakah ada larangan untuk mengunjungi dokter non muslim? Aku terus berpikir

Begitu memasuki halaman ada rasa lega sekaligus hmmm apa ya, sulit untuk kucari kata yang tepat, ada beberapa pasien yang sedang menunggu antrian. Aku masuk. 

Dan memang cukup membuatku kaget saat melihat ruangan depan. Di dindingnya terpasang gambar Yesus yang pernah kulihat dalam film Jesus Christ. Aku menontonnya bersama Usup hingga tengah malam karena rasa penasaran kami akan kisah Yesus versi umat kristian. 

Gambar itu menunjukkan bagian adegan di mana Yesus berjalan menuju tempat ia akan disalib sambil membawa kayu salib yang amat berat itu. Dengan tubuh penuh darah dan wajah yang menahan sakit. Berikutnya adalah gambar penyaliban Yesus di mana tangan dan kakinya dipaku. Ouchhh ini benar - benar sadis. Darah di mana - mana dan itu terpampang jelas! Ditambah dengan kawat yang melingkari kepala Yesus menambah kesadisan yang tak layak untuk diperlihat pada anak - anak. 

Selama menunggu aku masih memperhatikan gambar tersebut dan membaca keterangan yang ada. Sementara itu anak - anak yang juga menunggu asik bermain dan beberapanya menangis karena sakit kepala yang mereka alami. Khalisa sendiri masih duduk manis bersama aku dan bundanya. Tapi kuyakini bahwa matanya juga melihat ke gambar tersebut. 

Tibalah saat giliran Khalisa diperiksa. Begitu masuk ke ruangan itu kuakui sungguh ia adalah dokter yang amat sangat cantik dan juga ramah. Menurut Onang yang sudah cukup sering ke dokter anak, dokter ini melayani kami dengan baik. Ia menanyakan gejala yang dialami oleh anak, mencatatnya dengan detil. Tidak seperti dokter yang biasa dikunjungi, hanya bertanya sedikit kemudian memberi resep obat. 

Meski demikian, ada hal yang menggangguku saat memasuki ruangan itu. Di samping meja dokter ada semacam gambar yang menjelaskan mengenai hari kebangkitan, paskah dan sejenisnya. Tempelan ini menjelaskan tentang bagaimana Yesus telah mengorbankan dirinya dan menyelamatkan manusia. Tulisan yang sangat besar. 

Kemudian di atas meja ada buku mengenai mukjizat yesus atau kristen, ah aku lupa tulisannya. Berwarna biru dan berukuran cukup besar dengan kertas yang tebal. Selain itu begitu aku perhatikan dokternya, ia mengenakan beberapa benda kecil dan warna warni yang penuh simbol kristen. Gantungan kecil juga ada. 

Tempat tidur dipenuhi dengan boneka yang memang menjadi kesukaan anak - anak, mulai dari spongebob sampe Mickey Mouse. Lalu di bawah tempat tidur ada meja kecil berlaci yang di atasnya ada banyak benda - benda kecil pula. Benda - benda itu salah satunya yang lihat adalah adanya tanda salib dan simbol - simbol kecil yang aku ketahui sebagai simbol kristen. 

Setelah diperiksa, dokter cantik itu pun pergi ke belakang untuk membuat resep obat. Menurutku kami cukup lama menunggu di ruangan itu. Aku berpikir bahwa dokter ini pastilah seorang kristen taat. Terlihat bagaimana ia mencoba membuat tempat kerjanya dipenuhi nuansa keyakinannya. Ia pastilah orang yang memahami psikologi anak. 

Ia menggunakan barang-barang akan menarik perhatian anak - anak untuk dilihat. Berbunyi dan berwarna. Seorang anak yang melihat benda - benda di klinik itu menurutku akan memasukkan informasi tersebut di alam bawah sadarnya. Apalagi mereka yang berobat ke sana rata - rata adalah anak yang berada dalam fase golden age atau fase keemasan di mana pada fase ini anak - anak sangat mudah menyerap apa pun yang ia dengar, lihat dan rasakan. 

Ini adalah hasil analisaku selama beberapa jam berada di tempat itu. Pengalaman pertama yang membuatku sadar bahwa mereka yang non muslim pun berusaha untuk mensyiarkan keyakinan yang ia miliki. Memakai segala simbol keagamaan dengan rasa bangga tanpa rasa malu apalagi takut. 

Namun satu hal yang ingin kukritisi adalah pemasangan gambar penyaliban yesus di ruang tunggu. Untuk tempat yang dikunjungi oleh anak - anak ini bukanlah gambar yang tepat untuk dipajang. Biasanya umat kristiani hanya memajang gambar Yesus atau Bunda Maria di dindingnya atau gambar salib. Tapi gambar penuh darah dan kesadisan? It's not very good.

Aku menyebutnya dokter misionaris bukan karena kecenderungan tertentu. Aku tak menyalahkannya karena mungkin itu salah satu usaha yang bisa ia lakukan untuk menyebarkan agamanya. Toh, bagiku ia tak menyampaikannya dari lisan hanya berupa gambar dan benda penuh simbol. 

Lagipula sebagai seorang kristen taat itu pulalah yang bisa ia lakukan untuk melakukan pelayanan terhadap tuhan yang ia yakini. Sebagaimana seorang muslim yang juga sebagian di antaranya mendapat tugas untuk menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. 

Sebagai orang yang beragama dan sangat meyakini keyakinannya, tentu mengajak orang lain adalah tugas yang semestinya dilakukan. Dengan syarat ia tak mengajak orang yang telah beragama untuk masuk ke agamanya. 

That's it semoga kita sebagai seorang muslim yang bangga dengan kemuslimannya melaksanakan seluruh ajaran yang tertera pada Al Quran dan juga sunnah Rasulullah SAW. 

Hari ini aku belajar dari seorang non muslim


0 comments:

Post a Comment