Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Wednesday, 28 January 2015

(Behind the Scene) Visa dan Professor Margaret Kartomi

      2 comments   
Hmmm ga ada hubungannya siih antara visa dan professor ini, bingung aja mau kasih judul kecil apa. Tulisan di atas adalah tentang kegiatan di Melbourne, kali ini adalah behind the scene nya *cut!


Sebelumnya silahkan baca tulisan Gurindam 12 di Melbourne Australia ini dulu ya



Pergi ke luar negeri itu cita-cita kita semua (yeah!). Bukan engga cinta Indonesia tapi boleh dong melihat Negara lain, bumi Allah ini luas dan semoga kita mampu menjejaki kaki di setiap sudutnya. Amin!!!!

Ada banyak kemudahan yang Allah SWT kasih pada Kak Dwi dan kawan-kawan, mulai dari kesempatan, keselamatan dan juga kelancara selama acara. Salah satunya adalah dalam pengurusan passport dan visa. Aku sendiri belum pernah mengurus dua hal ini, doain tahun ini ya (nikah, wisuda dan keluar negeri aigoooooo, what an incredible life!!!).
Amiiiiiin….!!!!

Email yang bikin bergetar-getar itu diterima dua minggu sebelum acara di mana ketika itu masa berlaku passport hampir habis. Namun demi menyusuri jalan Australia, Kak Dwi ‘menerobos’ kantor imigrasi dengan membawa senjata tajam, api udara dan air *Avatar mode on. Ohooo doi ga gitu kok yang dibawa Cuma surat undangan (nikah?) dan jadwal kegiatan symposium. Siiip, dalam waktu singkat Alhamdulillah kelar!

Lanjut ke pengurusan visa. Ini nih yang bikin gregetan. Biasanya pengurusan visa bisa memakan waktu 7-10 hari kerja (ini yang aku baca dari internet sih). Dengan segala urusan administrasi dan bla bla itu mepet banget euuuuy…. Akhirnya Profesor Margaret di Ausie pun mencoba menghubungi Konsulat Jendral RI di Melbourne untuk dimintakan rekomendasikan agar pembuatan visa bisa dipercepat di Kedubes Ausie yang di Jakarta. Nah tanggal 7 Januari itu Kak Dwi cs berangkat ke Jakarta sesegera mungkin karena ada kemungkinan ga jadi berangkat kalo visanya ga bisa diproses.

“Alhamdulillah kesampean nih masuk Kedubes” kata Kak Dwi. Duh mauuuuuu….. Moga berikutnya masuk Kedubes Inggris yak :D

Setelah melewati beberapa pemeriksaan di gerbang, rombongan akhirnya dilayani oleh pegawai kedubes yang super ramah bernama Helen Husein. AKu kira beliau muslim Ausie, ternyata kata Kak Dwi ini orang Indonesia asli hehhe.. Besoknya saat perjalanan ke bandara Soetta, tiririiiiiiit mereka dapet email bahwa visa udah di asese. Wihiwwww….!!

“It was a miracle! Bisa mengurus segala sesuatunya dengan mudah”

Betul betul betul kalo emang rezeki sih engga ke mana, ada aja jalannya. Beberapa orang mungkin akan berpikir negative. Helloww…?

Meski ga tahu kenapa Professor Margaret meminta Kak Dwi dan Supriyadi hadir tentu perlu bertanya langsung pada professor yang berusia 75 tahun itu. Silahkan hubungi beliau di Universitas Monash. Monash loh ya bukan Monas :D

Margaret Kartomi, beliau adalah seorang professor di Fakultas Kesenian Universitas Monash, fokus pada satu ilmu yang bernama Etnomusikologi. Aku baru denger sih. Melongok di Wikipedia itu adalah cabang ilmu tentang pembelajaran aspek sosial dan budaya terhadap music dan tarian dalam konteks global dan lokal. Ilmu ini dicetuskan oleh orang Yunani bernama Jaap Kunst.

Dari wawancara yang kubaca, professor yang satu ini sedang fokus pada penelitian tentang kesenian tari, music, pertunjukan teater dan sebagainya yang ada di Indonesia, Thailand, Filipina dan Negara Asia Tenggara lainnya. Kata Kak Dwi sudah hampir 40 tahun beliau keliling Indonesia untuk penelitian dan menulis buku mengenai kesenian tradisi Indonesia. Woww she went to Indonesia three years after working at the University. DAEBAK!!!!

Sekitar tahun 2011 beliau berkunjung sebentar ke Kepri dan kembali lagi bersama tim tahun 2013 untuk bertemu dengan para seniman dan budayawan yang ada di Natuna, Lingga juga Tanjungpinang. Wooww sebuah perjalanan panjang para peneliti seperti yang kubaca dalam novel-novel terjemahan. Kabarnya buku itu akan rampung tahun 2016 mendatang. So semoga beliau sehat dan mampu merampungkan sesuai deadline. Ini akan jadi sesuatu yang berharga buat Kepri dan juga Indonesia.

2 comments:

  1. Sebenarnya bukan aku yang ngebet pingin ke Ausie, tapi adikku. Pingin ketemu koala katanya. Lha kalau aku ke Ausie pingin ngapain? pingin ke pantainyaaaa :)

    Btw, susah ngga sih, mba, ngurus Visa?

    salam,
    ashtrella.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. hahaha koala ga ada di kebun binatang Indonesia ya mak? bingung juga sih tempat apa yang kira2 mau dikunjungi kalo ke sana. Kalo pantai cobain ke Kepri dulu mak, ga kalah hebat *promo mode on

    dari yang aku baca, pengurusan visa ke Ausie pengerjaannya sekitar 7-10 hari kerja dengan biaya 1,100,000. Lengkapi administrasi dengan ktp, kk buku bank dan lain sebagainya. Beribet juga sih, belum tentu bisa langsung disetujui sama pihak kedubesnya

    ReplyDelete