Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Wednesday, 1 September 2010

Lelucon Tanpa Batas

      No comments   

Di tahun 2010, saya adalah seorang mahasiswa  semester 5 jurusan pendidikan Bahasa Inggris dan saya masih berumur 20 tahun, cukup muda. Hari ini saya ingin memposisikan diri dan berpura – pura menjadi anggota dewan yang terhormat. Baiklah, let’s follow my ridiculous mind.

Sebagai anggota dewan, saya merasa risih dengan pemberitaan –pemberitaan yang ada di media tentang kinerja kami dalam mengurus rakyat Indonesia yang sangat banyak ini.
Di televisi banyak beredar gambar yang menyorot beberapa teman saya yang ngantuk dan bahkan ada yang tidur ketika rapat ataupun sidang sedang berlangsung. Akibatnya, banyak pihak yang mencemooh kami dan menilai kinerja kami sangat buruk. Rakyat bilang kami hanya makan gaji buta tanpa melakukan apa – apa untuk mereka. Hhh… seandainya saja mereka tahu apa yang kami bicarakan di dalam sini.
Ou, baiklah tentu saja mereka tidak tahu apa – apa saja yang kami bicarakan. Tidak ada siaran televisi yang khusus menyiarkan kegiatan – kegiatan yang ada di gedung MPR / DPR. Apa yang kami bahas di ruang rapat hanya disaksikan sebagian rakyat Indonesia. Dan tentu saja oleh mereka yang punya akses untuk masuk ruangan. Merekalah yang menyaksikan seperti apa kami di ruangan.
Kunjungan – kunjungan kerja kami juga sepertinya jarang jadi pemberitaan di media massa. Hahahha sebagai anggota dewan bukannya saya mau diikuti terus menerus oleh wartawan atau dikejar – kejar seperti Britney Spears dan artis Hollywood lainya. Kalau dipikir – pikir pamor kami sebagai anggota dewan kalah saing dengan artis ( ya kecuali artis yang jadi anggota dewan ). Gak ada tuh paparazzi yang ngejar saya dan teman- teman ketika melakukan kunjungan, sekedar mendapatkan foto kami. Kalo pun ada, hanya segelintir, itupun entah diterbitkan atau tidak.
Selama ini yang mengawasi kami sepertinya hanya segelintir orang. Mahasiswa yang paling kami takutkan. Tapi itu sih dulu, sekarang kayaknya gak lagi. Mahasiswa sekarang sudah banyak yang tidak bergerak, kalaupun ada jumlahnya sedikit sekali. Sebagian besar tidak peduli pada apa yang kami lakukan, tapi kalo sudah dengar berita kecil tentang kinerja kami ( yang sebenarnya gak penting untuk dibesar – besarkan ) hebohnya minta ampun. Demo sana sini, ngerusak pagar dan fasilitas lainnya. Haduh apa sih yang mereka pikirkan ketika berdemonstrasi?
Ya sudahlah, itu kata Bondan Prakoso. Sekarang saya mau membuat pembelaan sedikit nih masalah anggota dewan yang suka ngantuk dan tidur ketika rapat. Pernahkan lihat gambarnya di tivi? Terus terang saya malu juga dengan sorotan media seperti itu. Tahukah anda mengapa kami sering ngantuk?
Ruangan. Salah satu alasannya adalah ini. Kami selalu membicarakan permasalahan undang – undang di ruangan yang sangat nyaman. Ruangan yang besar dengan langit – langit yang tinggi dengan AC setiap saat. Benar – benar membuat kami kadang terlena. Lantainya tertutup oleh karpet tebal, dan ketika anda berjalan di atasnya, suara langkah kaki anda tidak akan terdengar. Sunyi ( kecuali ketika ada yang berbicara ). Lalu kami pun disediakan kursi yang sangat empuk. Enak sekali ketika duduk di kursi ini, saya pernah ingin membawanya pulang. Tapi tentu saja tidak boleh, ini kan punya rakyat (lho, saya rakyat juga kan?). Jadi bayangkanlah ruangan ini, nyaman sekali berada di dalamnya. Seharusnya anda juga ada di sana dan merasakan hal yang sama seperti saya.
Pernah saya berpikir, mungkin para mahasiswa di luar sana yang sering menyuarakan aspirasinya dari luar pagar harusnya merasakan kenyamanan yang kami rasakan. Mereka, mahasiswa itu selalu saja merasa tidak puas dengan apa yang kami kerjakan. Anggota dewan suka tidurlah, suka ngobrol lah, suka on line lah, suka smsan lah klo lagi rapat, suka bertinjulah dan suka suka suka lainnya. Pusing juga dengarnya. Padahal, coba saja mereka ada di ruangan ini.
Aha!!
Saya punya usulan. Bukankah di gedung ini ruang rapat banyak sekali? Bagaimana jika saya mengusulkan pada ketua untuk meminjamkan salah satunya pada mahasiswa dan pelajar untuk dijadikan sebagai tempat mereka kuliah umum? Dengan demikian, mereka juga akan merasakan fasilitas di gedung ini. Bukankah mereka juga berhak? Saya ingin melihat reaksi mereka akan kenyamanan ruangan ini. Lagipula saya ingin agar mereka tak lagi mencaci kami, akan kami yang suka ngantuk dan bahkan tidur, tidak datang rapat dan sebagainya.
Masalah di atas benar – benar tidak penting untuk dibahas, bahkan dijadikan berita utama. Caci dan makilah saya beserta teman- teman anggota dewan lain ketika kami tidak berhasil mencapai target kerja, atau ketika kami melakukan tindakan asusila, korupsi dan hal lainnya yang melanggar undang – undang.

Nah, sekarang saya sudah kembali menjadi mahasiswa muda berusia 20 tahun di 2010. Terima kasih sudah melakukan perjalanan penuh lelucon sebagai anggota dewan yang terhormat. Pikiran ini terbentuk berdasarkan ingatan dan pengalaman ketika berada di ruangan Nusantara ( entah nomor berapa, agak lupa )  MPR/DPR yang benar – benar nyaman.
1 September 2010
Ketika berpura – pura menjadi anggota dewan

0 comments:

Post a Comment