Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Tuesday, 30 December 2014

Good Doctor (Bukan K-Drama)

      No comments   


Hmm mau dimulai bagaimana ya? Mau menuliskannya juga bingung. Gini deh aku mau cerita tentang dokter sebenarnya.

Sebelumnya buatku, dokter bukan sekedar profesi. Sama kayak guru dan perawat. Ketiganya merupakan aktivitas yang lebih dari sekedar profesi yaitu pelayanan. Mereka yang memilih bidang ini bukan untuk uang, tapi untuk pelayanan. Lebih jauh, bidang ini benar-benar menyediakan ladang amal yang luas buat tabungan akhirat.
Ga mengecilkan bidang lainnya, hanya saja mereka yang berkecimpung di tiga lahan ini sungguh beruntung. Terutama bagi seorang muslim.

Nah, sampai suatu hari aku mendengar seseorang berkata, "Mending berobat sama dokter A, biarin aja banyak gambar Yesus yang penting kita dilayani dengan baik. Daripada sama dokter B (muslim)"

Ouch, it hurts me so well. Bukan mau SARA, tapi aku ingin mengambil hikmah dari perkataan ini. Aku akui dokter yang dibicarakan itu memang cukup baik dalam memberikan layanan konsultasi. Ia menanyakan setiap detil yang dirasakan pasien kemudian menjelaskan kondisinya pada keluarga. Dalam hal obat pun ia jelaskan dengan sangat detil (dan cepat).

Pasien manapun dan keluarganya tentu ingin mendapatkan pelayanan yang cepat, tangkas dan tepat. Seperti yang sering kulihat dalam drama Good Doctor, Emergency Couple dan drama bertema kesehatan lainnya.

Namun dalam kenyataannya apa yang kita dapatkan di lapangan tak seperti yang kita lihat di drama kan :)

Khususnya untuk di Tanjungpinang entah berapa kali media memberitakan tentang kurangnya layanan bagi pasien di rumah sakit. Mulai dari perawat hingga dokter yang sangat jarang di tempat. Di lain waktu aku mendengar bahwa kota ini kekurangan dokter. Okelah

Kemudian membandingkan pelayanan yang diberikan oleh dokter muslim dan non muslim. Entahlah dari kalimat di atas, rasanya ada evaluasi yang harus dilakukan oleh dokter muslim. Aku tidak mengkotakkan. Beberapa dokter muslim di kota ini punya dedikasi tinggi dalam pekerjaannya, pun mereka yang non muslim.

Profesi dokter bukan mengenai agama apa yang ia anut, melainkan sejauh mana pelayanan yang ia berikan. Sering kudengar saat seharusnya dokter bertugas di rumah sakit malam hari, ia malah tidak berada di tempat. Sehingga ketika pasien mengeluh atas sakitnya, yang bisa dilakukan perawat adalah menelpon dokter yang bersangkutan untuk konsultasi. Si dokter pun memberikan analisa dari catatan yang dibacakan perawat, bukan dengan kontak langsung dengan pasien.

How come? Apa mereka adalah dr. Park dalam Doctor Stranger yang mampu membuat analisa hanya dengan menyentuh bagian tubuh pasien? Yang mampu memberikan solusi hanya dengan mendengar kondisi fisik pasien dari telpon? Aku tidak tahu, tapi keluarga pasien kerap kali mengajukan keluhan seperti itu.

Karena itu ada harapan besar pelayanan dokter dan perawat akan menjadi lebih baik di kemudian hari, terutama bagi mereka yang muslim. Menjadi dokter bukan sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang. Menjadi dokter dan perawat adalah sebuah kesempatan besar untuk melakukan pelayanan, amal-amal besar dan kerja bermanfaat.

Beberapa teman yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di fakultas kedokteran, akademi kebidanan dan perawat aku memandang mereka sebagai orang-orang yang akan memperbaiki citra yang dimiliki pekerja kesehatan hari ini.

Mereka ini pasti mampu menjadi dokter, bidan dan perawat yang baik yang ramah, melayani pasien dan juga keluarga mereka.

0 comments:

Post a Comment